Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 11


__ADS_3

"Kekasih Joy tidak suka padaku. Apakah kebetulan kau memiliki hubungan keluarga?" tanya Rafael memberengut karena melihat Hans datang melintasi ruangan ke arah mereka. " Ada satu pria yang sangat tidak ingin kau jadikan sebagai musuh dan orang itu sedang datang kemari!" jelas Rafael.


Lana terkikik dengan keras. "Oh Ya Tuhan, tidak. Aku ini hanya seorang juru masak!"


"Apa?" tanya Rafael dengan nada terkejut.


Tepat pada saat itu, Hans sudah datang tepat di hadapan mereka. Hans meraih gelas yang berisi sampanye yang hampir habis dari tangan Lana dan menaruhnya dengan gerakan yang gesit di atas meja di dekat mereka.


"Aku tidak akan memecahkannya, Hans. Aku tahu gelas itu Crystal Waterford."gerutu Lana.


"Sudah berapa gelas yang sudah kau minum?" tuntut Hans.


"Aku tidak suka dengan nada bicaramu." balas Lana dengan kikuk, sehingga Rafael harus lengan Lana untuk bisa berdiri dengan tegak." Aku hanya minum tiga...errr... empat gelas saja kok. Lagipula minuman itu tidak begitu keras kok dan aku tidak mabuk!"


"Dan itik tidak mempunyai bulu." sahut Hans dengan ketus. Ia mencengkeram lengan Lana yang lain dan menariknya dengan kasar dari genggaman Rafael. "Biarkan aku yang mengurus gadis ini. Tidakkah sebaiknya kau kembali saja ke sisi istrimu itu?" tanya Hans blak-blakan ke arah pria yang lebih muda darinya itu.


Rafael mendesah dan menatap Lana dengan sorot mata  yang lama dan sedih. "Sepertinya begitu. Senang berkenalan denganmu. Eh, namanu Lana, bukan?"


Lana menyeringai dan pusing. " Senang juga berkenalan denganmu. Aku tidak berkenalan dengan seorang pembalap sebelumnya, apalagi yang terkenal sepertimu."


Rafael baru saja akan menyahut tetapi terlambat karena Hans baru saja menarik Lana setengah menyeret keluar dari ruangan itu dan berjalan menyusuri koridor.


"Bisakah kau berhenti menyeretku? Aku bisa jalan sendiri." tuntut  Lana karena tersandung dengan sepatu high heelsnya.

__ADS_1


Hans menariknya ke arah perpustakaan berpanel kayu gelap dan menutup pintu dengan bunyi yang keras. Ia melepaskan tangan Lana dan melotot ke arah wanita itu."Bisakah kau berhenti merayu pria yang sudah menikah?" bentaknya. "Rafael dan istrinya sedang muncul di tabloid-tabloid seluruh penjuru dunia sekarang!"tambahnya blak-blakan.


"Kenapa?"


"Ayah wanita itu baru saja meninggal dan ia mewarisi perusahaan mobil itu. Dia berusaha menjual perusahaan itu tetapi Rafael sedang menentang habis-habisan di pengadilan."


"Dan mereka masih menikah?"


"Sepertinya seperti itu. Setidaknya diatas kertas karena wanita itu sedang hamil dan kudengar, wanita itu hamil anak pria lain."


Lana mendongak ke arah Hans dan menatap mata pria itu. "Kau, Sasha dan Joy sungguh memiliki ruang lingkup pergaulan yang sangat luar biasa." ucap Lana dengan nada jijik.


"Lingkup pergaulan yang tidak akan pernah cocok untukmu!" kata Hans sepakat.


Mata abu-abu Hans menyipit menatap ke arah Lana. "Kau sedang mabuk berat. Kenapa kau tidak pergi tidur saja?"


Lana mengangkat dagunya dan tersenyum samar. "Kenapa kau tidak ikut tidur bersamaku saja?" ucap wanita itu dengan nada parau yang menggoda.


Raut wajah Hans sudah pasti membuat Lana geli, seandainya saja ia sedang sadar saat ini. Pria itu sedang menatapnya dengan rasa tidak percaya dan terkejut. Lana melengkungkan bahunya dan melontarkan nada parau dari tenggorokannya. Ia merekahkan bibir dan membasahinya dengan lidah, dengan cara yang ia baca dari sebuah artikel di internet yang akan membuat seorang pria menjadi bergairah.


Sepertinya memang benar. Hans menatap bibirnya dengan ekspresi yang aneh. Dada pria itu sedang naik turun tidak karuan. Lana bisa melihat itu dengan jelas dari balik kemeja putih dan setelan jas yang Hans sedang kenakan.


Lana bergerak mendekat, menyandarkan dirinya pada dada bidang Hans seperti yang ia lihat dilakukan wanita ramping dan pirang  bergaun merah itu. Lana menjadi lebih berani ketika tidak melihat penolakan dari diri Hans, ia menggesekkan kakinya ke arah kaki Hans dan seketika itu pula, Lana dapat merasakan bagian tubuh Hans yang sedang menegang karena perbuatannya itu.

__ADS_1


Tangan Lana kemudian bergerak ke  bagian depan kemeja Hans di balik setelan jasnya. Ia membelai dengan jarinya, merasakan otot-otot pria itu. Tangan Hans yang besar mencengkeram bahunya tetapi pria itu sama sekali tidak mendorongnya menjauh.


"Kau melihatku tapi tidak pernah benar-benar memperhatikanku. Aku tidak cantik, tidak seksi, tapi aku rela mati untukmu." gumam Lana sambil menyapu leher Hans dengan bibirnya. Pria itu beraroma sabun dan parfum mahal yang membuat gadis itu lebih mabuk tapi dengan hal yang berbeda.


Mulut Hans yang keras membungkam kata-kata Lana. Ia merengkuh Lana ke tubuhnya dengan sebelah tangan yang keras di punggung Lana dan mulutnya membuka bibir Lana, lidahnya menuntut lebih dan menari-nari di dalamnya. Hal yang sama sekali tidak direncanakannya. Citarasa tubuh Lana menimbulkan gairah hebat di sekujur tubuhnya yang berotot. Hans langsung saja bergerak tanpa memikirkan lagi akan akibatnya.


Jika Hans tidak berdaya, begitu pula dengan Lana. Ketika pria itu memeluknya lebih erat, tangannya meluncur di balik jas  dan bibirnya semakin merekah menjawab tuntutan lelaki itu. Lana mengerang lirih karena rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya yang ternyata membuat Hans menjadi lebih menuntut, seakan ia mendengar kebutuhan dalam erangan pelan Lana dan berusaha memuaskan dahaga yang tiba-tiba terpicu.


Tangan Lana terangkat ke arah tengkuk leher Hans dan jemarinya mencengkeram rambut pria itu sementara tubuhnya melengkung dengan sendirinya menjawab gairah yang baru pertama kali ia rasakan. Seolah-olah Lana sedang memohon tanpa daya untuk menolak sama sekali.


Hans membisikkan sesuatu yang sama sekali tidak bisa ia pahami sebelum pria itu menunduk dan menggendong Lana, dengan bibir yang masih saling menyatu dan membawanya ke sofa yang terletak di perpustakaan itu.


Hans menurunkan Lana ke atas sofa yang terbuat dari kulit dan mendekapnya dengan erat-erat. Hans tidak pernah merasakan rasa damba yang begitu hebat yang menyebabkan dirinya kehilangan kendalinya seperti saat ini. Begitu pula itu yang dirasakan oleh Lana. Wanita ini sedang meleleh di pelukan pria yang telah mengisi hatinya sejak lama. Lana rela untuk menyerahkan segalanya kepada pria yang sedang mencumbunya di atas sofa yang dingin.


Hans bergerak sedikit, hanya cukup untuk membiarkan tangannya meluncur  di antara mereka. Tangannya membelai tulang selangka Lana dan menurun ke balik gaunnya hingga ia menemukan bra berenda yang Lana kenakan. Hans merasakan puncak dada Lana yang mengeras ketika lelaki itu menyentuhnya. Hans sadar akan apa yang ia lakukan, bukannya ia berhenti, tetapi malah melanjutkan aksinya ketika melihat dan mendengar ******* nikmat yang keluar dari bibir Lana.


Tangan Lana juga tidak diam, tangannya bergerak-gerak di kancing-kancing kemeja Hans. Ini nekat dan berbahaya. Lana menggodanya hingga rasanya ia hampir menjadi gila dan tidak bisa berhenti.Ketika Lana membelai dada bidang Hans yang bidang, Hans mengerang hebat. Tubuhnya bergetar karena gairah. Bibirnya ******* bibir Lana lebih intens sedangkan tangannya yang ramping memeluk tubuh Lana lebih erat lagi, menghanyutkan mereka berdua dalam gairah sensual yang sangat intens.


Kepala Lana menjadi pening. Semua impiannya akan cintanya menjadi kenyataan. Hans juga menginginkan dirinya! Hans juga merasakan gairah yang sama akan gairah miliknya. Hans sama sekali tidak menghentikan ciumannya dan Lana merasakan rasa bahagia yang membuncah di dadanya seakan dirinya akan meledak saat itu juga! Lana berusaha menenangkan dirinya dengan terkikik parau  dan membalas ciuman pria itu dengan pelan. Tubuh Lana panas, seakan-akan dirinya sedang terbakar dalam sensasi asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Hans mengangkat kepalanya dan menatap Lana. Wajahnya tiba-tiba menjadi kaku bak topeng. Hanya mata abu-abunya yang terlihat hidup, berkilat-kilat menatap Lana dalam kesunyian yang diselingi dengan suara ******* pelan.


"Jangan berhenti!" bisik Lana sambil menggeliat.

__ADS_1


__ADS_2