
Kedatangan Sasha bagaikan badai di rumah Hans. Gadis itu langsung menyerbu masuk ke rumah tanpa memarkirkan mobilnya dengan benar dan juga tanpa mengambil barang bawaannya, sehingga salah satu penjaga harus memarkirkan mobilnya dan juga mengambil koper dan tas tangan di dalam mobil.
"Kak Hans... Lanaa... dimana kalian?" jerit Sasha yang terdengar di seluruh penjuru rumah yang besar itu.
Beberapa kali Sasha berteriak-teriak, namun orang yang dicarinya tak kunjung keluar. Rasa penasaran Sasha sudah membuncah tinggi bercampur dengan rasa kesal karena Hans maupun Lana belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Sebenarnya Hans sudah mendengar jeritan adiknya dari dalam kamar kerjanya. Tapi saat ini Hans sedang menerima laporan dari Andrew lewat sambungan video call. Salah satu laporan dari Andrew berkaitan dengan peredaran narkotika di perusahaannya, membuat Hans tidak bisa meninggalkan mejanya saat ini.
Untung saja, Lana dengan segera keluar untuk menyambut sahabatnya yang juga akan menjadi saudari iparnya itu. Hans yang mendengar teriakan adiknya itu telah berhenti, merasa lega karena dia bisa fokus terhadap permasalahannya saat ini.
"Halo, Sha. Bagaimana kabarmu?" tanya Lana sambil menghampiri dan memeluk sahabatnya itu. "Hampir sebulan sejak pesta itu, kita tidak bertemu." tambah Lana sambil tersipu malu karena dia menolak untuk bertemu ataupun membalas pesan dari sahabatnya itu.
"Iya.. iya... Aku baik sekali. Sekarang duduklah dan ceritakan padaku bagaimana akhirnya kalian bisa memutuskan untuk menikah? Apa yang sudah aku lewatkan? Kalian tega sekali menyembunyikan semua ini dariku!" ucap Sasha tanpa berhenti dan hampir histeris. Gadis itu bahkan menarik tubuh Lana untuk duduk di sofa dengan cepat, yang menyebabkan Lana hampir jatuh.
Akhirnya Lana membenarkan tubuhnya dan duduk dengan benar di sofa. Dengan tenang, Lana menatap sahabatnya dan kemudian menggelengkan kepalanya. Sudah lama mereka bersahabat, namun kebiasaan Sasha yang tidak sabaran tidak pernah berubah sama sekali.
"Tenanglah Sha! Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, tapi kau harus tenang dulu!" perintah Lana menenangkan Sasha.
Sasha menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Setelah beberapa saat, Sasha menjadi tenang tapi matanya tetap memancarkan rasa penasaran yang tinggi.
__ADS_1
"Jadi begini... kau sudah tahu kan, kalau selama ini aku selalu menyukai kakakmu?" kata Lana.
Mendengar pertanyaan Lana, Sasha hanya menganggukkan kepalanya. Karena Sasha berpikir jika dia menjawab dengan perkataan, maka Lana akan semakin lama untuk menjawab rasa penasarannya.
Lana kemudian melanjutkan perkataannya setelah melihat anggukan Sasha. " Setelah kejadian pesta itu, aku berusaha menghindari kalian berdua. Tapi kakakmu datang padaku dan meminta bantuanku untuk bersandiwara layaknya sepasang kekasih di kantor karena Hans mencurigai salah satu pekerja di kantor mengedarkan dan memakai narkotika."
"Narkotika? Apakah kalian dalam bahaya? Apakah pernikahan ini hanyalah sandiwara?" cerocos Sasha tanpa berhenti karena sekarang rasa penasaran dan kekhawatirannya timbul bersamaan.
"Dengarkan dulu, Sha!" perintah Lana.
Melihat Sasha yang sudah menjadi tenang lagi, Lana pun melanjutkan ceritanya sambil berusaha memikirkan kata per kata yang akan digunakan supaya tidak menyebabkan kebingungan ataupun kesalahpahaman.
"Setelah beberapa waktu kami bersama untuk bersandiwara, akhirnya kejadian dimana Hans mengetahui bahwa aku mendengar semua ucapannya di pesta itu terjadi. Di malam pesta ulang tahunnya, dia datang ke apartemenku dalam keadaan mabuk dan dia..."
"Dan aku memaksa Lana untuk bercinta denganku!" kata Hans memotong ucapan Lana. Hans berjalan dengan santai namun masih saja terlihat elegan.
"Walaupun aku memaksanya, tapi aku memutuskan menikahi Lana karena aku mencintainya. Jadi pernikahan kami bukanlah sandiwara!" tambah Hans sambil duduk di sofa yang berseberangan dengan kedua gadis yang dicintainya itu.
Perkataan Hans yang pendek tapi cukup menjelaskan itu, membuat pipi Lana merona merah dan membuat mulut Sasha menganga karena terkejut.
__ADS_1
"Sejak kapan kakak mencintai Lana?" tanya Sasha tanpa tedeng aling-aling.
"Kakak tidak tahu kapan pastinya, tapi kakak merasa ada yang salah dan kosong di hati kakak ketika Lana mencoba untuk menjauhi kakak. Kakak merasa sedih dan hampa!" jelas Hans.
"Woooowwww.... Aku sangat bahagia sekali untuk kalian berdua. Akhirnya Lana-lah yang akan menjadi iparku dan bukan Joy si nenek lampir itu!" teriak Sasha sambil loncat kegirangan.
"Duduklah, Sha. Kakak ada pengumuman lainnya!" Ujar Hans.
Sasha langsung duduk dengan cepat, supaya dia bisa mendengar pengumuman lainnya dari Hans. Sedangkan Hans menatap Lana dengan sorot mata yang sedikit ragu dan kalut, membuat Lana bertanya-tanya.
Apakah Hans akan batal menikahiku? batin Lana. Lana merasakan hawa yang tidak enak datang dari arah Hans.
"Katakanlah, Hans!" perintah Lana.
"Kayaknya kita harus menikah secara tertutup sampai kasus narkotika di kantor berhasil dituntaskan! Apakah kamu keberatan, sayang?" tanya Hans dengan ragu.
Oh Ya Tuhan, ternyata Hans bukan berpikir untuk membatalkan pernikahan mereka, batin Lana sambil menghembuskan nafas yang telah ditahannya dari tadi.
"Tentu saja, sayang. Aku sebenarnya tidak ingin pesta pernikahan yang besar!" ucap Lana. Lana memang tidak ingin memiliki pesta pernikahan yang besar yang akan membuatnya merasa minder dengan status sosialnya.
__ADS_1
"Tapi... kita juga harus merahasiakan pernikahan kita untuk sementara waktu! Karena aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu!" tambah Hans.
Kata-kata merahasiakan pernikahan sedikit terdengar aneh di telinga Lana. Juga membuat Lana sedikit berpikiran negatif.