Menaklukan Cintamu

Menaklukan Cintamu
EP 36


__ADS_3

Halo para pembaca. Mak thor mengucapkan terima kasih atas dukungannya. Maaf Mak off selama dua hari karena badan gak fit, kepala cenut-cenut jadi gak bisa mikir. Mak juga happy karena lihat statistik, pembacanya bertambah. Tapi sayang dukungan buatku sedikit. Jadi mohon dong dukungannya, like, komentar dan vote atau beri hadiah. Terima kasih ya.


Kecurigaan bahwa Hans sedang mengincar Ryan membuat Lana sedih hati sepanjang sisa hari itu di kantor. Ryan pria lembut dan manis. Lana tentu berpikir bahwa Ryan tidak akan terlibat dengan hal-hal yang menjijikan seperti penyelundupan narkotika!


Jika memang ada seseorang di perusahaan ini yang sedang diselidiki, Lana tidak boleh membongkar tindakan Hans dengan mengatakan apapun kepada atasannya itu. Tetapi tunggu dulu, bukankah Hans memberitahu Mateo waktu kami sedang bertemu di restaurant China? Lana teringat tapi kenapa Hans ingin berpura-pura bahwa mereka sedang menjalin hubungan dengannya pada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan kasus ini. Ada yang aneh disini. Mengapa Hans berbohong dengan tetap berpura-pura pada Mateo?


Lana menggeleng-geleng dan menyingkirkan pertanyaan yang terus mengganggunya sepanjang sisa hari itu. Lana sadar bahwa terus memikirkan hal itu tidak ada gunanya, ia tidak akan bisa mendapatkan jawaban itu sendiri.


●●●●●


Keesokan malamnya, Lana sudah berpakaian dan merias wajahnya dengan sederhana. Lana sudah siap satu jam lebih awal sebelum mengizinkqn Hans masuk ke dalam gedung apartemennya. Pada saat pria itu tiba di apartemennya dan mengetuk pintu, Lana gugup setengah mati.


Lana membuka pintu, dan Hans melempar tatapan menilai yang tidak begitu menyenangkan. Lana berpendapat bahwa dirinya terlihat pantas dalam gaun hitam panjang polos, sepatu bertumit tinggi dan rambut digelung. Tapi ternyata Hans tidak berpendapat seperti itu. Meski begitu, Hans sendiri tampak sangat menawan dalam balutan jas resmi dan celana panjang, serta sepatu kulit hitam yang disemir sampai mengilat. Dasi hitamnya lurus sempurna di atas kemeja katun putihnya yang mahal.

__ADS_1


"Kau tidak menggerai rambutmu dan kau selalu mengenakan gaun yang sama dalam dua dari tiga acara di pesta-pesta kami." ujar Hans ketus.


Wajah Lana merona. " Ini satu-satunya gaun bagus yang kumiliki, Hans." ujar Lana dengan tegang.


Hans mendesah marah. " Sasha pasti dengan senang hati akan membuatkan gaun untukmu, kalau kau meminta dan mengizinkannya!"


Lana berbalik untuk mengunci pintu. Tangannya terasa dingin dan kebas. Hans tidak pernah membiarkannya menikmati satu malam tanpa mengkritik sesuatu yang ada pada dirinya. Lana nyaris menangis...


Lana terkesiap ketika Hans tiba-tiba menyentakkan tubuhnya menghadap pria itu dan menciumnya dengan gairah yang menggebu-gebu. Lana tidak sempat merespons. Ciuman itu berakhir secepat dengan permulaannya. Namun kendati begitu, kaki Lana terasa lemas dan nafasnya terengah-engah. Lana mematung seraya mendongak menatap Hans dengan mata membelalak, berkabut, dan sorot terkejut tampak di wajahnya yang pucat.


Lana masih berusaha untuk bernafas dan berpikir pada saat yang bersamaan.


"Dan sekarang kau terlihat seperti korban kecelakaan." gumam Hans. Ia mengeluarkan sapu tangannya sementara matanya menatap lekat-lekat bibir Lana. "Kurasa bibirku penuh dengan lipstick merah muda. Tolong bersihkan bibirku." tambahnya sambil menjejalkan saputangan itu ke tangan Lana.

__ADS_1


"Itu... tidak bisa menempel." sahut Lana tergagap.


Hans mengangkat sebelah alisnya dan menunggu penjelasan dari Lana.


"Itu jenis lipstick keluaran terbaru yang mereka iklankan. Begitu dipakai lipstick itu bisa bertahan lama sepanjang hari. Tidak akan meninggalkan bekas di cangkir kopi dan bahkan pada kain linen." Lana menyerahkan kembali saputangan pria itu.


Hans mengangkat tangannya, tapi ia tidak meraih sapu tangan itu. Tangannya naik ke gelungan di puncak kepala Lana dan sebelum Lama sempat mencegah, Hans sudah melepaskan rambut Lana dari sisir lengkung yang menahan rambut itu. Rambut Lana jatuh tergerai dengan lembut, bergelombang sampai ke bahu.


Nafas Hans menjadi tercekat karena takjub dan puas di saat yang bersamaan ketika melihat Lana. " Cantik." bisiknya, sisirnya bergelantungan di sebelah tangan sementara ia membelai helai-helai rambut yang lembut itu dengan tangan lain.


"Butuh waktu yang cukup lama... untuk menggelung rambutku!" protes Lana lemah.


"Aku suka rambut panjangmu. Biarkan seperti ini." kata Hans serak. Hans lalu menunduk, mengangkat dagu Lana, dan kemudian menciumnya dengan kelembutan.

__ADS_1


Ia meletakkan sisir lengkung itu ke tangan Lana dan menunggu sementara Lana menjejalkannya ke dalam dompet tangannya. Tangannya gemetar. Hans juga melihatnya dan pria itu hanya tersenyum dengan penuh teka- teki.


Ketika Lana selesai, Hans menautkan jari jemarinya ke jemari Lana dan mereka berjalan menyusuri koridor untuk menuju ke mobil Hans yang sudah terparkir di depan gedung.


__ADS_2