
Sesampainya Lana di apartemen mungilnya, Lana meletakkan tas dan jas-nya sembarangan di sofa kecilnya. Lana duduk di sofa dan terisak kecil. Tidak, dia tidak mau dipermainkan perasaannya. Dia tahu bahwa ketika sandiwara dimulai, dia lagi yang akan terluka. Karena hanya dia yang memiliki perasaan. Jadi dia harus menutup hatinya rapat-rapat.
Lana mengerang frustasi. Gadis itu memutuskan untuk berhenti memikirkan segalanya saat ini. Dia hanya akan mandi dan memasak sesuatu, pikirnya. Lana dengan segera bangkit dari sofa dan menuju ke kamarnya. Kamar mandinya terletak di dalam kamar tidurnya yang ditata dengan nyaman dan indah.
Beberapa saat kemudian, Lana sudah selesai mandi dan berpikir untuk memanaskan sisa makanan kemarin malam. Kemarin malam Lana memanggang ayam, membuat kentang tumbuk dan sayuran yang hanya di grill sebentar dengan bawang putih dan garam. Satu persatu kotak kontainer makanan, ia masukkan ke dalam microwave. Hingga ada suara bel berbunyi.
Apakah Ryan datang? batin Lana.
Memang akhir-akhir ini mereka sering pergi berdua untuk menghabiskan waktu usai jam kantor. Lana yang tidak nemiliki teman atau pacar, cocok dengan Ryan yang sering ditinggal kekasihnya pergi. Mereka akan menghabiskan waktu di kafe, restaurant atau hanya pergi jalan-jalan.
Ryan sendiri adalah orang yang easy going, dan itu membuat Lana nyaman. Dia bukanlah atasan yang semena-mena terhadap bawahannya. Dia tampan dan pekerja keras. Lana sering berpikir kenapa dia tidak jatuh cinta saja pada Ryan? Kenapa harus menaruh hati kepada Hans?
Bunyi bel pintu terus menerus berbunyi hingga Lana menjawab "Tunggu sebentar." Lana membuka pintu tanpa mengintip di lubang pintu karena dia yakin itu adalah Ryan.
Ketika pintu terbuka, Lana terkejut karena bukan sosok Ryan yang berada disana, namun Hans. Lana dengan cepat hendak menutup pintu, tapi sayangnya kaki Hans yang kiri sudah menahannya.
" Boleh aku masuk?" tanya Hans yang melangkahkan kakinya ke dalam sebelum Lana mengijinkan.
"Kenapa bertanya kalau kamu sudah masuk sendiri?" ujar Lana ketus.
Lana berjalan dengan cepat ke arah dapur kecilnya di sebelah kiri dari pintu masuk. Dia berusaha tidak mempedulikan Hans dan dengan cekatan memasukkan kotak kontainer makanan satu persatu di dalam mikrowave. Makanan yang sudah dihangatkan, ditatanya ke atas piring yang sudah disediakan.
Hans tanpa bertanya, langsung duduk di meja makan dan memandang makanan yang sudah biasa dimasak oleh Lana.
"Tolong ambilkan satu set perlengkapan makan juga untukku." perintah Hans.
"Untuk apa?" tanya Lana cuek dan enggan untuk mengambilkan peralatan makanan.
"Tadi seharusnya kita makan bersama di restaurant, tetapi karena kamu kabur. Jadinya aku mengejarmu, mengelilingi kota, dan aku tersadar aku tidak tahu alamatmu. Jadi aku menelpon asistenku untuk menghubungi Ryan dan menanyakan alamatmu." jelas Hans.
__ADS_1
"Please, aku lapar... dan masakanmu selalu enak." tambah Hans sambil memuji.
Lana mencebikkan bibirnya dan dengan malas mengambil peralatan makanan itu dan menyiapkan untuk lelaki yang sudah duduk. Akhirnya semua makanan sudah tertata rapi di meja makanan. Air putih di juga tersedia. Tapi Lana mengernyitkan dahinya ketika Hans tidak mengambil apapun ketika dirinya sudah mulai makan.
"Kenapa tidak makan? Katamu, kamu lapar!" tanya Lana.
"Aku menunggu untuk pacarku supaya mengambilkan makanannya." ucap Hans enteng dan menggoda.
" Oh... Kalau begitu tunggu sebentar."
Lana berdiri dan berbalik ke arah tempat dia menyimpan kotak kontainer bersih lainnya.
"Kamu mau kemana?" kata Hans bingung.
"Ini baru mau ambil kotak. Supaya makanannya bisa kau bawa pulang. Jadi Joy bisa mengambilkan dan menyuapimu sekaligus." jelas Lana.
Hans melotot pada Lana. " Bukan itu maksudku!Maksudku kamu yang mengambilkan makanan untukku!"
"Kamu sudah setuju untuk menjadi pacarku..."
"Itu hanya sandiwara dan ketika ada orang kantor di dekat kita. Sekarang tidak ada orang dan aku bukan pacarmu." potong Lana dingin.
" Tapi kamu perlu berlatih dan untuk berlatih, itu berarti kita harus menghabiskan waktu bersama?"
"Kau ingin aku bersikap bagaimana lagi selagi kita berpura-pura menjalin hubungan?" balas Lana datar. "Kau ingin aku melempar diriku padamu dan mulai menciumimu ketika aku melihatmu?"
Mata Hans membelalak, "Apa? Apa katamu?"
"Ah sudahlah. Lupakan saja.Aku akan memainkan sandiwara itu dengan spontan." sahut Lana gelisah.
__ADS_1
Lana meletakkan kotak kontainer yang masih bersih itu kembali pada tempatnya dan kembali duduk di meja makan. Gadis itu menata rapi makanan untuk dirinya dan juga untuk Hans. Hans akhirnya mulai untuk makan karena dia telah lapar.
"Kenapa kamu sering menghabiskan waktu bersama dengan Ryan akhir-akhir ini? Dia sudah punya pacar Lana!"
"Kau benar." ucap Lana. " Tetapi wanita itu memperlakukan Ryan dengan buruk. Ryan adalah pria yang manis. Dia selalu mendukungku di tempat kerja. Dia selalu memberitahuku bahwa aku bisa melakukan banyak hal dan yang terpenting dia percaya padaku!"
"Yang bukan merupakan alasan untuk berselingkuh dengan seseorang." ujar Hans marah. Ia marah ketika memikirkan ada pria lain yang berusaha membangkitkan harga diri Lana ketika dia sendiri sudah menghancurkannya.
Lana merendahkan nada bicaranya, " Aku tidak berselingkuh dengannya!"
"Tapi kau akan melakukannya seandainya dia memintanya." sergah Hans, sorot matanya tampak dingin.
"Kalau begitu kau sendiri bagaimana? Apakah kau tidak merasa bahwa kau sudah berselingkuh denganku dari Joy?" tantang Lana.
"Itu beda Lana! Kau kan yang menciumiku, mencumbuiku. Aku sebagai lelaki normal, tentu saja akan mengambil kesempatan itu. Lagipula aku hanya melakukannya denganmu dan sekarang kita melakukan sandiwara. Bukan kenyataan."
" Tapi kalau saat ini, kau mau mencium dan mencumbuku. Boleh saja, asal biarkan aku menyelesaikan makananku dulu." ucap Hans dengan santai.
Mata Lana melotot ke arah pria itu. Lana hendak membantah dan memaki pria itu tapi dia mengurungkan niatnya.
Hans menatap Lana geli. Mudah sekali untuk menggodanya, batin Hans senang. Mereka melanjutkan makan malam mereka dalam keheningan. Suara hujan mulai terdengar dari arah jendela ketika Lana sedang membereskan peralatan makan dan hendak mencucinya. Di apartemen mungil Lana, dia tidak memiliki alat pencuci piring karena jumlah cuciannya tidak pernah banyak. Tidak pernah ada orang lain datang berkunjung kesana kecuali Ryan dan Sasha. Biasanya Sasha hanya akan menunggu di parkiran saja ketika menjemputnya. Karena bagi Sasha, apartemennya terlalu kecil dan gadis itu tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Ada kopi?" tanya Hans.
"Ada. Ada juga brownies cokelat dengan almond sisa kemarin. Mau?" tawar Lana.
"Wah kau benar-benar cocok menjadi seorang istri dan ibu." ucap Hans.
"Terima kasih sudah memujiku." kata Lana datar.
__ADS_1
Lana kemudian menghilang di dapur untuk menghangatkan brownies dan juga membuat kopi. Lana selalu ingat bahwa Hans menyukai kopi hitam pekat tanpa gula. Lana meringis ketika menyadari bahwa dia selalu mengingat semua kesukaan dan ketidaksukaan Hans akan sesuatu. Tapi lelaki itu tidak mengetahui apapun tentang dirinya.
Lana berdiri di depan microwave dan berusaha untuk menguatkan dirinya sekali lagi supaya dia tidak sakit hati lagi karena seorang Hans Alexander.