Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 9


__ADS_3

"Kau... kau masih saudara jauhku!" ujar Sasha dengan nada tercekat.


"Aku sama sekali bukan saudara jauhmu, aku juga tidak peduli dengan semua sikap permusuhan kakakmu kepadaku. Suatu hari nanti aku akan memanggulmu di bahuku ini dan membawamu keluar dari sini. Sampai saat itu, tunggu aku sayang!" kata Chris sambil mengedipkan matanya ke Sasha.


Chris berbalik dan berjalan menuju ke arah pintu sementara Sasha masih menatap punggung lelaki itu sambil memegang bibirnya, ketika Lana masuk dan membawa tumpukan cucian yang lain.


"Ada apa denganmu?" tanya Lana.


"Chris mencium bibirku." sahut Sasha dengan nada parau.


"Dia memang selalu menciummu."


Sasha menelan ludah dengan susah payah. "Tidak. Ia tidak pernah menciumku seperti ini."


Alis Lana terangkat dan ia menyeringai. "Menurutku memang sudah waktunya!"


"Apa?" tanya Sasha yang bingung mendengar perkataan Lana.


"Tidak apa-apa. Sini. Bisakah kau membukakan mesin pencuci piring ini. Tanganku penuh."


Sasha dengan segera tersadar dari lamunan dan segera membantu membukakan mesin pencuci piring dan membantu sahabatnya untuk menata piring-piring dan peralatan makan lain ke dalam mesin itu. Tetapi Sasha masih merasa shock dan membisu selama membantu Lana.


"Jangan sampai Chris membuatmu kesal." ujar Lana dengan lembut. "Chris mengira dia sebenarnya sedang membantuku walaupun sebenarnya tidak. Aku tidak keberatan sama sekali untuk membantumu, dengan segala cara yang bisa aku lakukan. Aku berhutang banyak sekali kepadamu dan juga Hans..."


"Kau tidak berhutang apapun kepada kami, Lana." potong Sasha dengan buru-buru. "Oh, Ya Tuhan. Seharusnya kau berterus terang saja kepada kami dan tidak membiarkan kami untuk memanfaatkan kebaikanmu. Kau tidak cukup tegas untuk menolak kami dan berterus terang."


"Aku tahu. Itu sebabnya karirku tidak maju-maju di kantor. Aku cuma... cuma tidak suka perselisihan." ucap Lana mengakui.


"Kau sudah mengalami cukup banyak perselisihan di dalam hidupmu."


"Aku menyayangi kedua orang tuaku. Sungguh." wajah Lana memerah ketika mengucapkan kata-kata ini.

__ADS_1


"Tetapi mereka juga bertengkar di hadapanmu. Seperti kedua orang tua kami. Ibu selalu membenci ayah dan selalu pergi untuk pesta dan berakhir mabuk. Ibu selalu mabuk-mabukan untuk melupakan segala masalahnya dengan ayah, walaupun kami tidak melihat permasalahan sebenarnya. Kau tahu tidak, Ibu yang membuat Kak Hans menjadi dingin kepada setiap wanita. Dia sering mengusik Kak Hans ketika Kak Hans berusia delapan tahun dan semakin tahun malah semakin parah. Hal itu membuat Kak Hans menderita rasa rendah diri yang parah sekali ketika dia SMA."


"Benarkah? Kalau begitu dia sudah bisa mengatasi masalahnya dengan baik sekarang." kata Lana tajam.


Sasha menggeleng. " Tidak juga. Kalau Kak Hans sudah bisa mengatasi masalahnya itu. Dia akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Joy."


"Kukira kau menyukai Joy!"


Sasha terlihat malu. "Memang seperti itulah. Dia memiliki posisi bagus  dan penting  di Sara, toko baju ekslusif tempatnya bekerja."


"Oh, Sasha." ujar Lana letih seraya menggeleng.


"Aku tahu. Aku memang memanfaatkan orang lain tetapi aku mencoba melakukan hal itu dengan cara yang baik. Aku selalu mengirimkan bunga, atau hadiah, atau sesuatu setelah itu." Sasha mengakuinya.


Lana tertawa pasrah. " Ya memang. Sini bantu aku untuk membersihkan sisa cucian yang tidak muat di mesin lalu kita bisa pergi untuk beristirahat. Aku lelah."


"Lalu kau bisa memberitahuku canape dan makanan seperti apa yang kau ingin aku masakkan untuk besok." tanya Lana. Lana sadar bahwa ia harus istirahat lebih awal karena besok akan menjadi hari bencana logistik baginya. Ia harus bangun pagi dan menyiapkan segala makanan dan kudapan untuk 40 orang sendirian. Tetapi Lana tahu bahwa ia akan bisa menjalaninya karena Ia sudah pernah melakukannya dan Sasha adalah sahabat karibnya.


"Aku sudah menyiapkan sarapan." kata Lana tanpa memperhatikan Hans lebih lama karena jantungnya berdetak begitu kencang. Pria itu terkesan begitu kokoh dalam balutan celana jeans ketat dan kancing kemeja yang dibuka sehingga mempertontonkan bahunya yang bidang. Lana berusaha sekuat tenaga agar tidak memperhatikan lelaki yang sudah Ia cintai dari semenjak kecil.


"Kopi?" tanya Hans.


"Ada di cerek."


Hans menuang kopi untuk dirinya sendiri di cangkir sembari mengamati gerak-gerik tangan Lana yang gesit ktika wanita itu mengoleskan mentega di atas biskuit dan memindahkan telur ke piring yang sudah terisi sosis dan bacon.


"Kau tidak makan?" tanya Hans sembari duduk di kursi.


"Tidak ada waktu. Sebagian besar tamunya akan datang ketika makan siang. Jadi ini harus diselesaikan sekarang sebelum aku terlalu sibuk." sahut Lana sembari  mengatur selembar canape di loyang.


Bibir Hans yang sensual terkatup rapat membentuk garis tipis. "Aku selalu tidak menyukai Chris tetapi dia benar akan satu hal. Kau memang membiarkan Sasha memanfaatkanmu."

__ADS_1


"Kau dan Sasha selalu berada disisiku ketika aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," ujar Lana tanpa menyadari kerjapan mata Hans. " Kurasa Sasha berhak mendapatkan apapun yang bisa kulakukan untuknya."


"Kau merendahkan dirimu sendiri."


"Aku sangat menghargai saat orang lain melakukan segalanya untukku tanpa diminta." sahut Lana. Ia memasukkan canape ke oven dan mengatur timer, menyibakkan rambut lembabnya yang lepas dari gelungan ke belakang.


Tatapan Hans menyusuri sosok Lana dalam balutan celana panjang longgar dan T-shirt kebesaran. "Kau berpakaian seperti wanita tua." gerutu Hans.


Lana meliriknya, terkejut. "Aku berpakaian dengan bagus ketika aku pergi ke kantor."


"Seperti janda tua," ralat Hans. "Kau mengenakan pakaian yang sama seperti ketika kau masih gendut. Sekarang kau sudah tidak gendut lagi. Kenapa kau tidak mengenakan pakaian yang sesuai?"


Mengejutkan sekali karena Hans cukup memperhatikan dirinya bahkan caranya berpakaian. "Yang model fashion itu Sasha, bukan aku. Selain itu aku juga bukan tipe-tipe wanita yang mengikuti fashion dan trend-trend terbaru. Aku cuma wanita biasa." ucap Lana mengingatkan Hans.


Hans mengerutkan keningnya dan berpikir kalau Lana memiliki masalah harga diri yang parah. Ia dan Sasha juga tidak banyak membantu gadis itu. Lana selalu menerima apa saja yang ia dan Sasha lemparkan ke arahnya, seakan ia layak mendapatkannya. Hans sangat terkejut karena menyadari betapa hal itu cukup membuatnya terganggu. Melihat Lana begitu diremehkan oleh dirinya sendiri dan adiknya. Bukan berarti aku tertarik padanya, ucap Hans dalam hati. Lana sama sekali bukan tipe wanita idamanku.


"Joy akan datang pagi ini dan aku harus segera pergi untuk menjemputnya."


Lana hanya tersenyum kecil "Sasha sangat mengharapkan kedatangan Joy dan sangat berharap bahwa Joy akan membantunya kali ini."


"Kurasa dia akan mencoba. Sarapan!! Kau tidak akan bertahan tanpa sarapan."


"Aku sungguh-sungguh tidak punya waktu." tolak Lana yang mulai menyiapkan canape lain di loyang lainnya. "Kecuali kau mau mengorbankan dirimu untuk membantuku mengurus semangkuk adonan?"tanyanya sembari mengangsurkan mangkuk yang telah berisi adonan seraya tersenyum jahil.


Mata abu-abu Hans berbinar menyiratkan rasa sayang walaupun masih menahan dirinya. "Tidak, terima kasih."


"Menurutku juga tidak!" jawab Lana terkekeh kecil.


Hans mengamati Lana bekerja sembari makan sarapan, berbagai pikiran samar berkelebat di pikirannya. Lana sudah menjadi bagian hidupnya sehingga ia tidak pernah tidak merasa nyaman saat mereka sedang bersama. Hans sangat sulit bergaul dengan orang lain. Ia terlihat sangat menahan diri dan menjaga jarak, mesiki pada kenyataannya ia seorang penyendiri yang tidak tahu cara bergaul dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya. Seperti Lana sendiri,batin Hans mempertimbangkan. Wanita itu sangat pemalu berada di antara orang-orang yang tidak dikenalnya dan malam ini, dia akan dilempar langsung ke kerumunan yang bahkan tidak ia sukai.


Teman-teman Joy adalah orang-orang yang sedang naik daun, masyarakat kalangan atas. Jujur, Hans sendiri juga tidak merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka dan bisa dipastikan, Lana tidak akan menyukainya.  Mereka menyukai mobil-mobil mewah, liburan mewah,berlian, investasi, dan mereka bergaul dalam lingkup sosial yang melibatkan beberapa orang yang paling terkenal di dunia, dari bintang film, pembalap,pakar bidang finansial, bahkan hingga politikus. Mereka mengelompokkan teman-teman mereka berdasarkan kekayaan dan status, bukannya karakter. Dalam dunia mereka, benar dan salah tidak pernah ada!

__ADS_1


__ADS_2