Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 19


__ADS_3

Tepat lima menit setelah jam pulang kantor, Lana masuk ke dalam kedai kopi kecil di lantai bawah. Hans sudah memesan meja dan sudah memesan minuman untuk mereka berdua. Hans sudah memesan FRENCH Vanilla Cappucinno yang Lana sangat sukai, berikut dengan Biscotti cokelat.


Lana terkejut karena Hans ingat dengan apa yang dengan kesukaannya. Lana menyampirkan tas tuanya dan jas kerjanya ke kursi kosong di sampinngnya. Untung saja kafe itu tidak ramai karena masih sore dan tidak ada pengunjung lain selain mereka.


"Tepat waktu." ucap Hans sambil mengecek arloji mahalnya.


"Biasanya aku seperti itu." sahut Lana sambil lalu dan menyesap capuccinonya "Ini enak." tambahnya seraya tersenyum simpul.


Hans terlihat heran, "Kau jarang kesini?"


"Sebenarnya ini bukan sesuatu yang sesuai dengan anggaranku." Lana mengaku.


Sekarang rasa kaget menyelimuti wajah tampan Hans. "Bukannya gajimu lumayan besar?" komentarnya.


"Kalau kau mau menyewa tempat tinggal dengan lokasi yang aman, kau harus membayar lebih untuk itu. Juga, aku tidak berencana untuk bekerja disitu selamanya, jadi aku menyisihkan sebagian besar pendapatanku untuk modal usaha nantinya. Aku ingin menjalani hidupku dengan bebas dan tenang. Tidak semua orang termasuk golonganmu, Joy maupun Sasha." katanya dengan nada datar.

__ADS_1


Hans membiarkan perhatiannya kembali ke kopi Americanonya sendiri. Ia menyesapnya dengan pelan.


"Aku tidak pernah menganggapmu dalam kelas ekonomi yang berbeda," katanya.


"Benarkah?" Lana lebih tahu dan kenangan itu terasa pahit. Ia tidak bisa melupakan apa yang Hans katakan kepada adiknya, bahwa Lana hanyalah buruh rendahan dan tidak cocok bersama dengan mereka.


Hans duduk dengan tegak "Ada yang membuatmu khawatir. Kau tidak seperti biasanya. Kau menjadi bersikap aneh semenjak kejadian pesta itu." katanya datar.


Mendadak wajah Lana menjadi mati rasa. Ia tidak bisa menjatuhkan harga dirinya dan memberitahu Hans bahwa dia dengan tanpa sengaja telah mendengar ucapan-ucapan lelaki itu. Segalanya sudah terlalu berlebihan, diatas semua kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini.


Lana mendongak dan menatap pria itu dengan kebencian terpendam, harga diri yang tertoreh dan amarah yang terlihat jelas di sorot matanya yang dingin. "Itu sama saja berbicara dengan lantai. Kalau kau datang kesini, itu karena kau menginginkan sesuatu. Jadi apa ada?" tanya Lana langsung dan tanpa basa-basi.


"Kenapa kau mengira kalau aku menginginkan sesuatu?"


Lana merasa dirinya sangat tua "Sasha mengundangku ke pesta-pesta karena aku bisa memasak dan membersihkan kekacauan setelahnya. Atau kalau dia sedang sakit dan butuh untuk dirawat. Kau datang mencariku ketika kau sedang membutuhkan  sekretaris mendadak untuk mengetikan laporan atau memperbaiki program komputer atau melacak ISP online. Kalian berdua tidak akan dekat-dekat denganku kecuali saat aku berguna."

__ADS_1


Nafas Hans tercekat. "Lanaa...sama sekali tidak seperti itu!"


Lana menatap Hans dengan sorot mata yang tegas. "Ya memang seperti itu. Akan selalu seperti itu. Aku tidak mengeluh. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan dulu kalau bukan karena kau dan Sasha. Aku berhutang pada kalian lebih besar daripada yang bisa kutebus seumur hidupku. Hanya saja, karena kau datang kesini, pasti ada yang kau butuhkan dan aku tahu itu. Tidak masalah. Katakan padaku apa yang kau ingin aku lakukan."


Mata Hans terpejam dan terbuka kembali, menampilkan ekspresi sakit hati. Semua yang dikatakan Lana memang benar. Ia dan Sasha tanpa malu-malu telah memanfaatkan Lana, meski mereka tidak menyadari tindakan mereka dengan jelas sebelumnya. Sekarang ia benci dengan gagasan itu. Tetapi demi rencana yang telah ia buat selama dua minggu terakhir, Hans mengesampingkan rasa sakit Lana untuk saat ini. Hans sungguh tidak bisa menerima bahwa gadis itu telah menjauh dan menghindarinya. Maka dari itu, Hans akan menjalankan rencananya ini untuk mengetahui perasaannya sendiri dan posisi gadis itu di dalam hidupnya.


"Sudah agak terlambat untuk menyadari semua hal itu. Juga tidak sesuai dengan karaktermu. Ayolah. Ada apa?" tambah Lana dengan senyum samar.


Hans bermain-main dengan biscottinya. "Aku pernah memberitahumu kalau kami sedang menelusuri adanya penggelapan dana kantor dan bocornya data-data penting. Sekarang aku malah mendapat laporan bahwa adanya pemasok dan pemakai narkoba di kantor dengan skala yang tidak kecil."


Lana mengangguk. "Kau pernah bilang bahwa aku tidak bisa membantumu dan bahkan kau mencurigai diriku juga." ujar Lana mengingatkan.


"Well, aku keliru. Malah kau satu-satunya orang yang bisa membantuku saat ini karena pekerjaanmu berhubungan dengan semua data karyawan dan data keuangan kantor."


Hans menatap mata Lana dengan menyelidik. "Aku ingin kau berpura-pura kita sedang menjalin hubungan. Jadi aku punya alasan untuk mondar mandir kesana dan tidak hanya duduk di kantorku saja!"

__ADS_1


Lana tidak bereaksi.


__ADS_2