
Di kantor, Lana yang masih bisa merasakan sengatan akan kehadiran dari Hans hingga merasuk ke dalam hatinya yang malang. Pria yang telah menjadi bagian penting dalam hidupnya sehingga ia merasa seolah ia telah diamputasi ketika membayangkan sisa hidupnya tanpa adanya Hans lagi, merasa heran atas kehadiran pria itu di kantornya. Lana juga merasa sakit atau lebih bisa dikatakan muak dengan sikap seenaknya pria itu ketika dirinya sudah memutuskan untuk mengambil jarak dan bahkan melupakannya.
Walaupun Hans sudah mengatakan bahwa dia dengan mudahnya bisa menemukan Lana jika Lana berpikir untuk pindah ke kota lain, Lana tetap memikirkan rencana-rencana untuk memulai hidup baru di kota lain bahkan di negara lain. Ia juga berpikir akan pekerjaan yang akan dicari selanjutnya karena dia cocok untuk mengerjakan segala pekerjaan administrasi seperti sekarang, dia tidak memiliki hati yang tegih atau keras unutk memecat orang karena pekerjaan seperti itu membutuhkan ketegaran dan kekuatan hati yang lebih dari biasanya.
Lana mengingat asal mula dirinya mendapatkan pekerjaan ini karena Hans selalu bertanya kapan dirinya akan mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari sekolah bisnisnya. Lana tersenyum kecut ketika teringat kembali. Hans mungkin secara tidak langsung menyatakan bahwa Lana telah mengambil keuntungan dari bantuan finansialnya - tetapi Lana memganggapnya seperti itu. Jadi ia mengambil pekerjaan dari perusahaan pertama yang menerima dirinya untuk bekerja dan akhirnya dia bertahan untuk bekerja disini. Lana merasa sungguh bodoh karena baru menyadari semuanya setelah apa yang telah terjadi. Dirinya semakin memantapkan hati untuk menutup perasaannya dan melupakan semuanya.
Jika direnungkan, seharusnya Lana mencoba lebih keras lagi karena dia pernah mendapat tawaran bekerja di kantor polisi setempat untuk bekerja sebagai spesialis komputer. Ia memiliki kemampuan membuat program dan membangun software. Ia jenius dalam membuka dokumen rahasia, mencari dokumen-dokumen rahasia, menelusuri email yang mencurigakan, dan mencari jalan menjaga dokumen-dokumen rahasia. Profesor di kampusnya pernah merekomendasikan dirinya untuk berkarir di kantor penegakan hukum sebagai spesialis kejahatan dunia maya, tapi dia langsung menyambar pekerjaan pertama yang bisa didapatkannya.
Sekarang disinilah dia, merasa terperangkap dengan semuanya, pekerjaan maupun kehidupan cintanya. Semua tanpa adanya masa depan, batin Lana. Lana membayangkan dirinya sebagai tumpukan kardus yang tidak memiliki hati maupun nyawa yang teronggok begitu saja di dekat mejanya, membuat dirinya terkikik.
__ADS_1
Seorang administrasi lain melongokan kepalanya ke partisi sempit itu dan menasehatinya dengan lirih, " Sebaiknya pelankan suaramu itu, Kau sudah menjadi pusat perbincangan. Kau tidak mau kan kalau bos kita memarahimu?"
"Aku cuma menertawakan diriku sendiri." protes Lana, terkejut.
"Mereka ingin kita diam kalau kita sedang bekerja. Tidak boleh ada telepon pribadi, tidak boleh berbicara sendiri, dan ada memo baru tentang ijin dan lama waktu ketika mau pergi ke kamar kecil..."
"Ya Tuhan!" sembur Lana marah.
Lana berdiri dan memberi hormat ala militer ke arah wanita itu. Sayangnya tepat pada saat itu wakil direktur yang bekerja atasĀ kinerja karyawan berjalan melewati partisinya. Pria itu berhenti dan menatap kedua wanita itu dengan curiga.
__ADS_1
Karena sudah kepalang basah, dan tidak peduli lagi. Lana malah memberikan hormat yang sama padanya. Yang mengejutkan, pria itu tampak berusaha menahan senyumnya. Lalu buru-buru menghapusnya. "Kembali bekerja, anak-anak." katanya sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
Rekan kerjanya mendekat "Sekarang lihat apa yang sudah kau lakukan! Kita berdua akan dilaporkan!" desisnya takut.
"Kalau dia mencoba melaporkanku, aku akan melaporkannya balik. Tidak ada seorangpun di kantor ini yang boleh memanggilku "anak-anak"."
Rekan kerjanya cuma menggelengkan kepalanya dan bergerak kembali ke mejanya. Lana mengalihkan perhatiannya kembali ke pekerjaannya dan melupakan insiden tadi. Tetapi rasanya sangat menganggu saat ia menyadari betapa besar wewenang perusahaan atas kehidupan kerjanya dan ia tidak menyukainya sama sekali. Ia memikirkan akan mimpinya semasa kecil untuk memiliki usaha sendiri. Entah kapan dia bisa memiliki usahanya sendiri walaupun hanya berskala kecil. Juga berapakah modal yang ia butuhkan untuk memulainya. Selama ini ia sudah berusaha untuk berhemat dan menyisihkan hampir semua penghasilannya yang membuatnya tidak memiliki kehidupan sosial sama sekali. Ia merasa hidupnya sangatlah menyedihkan.
Lana melanjutkan pekerjaannya hingga sore hari. Dia sama sekali tidak bersemangat untuk melanjutkan hari itu karena hari itu sudah menjadi hari yang paling buruk. Ketika jam sudah menunjukkan pukul lima, dia dengan lamban mematikan komputernya dan menata semuanya dengan rapi di mejanya. Bersiap-siap mengambil tasnya dan pergi ke kafe, dimana ia akan bertemu dengan Hans. Sambil berjalan, Lana bertanya-tanya tujuan Hans mengajaknya untuk bertemu.
__ADS_1
Lana tidak mengerti bahwa Hans sudah merencanakan secara matang selama dua minggu. Hans merencanakan sesuatu yang membuatnya tidak bisa menolak.