
Hans sedang menatap Lana yang sedang mengusap-usap punggung lelaki yang diketahuinya adalah salah satu manager dari perusahaan ini yang sudah diakusisi olehnya, merasakan gemuruh di dalam dadanya. Seumur hidup, Hans tidak pernah merasakan perasaan macam ini. Dia diam dan berusaha untuk berpikir, rasa macam apakah ini!
Lana akhirnya melihat ke arah bilik ruangannya dan nampak seorang lelaki yang paling tidak ingin ia ketemui sedang duduk melamun disana. Lana melambatkan langkahnya dan berpikir untuk berbalik saja, meninggalkan tempat itu. Tetapi sudah terlambat karena Hans mendongakkan kepalanya kembali dan tatapan mereka saling bertemu.
Ryan yang menyadari bahwa Lana sedang melambatkan langkahnya, hendak bertanya kepada gadis itu, tapi Ryang yang sudah melihat apa yang gadis itu lihat, tahu apa penyebab gadis itu melambatkan langkahnya. Ryan mengetahui Hans Alexander ketika ia menghadiri rapat penting saja. Hans adalah salah satu CEO muda yang kaya raya. Kehadiran Hans di bilik Lana, menjadi tanda tanya besar bagi seluruh orang di sekitar situ. Biasanya, tangan kanan Hans saja yang akan datang dan menyampaikan segala sesuatu yang harus dikerjakan oleh mereka. Namun kali ini, Hans Alexander sedang sendirian dan menunggu Lana.
Ryan hendak berjalan menuju ke arah Hans tetapi lambaian tangan dari Hans yang memberikan sinyal untuk dirinya pergi menjauh, membuatnya mundur dan berbalik ke arah ruangannya sendiri. Ryan seketika itu juga pamit kepada Lana.
"Kayaknya kamu ditunggu tuh. Kalau begitu sampai ketemu nanti sore ya?" kata Ryan.
Ya, mereka berdua sudah janjian untuk pergi ke salah satu kafe yang biasa mereka kunjungi karena hari ini ada live music. Lana menerima ajakan dari Ryan setelah kejadian malam itu karena dia berusaha untuk melupakan hal yang paling menyedihkan dan menyakitkan di dalam hidupnya. Tapi akhirnya, Ryan dan Lana malah menikmati kedekatan mereka berdua, walau itu hanya pertemuan di kafe ketika pacar Ryan tidak berada di kota.
__ADS_1
Lana bahkan sudah berani untuk mencoba menyanyi di depan umum. Lana memang memiliki suara merdu, hanya saja dia tidak memiliki rasa percaya diri yang besar.
Ketika Ryan mendesaknya untuk mencoba di depan para tamu, Lana tidak bisa menolak lagi. Gadis itu memilih lagu tentang cinta yang tidak berbalas, menyanyikan dengan penuh hayat. Hingga ketika selesai, banyak orang telah berdiri dan bertepuk tangan. Walaupun Lana malu tapi akhirnya dia merasa sedikit bangga juga.
Lana berjalan dengan tenang ke arah Hans, walaupun jantungnya jungkir balik. Lalu dia meletakkan dompetnya di laci paling bawah di mejanya.
"Selamat siang, Tuan Hans. Ada yang bisa saya bantu?" sapanya muram.
Tiba-tiba sikap Lana menjadi lebih santai walaupun hanya sedikit. "Aku tahu aku minum-minum terlalu banyak dan kehilangan kontrol atas diriku. Aku sangat menyesali semua yang sudah terjadi dan aku akan berusaha melupakan semuanya. Maafkan diriku yang telah lancang kepadamu, Tuan. Saya mohon Tuan bisa memaafkan saya. Anggap saja seperti mimpi buruk." jelas Lana dengan dingin.
Hans mendengar setiap kata yang diucapkan oleh gadis itu, menjadi tidak percaya. Gadis itu berkata bahwa dia akan melupakan semuanya. Apakah dia akan melupakanku juga? Kenapa di dalam hati, Hans merasa sedikit kecewa dan tidak terima. Hans sudah sangat terbiasa dengan kehadiran gadis itu sejak dia menolongnya hampir delapan tahun yang lalu. Gadis yang ramah, ceria dan selalu mencuri-curi pandang ke arah dirinya.
__ADS_1
Namun saat ini, gadis yang berdiri di depannya adalah gadis yang berbeda sikapnya dan Hans tidak menyukai perubahan sikap itu.
"Bagaimana kabar Sasha?" tanya Lana menyentak lamunan Hans.
"Menjadi pendiam." sahut Hans pendek. Lana sangat terkejut mendengar jawaban singkat Hans karena Sasha adalah orang yang sama sekali bukan pendiam.
"Oh." jawab Lana singkat. Lana melirik ke arah jam di tangan kirinya, seolah ingin menunjukkan ke Hans kalau dia harus kembali bekerja karena ada beberapa laporan yang harus ia selesaikan. "Kalau begitu, apa yang bisa aku bantu, Tuan?" tanya Lana lagi.
"Aku harus berbicara denganmu!"
"Apakah tidak bisa lewat telpon saja?" tanya Lana sambil menundukkan kepalanya, karena gadis itu sedang berusaha untuk tidak menatap lelaki yang sudah menyakiti hatinya. Lana sama sekali tidak berharap bahwa Hans akan datang menemuinya seperti ini. Lana tahu, cepat atau lambat Hans akan menemuinya! Tapi saat ini, dia masih belum siap untuk menemui lelaki yang sedang berdiri di depannya ini.
__ADS_1