Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 6


__ADS_3

Hans memeriksa arlojinya. "Aku harus menelpon beberapa orang. Aku juga harus pergi ke kota untuk mengecek apakah pagar yang aku pesan sudah siap." kata Hans.


"Itulah gunanya kita memperkerjakan mandor di perkebunan ini." kata Sasha acuh tak acuh.


"Peter sedang kembali ke rumahnya karena tiba-tiba dia mendapatkan telpon dari ibunya bahwa ayahnya sedang sakit dan sedang dibawa ke rumah sakit."


"Kau tidak memberitahuku tentang hal itu!" sergah Sasha.


"Apakah kau harus tahu tentang itu?" tanya Hans dengan alis yang terangkat sebelah.


Sasha menggeleng jengkel sementara Hans berlalu saja bahkan tanpa menoleh kepadanya maupun Lana.


"Aku kan juga tinggal disini." gerutu Sasha yang sudah terlambat karena Hans sudah pergi dari sana. Hans sudah masuk ke dalam rumah.


"Aku pikir aku hanya akan menjadi pengganggu kalau pesta ini untuk Joy." ijar Lana khawatir. "Jujur saja, Sha, seharusnya kau tidak perlu mengundangku. Pantas saja Hans begitu marah!"


"Ini juga rumahku dan aku bisa mengundang siapa saja yang aku sukai." sahut Sasha ketus, menyiratkan bahwa Sasha dan Hans telah berdebat tentang perlu tidaknya untuk mengundang Lana datang ke pesta ini. Hal itu terasa lebih menyakitkan bagi Lana.


"Kau adalah sahabatku, Lana dan aku sedang membutuhkan dukungan darimu. Joy begitu luar biasa dan sophisticated. Dia benci berada disini dan dia membuatku merasa tidak nyaman walau dia adalah calon kakak iparku sendiri. Entah mengapa aku tidak bisa terlalu dekat dengannya. Tapi aku membutuhkan bantuannya untuk menunjukkan rancanganku kepada pihak perusahaan dimana dia bekerja. Jadi kaulah jubah pelindungku." Sasha menggamit lengan Lana untuk masuk ke dalam rumah.


"Selain itu\, Joy dan Hans selalu membuat semua sarafku tegang."|


Bagaimana dengan semua sarafku? batin Lana bertanya-tanya. Dan juga perasaanku karena harus melihat mereka bermesraan selama akhir pekan. Tetapi Lana hanya tersenyum dan bertekad bahwa semua itu bukanlah masalah penting untuknya. Lana bertekad untuk menghindari kedua orang tersebut sebisa mungkin, batinnya. Ia teman Sasha dan ia berhutang banyak kepada Sasha.

__ADS_1


Sasha menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam rumah dan berpaling ke hadapan Lana. "Apakah kamu masih menyukai kakakku..." tanyanya buru-buru.


"Kau dan kakakmu."Lana terkesiap. "Jujur saja, aku sudah cukup tua untuk cinta monyet anak sekolahan. Lagipula ada seorang yang menyenangkan di kantor yang aku sukai. Hanya saja orang ini sedang berkencan dengan wanita lain saat ini."


Sasha meringis mendengar pengakuan dari Lana. "Anak malang. Kisah cintamu selalu seperti itu. Ya, kan?"


"Terus saja injak-injak egoku. Tidak usah pikirkan bagaimana perasaanku!" jawab Lana tajam.


Wajah Sasha merona. "Maafkan aku, Lana. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku hari ini. Chris datang pagi ini dan Jessie juru masakku sudah mengancam akan memasak Chris jika ia tidak pergi dari dapur. Chris dan Jessie berujung pada perdebatan, dan sekarang wanita tua itu memutuskan untuk mengambil liburan akhir pekan. Disinilah aku sekarang tanpa juru masak dan pestanya akan berlangsung besok malam!"


"Kecuali aku?!" ujar Lana memberanikan diri untuk bertanya. Hati Lana mencelos dan kecewa sekali lagi. Pantas saja Sasha bersikeras bahwa ia harus datang ke pesta ini. Tidak akan ada makanan jika tidak ada yang memasak dan saat ini hanya dirinyalah yang memiliki kemampuan memasak.


"Kau tidak keberatan , kan, sayang?" tanya Sasha buru-buru. "Bagaimanapun kau paling jago untuk membuat canape paling enak dan kau adalah koki yang hebat. Bahkan Jessie juga meminta resep darimu."


"Sekaligus kau bisa membantuku untuk menjauhkan Chris dari Kak Hans."


"Chris" Mata Lana menjadi berbinar. Ia menyukai teman sepermainannya dan Sasha. Pria pembangkang dengan tinggi 187cm, badannya berotot, wajahnya yang tampan dan bersahaja. Pria itu mampu mengambil hati semua orang dengan kelakar-kelakarnya. Hanya Hans yang tidak bisa menoleransi Chris.


"Jangan mencoba untuk membantunya melakukan hal-hal gila selama kau disini. Kak Hans belum tahu Chris ada disini. Eh, aku belum memberitahunya."


"Sasha!!!" terdengar raungan lantang dari arah ruang kerja Hans.


"Oh astaga, sepertinya kakak sudah tahu tentang keberadaan Chris disini."

__ADS_1


"Koperku." ujar Lana, berharap bisa menyingkir dari masalah.


"Biar Kak Hans saja yang membawanya masuk ke dalam rumah. Ayo!" Sasha nyaris menyeret sahabatnya masuk ke dalam rumah.


Chris sedang bersandar di susuran tangga, terlihat amat sangat menawan dengan matanya yang berwarna coklat yang menari-nari dan wajah tirus yang tampan di bawah rambut pendek cepak yang hitam kelam. Dihadapan pria itu, Hans sedang mencengkeram leher ayam dari karet dan mengacungkannya.


"Kukira kau suka ayam." ujar Chris  dengan nada malas-malasan.


"Yang sudah dimasak dan bukan yang berada di kursiku seperti bantalan!" jawab Hans ketus.


"Kau bisa memasaknya tetapi tentu saja asap hitam akan menyelimuti dapur." seloroh Chris yang terkekeh-kekeh.


Hans melempar ayam-ayaman itu ke arah Chris , berbalik,  dan masuk ke ruang kerja sembari menutup pintu. Sumpah serapah terdengar dari balik pintu kayu jati yang tebal itu.


"Chris berani-beraninya Kau!" Sasha berteriak.


Chris melempar benda itu ke arah Sasha dan beranjak maju untuk menggendong wanita itu dan mencium pipinya dengan lancang.


"Nah, nah, nah. Kau tidak akan berharap kalau aku bisa untuk menjaga sikapku untuk mejahili semua orang, kan? Itu bukan sifatku. Hai, cantik!" tambahnya seraya menurunkan Sasha dan mengangkat Lana serta mengayunkannya dalam pelukan yang erat seolah Lana sangatlah ringan.


"Bagaimana kabar gadis favoritku?"


"Aku baik-baik saja, Chris. Kau terlihat lebih hebat dan tampan." balas Lana sembari mencium pipi lelaki tampan yang jahil itu.

__ADS_1


__ADS_2