Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 37


__ADS_3

Hi para pembaca yang baik hati. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia di masa pandemi ini. Maaf kalau Mak Thor sedikit membuat cerita agak lama ke konflik. Soalnya Mak Thor berusaha supaya tidak tamat terlalu cepat. Tapi Mak juga tidak mau ceritanya bertele-tele sehingga tidak bisa dinikmati. Hari ini Mak mau up 2 episode. Semoga kalian menikmati. Komentar,like, vote, beri hadiah, sangat diharapkan dan dinantikan Mak ya. Tuhan memberkati.


Aula konser sudah padat. Semua orang kalangan menengah ke atas lumayan antusias untuk datang dan menikmati Java Jazz. Karena memang banyak pemain Jazz berasal dari luar negeri dan mereka lumayan terkenal di dunia musik Jazz. Lana berjalan menuruni lorong menuju ke tempat duduk mereka. Ia tahu bahwa Hans sama sekali tidak menyukai Jazz, tapi pria itu baik sekali karena telah rela menderita, mengingat Lana sangat menyukai alat musik yang sedang dimainkan.


Tentu saja, Hans mungkin berada disini karena memiliki tujuan tertentu, yaitu sedang memata-matai Ryan dan pacarnya, batin Lana yang sedikit merasa cemas karena hal tersebut. Kalau memang benar Ryan adalah seseorang yang dicurigai oleh Hans, Lana masih tetap tidak bisa percaya. Ryan sangat mirip dengan dirinya. Dia adalah lelaki baik yang sangat menjunjung tinggi kejujuran dan kebaikan. Tetapi mengapa Hans ingin menghabiskan begitu banyak waktu di kantor Lana jika tidak mencurigai Ryan?


Semua ini sangat membingungkan. Lana duduk di kursi yang sudah dipesan di sebelah Hans dan menunggu tirainya diangkat. Mereka sempat terjebak macet dalam perjalanan dan nyaris terlambat. Lampu telah padam ketika mereka sampai dan menuju ke tempat duduk mereka.


Di dalam kegelapan dan hanya diterangi lampu di panggung tempat pemain memainkan alat musik, Lana merasakan tangan Hans yang besar dan hangat menggenggam tangannya. Lana mendesah tak berdaya, menyukai sentuhan Hans yang menyenangkan dan menyengat.


Hans yang mendengar ******* lirih itu, semakin mengeratkan genggaman jarinya. Ia tidak melepaskannya sampai waktu jeda.


"Mau meluruskan kakimu?" ajaknya Hans seraya berdiri.


"Ya kurasa aku perlu meluruskan kakiku." kata Lana setuju. Lana berdiri, masih senang dengan kedekatan dirinya dan Hans. Mereka berjalan keluar dengan berdampingan. Walaupun Hans tidak memegang tangannya kali ini, Lana menyadari dan bertanya-tanya mengapa.


Ketika tiba di lobi, Ryan melihat mereka dan bergerak cepat ke arah mereka sementara kekasihnya, Thalia, membuntutinya.


Dia cantik, batin Lana, sangat elegan, dengan rambut gelap dan kaki jenjang. Lana berharap seandainya ia memiliki setengah dari kecantikan itu. Kekasih Ryan terlihat seperti keturunan campuran yang jelas-jelas memukau.


"Well,halo!" sapa Ryan dengan kehangatan yang tulus. "Sayang, ini sekretarisku, Lana Adelia...maafkan aku," tambahnya buru-buru sembari tersenyum malu melihat sorot mata Lana," maksudku, asisten administrasiku. Dan ini teman kencannya dan juga..."


"Bos kita" kata Thalia memotong perkataan Ryan. Mata Thalia sangat berbinar seolah melihat mangsa yang sangat empuk. Dia terlihat seperti wanita yang ambisius dan penuh percaya diri saat memandang Hans. Juga sedikit menggoda Hans, yang membuat rasa percaya diri Lana menciut dan kurang nyaman.


"Tuan Hans, ini kekasih saya. Thalia Wong." kata Ryan memperkenalkan.


"Senang bertemu denganmu, Tuan." kata Thalia bersemangat sambil menyerahkan tangannya untuk menjabat tangan Hans.


"Sama-sama" sahut Hans sambil menjabat tangan Thalia.

__ADS_1


Ketika Lana hendak menjawab tangan Thalia, wanita itu menarik tangannya begitu saja dan melirik dengan malas ke arahnya.


"Thalia bekerja di bidang pemasaran kita, Tuan. Dia yang memegang divisi di wilayah barat daya. Mungkin Tuan belum pernah bertemu." jelas Ryan pada Hans.


Hans hanya mengangguk dengan sopan ke arah mereka. Lalu Hans mengamati Thalia dengan penuh selidik dan tanpa komentar apa-apa. Lana melihat bahwa Hans mengamati Thalia yang membuat Thalia sangat bangga akan dirinya dan membuat Lana sedih karena sadar lagi bahwa Hans selalu tertarik dengan wanita cantik dan seksi. Bukan wanita seperti dirinya, batinnya sedih.


Lana berusaha tidak memandang ke arah Hana. Rasanya sulit untuk menjaga perasaannya sendiri supaya tidak diketahui oleh orang lain.


Kemudian Thalia dan Hans sudah terlibat dalam percakapan yang membuat mereka tertawa bersama-sama sedangkan Lana dan Ryan hanya bisa diam, berusaha untuk mengikuti percakapan mereka berdua. Namun mereka tidak bisa mengikuti arah pembicaraan Hans dan Thalia.


"Apakah kalian menikmati konsernya?" tanya Ryan pada Lana, Ryan juga merasa tidak nyaman dengan cara Thalia menatap Hans Alexander.


"Sangat luar biasa." sahut Lana antusias karena memang dia menyukai Jazz.


"Aku juga sangat menyukainya walaupun Thalia terlihat sedikit bosan. Mungkin kita harus pergi berdua saja untuk konser selanjutnya." ajak Ryan.


"Iya, kita bisa pergi berdua saja." senyum Lana pada Ryan. Senyum antusias yang tulus seperti anak kecil.


"Ayo sayang, kita harus masuk kembali karena waktu istirahatnya akan segera selesai." ajak Thalia sambil menarik lengan Ryan. Ryan bahkan tidak sempat berpamitan dengan Lana.


Hans menyelipkan tangannya ke tangan Lana lalu berkata " Ayo kita kembali!"


"Ini konser yang bagus." komentar Lana untuk menghindari kecanggungan mereka berdua.


"Benarkah? Aku benci Jazz." gumam Hans seperti yang sudah diduga.


Komentar itu membuat Lana tetap membisu sampai acara telah selesai dan mereka keluar dari gedung dan dalam perjalanan kembali ke apartemen Lana dengan mobil Hans.


"Kenapa kau mengajakku pergi kalau kau tidak suka menonton konser?"tanya Lana.

__ADS_1


Hans meliriknya. "Aku punya alasan sendiri. Apa pendapatmu tentang kekasih atasanmu tadi?"


"Dia cantik dan seksi. Walaupun dia menuntun Ryan kemana-mana seperti bocah cilik."


"Kebanyakan wanita memang seperti itu. Ryan adalah pria yang tidak tegas." ujar Hans malas.


"Dia tegas. Kalau dia tidak tegas, dia tidak akan bisa memiliki posisi sekarang. Dia harus memecat orang."


"Dia tidak cocok untukmu, Lana. Sebagai kekasih atau bukan. Hubungan kalian tidak akan berkembang. Berhentilah menyukai dan mengejarnya." kata Hans tiba-tiba.


"Ini hidupku." cetus Lana.


"Memang benar."


Mereka melanjutkan sisa perjalanan sembari membisu. Hans mengantar Lana sampai di depan pintu apartemennya dan berdiri menatap wanita itu untuk waktu yang cukup lama. "Belilah baju baru."


"Kenapa?" tanya Lana, terkejut.


"Aku akan mengajakmu menonton The Nutcracker bulan depan. Aku ingat itu salah satu pertunjukkan balet favoritmu."


"Ya." Lana tergagap.


"Kalau begitu aku akan mengajakmu." ujar Hans sambil melirik arlojinya. "Aku harus menelepon dan banyak menghadiri rapat di awal minggu. Tapi aku akan mengajakmu makan siang Rabu depan."


"Baiklah." sahut Lana.


Hans tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menarik Lana ke arahnya dengan keras. Ia menahan Lana disana, menusuk mata Lana dengan matanya sampai bibir Lana terbuka. Lalu ia menunduk dan mencium Lana dengan penuh gairah, menggerak-gerakkan mulutnya di mulut Lana sampai Lana menyerah dan memberikan apa yang diinginkannya. Setelah beberapa saat yang lama dan kehabisan nafas, Hans mengangkat kepalanya.


"Tidak buruk tapi kau butuh sedikit latihan. Selamat tidur." gumam Hans lembut.

__ADS_1


Ia melepaskan Lana dan berjalan pergi sementara Lana berusaha menemukan kembali suaranya. Hans tidak pernah menoleh sekalipun. Lana berdiri di pintunya seraya menatap Hans sampai pria itu melangkah ke dalam lift dan pintunya menutup.


__ADS_2