Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 21


__ADS_3

Hans duduk di kursi mobil mewahnya yang sedang berhenti di depan halte bus. Menatap gadis yang secara tidak sengaja mengisi sesuatu di relung hatinya, sedang bermain ponselnya sambil menunggu bus untuk datang.


Tiba-tiba seorang lelaki yang sangat ia kenal datang dan menyentuh pundak gadis itu. Lana yang mengira itu Hans, langsung berkata. "Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan naik bus saja?!"


"Hah?" tanya Ryan dengan kebingungan karena merasa Lana tidak memberitahu dirinya apa-apa.


"Oh maaf, Ryan. Aku pikir..." ucap Lana sedikit gugup.


"Memangnya siapa yang mau mengantarmu? Dan juga kenapa kau kelihatan gugup?" goda lelaki itu.


"Hmmm... itu.... Eh, kenapa kamu disini? Mana mobilmu?" tanya Lana mengalihkan pembicaraan.


"Mobilku rusak. Dari tadi aku berusaha menghidupkannya tapi tak bisa. Tadi sehabis kerja, aku menunggu mobil derek untuk mengambilnya di kantor. Kok kamu masih disini? Bukannya tadi kamu sudah balik ya?"


"Eh iya. Aku tadi bertemu dengan teman lama dulu di kafe. Ini baru mau pulang." ujar Lana seakan enggan untuk ditanyai lebih jauh.


" Kalau begitu, apa rencanamu setelah ini? Makan yuk? Aku traktir." ajak Ryan.


"Hmm, tapi daerah sini aja ya? Aku takut nanti pulang kemalaman."


"Nanti aku antar kamu naik taksi. Yuk!"


Lana mengangguk sambil tersenyum. Kedua orang itu berjalan sambil bercanda, tidak mengetahui kalau ada seseorang yang mengawasi mereka. Hans mengepalkan tangan dengan kuat. Niatnya untuk mengikuti Lana menjadi terganggu karena kehadiran pria yang sama. Hal itu membuat Hans berpikir, sebenarnya ada hubungan apa mereka berdua karena mereka tidak tampak seperti atasan dan bawahan.

__ADS_1


Tidak boleh dibiarkan ini! Lelaki itu akan menggagalkan rencanaku, batin Hans.


"Ikuti mereka berdua, Pak Ian." perintah Hans pada supirnya.


"Baik, Tuan." sahut supir tua itu.


●●●●●


Di restaurant China, dekat kantor.


Suasana restaurant itu kental dengan negara China. Dari tatanan meja hingga hiasan-hiasannya. Walaupun restaurant itu tidak tampak besar, namun nyaman. Pengunjungnya juga datang silih berganti karena memang makanan mereka benar-benar enak dan lokasinya yang strategis karena dekat dengan perkantoran. Sehingga banyak orang-orang kantor akan mampir disana waktu makan siang atau seusai jam kantor.


Ryan mengarahkan Lana untuk duduk di salah satu sudut ruangan, di dekat dinding yang terbuat dari kaca. Sehingga ruangan itu bisa terlihat dari luar restaurant.


Lana mengambil buku menu itu, membukanya satu persatu sambil menyampirkan helai rambutnya yang telah jatuh dari gelungannya ke belakang. Ryan yang sebenarnya sedang membaca menu juga, konsentrasinya menjadi teralihkan. Ryan memandang Lana dengan intens.


Cantik juga Lana, batin Ryan. "Kenapa aku tidak menyadarinya sejak lama?" tanya Ryan pada dirinya sendiri di dalam hati.


Ryan memandang Lana cukup lama hingga akhirnya tersadar ketika Lana bertanya apa yang akan dipesan olehnya.


Bahkan Lana harus menyentuh tangannya untuk menyadarkan Ryan yang menatap dirinya.


"Kamu sudah tahu apa yang akan kamu pesan?" tanya gadis itu yang sedikit salah tingkah karena Ryan tidak pernah menatapnya seperti itu. Wajah Lana merona merah, entah karena gadis itu malu atau memang ruangan disana memang sedikit panas karena sempit dan banyak tamunya.

__ADS_1


"Eh, maaf. Aku belum sempat membacanya."


Ryan sedikit gugup dan langsung membuka buku menu.


"Kamu cantik!" tambahnya.


Wajah Lana semakin memanas dan merona. Baru kali ini ada yang mengatakan bahwa dia cantik. Dirinya merasa sedikit gembira.


"Terima kasih." ucap Lana singkat karena bingung apa yang akan dikatakannya lebih lanjut.


Ryan kembali membaca menunya dengan cepat karena situasi yang sedikit canggung saat ini. Kemudian dia memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka.


Lana memutuskan untuk memesan mie ayam kesukaannya dan Ryan memilih untuk memesan Nasi goreng Hongkong dan dimsum sebagai pembuka makanannya.


Hans yang melihat interaksi antara Lana dan Ryan, menjadi geram dan keluar dari mobil. Lelaki tampan itu dengan cepat masuk ke restaurant dan mencari keberadaan mereka. Walaupun Hans tidak bisa mendengar apa yang telah mereka katakan, tetapi dengan gesture tubuh mereka, sudah bisa membuat dirinya marah.


"Boleh saya duduk disini?" tanya Hans pada Ryan dan Lana. Mereka mendongak ke lelaki yang baru saja datang dan bertanya secara bersamaan. Ketika mengetahui siapa yang datang, reaksi Ryan langsung senang karena seorang CEO besar seperti Hans bertanya untuk duduk dan makan bersama mereka. Tetapi tidak bagi Lana yang kaget. Rona wajah yang tadinya memerah, sekarang menjadi pucat pasi.


Hans tanpa bertanya langsung duduk di samping Lana yang membuat gadis itu bergeser sedikit. Hans memberikan tatapan dingin dan marah ke arah Lana.


Tiba-tiba atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi mencekam. Lana tidak tahu bagaimana Hans bisa tahu kalau dirinya tidak pulang ke rumah, malah pergi makan bersama Ryan. Lana juga tidak tahu alasan kenapa Hans memberi tatapan dingin dan marah.


×××××

__ADS_1


Hi, para readers yang baik hati. Saya mak thor ingin mengucapkan terima kasih karena kalian sudah membaca novel ini tapi maafkan mak thor yang sedikit tamak karena memohon supaya kalian memberi like, vote, hadiah ataupun komentar yang bisa membangun ide mak lebih bagus. Maafkan kalau masih banyak kesalahan dari novel ini atau kalau novel ini terlalu formal ya. Terima kasih banyak. Peluk dan cium jauh dari mak thor😊😊😊


__ADS_2