Menemukanmu

Menemukanmu
episode 71 jangan mencintaiku sebesar ini


__ADS_3

suara adzan ashar menyadarkan Raihan untuk mengakhiri ciumannya,ia ingat tadi Abi berpesan kepadanya agar sholat ashar di masjid karena setelah selesai sholat ada kegiatan yang harus di lakukan .


saat raihan mengakhiri ciumannya ada rasa tidak rela yang terpancar dari sorot mata Raisa.


"maaf" matanya memandang Raisa sayu...ia yang bernafsu mencium bibir Raisa harus mengakhiri di saat hasratnya semakin di ubun ubun.


raihan mengelap dengan pelan bibir Raisa yang basah dengan ujung jarinya karena ulah dirinya.


Raihan menarik nafas berat ia mencoba meredam gairah yang belum tersalurkan.


" Abang sholat dulu? sekalian nanti ada kegiatan yang harus di bahas.


Raihan mencium dahi Raisa ,lama bibir Raihan menempel di dahi Raisa ia ingin menikmati momen seperti ini setiap waktu


Raisa merasakan kehangatan dalam hatinya ,ia merasa sangat di cintai.


Raihan melepaskan ciumannya ia menatap Raisa lembut


" tidur dulu Abang ke masjid ya?"sambil mengangguk Raihan berucap, ia seperti enggan meninggalkan Raisa,tapi ia sudah berjanji pada Abi untuk membahas hal penting.


Raihan beranjak dari duduknya ia pergi ke kamar mandi untuk mandi .


saat keluar dari kamar mandi Raihan melihat Raisa sudah tidur di tempat tidurnya,ia tersenyum sendiri saat melihat pujaan hatinya sudah tertidur.


Raihan membuka pintu sangat pelan agar Raisa tidak terganggu.


Raisa sebenarnya tidak tidur ia hanya memejamkan matanya agar Raihan tidak melihatnya salah tingkah


" ceklek" saat terdengar suara pintu di tutup dengan pelan Raisa membuka matanya.ia melihat ke pintu memastikan jika Raihan benar benar sudah keluar


Raisa kemudian bangkit dari tidurnya ia berjalan ke balkon ia ingin melihat anak anak santri sedang bercengkrama dengan teman temannya.


ia berdiri di balik bunga agar anak anak tak melihatnya ,ia merasa menjadi manusia paling rendah jika melihat mereka.


ia yang melihat ke akraban para santri merasa iri,ia yang tak pernah punya teman melihat mereka semua akrab membuat hatinya tersentuh.


ia tersenyum senyum sendiri saat dari atas ia melihat mereka saling melempar candaan.sesekali ia mengabadikan momen momen mereka dengan jepretan kamera hape miliknya.


hal yang Raisa rasakan dalam hatinya ia merasa begitu damai saat melihat mereka tertawa, dan bercanda bersama.


tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang,Raisa tersentak tapi ia segera tahu siapa laki laki yang memeluknya,dari harum tubuhnya Raisa hafal betul.


" di sini anginnya kencang....di dalam saja" Raihan semakin mengeratkan pelukannya


" bosen di dalam?" Raisa membiarkan tubuhnya di peluk raihan.ia merasakan hembusan nafas Raihan di telinganya,bulu kuduknya seolah berdiri semua


" kan baru sembuh?....nanti kalau kambuh lagi gimana?" Raihan meletakkan dagunya di bahu Raisa ,pipi mereka saling menempel.


raihan melirik Raisa di lihatnya perempuan yang ia cintai sedang memandang lurus ke depan.


" tadi Abi bilang pertemuannya di tunda habis Isyak,biar waktunya lebih panjang"Raihan menyingkirkan rambut Raisa yang berada di pundak dengan tangannya ia menyatukan rambut Raisa dan menaruh di pundak satunya


leher Raisa yang kini terlihat jenjang membuat Raihan sesekali mendaratkan bibirnya di leher putih milik Raisa,kecupan kecupan lembut yang Raihan berikan membuat raisa memejamkan matanya,


tangan Raisa memegang besi pembatas balkon. ia kembali merasakan sensasi yang luar biasa yang baru kini ia rasakan


walau ciuman Raihan begitu lembut dan tidak menuntut tapi mampu memporak porandakan hati Raisa.


sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak mengeluarkan suara suara yang aneh dari mulutnya.


" sedang melihat apa?" suara lembut serta hembusan nafas Raihan terdengar di telinga raisa. wangi mint yang keluar dari mulut raihan tercium jelas di hidung Raisa.


"melihat mereka......mereka terlihat bahagia?" tanpa mengalihkan pandangannya

__ADS_1


" apa kamu tidak bahagia bersamaku?" raihan masih memeluk Raisa dengan erat


Raisa tidak menjawab ia sendiri bingung dengan dirinya...ia merasa bahagia saat berada di samping Raihan ,tapi jika ia ingat siapa dirinya ia menjadi tidak percaya diri,


" mungkin dalam hidup aku kurang bersyukur?" pandangannya berubah menjadi nanar


"kebahagiaan yang menjauh atau aku yang menolak bahagia"


Raisa memalingkan wajahnya menghadap Raihan,kini mereka saling berhadapan sangat dekat,hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas yang terasa hangat .


"jangan pernah menolak kebahagiaan yang ada di depan mata?" Raihan menatap mata indah milik Raisa ia ingin meyakinkan lewat matanya bahwa ia mampu membuat Raisa bahagia.


"bagai mana caranya agar abang bisa membuatmu bahagia,....... beritahu Abang? " tangan Raihan bergerak mengelus lembut pipi Raisa,tatapan sayu yang Raihan tujukan pada raisa membuat raisa tercubit hatinya


"beri aku waktu " Raisa memalingkan wajahnya ia tak kuasa menatap mata yang terlihat sedih.


" sampai kapan? "


"butuh berapa lama lagi Abang harus menunggu?"


"beri Abang janji mu?"


"janji" ucap Raisa bingung ia kembali memandang Raihan


"ya..janji...." ucap Raihan sambil menganggukkan kepalanya


" selama apa pun kamu minta waktu Abang akan menunggu...tapi kamu harus janji bahwa tujuanmu adalah Abang?" Raihan menatap lembut mata Raisa yang berkaca kaca,Raisa merasa begitu di cintai...tapi ia masih bimbang...pantaskah dirinya yang buruk mendapatkan cinta yang begitu besar dari seorang laki laki tampan dan Sholeh seperti Raihan,apakah ia pantas bersanding dengan laki laki di depannya ini? hatinya menginginkan Raihan tapi di sisi lain ini tak adil untuk Raihan,lelaki yang sempurna seharusnya mendapatkan perempuan yang sempurna juga, terjadi pertentangan batin di dalam hati Raisa.


"jangan pernah mencintaiku sebesar ini,"


" karena aku tak akan bisa memberi cinta yang sama besar seperti cintamu" Raisa menatap laki laki di depannya hatinya semakin sedih


"Abang tahu...."ucap Raihan sambil memeluk Raisa .


"jangan biarkan Abang berjuang sendiri?"suara Raihan terdengar putus asa di telinga Raisa.


"bukan karena gue tidak ingin berjuang " Raisa menatap laki laki yang terlihat rapuh di depannya karena dirinya


Raihan sedikit mengerutkan dahinya,kemarin Raisa sudah merubah panggilan gue menjadi aku,tapi kini ia seolah memberi pembatas hubungan ini .


"semakin gue ingin bersama Lo semakin gue merasa begitu rendah"


"untuk bersanding dengan Lo yang begitu sempurna, kaki ini begitu berat untuk melangkah"


"ibarat naik gunung Lo udah di puncak,sedang gue masih di berada di bawah.


" tangan ini tak akan mampu menggapai dirimu yang berada di atas"


Raihan menggeleng gelengkan kepalanya tanda ia tidak setuju dengan pendapat Raisa


"kaki ini tak akan mampu berjalan bersejajar dengan lo.......karena gue tertinggal jauh..."


" terlalu berat dan sulit untuk duduk bersama dengan diri lo"


Raihan masih menggeleng gelengkan kepalanya


" tidak.....Abang akan berhenti di puncak gunung...akan diam di sana menanti kamu sampai kamu berjalan menyusul Abang"Raihan memegang ke dua pipi Raisa dengan kedua tangannya ia memandang mata Raisa berharap Raisa akan melihat di matanya begitu besar cinta yang ia punya untuk Raisa.


"gue gak punya banyak tenaga untuk berjalan naik ke atas" nada suaranya sedikit ketus ia menghindari tatapan Raihan dengan memutar bola matanya ke samping .


" kamu menyerah begitu saja dengan hubungan ini?" kembali Raihan menatap mata yang selalu menghindari tatapannya


"mengertilah gue...semakin gue bersama Lo semakin gue merasa rendah...."mata Raisa sedikit berkaca kaca

__ADS_1


"selama bersama Abang tak sedikitlah tumbuh cinta di hatimu?" Raihan ingin sekali mengetahui apakah selama ini Raisa ada rasa untuknya walau sedikit


Raihan menatap mata Raisa tatapan yang sedikit menuntut jawaban.


"tok ..tok...tok.... sayang ....ini umi...." belum sempat Raihan mendapat jawaban dari Raisa, di luar ada yang mengetuk pintu,


"iya mik" Raisa yang mendengar umi mengetuk pintu langsung menjawab ia seolah terselamatkan,ia buru buru melapas tangan Raihan dan berjalan untuk membuka pintu


tapi belum sempat ia melangkah Raihan dengan cepat memegang tangannya


"kita selesaikan nanti?" sambil memandang Raisa lembut,entah mengapa dengan Raisa ia tidak bisa marah atau membenci yang ia rasakan hanyalah cinta yang begitu besar untuk istrinya.


"biar Abang yang buka?" Raihan melangkah ke dalam untuk membuka pintu kamar


ada setitik air bening keluar dari mata indah Raisa,ia segera menghapusnya takut umi melihatnya.


ia berjalan menyusul Raihan ke dalam kamar di lihatnya umi sedang berbicara dengan Raihan


" sayang ...gimana masih sakit?" umi melihatnya datang dari balkon


" sudah sehat mik" ia berjalan mendekati umi yang duduk di kursi santai di depan telivisi,Raisa ikut duduk di kursi saat Raihan berdiri memberi tempat ia untuk duduk,Raihan kemudian duduk di pegangan kursi di samping Raisa.


"ini umik bawakan baju ganti ,ini masih baru....sengaja umi beli buat kamu kalau kamu ke sini.."


"beneran sudah sembuh?" kembali umi memastikan menantunya apakah masih sakit atau sudah sembuh


"sudah mik....kalau gak percaya tanya sama Abang?" sambil melihat ke Raihan


" nanti kalau sakit kan ada Abang mik" Raisa kembali meyakinkan umik


" tinggal bilang sama Abang?" Raisa tersenyum lembut ke pada umi ,ternyata umik begitu khawatir dengan dirinya.


" benar kan bang?" raisa kembali melihat ke arah Raihan


raihan yang melihat sikap Raisa terhadap dirinya di depan umik merasa sedikit lega...ternyata Raisa masih menghormatinya.


" benar mik kata Raisa....Abang akan berjaga jaga dua puluh empat jam...he...he..."sambil mengerlingkan matanya ke umik.


" ya sudah...umik ke bawah dulu....?"


" kalau belum sehat betul jangan mandi dulu?"


"iya mik" ada perasaan haru di hati Raisa...di sini ia merasa di cintai...ia menginginkan ini.


"jaga istri kamu bang...." umi mengelus lembut kepala Raisa sebelum bangkit dari duduknya .


" siap mik....." Raihan tersenyum cengengesan......


setelah umi pergi meninggalkan kamar Raihan kini kembali tinggal mereka berdua .


Raisa mendongakkan wajahnya ke atas di lihatnya Raihan yang juga sedang melihatnya tersenyum kepadanya


"maaf....." ucap Raisa lirih yang masih mampu di dengar Raihan


Raihan mengelus lembut kepala Raisa....ia hanya mengangguk mendengar permintaan maaf Raisa


"boleh mandi?" dengan ragu ragu Raisa bertanya pada Raihan


" boleh....." Raihan menjeda kalimatnya "asal Abang yang memandikan?" Raihan tersenyum jahil


" apa?!" dengan sedikit berteriak karena kaget dengan kata kata Raihan


" iya....Abang yang mandikan?".....dengan senyum yang lebar

__ADS_1


"tidak jadi mandi?" dengan cepat Raisa menjawab


" terlambat.......?" sambil mengangkat tubuh Raisa dari kursi menuju kamar mandi


__ADS_2