
Hari ini Raisa tidak mengikuti pelajaran di kelasnya.rasa malas sedang melandanya , ia memutuskan duduk duduk santai di kantin kampus.ia sedang sibuk dengan hape dan sebuah rokok di tangannya .ia yang tak bisa lepas dari rokok bersikap cuek terhadap siapapun yang melihatnya. saat ia fokus tiba tiba di depannya sudah duduk beberapa orang yang sudah pernah ia lihat.ia hanya melihatnya sekilas,tanpa ingin menyapa.ia kembali fokus pada hapenya
"kita duduk di sini ya" ucap seseorang yang sudah sering ia lihat
"ngapain sih duduk di sini kayak gak ada tempat aja" kata seseorang yang lainnya yang ia tahu sering memakinya .ia hanya mendengarkan saja tanpa menghiraukan mereka.ia melirik sekilas di lihatnya Diki dan Doni. ia tidak kenal tapi Raihan sering memanggilnya seperti itu.yang satunya ia lupa siapa namanya.
" vit..Lo pesen minum sana, sekalian pesenin si Raihan tumben tu anak telat" laki laki itu beranjak berdiri untuk memesan minuman,tapi sebelum ia beranjak pergi ia sempat menarik laki laki yang sering memakinya untuk duduk
" udah sini aja,duduk yang manis,gue pesenin makanan" Raisa melirik sekilas di lihatnya laki laki itu berlari kecil menghindari pukulan yang akan di layangkan Doni.
" dek...." jantung Raisa langsung berdetak lebih cepat dari sebelumnya saat nama Raihan di sebut. ia mencoba menutupi keresahannya dengan tetap memfokuskan diri pada layar hape..
ia terus saja sibuk dengan hapenya, tak mau ada yang melihatnya gelisah. ia ingin segera beranjak pergi dari sini ia tidak mau bertemu Raihan ada hal yang belum ia selesaikan dengan Raihan,tapi sayang keberuntungan sedang tidak berpihak dengannya,Raihan kini sudah ada di sampingnya.
"aduh...aku kali ini lagi apes, laptopku tadi di copet" sambil mendudukkan pantatnya di kursi samping Raisa, Raihan tak sadar jika dia duduk di samping Raisa.
" kecopetan di mana?" tanya Diki
"lampu merah, salah aku sih " ia kemudian berdecak
"kaca jendela samping lupa aku tutup ,pas berhenti di lampu merah eh...ada copet ....langsung deh...di ambil" ia mengusap kasar wajahnya
" mana semua ada di situ lagi , huff,..."ia membuang nafas kasar
" dia kenapa" tanya davit yang baru datang sehabis pesan minum
" kecopetan" jawab Doni
"kok bisa,....?di mana?" Doni memutar bola matanya malas
" ya bisa lah...di lampu merah ,udah mau tanya apa lagi?" ucap Diki
" ha...ha...."davit tertawa
"gue kan sahabat yang baik"lanjut davit
" dasar Lo sahabat kalau ada maunya"ucap Doni sambil melempar kulit permen yang ia makan
Raisa yang melihat keakraban mereka dalam hati merasa iri. adakah yang tulus mau berteman dengannya seperti mereka.
"lo hafal gak wajahnya" tanya Diki
" aku sih hafal soalnya pas ia ngambil pas aku lihat wajahnya,tapi kalah cepat sama dia"lalu ia menyandarkan tubuhnya di kursi "
" yang gue tau sih di setiap lampu merah ada premannya, emmm....maksud gue ada yang megang gitu?!" terang doni
Raisa yang mendengar Raihan kecopetan merasa kasihan ,ia melihat Raihan yang sedih ,ia merasa harus membantu Raihan ,karena Raihan tanpa ia sadari sudah sering membantunya.
ia punya teman seorang preman di daerah itu tanpa pikir panjang ia lalu menghubungi temannya itu
" Lo kecopetan di lampu merah mana?!" tanya Raisa dingin masih fokus dengan hapenya
__ADS_1
suara Raisa langsung mengalihkan perhatian semua orang,semua melihat Raisa seolah bertanya apa maksudnya
" kamu di sini? " Raihan terkejut ternyata Raisa ada di sampingnya ,"maaf gak sadar kalau kamu ada di sini" dengan senyum yang menyejukkan hati
Raisa memandang Raihan yang masih memandangnya
" di lampu merah mana?" ulang Raisa tanpa menjawab pertanyaan Raihan
"di lampu merah depan arah mau ke kampus?" jawab Raihan tanpa mengalihkan pandangannya dari Raisa.
Raisa menelpon seseorang yang ia kenal .
" lo yang megang daerah x....x" tanya Raisa langsung saat orang yang berada di seberang mengucapkan kata " hallo"
" ada yang nyopet laptop di perempatan lampu merah arah ke kampus gue, cari dia! setengah jam lagi gue tunggu di kafe depan kampus" ia mematikan telpon dan kembali memfokuskan diri dengan hapenya.
Raihan ,Diki ,Doni,dan davit saling lempar pandang mereka tak percaya jika Raisa mengenal preman preman di sana.
"lo kenal sama mereka?" tanya davit pada Raisa
Raisa tak menjawab pertanyaan davit ia masih asik dengan rokok di tangannya,
" ya kenal lah...orang dianya aja preman!?" Doni yang menjawab pertanyaan davit
" Don .." Raihan mencoba memberi peringatan dengan memanggil Doni.
" kenapa? emang kenyataan kan, Lo nya aja yang buta" ucap Doni sedikit marah karena Raihan lebih memilih membela raisa dari pada dirinya.
" saya tahu kamu gak suka sama Raisa dan saya gak berhak memaksamu untuk menyukai Raisa, tapi saya harap kamu mau menghormati Raisa sebagai seorang perempuan" Raihan memandang Doni ,di tatap Raihan seperti itu membuat Doni mengalihkan pandangannya.
"apa sih yang Lo harap dari perempuan kayak gini" ucap Doni lagi
" Don" kini giliran davit dan Diki yang bersamaan untuk memperingatkan agar berhenti berbicara
di tengah tengah ketegangan telpon Raisa berbunyi
" hallo !?"Raisa mendengarkan orang yang berada di seberang berbicara setelah ia mengangkat telpon, tanpa bicara apa ke si penelpon ia sudah mematikan telponnya, ia kemudian merapikan barang barangnya dan masukkan ya ke dalam tas.ia lalu berdiri dari tempat duduknya
" ikut gue" sambil memandangi Raihan
Raihan bingung Raisa mau mengajaknya kemana.
" eh......h. kemana?"mukanya Raihan terlihat bingung.
"Lo mau barang Lo balik gak!"Raisa berjalan meninggalkan Raihan yang masih terbengong.
"eh....h sana susul dia cepet !" perintah Diki kepada Raihan.
" oh...ya... " Raihan lalu berdiri ,ia melihat Raisa sudah berjalan cukup jauh
" gue duluan" ia berjalan sedikit berlari untuk mengejar Raisa yang sudah berada jauh di depannya.
__ADS_1
saat Raihan sudah berhasil mengejar Raisa ia menjajari langkah Raisa. semua orang yang melihat mereka berdua berjalan bersama terasa aneh,selama ini Raihan yang mereka kenal tidak pernah mau berjalan dengan perempuan.ia yang selalu menjaga diri.
sampai di pintu gerbang Raihan bertanya pada Raisa " kita mau ke mana? tanya Raihan lagi pada Raisa. Dan sekali lagi Raisa tak menjawab ucapan Raihan ia berjalan menyeberangi jalan menuju kafe di seberang.
Raihan menarik nafas, ia kembali berjalan mengikuti Raisa .
Raisa masuk ke dalam kafe di ikuti Raihan. Raisa mengedarkan pandangannya ia melihat orang yang di carinya sedang melambaikan tangan ke arahnya ,ia kemudian berjalan menuju dua laki laki yang sedang duduk, salah satunya sedang memandangnya sedangkan satunya lagi menundukkan wajahnya.
setibanya di tempat yang di tuju Raisa langsung mendudukkan diri tanpa di perintah.ia menyilangkan kakinya yang satu ia taruh di atas pahanya.ia mengambil rokok dalam tas dan mulai menyalakannya .Raihan ikut duduk di sebelah Raisa dengan ragu ragu.
" ini barangnya" laki laki itu menyerahkan sebuah laptop yang di letakkan di meja ke pada Raisa.
" ini laptop saya," Raihan langsung meraihnya,ia Lalu membuka laptop dan menyalakannya.ia mulai sibuk mengutak atik laptopnya.
" ini buat Lo"Raisa menyerahkan dua buah lembar uang warna merah ke laki laki yang memberinya laptop,
" lo boleh pergi" ia menyuruh laki laki yang dia beri uang untuk pergi,tapi matanya memandang dingin ke arah laki laki yang sejak ia datang terus menunduk.
" ok bos, kalau butuh bantuan telpon gue?" ucap laki laki itu sambil berdiri, tanpa banyak kata laki laki itu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Raihan kembali menutup laptopnya ia memandang Raisa dan laki laki yang ada di depan raisa.
"Alhamdulillah semua data datanya masih ada, terimakasih" ucap Raihan.
" Mbak sini?" Raisa memanggil pelayan untuk memesan minum,pelayan yang di panggil datang mendekat
" sudah makan!" tanyanya pada laki laki yang menunduk,ia masih memandang laki laki di depannya tanpa menghiraukan Raihan
" sudah?" Dengan sedikit ketakutan ia menjawab pertanyaan raisa.
" pesen es jeruk satu sama nasi lauk ayam bakar satu" kata Raisa pada pelayan yang mendekatinya.
"kenapa cuma satu satu persennya, kenapa gak sekalian?tanya raihan
"kenapa Lo belum pergi?!" sambil melihat Raihan yang duduk di sampingnya.
"kenapa harus pergi?"tanya balik Raihan sedikit mengerutkan dahinya
"barang Lo kan dah ketemu! ngapain di sini?"
" memang ada larangan saya di sini?" ucap Raihan lembut.
"pesanannya tambah dua lagi ya mbak ,nasinya tambah dua dan es jeruknya tambah 2".
pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.
Raisa menarik nafas ia hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan Raihan. ia kembali memfokuskan diri pada laki laki di depannya yang ketakutan.
"sudah jangan merokok lagi, nanti aja habis makan merokok lagi?" Raihan melarang Raisa saat ia akan menyulut rokoknya ,ia memandang Raihan dengan tatapan tajam.
" bukannya melarang, tapi tadi kamu sudah habis banyak ." Raihan segera melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
tanpa membantah Raisa kembali meletakkan rokoknya di atas meja.