
kini Raisa dan raihan sudah ada di parkiran kampus, Raisa menelpon Raihan jika ia menunggunya di tempat parkir
" sudah lama menunggu?" tanya Raihan yang terengah engah ia habis berlari takut jika Raisa menunggu lama, "maaf tadi Abang ada kelas tambahan" sambil membuka pintu mobil untuk Raisa
" baru" sambil masuk ke dalam mobil, Raisa berbohong pada Raihan , ia melihat raihan yang terengah engah habis berlari merasa kasihan ia yang awalnya akan marah tiba tiba saja hatinya merasa bersalah,wajah tampan itu di penuhi keringat .sebenarnya ia sudah lama menunggu Raihan, hampir satu jam lebih ia habiskan waktunya menunggui Raihan, entah mengapa hatinya begitu lemah, ia sendiri bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya, dengan Raihan ia menjadi perempuan lemah ,mungkin dengan orang lain ia tidak akan menghabiskan waktunya dengan percuma.
" makan dulu apa langsung ke pesantren?' tanya Raihan yang berhasil membuyarkan lamunannya
raihan mulai menjalankan mobil meninggalkan kampus
Raisa tidak langsung menjawab, ia sebenarnya bingung, " hmmm....." ia mengetuk ngetukkan telunjuknya di dashboard depan seolah ragu ragu
"emmmmm.......kita ke butik dulu beli baju, gue gak bawa ganti?"
Raihan tersenyum" pinjem sama umi, ukuran kalian pasti sama"
Raisa mengerutkan dahinya " apanya yang sama"
"badan kalian lah masak...?"sambil mengering nakal ke arah Raisa.
Raisa yang merasa bahwa Raihan pernah melihat tubuhnya merasa malu,wajahnya tiba tiba saja terasa panas,ia memalingkan wajahnya ke jendela,
" kenapa?" tanya Raihan lagi masih dengan bercanda
Raisa melirik Raihan sekilas ,ia kembali memalingkan wajahnya saat mata Raisa bertemu dengan mata milik Raihan
"apanya"dengan sedikit jutek, ia yang terbiasa berani menentang siapapun kenapa dengan Raihan ia merasa minder.
Raihan mengedikkan bahunya ia melihat wajah Raisa yang bersemu merah.
" nggak jadi deh...." jawab Raihan dengan senyum yang di kulum
mereka berdua kembali terdiam hanya alunan musik yang di putar Raihan di dalam mobil lewat hape yang tersambung dengan bluetooth
Raihan melirik Raisa yang tertidur ia sekarang tahu Raisa memiliki fobia tidak bisa tidur. ia tersenyum sendiri ,ada kebahagian dalam dirinya melihat orang yang ia cintai tertidur damai di sampingnya.
raihan berhenti tepat di parkiran dekat rumah, rumah abinya Raihan terletak beberapa blok dari tempat tinggal para santri Wati.
Raihan membuka sabuk pengaman yang dipakai, ia terus memandangi wajah Raisa yang terlihat damai,ia jadi tak tega untuk membangunkan Raisa.
__ADS_1
Raihan turun dari mobil, ia berjalan ke samping, di bukanya dengan pelan pelan pintu mobil agar tidak membangunkan Raisa.
kepala Raisa yang sedikit menekuk ia benarkan dengan hati hati,Raihan kemudian membuka sabuk pengaman yang di pakai Raisa. dengan sangat hati hati ia mulai mengangkat raisa, saat wajah Raihan dekat dengan wajah Raisa tanpa ada keraguan raihan langsung mendekatkan bibirnya ke bibir Raisa, ciuman singkat yang membuatnya tersenyum senyum sendiri.saat ia sudah berhasil mengangkat Raisa ia menutup pintu mobil dengan kaki kanannya.
dengan sangat hati hati agar Raisa tidak bangun raihan berjalan dengan pelan ,ia merasakan tubuh Raisa yang kecil ternyata sangat berisi.
saat sampai di dalam ia berpapasan dengan uminya
" eh...menantu umi sudah...."
Raihan buru buru memberi tanda dengan gerakan bibir agar uminya berhenti bicara.raihan menunjukan isyarat dengan dagunya kalau Raisa sedang tertidur.
umi yang melihat Raihan membopong Raisa seketika langsung ber oh..... tanpa mengeluarkan suara ia membekap mulutnya dengan tangannya agar tidak mengeluarkan suara.
umi hanya mengangguk ngangguk dan menyuruh Raihan segera membawa Raisa ke kamarnya dengan isyarat tangan menunjuk ke kamar Raihan.
umi membantu Raihan membukakan pintu di lihatnya menantunya itu tertidur pulas di gendongan raihan.
saat Raihan sudah masuk ke kamarnya umi menutup pintu, kembali ke ruang keluarga untuk mengerjakan beberapa hal
dengan hati hati Raihan membaringkan istrinya di tempat tidur miliknya yang sudah dua hari tidak ia tempati.
Raihan beranjak dari duduknya ia berjalan keluar,ia tidak ingin mengganggu Raisa tidur,maka itu ia akan menemui bude serta pakdenya dan beberapa keponakan yang baru datang dari Surabaya.
" assalamuallaikum bude,pakde" sambil berjalan menghampiri bude serta pakde yang sedang mengobrol di ruang keluarga,ia kemudian menyalami keduanya.
" wah..pengantin baru tambah seger nih" seloroh pade Raihan sambil menepuk pundaknya
"mana istri kamu bang?" tanya bude Hanna
" tadi ketiduran bude kasian kalau di bangunin" ucap Raihan sopan
" wah...wah...anak kamu ini ...suami idaman ," sambil menggeleng gelengkan kepala pak de Marsuki menunjuk ke abinya raihan.mereka berdua tertawa
" anak siapa dulu" Abi tertawa sambil menepuk dadanya sendiri seolah bangga dengan sikap raihan
" padahal bude mau menjodohkan kamu sama keponakan pak de kamu yang ada di surabaya, dia sangat cantik dan sudah hafis Qur'an, ternyata kamunya duluan menikah, gagal deh rencana bude" terlihat nada kekecewaan di setiap kata yang di ucapkan bude Hanna.
" itu namanya gak jodoh bude?" jawab Raihan santun
__ADS_1
" pasti jodohnya Raihan lebih baik dari pilihan kita bue" ucap pakde Marzuki mencoba memberi pengertian pada bude Hanna
" pasti lah...Raihan keponakan ku tidak akan salah memilih pasangannya" sambil matanya melirik ke arah Raihan
Raihan hanya tersenyum tipis, entah salah atau tidak itu sudah menjadi keputusannya, dan ia berjanji akan mempertanggung jawabkan pilihannya baik di dunia maupun di akhirat kelak,
karena sudah menunjukkan waktu ashar Abi dan pak de bergegas ke masjid untuk melaksanakan sholat ashar berjamaah,sedang umi dan bude Hanna memilih berjamaah di rumah
Raihan kali ini ingin sholat ashar di kamarnya saja ,sekalian menunggui kalau Raisa tiba tiba bangun
Raihan yang keluar dari kamar mandi melihat Raisa menggeliat ia kira Raisa akan bangun tapi ternyata ia hanya merubah posisi tidurnya.
ia menggelar sajadah dan mulai mengerjakan sholat ashar.
Raisa mengerjap ngerjapkan matanya, ia melihat ke sekeliling,dengan pelan matanya menyusuri tiap inci ruangan ia melihat lemari besar ada di di sebelah tempat tidur yang ia tempati ,matanya kembali menyusuri ruangan ada dua pintu di sebelah lemari entah pintu apa ia belum tahu ,matanya kembali berputar di lihatnya suaminya sedang mengerjakan sholat dengan khusuk.
Raisa mendudukkan dirinya dan bersandar pada bahu ranjang,
ia berfikir tadi ia tertidur di dalam mobil, siapa yang mengangkatnya ke kamar apakah pria itu yang kini menjadi suaminya.
raisa masih memperhatikan Raihan yang sedang mengerjakan sholat, di lihatnya punggung Raihan yang lebar dan terlihat kekar.
ia terus memperhatikan Raihan tanpa ia sadari Raihan yang selesai mengerjakan sholat melihatnya .
mata mereka saling beradu, Raihan tersenyum pada Raisa ia kemudian berdiri dan melipat sajadah lalu ia letakkan di kursi kayu dekat meja belajar,Raihan berjalan menghampiri raisa,ia mengambil duduk di dekat Raisa
Raisa hanya diam ia memperhatikan Raihan yang berjalan mendekatinya.
saat Raihan duduk di dekatnya Raisa masih diam
"mandi dulu?" perintah Raihan dengan nada yang lembut ia menatap lekat lekat wajah Raisa yang habis bangun tidur, rambut yang berantakan serta wajah yang samakin cantik menurut Raihan saat bangun tidur,
tanpa di sadari tangan Raihan bergerak merapikan rambut Raisa yang menutupi kening,tangan itu bergerak menuju pipi raisa di usapnya pipi Raisa lembut dengan ujung jarinya
"habis itu makan,Abang sudah ambilin makanan buat kamu, dari tadi siang kamu kan belum makan?" masih dengan memandang wajah cantik di depannya
Raisa hanya menarik nafas kasar ia mencoba menghindari sentuhan lembut Raihan di pipinya. sentuhan lembut raihan mampu menimbulkan geleyer geleyer aneh yang membuat tubuhnya meremang.
"tadi umi ke sini bawa baju buat kamu sudah Abang siapkan di situ?.sambil tangnnya mununjuk baju yang di beri umi
__ADS_1
Raisa beranjak dari duduknya, ia ingin segera menghindari Raihan,ia yang di pandang Raihan terus menerus membuat dirinya salah tingkah,