
Pagi harinya, Hans bangun terlebih dahulu tapi tidak membangunkan Lana. Dia tak henti-hentinya menatap wajah Lana. Hans merasa sedikit aneh dengan perubahan tubuh Lana, yang sedikit berisi. Hans berpikir kalau mungkin saja Lana makan lebih banyak di tempat ini. Normal saja karena memang cuaca disini lebih dingin, batin Hans.
Hampir satu jam Hans bangun dan menatap Lana, melampiaskan seluruh kerinduannya. Tak sedetikpun Hans melepaskan tubuh Lana dari pelukannya. Hingga tubuh Lana menggeliat, menandakan bahwa ia sudah bangun dari tidurnya.
Lana langsung melihat ke sampingnya dan langsung menemukan bahwa dia sedang ditatap oleh Hans.
"Apakah kau sudah bangun dari tadi?" tanyanya.
"Hmm." hanya dehaman yang keluar dari Hans.
"Apakah kau sudah lama menatapku?" tanya ulang Lana karena tidak puas dengan jawaban Hans.
"Mungkin sudah sejam!" terang Hans pendek.
Otak Lana yang teringat apa yang telah terjadi, membuat gadis itu sadar sepenuhnya dari tidur. Lana segera bangkit dan duduk di ranjang. Tangannya mendekap selimut yang menutupi tubuh polosnya. Mata Lana mengilat dan menuntut penjelasan!
"Apakah tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku?" tuntut Lana dengan nada tegas.
__ADS_1
"Sayang... apa yang ingin kau dengar?" rengek Hans.
"Apakah tentang Joy?!" lanjut Hans.
"Tentu saja tentang kau dan Joy! Apakah kau kembali padanya? Kalau iya, putuskan aku terlebih dahulu! Aku tidak ingin menjadi orang ketiga. Aku... biarkan aku pergi dari sini dan juga hidupmu! Aku jamin aku tidak akan tinggal di negara yang sama denganmu! Aku lebih baik tinggal di tempat yang jauh darimu!" ucap Lana sambil menahan tangisnya.
"Aku lebih baik bersama dengan lelaki yang mencintaiku apa adanya dan setia daripada bersama denganmu!" lanjutnya.
Hans mendengar Lana menyebut bahwa Lana ingin menemukan lelaki lain, membuat jiwa posesifnya bergelora. Hans juga bangkit dari ranjang. Lelaki itu berdiri dan menampilkan tubuh polosnya. Mata Hans yang berwarna abu-abu berubah menjadi lebih gelap karena amarahnya.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi dariku! Sekarang dengarkan aku!" geram Hans.
Lana yang mendengarkannya dengan baik-baik, terkejut. Karena Lana tahu saat ini Hans tidak berbohong padanya. Tiba-tiba rasa bersalah hinggap di hatinya. Lana hanya menundukkan kepalanya dengan sedih, namun juga gengsi untuk mengatakan maaf.
Sehingga beberapa saat, hanya ada keheningan di antara mereka. Hans kembali duduk di ranjang dan mendekati gadis itu.
"Maafkan aku..." ucap Lana lirih dan air mata sudah menetes dari matanya.
__ADS_1
Hans menghembuskan nafasnya dengan pelan dan kemudian memeluk tubuh Lana.
"Maafkan aku juga yang sudah terlalu sibuk dan mengabaikanmu!" kata Hans sambil memeluk Lana.
Mereka berdua larut dalam suasana tenang itu. Tangan Hans membelai lembut kepala Lana. Lana melepas rindu pada Hans dengan menempatkan wajahnya di ceruk leher Hans dan juga menghirup aroma tubuh Hans yang dirindukannya.
"Hans..." ucap Lana tiba-tiba.
"Hmm .." balas Hans.
"Apakah kau menempatkan pengawal lain bagiku?" tanya Lana.
"Tentu saja, sayang! Aku sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Aku tidak ingin kehilanganmu atau orang lain mencoba mencelakaimu! Pengawal yang terlihat, itu pengawal biasa sedangkan yang kau temui semalam, dia adalah pengawal khusus!" jelas Hans.
"Sudah, jangan kau pikirkan lagi tentang hal itu. Apakah kau tidak merindukanku, sayang?" lanjut Hans sambil tangannya sudah bergerak ke arah tubuh Lana yang lain.
"Hans... jangan..." ujar Lana menolak halus Hans yang tangannya sudah tak terkondisikan.
__ADS_1
"Please sayang, sekali lagi sebelum kita pergi keluar untuk sarapan." ajak Hans. Mata Hans sudah bergelora menunjukkan nafsunya.
Lana menyadari bahwa percuma saja kalau dia menolak Hans. Jadi Lana hanya menganggukkan kepalanya. Hans yang melihat sinyal itu, langsung menerkam tubuh Lana. Sekarang masalah mereka berdua sudah jelas dan selesai. Hanya ******* dan lenguhan dari kedua orang itu di kamar.