
Dua minggu kemudian, Lana ikut hadir dalam pertemuan antara Ryan dan seorang bagian sistem informasi yang bersikap kasar dan menghina terhadap sesama pekerja. Tugas Ryan sebagai manager umum bagian SDM adalah mengurusi masalah karyawan dan pria itu sangat hebat dalam berdiplomasi. Hal itu membuat Lana mendapatkan kesempatan untuk belajar seperti apa yang harus dilakukannya ketika ia akan mendapatkan promosi suatu saat nanti untuk menjadi seorang manager seperti Ryan Williams.
"Pak David, perkenalkan. Gadis ini adalah Lana Adelia, asisten administrasiku yang bisa merangkap semua pekerjaanku ketika aku tidak ada. Dia disini untuk mencatat." jelas Ryan.
Lana terkejut, karena dia mengira keberadaannya disana untuk mempelajari pertemuan itu. Tetapi dia hanya tersenyum dan dengan segera mengeluarkan buku catatan kecil dan sebuah bolpoin dari dalam tasnya. Seolah dia sudah siap untuk mencatat segala hal penting dari pertemuan itu.
"Anda menerima keluhan soal saya, kan?" tanya Pak David sembari mendesah.
Kedua alis Ryan terangkat. "Well, ya..."
"Salah seorang eksekutif kami memperkerjakan seseorang spesialis pemasaran tanpa mengecek pengalamannya sama sekali. Saya sedang menyiapkan salah satu proposal yang harus siap dalam waktu sebulan, tetapi wanita itu malah dengan sengaja mengatai pekerjaan saya dan saya pribadi. Dia mengatai saya bodoh dan tidak profesional sama sekali. Ketika saya mencoba untuk menjelaskan proposal yang sedang saya kerjakan kepada dirinya, dia malah menuduh saya menghinanya dan pergi begitu saja. Saya hanya mencoba untuk mengajarinya karena saya melihat dia kurang berpengalaman."
Ryan terlihat seolah dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia malah melirik Lana dan alih-alih berdeham. "Anda tidak mengatai-ngatainya, Pak David?"
"Tidak Pak, saya tidak mengatai-ngatainya sama sekali. Tetapi justru dia yang telah menjelek-jelekan saya. Selain itu, saya malah ingin melaporkan dirinya. Jujur saja, saya melihat adanya gelagat aneh dari dirinya. Matanya berkilat-kilat, hidungnya merah dan dia selalu bersikap agresif hampir kepada seluruh orang di divisi kami. Ada kemungkinan bahwa dia menggunakan narkotika, Pak Ryan. Tolong Anda menindak lanjuti lebih jauh tentang keluhan saya." jawab pria muda itu dengan tenang dan sopan.
"Saya sudah melihat cukup banyak orang yang kecanduan narkotika dan tahu tentang gejala-gejala kecanduan narkoba. Saya menyesal saya melayangkan tuduhan itu terhadapnya tetapi disini integritas saya yang dipertaruhkan." tambah David.
Ryan menerima kertas itu dan membaca nama yang tertera disitu. Ia memandang pria yang lebih muda itu sekali lagi. "Saya mengenal dia. Dia adalah salah satu orang terbaik yang kita miliki. Dia akan mengkonfirmasi apa yang baru saja Anda katakan kepada saya?"
"Benar, Pak Ryan."
Ryan mengangguk. "Saya akan bertanya kepadanya dan menyelidiki tuduhan Anda. Anda akan diberitahu ketika kami sudah membuat keputusan, Pak David. Terima kasih atas waktunya, untuk sementara cukup sampai disini."
"Terima kasih, Pak Ryan dan Bu Lana." kata pemuda itu sopan sambil berdiri dari kursinya dan beranjak dari sana.
"Saya menikmati pekerjaan saya. Jika saya harus kehilangan pekerjaan saya, seharusnya berdasarkan kenyataan dan bukan karena kebohongan. Saya permisi." tambahnya.
__ADS_1
"Saya setuju. Selamat siang." ucap Ryan.
"Selamat siang." kata David pergi dengan terhormat.
Ryan menoleh ke arah Lana dan bertanya," Bagaimana pendapatmu tentang David?"
"Sepertinya dia adalah seorang yang jujur, tulus dan pekerja keras."
Ryan mengangguk. "Dia selalu datang lebih awal setiap hari dan tidak pernah mengambil waktu lebih lama ketika sedang makan siang, mengerjakan pekerjaannya dengan senang hati dan tidak pernah mengeluh, bahkan ketika ia harus lembur hingga malam."
Ryan memungut sebuah arsip dokumen. "Di sisi lain, Nona Anna yang mengadukan kasus ini. Dia malah sepertinya yang bermasalah. Dia selalu datang terlambat empat dari lima hari kerja. Dia juga sering membolos ketika hari Senin dimana hari itu biasanya diadakan rapat mingguan. Dia juga sering mengeluh ketika dia harus lembur." kata Ryan sambil mendongak, menatap Lana. "Apa tindakanmu jika kau berada di posisiku?"
"Aku akan memecatnya jika dia sudah mendapatkan surat SP lebih dari tiga kali."
Ryan tersenyum perlahan. " Dia memiliki seorang ibu yang cacat dan seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Dia dipecat dari pekerjaannya yang terdahulu. Jika kali ini dia dipecat lagi, dia akan menghadapi masa depan yang tidak menentu." gumam Ryan dengan lesu.
"Kalau kau menggantikan posisiku, kau harus membuat rekomendasi seperti ini. Malah kau harus melakukannya untukku dan kau tidak boleh merasa iba. Kau bekerja di dunia bisnis yang bergantung pada pendapatan. Karyawan yang tidak kompeten hanya akan membuang-buang waktu, dana dan bahkan klien kita. Tidak ada bisnis yang bisa bertahan lama dengan cara seperti itu." terang Ryan.
Lana menatap mata Ryan dengan sedih. " Ini memang bukan pekerjaan yang menyenangkan, Ryan."
Ryan mengangguk. "Ini sama seperti sedang berkebun. Kau harus memisahkan tanaman alang-alang dari sayuran. Jika terlalu banyak alang-alang, maka tidak akan ada sayuran."
"Aku mengerti. Kalau begitu apa yang akan kau rekomendasikan?" tanya Lana sambil menatap buku catatannya.
"Bahwa bagian keamanan kita akan melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kinerja Nona Anna dan jika dia ketahuan punya masalah kecanduan narkotika, dia akan diberi pilihan untuk mengikuti konseling dan pengobatan atau pemutusan kerja. Kecuali jika dia tertangkap basah menggunakan narkotika pada saat jam kerja. Tentu saja, jika kejadiannya seperti itu, dia akan langsung kita laporkan kepada pihak berwajib." jelas Ryan dengan tenang.
Lana tahu hatinya membeku. Apa yang terdengar seperti posisi yang bagus membebaninya layaknya sebongkah batu yang besar.
__ADS_1
"Lana, apakah ini yang benar-benar ingin kau lakukan? Maafkan aku tapi kau bukan orang berhati keras. Kau akan selalu membuat dalih untuk orang lain dan itu bukan ciri-ciri seorang manajer." tanya Ryan lembut sembari tersenyum.
"Aku mulai menyadari itu. Apakah kau sama sekali tidak terganggu untuk membuat rekomendasi agar orang-orang kehilangan pekerjaan mereka?" sahut Lana pelan sambil menatap mata pria yang sudah menjadi bos dan panutannya di tempat kerja.
"Tidak! Aku prihatin kepada mereka, tetapi tidak cukup prihatin untuk mengorbankan gajiku ataupun gajimu demi mempertahankan pekerjaan yang tidak layak mereka kerjaan. Itulah bisnis, Lana."
"Kurasa begitu." kata Lana memainkan buku catatannya. "Aku jago menangani komputer ketika aku kuliah bisnis dulu. Aku tidak mau menjadi spesialis sistem karena tidak berbakat dengan mesin, tapi aku bisa melakukan apa saja dengan piranti lunak. Mungkin sejak awal, aku mendapatkan pekerjaan yang salah. Seharusnya aku menjadi spesialis piranti lunak saja. " renung Lana sambil melirik ke arah Ryan.
Ryan menyeringai. "Lambat laun, jika kau memutuskan apa yang benar-benar ingin kau lakukan. Tulislah gambaran pekerjaan dan berikan pada manajer SDM-mu dan lamarlah pekerjaan itu. "Ryan menasihati Lana.
"Kau bercanda!"
"Tidak kok. Itulah caranya aku mendapatkan pekerjaan dan posisiku yang sekarang." ucap Ryan membuka rahasianya.
"Wah!"
"Kau tidak perlu memecat piranti lunak dan jika piranti lunak itu tidak berfungsi dengan baik, kau tidak akan ragu untuk melemparnya jauh-jauh. Tetapi ini semua masih terlalu dini. Kau tidak perlu memutuskan sekarang juga apa yang ingin kau lakukan! Selain itu, ada kemungkinan aku tidak akan mendapatkan promosi sehingga kau bisa mengambil alih posisiku dalam waktu dekat."
"Kau akan mendapatkannya, Ryan. Kau sangat hebat dengan pekerjaanmu."
"Menurutmu begitu?"
"Iya tentu saja." ucap Lana tulus.
"Andai saja, pacarku memiliki keyakinan dan menghargai aku seperti apa yang kamu lakukan padaku. Aku akan menjadi lelaki yang lebih percaya diri dan bahagia." kata Ryan lesu.
"Oh. aku ikut sedih. Mungkin saja, pacarmu akan berubah kelak." lirih Lana sambil menepuk-nepuk punggung Ryan dengan pelan. Lana menyunggingkan senyum manisnya ke arah lelaki di sampingnya ketika mereka berjalan kembali ke ruangan kerja mereka tanpa menyadari bahwa ada tatapan dingin dari lelaki yang sudah melihat kedekatan Lana dengan Ryan sedang duduk di kursi di biliknya. Lelaki itu merasa darahnya mendidih panas.
__ADS_1