Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 29


__ADS_3

Hans terus mencium bibir Lana dengan rakus sampai dia tidak menyadari bahwa pemilik bibir yang diciumnya tidak membalasnya sama sekali. Hingga Hans merasa ada air membasahi hidungnya, baru Hans membuka matanya.


Hans melepas bibirnya dengan pelan sambil menatap wajah wanita yang diciumnya. Lana sedang menangis terisak, bibirnya sedikit bengkak akibat ulah Hans. Mata Lana terlihat sedih dan marah ketika ditatap oleh Hans.


"Sudah puas atau masih mau kau lanjutkan?" tanya Lana dengan nada dingin.


Hans tiba-tiba tidak bisa menjawab. Dia tidak berharap bahwa reaksi Lana akan seperti ini. Hans berpikir Lana akan menyambut ciumannya seperti yang telah mereka lakukan di perkebunan.


"Kalau sudah selesai, biarkan aku pergi." ucap Lana berusaha melepaskan diri dari Hans.


Hans yang masih sedikit terkejut dengan reaksi Lana, melepaskan wanita itu begitu saja. Lana langsung mengambil tasnya dan keluar dari ruangan VIP. Lana tidak bisa lagi menutupi kesedihan dalam hatinya. Dia merasa dipermainkan oleh lelaki yang dicintainya.


Lana bergegas keluar dari restaurant tanpa menghiraukan panggilan dari Andre. Lana langsung masuk ke dalam taksi yang untungnya ada di depan restaurant itu.


Andre melihat Lana sedang berlari dan menangis, berusaha untuk mengejarnya. Tapi terlambat, Lana sudah masuk dan taksi itu pergi begitu saja dari sana. Karena tidak bisa mengejar, Andre berinisiatif untuk masuk kembali ke dalam restaurant. Baru sampai setengah perjalanan, Hans sudah keluar dari ruang VIP dengan wajah kusut.


"Bos..." ucap Andre .


"Jangan sekarang, Ndre. Kita kembali ke kantor!" perintah Hans.

__ADS_1


Kemudian Andre hanya diam dan melaksanakan perintah bosnya karena aura mencekam keluar dari Hans. Hans dan Andre dengan cepat masuk ke dalam mobil. Hans masih mencari sosok Lana. Dia pikir Lana akan menunggunya untuk kembali ke kantor bersama. Setelah tahu bahwa Lana tidak sudi kembali dengan dirinya, Hans memukul-mukul pintu mobil sambil mengucapkan sumpah serapah.


Keheningan yang mencekam mewarnai keadaan di dalam mobil itu. Sedangkan Lana memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Dia sudah mengirimkan pesan kepada Ryan, atasannya, bahwa dia tidak merasa enak badan. Padahal Lana hanya tidak ingin orang lain melihat betapa berantakan dirinya. Bibirnya bengkak, matanya sedikit sembab dan merah karena menangis. Lana berpikir jika dia kembali ke kantor, maka orang lain akan membicarakan dirinya dan kemungkinan besar, Hans akan mencari dirinya.


Lana sangat butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Untuk mencerna semuanya, terlebih lagi perasaannya. Apakah memang dia benar-benar mencintai Hans? Apakah Hans memang mencintai dirinya? Atau hanya memmpermainkan dirinya?


Sesampai di dalam apartemen, Lana langsung mengunci apartemennya, menutup semua jendela dan masuk ke kamarnya. Mungkin saat ini yang dia butuhkan adalah tidur, karena otaknya butuh istirahat. Dia memutuskan untuk memikirkan semua masalahnya nanti setelah bangun tidur dan mandi.


Lana mengganti pakaiannya dan segera masuk ke dalam selimut. Sebelum itu, dia sudah mematikan ponsel atau kabel telpon di apartemennya.


●●●●●


Hans dan Andre sudah kembali ke kantor. Hans menanyakan pada satpam dan resepsionis apakah Lana telah kembali. Mereka menjawab bahwa mereka sama sekali tidak melihat Lana kembali dari luar. Masih belum puas dengan jawaban dari mereka, Hans menyuruh Andre untuk menanyai Ryan, selaku atasan Lana.


Sesampainya di dalam ruangannya, Hans segera duduk di kursi kerjanya. Hans masih membayangkan raut wajah Lana yang terlihat sedih, kecewa dan marah ketika dia menciumnya. Ada yang salah dengan perubahan sikap Lana. Hans memutuskan untuk menelpon adiknya, Sasha, untuk menanyai tentang Lana.


Setelah beberapa kali dering, Sasha, baru mengangkat telpon kakaknya. "Iya, kak.... Ada apa?" tanya Sasha dengan nada malas.


"Apakah Lana bercerita sesuatu atau mengatakan sesuatu padamu?" tanya Hans langsung pada intinya. Hans sedang tidak bisa basa-basi.

__ADS_1


"Tidak sama sekali kak. Lana tidak mau mengangkat telponku atau membalas pesanku akhir-akhir ini. Itu membuatku sedih. Apakah kau bertemu dengannya?" jelas Sasha.


"Ya sudah. Kita bicara lagi lain waktu." putus Hans.


"Kak... tunggu kak..."ucap Sasha. Terlambat, Hans sudah memutuskan sambungan telponnya. Sasha memberengut ke arah ponselnya dan memaki-maki kakaknya. Selalu seperti itu,selalu memutuskan sambungan seenak hati, batin Sasha.


Dahi Hans berkernyit, berpikir keras. Apa dia sudah keterlaluan? batin Hans.


Andre mengetuk pintu ruangan dan masuk ketika sudah dipersilahkan oleh Hans.


"Bos, Ryan berkata bahwa Lana tidak kembali ke kantor karena merasa tidak enak badan. Dia bahkan menunjukkan pesan dari Lana padaku." lapor Andre.


"Okay. Terima kasih." ucap Hans.


"Kalau tidak ada yang lain, saya undur diri bos. Saya mau mengerjakan laporan proyek bulan ini." kata Andre.


"Ndre, kamu urus pekerjaan saya hari ini. Saya mau keluar dulu. Kalau nanti saya tidak kembali, kirim saja laporannya ke email saya." kata Hans yang sedang berdiri dan berjalan begitu saja ke arah pintu keluar.


Hans berbalik ke arah Andre," Jangan lupa untuk mencarikan apartemen di daerah Lana. Alamatnya sudah aku kirimkan ke ponselmu. Pokoknya harus dapat!" tambah Hans.

__ADS_1


Andre dengan segera membuka ponselnya dan melihat pesan yang dikirim Hans. " Baik, bos." ucap Andre.


Andre langsung kembali bekerja setelah kepergian Hans. Andre juga baru melihat efek dari seorang gadis pada bosnya itu. Sudah lama dia bekerja pada Hans, belum pernah dirinya melihat bosnya bertingkah laku seperti hari ini. Hal itu membuat Andre semakin penasaran dengan gadis manis yang baru ditemuinya hari ini.


__ADS_2