
Jangan lupa dukungannya ya para readers yang baik hati dan tidak sombong 😊
Happy reading guys!
Tak membutuhkan waktu lama bagi Hans untuk datang ke rumah. Wajahnya terlihat terlalu lelah, sehingga guratan-guratan halus di sekitar matanya terlihat jelas. Hans tidak menemukan siapapun di dalam rumah, karena saat ini terlalu larut bagi adiknya maupun Lana. Dia baru saja sampai di negara ini subuh dini hari.
Hans berjalan pelan ke arah kamar dan membuka pintu kamar dengan perlahan. Di dalam hati, Hans berdoa bahwa Lana tidak mengunci pintunya. Supaya Hans tidak perlu lagi menyuruh bawahannya untuk membukanya dengan paksa sehingga menimbulkan keributan.
Klek.
Suara pintu kamar terbuka. Pelan- pelan Hans masuk ke dalam kamar yang lumayan gelap, karena Lana hanya menghidupkan lampu kecil di samping ranjang. Hans ikut membaringkan tubuhnya di samping gadis yang dicintainya. Masih terlihat mata sembab dan berair di pinggiran mata gadis itu. Juga air mata yang telah mengering di pipinya.
Flasback On:
Ini semua gara-gara Joy, pikir Hans. Andai saja dia bersikap tegas pada Joy, maka masalah sekecil ini tak akan datang. Sebelum Hans melamar Lana, dia memang sudah memutuskan Joy, tapi Joy menolak dengan keras. Bagi Joy, Hans adalah sumber uang dan kehidupan sosialnya. Joy tidak membutuhkan cinta lelaki itu. Maka ketika Hans memutuskannya, Joy bersikeras bahwa dia tidak mau diputuskan.
Setelah beberapa bulan tidak bertemu dengan Hans, Joy tak henti-hentinya mencari keberadaan lelaki itu. Hingga akhirnya dia mendapatkan info dari teman- teman sosialitanya bahwa Hans sedang berada di negara yang sama. Maka Joy menggunakan segala cara untuk datang ke rumah Hans.
Para pengawal Hans di rumah, juga akhirnya tidak berkutik di hadapan Joy ketika gadis itu menyebutkan bahwa dia adalah tunangan Hans dan calon nyonya di kediaman itu. Joy menunjukkan photo-photo kebersamaan dengan Hans, bahkan ketika mereka berada di perkebunan yang dimana tempat itu sangatlah dijaga ketat.
Akhirnya ketika berada di dalam rumah, Joy berkeliling dan melihat-melihat rumah sambil menunggu kedatangan Hans. Tak lama setelah itu, Joy mendengar Hans masuk ke dalam rumah dan dia langsung berlari memeluk lelaki itu. Joy juga mencium bibir Hans dengan sekilas setelah melepas pelukannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini? Dan siapa yang telah membiarkanmu masuk ke dalam?" tanya Hans dengan dingin.
"Sayang, tentu saja aku kesini karena aku telah merindukanmu! Para penjaga disini tentu saja memperbolehkanku masuk, karena aku adalah calon nyonya disini." jawab Joy dengan rasa penuh percaya diri.
Hal itu membuat Hans semakin marah dan muak.
"Ingat Joy, kita sudah putus beberapa waktu lalu... Jadi silahkan pergi dari rumahku!" usir Hans dengan nada menggeram.
"Hans, aku tidak mau putus... Aku..." kata Joy yang terpotong ketika Hans mengangkat telunjuknya untuk menyuruhnya diam.
Hans mengangkat telponnya dan beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah menjadi lembut. Hal itu membuat Joy marah, terlebih lagi ketika Hans menyebut nama "Lana" dengan mengerang dan frustasi. Walaupun Joy tidak mencintai Hans, tapi ia tidak suka apa yang menjadi miliknya diambil oleh orang lain. Terlebih kepada gadis yang menurutnya sangat jelek dan gendut.
"Siapa yang menelepon, Hans?" ucap Joy dengan nada menggoda dan *******.
Setelah itu, seperti yang ia telah duga. Lana langsung memutuskan sambungan telponnya. Raut wajah Hans langsung berubah kembali. Garis-garis wajahnya mengeras dan menunjukkan kemarahannya.
"Ndre...." teriak Hans.
Andre, sang asisten langsung masuk ke dalam rumah dan kaget melihat kehadiran Joy disana.
"Ya, bos?" tanya Andre langsung.
__ADS_1
"Panggil para penjaga untuk membawa wanita ini keluar dan juga untuk di lain waktu, tambah penjagaan buatku dari wanita ini. Aku tak sudi bertemu dengannya lagi!" perintah Hans.
Andre dengan cekatan mencekal lengan Joy dan sedikit menyeretnya ke arah pintu keluar.
"Hans, kau tak bisa menyingkirkanku begitu saja... Hans!!!" teriak Joy yang berulang kali mengatakan hal yang sama.
Gadis itu diseret keluar dengan paksa dan tas tangan yang diletakkan di meja, dilempar begitu saja dengan dirinya. Kemudian Andre masuk lagi ke dalam karena dia mendengar bosnya memanggil dirinya lagi.
"Siapkan pesawat pribadiku. Aku ingin pergi ke tempat Lana sekarang juga." perintah Hans.
Andre hendak berbalik tetapi Hans memanggilnya lagi.
"Perintahkan para pengawal untuk mengikuti Lana. Aku tidak ingin jika gadis itu kabur. Jika perlu hubungi Sandro dan timnya untuk bergerak diam-diam!" perintah Hans.
"Baik, bos. Segera saya laksanakan!" ujar Andre dengan cepat.
Setelah kepergian Andre, Hans langsung bersiap-siap untuk pergi menemui Lana dan menjelaskan secara langsung kesalahpahaman ini. Hans juga tak henti-hentinya mencoba menghubungi gadis itu, tapi ponsel gadis itu telah dinon-aktifkan.
Hans menyugar rambutnya dengan cepat,karena merasa frustasi.
Flashback Off.
__ADS_1