
Dari tadi pagi setelah di tabrak seseorang di parkiran , punggung raisa terasa sakit .ia dari tadi menahan sakit yang teramat sangat.apa lagi tadi ia tidak meminum obat pereda nyeri .setelah pulang kuliah raisa ingin menuju ke klinik dokter dimas.ia ingin memeriksakan lukanya yang kali ini terasa sakit , ia berjalan dengan menahan sakit , sesekali ia berhenti menarik nafas dengan memejamkan matanya untuk meradakan sedikit sakitnya.ia berencana menelpon sam setelah sampai di parkiran ,agar menjemputnya di kampus. ia merasa tak mampu membawa mobil sendirian, tenaganya sudah hampir habis untuk menahan sakit sejak tadi. "sam kamu dimana , jemput aku di kampus!"tanpa menunggu jawaban sam raisa sudah mematikan telponnya.kini giliran telpon raisa yang berdering, terdapat nama sam di layar ponsel " apa? kenapa tidak bilang" kembali raisa mematikan telponnya. raisa mengedarkan pandangannya melihat seluruh parkiran , ia mencari tempat duduk untuk istirahat.ia menarik nafas, dalam fikirannya ia akan memesan taxi saja untuk pulang.ia berjalan menuju tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.perlahan ia mendudukkan pantatnya memejamkan mata nya sekali lagi untuk meredakan sakit . ia kemudian mencari hape yang ia taruh dalam tas , saat sedang fokus mencari hape ia tidak tahu jika ada seorang laki laki yang mendekatinya."belum pulang?"raisa mendongak mencari asal suara manik matanya menangkap sosok yang sudah beberapa kali ia temui, ia menghela nafas.... " belum" raihan ...iya laki laki itu adalah raihan, ia duduk di sebelah raisa" apa lukamu masih sakit, aku perhatikan dari tadi kamu seperti menahan sakit.." raihan memandang raisa tapi yang di pandang hanya memalingkan wajah tanpa mau melihat raihan" aku antar pulang"raihan beranjak dari duduknya"aku naik taxi "dengan cepat raisa menjawab" wajah kamu sudah pucat,apa kamu mau pingsan disini?" dengan lembut raihan berkata kepada raisa, "sini kuncinya" raihan mengambil kunci mobil dari tangan raisa tanpa minta persetujuan dari raisa.ia berjalan menuju mobil raisa, dan membuka pintu untuk raisa .raisa hanya berdecak pelan kemudian ia bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Mobil raisa memasuki jalan raya yang sedikit macet , berkali kali ia mencari posisi yang nyaman untuk menyandarkan tubuhnya, tapi ia tak jua menemukan posisi yang nyaman.sikapnya yang gelisah tak luput dari perhatian raihan"kita langsung ke dokter ya?, kelihatannya sakit banget?" raisa melihat rahain sekilas '' ke klinik dimas " kemudian ia memalingkan wajahnya ke jendela melihat pemandangan di luar. raihan menarik nafas, ia kini fokus mengemudi dan sesekali melirik raisa ia melihat wajah yang dingin tapi menyiratkan kesedihan.
__ADS_1
Saat dokter dimas membuka ruangannya ia melihat raisa bersama seseorang, ia seperti pernah melihat orang ini , tapi dimana yaaa? ia mengerutkan dahinya , mencoba mengingat ingat .ia melihat raisa "dia" sambil menunjuk ke arah raihan..." saya raihan satu kampus dengan raisa , dulu yang mengantar raisa ke sini pas terluka?" Dokter sam terseyum lebar" ya...ya...kamu yang bawa raisa ke sini" raihan hanya mengangguk.." periksa luka gue" raisa beranjak dari duduknya ia mencoba membuka jaketnya tapi punggungnya terasa sakit saat tangannya di gerakkan untuk membuka jaket."auu" sambil meringis menahan sakit.raihan yang ada di sebelah raisa berdiri membantu raisa mengeluarkan jaket dari tangannya dengan gerakan perlahan dan halus seolah takut jika raisa kesakitan. raisa yang tak tahu jika raihan akan membantunya merasa kaget dan gugup. selama ini tak ada laki laki asing yang sedekat ini dengannya...jantungnya berdetak dengan cepat" ah...apa ini ...kenapa dengan jantungku...apa lukaku parah hingga mempengaruhi jantungku" sambil memegang dadanya" dengan cepat cepet raisa menuju tempat tidur untuk memeriksa pasien , ia tidak mau jika dokter dimas atau raihan melihat kegugupannya . Dokter dimas mulai memeriksa luka raisa , ia menarik nafas panjang" kenapa bisa seperti ini? jaitannya putus dua "raisa hanya mendengus " sudah ku bilang jangan banyak gerak dulu, luka di sini tu rentan..buat gerak dikit jaitan bisa putus , jangan jangan kamu...........ahhhhh...h...raisa!!!!!" dimas berteriak frustasi menghadapi kelakuan raisa .dokter dimas sampai mengacak acak rambutnya sendiri"kamu benar benar ya....aku gak bisa ngomong lagi....apa sam tahu? raisa hanya mengedikkan bahunya,"mudah mudahan kamu ketemu pawangnya biar jinak kayak perempuan pada umumnya." raisa hanya diam acuh tak merespon sedikitpun ucapan dokter dimas ia anggap angin lalu. raihan yang mendengar perdebatan antara raisa dan dokter dimas hanya tersenyum ,segitu frustasinya dokter dimas menghadapi sikap raisa.dokter dimas mulai membersihkan luka raisa kemudian ia obati setelah itu ia tutup pakai perban.setelah raisa merasa dokter dimas selesai membersihkan dan mengobati lukanya,tanpa di suruh dokter dimas raisa beranjak pergi menuju kursi yang ada di depan meja kerja dokter dimas, "kamu kebiasaan ya? selalu seperti itu ngloyor main pergi aja"raisa hanya diam ia mendudukkan diri di sebelah raihan ia mencari hape di dalam tasnya, ia ingin mengabari bibik dan mamang jika ia pulang terlambat.dokter dimas duduk di hadapan raisa dan raihan, ia memperhatikan raihan lekat lekat " kalian berdua kayaknya cocok deh... yang satu kalem dan yang satunya pecicilan " bisa diam gak " raisa sedikit tersinggung ,ia takut dimas akan melihat kegugupannya. sedangkan raihan hanya tersenyum tipis entah apa yang di rasakannya ."obat yang kemarin masih kan?"dokter dimas bertanya kepada raisa, raisa hanya mengangguk" aku pulang" raisa beranjak dari duduknya saat mau memakai jaketnya kembali ia masih kesusahan, apalagi lukanya yang baru saja di bersihkan dan di beri obat masih terasa perih." biar saya bantu?" dengan gugup raisa menjawab" ti...tidak usah " sambil menjauhkan tubuhnya dari raihan, dimas yang melihat kegugupan di wajah raisa , walau hanya sedikit , membuat ia tersenyum dalam hati berkata" ternyata ada yang bisa buat kamu salah tingkah"dan sifat jailnya kumat , ia ingin menggoda raisa." kamu satu kampus sama raisa kan? dimas melihat kearah reaihan" iya"jawab dimas " bisa tolong antar jemput dia ,dia gak boleh banyak gerak dulu nanti kalau buat nyetir takutnya lukanya tambah parah" raihan tersenyum sambil mengangguk"kamu ngomong apa aku bisa pakai supir" raisa yang mendengar pembicaraan dimas dan raihan menjadi kesal. ia kemudian berjalan pergi keluar dari ruangan dokter sam. " saya pergi dulu ya pak? " raihan pamit kepada dokter dimas dengan sopan. dokter dimas hanya mengangguk sambil tangannya mengarah ke pintu mempersilahkan raihan untuk pergi.sekali lagi raihan mengangguk sambil berjalan keluar dari ruangan dokter dimas .dokter dimas terseyum senyum sendiri di ruangannya ia seperti kembali ke jaman mudanya dulu saat melihat raisa dan raihan yang masih malu malu.raihan melihat raisa sudah berada agak jauh darinya , ia kemudian sedikit berlari untuk menjajarkaan langkah nya."sini tas kamu saya yang bawa"raihan langsung memgambil tas raisa .seketika raisa terpaku, raihan terus berjalan tanpa memperdulikan raisa yang terkejut. kemudian rasai berjalan di belakang raihan. saat sampai di lobi, raihan menghentikan langkahnya kamu tunggu di sini biar saya ke parkiran ambil mobil, tiba tiba saja raihan mengambil jaket yang ada di tangan raisa, pake jaket dulu ,tanpa menunggu persetujuan raisa, raihan memakaikan jaket ke tubuh raisa dengan penuh hati hati .kembali raisa di buat terkejut , tubuhnya tiba tiba terasa kaku , jantungnya kembali berdetak dengan cepat ,seperti kerbau di cucuk hidungnya raisa mengikuti kode mata raihan agar tangannya di masukkan ke dalam jaket. walau raihan memakaikan jaket tanpa menyentuh bagian tubuhnya tapi jarak yang begitu dekat membuatnya salah tingkah..raihan memandangnya dengan tatapan lembut dan seyum yang manis" kalau gini kan lebih sopan" raisa tersadar dari keterkejutannya ia mendapati jaketnya sudah melekat di tubuh.ia kembali berdecak "saya ke parkiran dulu kamu tunggu di sini"raihan kemudian berjalan ke parkiran mengambil mobil.
__ADS_1