Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 34


__ADS_3

Hi para pembaca yang baik hati. Mak Thor memohon dukungannya. Kalian bisa like, vote, beri hadiah maupun komentar. Apapun dukungan kalian, sungguh bermakna bagiku. Jangan lupa ya!! Terima kasih banyak.


Hans dan Lana makan siang dengan tenang, Ryan tidak sedang makan siang di restaurant itu tapi Hans tetap terus menerus mengedarkan pandangannya di sekitar tempat mereka duduk seakan berharap bahwa Ryan dan pacarnya akan muncul begitu saja di samping meja.


"Kau sedang mencari seseorang?" akhirnya Lana bertanya karena melihat tingkah laku Hans yang agak aneh.


Hans memandang Lana dari atas hidangan penutupnya, yaitu flan karamel. "Aku selalu bersikap waspada. Itu sudah menjadi tugasku." jawab Hans enteng.


Lana jarang memikirkan pekerjaan Hans. Hans merupakan seorang CEO yang sangat terkenal karena tampan, kaya dan belum menikah. Tapi tidak hanya itu, banyak saingan bisnisnya, juga mengincar nyawanya. Lana tidak pernah menyadari betapa bahaya menjadi seorang Hans Alexander hingga hari ketika dia mengajaknya untuk bersandiwara. Tidak hanya harus mengatur beberapa perusahaan dan anak perusahaan, dia juga harus menghadapi lawan bisnisnya ataupun musuhnya.


"Memikirkan hal-hal yang berat?" tanya Hans ketika melihat ekspresi wajah Lana.


"Tidak juga. Flan karamel ini sangat lezat."


"Pantas saja Ryan sering datang kemari. Makanannya juga enak." tambah Lana.


"Ya. Mereka juga benar-benar membuat teh yang sangat enak." kata Hans mengiyakan perkataan Lana.


"Mateo!" seru Hans memanggil seorang pria yang baru saja masuk ke dalam restaurant, memotong ucapan Lana.


Seorang pria yang tampak lebih tua memandang ke arah Hans dengan ragu-ragu, lalu tersenyum lebar ketika bergabung bersama mereka. "Hans." sapanya. "Senang bertemu denganmu!"

__ADS_1


"Kukira kau sedang berada di kota lain." komentar Hans.


"Memang. Aku pulang lebih awal dari yang kuduga. Siapa ini?" tambahnya sambil melirik ke arah Lana dengan rasa penasaran.


"Lana Adelia, kekasihku." sahut Hans tanpa tedeng aling-aling. "Lana ini Mateo, salah satu bodyguard profesionalku yang sekarang sedang disewa salah satu selebriti papan atas."


Mereka berjabat tangan.


"Senang bertemu denganmu, Tuan Mateo."


"Sama-sama Nona Lana." kata Mateo. "Eh, kali ini seleramu berbeda. Aku harap kalian akan langgeng selamanya." tambah Mateo sambil mengedipkan mata ke arah Hans.


Mateo telah mengawal Hans lumayan lama sejak Hans mendirikan perusahaan pertamanya. Mereka sudah menjadi dekat seperti sahabat. Jadi Mateo agak heran dengan pilihan Hans kali ini.


"Eh, maaf. Aku tidak bisa bergabung denganmu kali ini. Aku sedang menunggu anak dan istriku. Juga kulihat kalian sudah hampir selesai. Lain waktu saja,ya?" ucap Mateo.


"Oke kalau begitu. Jangan lupa menghubungiku kalau kau senggang!" kata Hans pada Mateo.


Mateo hanya menganggukkan kepalanya dan pergi ke salah satu meja yang ada di pojokan restaurant. Makanan penutup Lana dan Hans juga sudah habis. Maka Hans memanggil pelayan untuk meminta bill makanan. Hans juga meninggalkan uang yang dikiranya cukup untuk membayar makanan Mateo dan keluarganya. Sebelum keluar dari restaurant, Hans dan Lana berjalan ke arah meja Mateo untuk berpamitan. Ketika mereka berjalan keluar dari restaurant, Hans menyelipkan sebelah tangan di pinggang Lana. Tetapi Lana menyadari bahwa pria itu langsung melepaskan pelukannya begitu mereka memasuki area parkiran. Pria itu cuma bersandiwara dan juga sebaliknya. Lana ingat akan hal itu. Ia sudah pernah disakiti. Sepertinya tidak masuk akal mengundang kepedihan yang lebih dalam lagi dari sumber yang sama.


Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Lana memutuskan bertanya pada Hans.

__ADS_1


"Apakah Mateo sudah lama menjadi bodyguardmu?"


"Sudah lama sekali. Dia sudah bekerja bahkan ketika ayah dan ibuku masih hidup." cerita Hans pada Lana.


Tiba-tiba Lana memikirkan ibu Hans dan bertanya-tanya berapa banyak kerusakan yang telah ibu Hans lakukan terhadap pria itu ketika masih muda dan berkembang. Mungkin itu bisa cukup banyak menjelaskan sikap Hans.


"Apakah kau menyayangi ibumu?" tanya Lana.


Hans melotot ke arah Lana. "Aku sangat membencinya."


Lana menelan ludah. Ia terkenang kembali pada pesta tempo hari, pada sikapnya yang tidak tahu malu ketika ia menenggak bergelas-gelas sampanye. Ia sudah membangkitkan kenangan buruk kepada Hana, tentang ibunya, dan masa kecilnya. Hanya saja sekarang ia memahami mengapa pria itu telah bereaksi dengan begitu kasar. Tidak heran ia membuat Hana muak. Hans menyamakan perilakunya dengan sikap ibunya. Tetapi Hans juga mengatakan hal-hal lain, hal-hal yang tidak bisa dilupakan Lana. Hal-hal yang menyakitkan hati.


Lana tertunduk dan melirik arlojinya. "Aku benar-benar harus pulang." ujarnya.


Tangan Hans terulur ke arah tangan Lana dan menggenggamnya. "Jangan." katanya kasar.


"Jangan terlihat seperti itu!Kau biasanya tidak minum-minum, tidak pernah sekalipun. Karena itu sampanye membuatmu mabuk. Sikapku saat itu memang berlebihan. Jangan biarkan hal itu menghancurkan segalanya di antara kita, Lana!"


Lana menarik napas pelan untuk menenangkan diri. Ia tidak kuasa menatap ke arah Hans. Alih-alih ia menatap bibir pria itu, yang ternyata lebih buruk. Bibir itu terkesan sensual dan seakan dipahat, sehingga ia tidak bisa berhenti mengingat bagaimana rasanya dicium bibir itu. Hans memang ahli. Dia kuat. Ia begitu ingin pria itu menariknya ke pelukan dan menciuminya sampao gila, tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi.


Lana menarik tangannya seraya tersenyum kecil. "Aku tidak menyimpan dendam, Hans." ujarnya bohong hanya untuk meyakinkan pria itu. "Dengar, aku benar-benar harus kembali ke kantor. Aku sedang punya banyak pekerjaan."

__ADS_1


"Baiklah." sahut Hans.


Setelah beberapa saat, Hans menurunkan Lana di pintu depan gedung kantornya dengan mata menyipit dengan sorot penasaran, yang membekas pada diri Lana sepanjang sisa hari itu.


__ADS_2