
Raisa terbangun dari tidurnya saat merasakan tempat tidur di sebelahnya kosong.
ia membuka matanya perlahan di lihatnya jam di dinding menunjukkan pukul satu dini hari.
ia melihat ke sekeliling tak ada suaminya di sini,ia berfikir kemana suaminya selarut ini.
saat ia melihat ke arah pintu balkon di lihatnya pintu balkon terbuka.
ia berfikir pasti suaminya ada di sana
Raisa bangkit dari tidurnya, ia duduk sambil tangannya menggulung rambutnya lalu di jepit dengan jepitan rambut yang ia taruh di atas kepalanya saat ia tidur.
setelah selesai menjepit rambutnya Raisa turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.
saat keluar dari kamar mandi Raisa belum mendapati suaminya di kamar,ia kemudian berjalan menuju ke balkon .
di lihatnya suaminya sedang tiduran di kursi sambil melihat bintang yang gemerlapan di langit.
Raisa melihat suaminya seperti ada masalah,itu terlihat dari beberapa kali suaminya menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.seolah ia ingin mengeluarkan beban yang ada di dalam dada.
Raisa berjalan mendekat dan ternyata suaminya tidak menyadari keberadaannya itu menambah keyakinan Raisa jika suaminya ada masalah
Raisa duduk di kursi samping Raihan tiduran dengan pelan pelan agar Raihan tidak kaget
" srek" suara kursi yang sedikit bergeser membuat Raihan tersadar dari dunia lamunannya.
Raihan yang sedang melamun tersentak kaget ,ia lalu melihat ke samping,di lihatnya istrinya duduk di sampingnya sambil tersenyum ke arahnya.
" kenapa belum tidur"
Raihan dan Raisa kompak bersamaan mengucapkan kata kata yang sama.
mereka berdua tersenyum dengan hal yang barusan terjadi.
Raihan bangkit dari rebahannya,ia menarik nafas panjang .senyumnya menghiasi bibir yang terlihat merah alami.
" sudah malam ayo tidur?" ajak Raihan pada Raisa,ia bangkit dari duduknya.
baru setengah berdiri Raisa menarik tangannya memintanya untuk duduk.
" udah nanggung,ngantuk ya dah ilang?" ia memandang Raihan dengan memberi senyum yang manis.
"tapi ..Abang dah ngantuk?" dengan sedikit senyum jahil di bibirnya
"ish....." dengan sedikit mengerucutkan bibirnya dan membuang pandangannya ke samping
Raihan yang melihat Raisa bertingkah seperti itu merasa gemas.ia mengacak ngacak rambut Raisa lembut.
" iya iya...Abang bercanda"
" apapun untuk istri Abang tercinta pasti Abang lakuin apa lagi cuma minta di temenin di sini?, kecil itu mah....."
"apaan sih..." sambil menghindar dari tangan Raihan yang ada di kepalanya, ia merasa sedikit malu dengan kata kata Raihan sehingga mencoba menghindar dari tatapan Raihan.
"iya.....a.....beneran..,.n" dengan suara yang lembut
" insyaallah..selama abang mampu untuk memenuhi keinginan istri Abang tercinta Abang pasti akan lakukan....benar......" sambil mengerutkan dahinya memandanng Raisa yang seolah tak percaya.
" gak percaya?"ucap Raihan yang tak lepas memandang Raisa.
Raisa menggeleng pelan .
"ish.." kini gantian Raihan yang sedikit kesal
" percaya gak?" tiba tiba Raihan bergerak ke samping mengungkung raisa ,dengan cepat tangan Raihan menggelitik perut Raisa .Raisa yang tak siap terkejut ia merasa kegelian .
" ha ha ...ih...geli...lepas...."berontak Raisa berusaha lepas dari Raihan
" percaya gak..."
"geli ....lepas"
" bilang dulu.....percaya sama Abang?!"
"iya iya percaya.....lepas ...bang...geli.....ha..ha...." Raisa yang sudah tak tahan karena kegelian akhirnya menyerah
" bilang sekali lagi Abang gak denger" Raihan masih menggoda Raisa ia senang sekali Raisa memanggilnya Abang tanpa ada orang lain yang buatnya harus memanggilnya Abang.
__ADS_1
"percaya" sambil memelototkan matanya ke arah Raihan.
" ulang kayak tadi..." Raihan masih menggelitik Raisa ia memegang ke dua tangan Raisa agar tak bisa bergerak.
"iya percaya" Raisa benar benar tak berkutik ia mati langkah.
" bukan lanjutannya"
" yang mana?" tanya raisa bingung
" yang percaya sama siapa?" sambil menarik turunkan alisnya
Raisa berfikir keras tadi ia bilang apa ya....ia bingung dalam hati ia mengulang lagi kata katanya tadi" percaya.....sama...Abang" akhirnya Raisa menemukan kalimat yang Raihan ingin dengar lagi darinya
" iya iya percaya sama Abang?! " dengan sedikit mengeraskan nada suaranya agar terdengar jelas
" nah...itu tahu?"
" dah...lepas....nanti di lihat orang..." dengan sedikit malu malu terlihat dari senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Raisa membujuk Raihan agar melepaskan dirinya yang berada di bawah Raihan.
"kenapa...? sama istri sendiri ngapain malu?" kata kata Raihan membuat Raisa semakin salah tingkah
" kamu sangat cantik kalau tersenyum seperti ini?" Raihan memandang Raisa lembut,ia mengendorkan tangannya yang memegang tangan raisa
" tetap tersenyum seperti ini?" Raihan tak mengalihkan pandangannya dari Raisa yang juga memandangnya.
Raisa hanya mengangguk, dengan pelan Raihan mengecup kening Raisa ,
" cup"
Raihan bergerak melepaskan Raisa dari kungkungannya,kini ia duduk di samping Raisa, tangannya merangkul bahu Raisa menariknya agar merapat ke dirinya.
" kedinginan"tanya Raihan
Raisa menggeleng
" ada masalah" Raisa langsung bertanya pada Raihan ia tahu wajah Raihan terlihat gelisah walau mencoba di sembunyikan.
Raihan menggenggam tangan Raisa yang di taruh di paha Raisa.
" ternyata istri Abang diam diam perhatian sama suaminya," dengan sedikit tersenyum lembut.
" kenapa bertanya balik?" Raisa sedikit jengkel ia membuang pandangannya ke samping
" bukan masalah"raihan menarik nafas dalam dalam lalu ia keluarkan perlahan.
"tapi lebih ke pada tanggung jawab Abang sebagai penerus pesantren"Raihan mengeratkan pelukannya hingga tubuh mereka menempel.
Raisa memalingkan wajahnya memandang Raihan ia melihat sikap suaminya yang selalu tenang kini terlihat sedikit gelisah.
"bukan pilihan yang sulit tapi Abang bingung harus mendahulukan yang mana? karena semuanya sama sama penting bagi Abang". kembali Raihan menarik nafas kini tangannya bergerak mengelus kepala Raisa lembut.
" kamu tahu" kini Raisa merubah posisinya menghadap Raihan mata mereka saling beradu
" orang orang bilang aku perempuan paling beruntung karena kamu memilihku".
"di pilih oleh mu menjadi beban berat bagiku, mungkin karena perbedaan kita yang sangat jauh membuatku terlihat kecil saat di sampingmu" Raisa merubah posisinya menyamping di lihatnya bintang yang berterbangan di langit pikirannya menerawang mengingat kehidupannya.
" mungkin ini adalah salah satu kebahagian yang sengaja di kirim tuhan untukku tanpa aku sadari"
"aku harus berusaha membuka hatiku untuk orang orang baru di kehidupanku "
" sulit..... benar benar sulit....."Raisa menjeda kalimatnya ia menarik nafas dalam dalam.
Raihan diam saja mendengarkan Raisa berbicara tanpa menyela,ia melihat sisi jiwa Raisa yang lembut.
" rasa gelisah,rasa tak nyaman dan rasa takut di tinggalkan atau kehilangan selalu ada dalam hatiku?" Raisa memandang Raihan sekilas sebelum kembali Mandang bintang di langit
"ke dua orang tuaku pergi meninggalkan diriku seorang diri,"
" mereka meninggalkan diriku demi kesenangan mereka masing masing".
" papaku pergi dengan wanita lain"
" kamu sama mama,papa sudah memberikan semua warisan papa ke kamu dan kamu tidak perlu kuwatir kekurangan"
" itu kata kata terakhir yang aku dengar dari papaku" Risa kembali menarik nafas panjang,ia mengumpulkan keberanian untuk membuka luka lamanya.
__ADS_1
" mamaku juga pergi dengan kekasihnya"
" kau tahu apa yang ia bilang".
"kamu sama bibik dan Mamang, harta warisan mama dari kakek kamu semuanya mama berikan ke kamu,semuanya sudah mama serahkan sama Mamang dan bibik untuk mengatur keperluanmu"
" mudah sekali mereka berbicara tanpa menghiraukan perasaanku"
"mereka tidak memperdulikan diriku sebagai anaknya" Raisa tidak bisa lagi membendung air matanya.
"bukan harta yang aku minta, tapi Meraka"
Raihan menggeser duduknya mendekat ke arah Raisa ,ia kemudian memeluk Raisa mencoba memberi kekuatan.
" setiap hari aku berharap mereka kembali, dan mengajakku pergi.entah papaku atau mamaku"
"setiap hari aku berdoa agar keluargaku kembali utuh dan bahagia"
"tapi harapan tinggallah harapan " Raisa memejamkan matanya, ia menarik nafas untuk menenangkan hatinya.
" mungkin mereka tidak mengingat jika mereka punya seorang anak"
kembali Raisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya
"Andre......kamu pernah melihatnya"
Raihan mengingat ingat siapa Andre......ia berfikir keras,di mana ia pernah melihatnya,ia mengerutkan dahinya saat Raisa melihatnya.
" aku bohong........aku mengenalnya"
akhirnya Raihan ingat siapa Andre..ia pernah melihatnya mendekati Raisa dan bilang jika dia Andre teman Raisa.
"dia temanku"
"ia berjanji akan menjagaku dan selalu ada untukku saat ia tahu ke dua orang tuaku pergi meninggalkan diriku".
"tapi dia bohong ......dia juga pergi meninggalkanku tanpa memberitahuku"
"dan lagi..... aku di tinggalkan" .
" hanya ada bibik dan Mamang ".
" mereka berdua yang selalu menemaniku,yang selalu menyayangiku,yang selalu ada untukku"
" merekalah kini orang tuaku"
" dan saat itu aku berjanji pada diriku sendiri"
" aku tak akan menggantungkan hidupku pada orang lain"
" dan aku tak membutuhkan siapapun "
" aku tak ingin di kasihani"
" aku bisa menjaga diriku sendiri"
"aku mengajak bibik dan Mamang pergi meninggalkan kotaku"
"menjual semua warisan dan memulai hidup baru di kota ini"
"aku melampiaskan kemarahanku di kota ini"
Raisa mengalihkan pandangannya memandang Raihan. di tatapnya Raihan dengan mata berkaca kaca.
tanpa berkata apa apa Raihan mengusap air mata Raisa yang terjatuh di pipinya
" jangan salah memilih" dengan suara agak sedikit serak Raisa kembali berucap
" pikirkan dengan hati yang tenang agar kamu mendapatkan solusi yang tepat"
" mintalah pendapat pada orang yang lebih berpengalaman ".
Raihan mengangguk ,ia tak tahan lagi tanpa berkata apa apa ia memeluk Raisa,
ternyata hidup istrinya sangat menderita hingga membuatnya seperti ini.
" aku akan selalu menjagamu dan selalu ada untukmu" dalam hati Raihan berjanji pada dirinya sendiri.
__ADS_1
berkali kali Raihan mengecup kepala Raisa mencoba memberi kekuatan.