
Ternyata Raihan hanya bercanda saja saat ingin memandikan Raisa.
ia mendudukkan Raisa di closed , Raisa tidak bisa menyembunyikan rasa gugup serta rasa malunya,semua itu tersirat lewat wajah Raisa yang merona merah.raisa benar benar tak berkutik ia hanya bisa menundukkan wajahnya,tangan satunya memegang baju dan mempermainkan ujung bajunya sedang tangan kirinya ia taruh di samping memegang sisi closed ujung jarinya ia gerak gerakkan membuat huruf huruf yang tak berbentuk .
Raihan berdiri di depan Raisa sambil bersidakep senyum jahil masih menghiasi bibirnya
" gue mandi sendiri ya....." dengan sedikit gugup Raisa bertanya.wajah Raisa terlihat memelas ia menggigit bibir bawahnya ia berharap Raihan mau memenuhi permintaannya
dalam hati ia berkata"ini lebih mudah jika ia menghadapi sepuluh preman ketimbang menghadapi raihan"
"tapi....." Raihan menjeda kalimatnya
"tapi apa?" jawab Raisa cepat
"kamu... harus penuhi satu permintaan Abang?" dengan senyum yang tertahan ia ingin menggoda Raisa,jiwa usilnya tiba tiba saja muncul
Raisa memandang laki laki di hadapannya ia benar benar di permainkan oleh sosok laki laki tampan yang menjadi suaminya hampir dua bulan
"apa?"sambil memutar bola matanya malas, ia tahu Raihan akan menjebaknya dengan permintaannya ini.
" nanti belum Abang pikirkan.....kamu punya satu hutang sama Abang......?"Raihan berkata sambil menarik turunkan alisnya
Raisa menarik nafas dalam dalam dan membuangnya kasar,ia memalingkan wajahnya malas
" Abang ambilkan baju yang di beri umik" Raihan berbalik ia berjalan ke luar sambil tersenyum lebar karena berhasil membuat Raisa jengkel dengan dirinya
Raisa masih duduk di tempat yang sama ia melihat langit langit kamar mandi Raihan
dalam hatinya ia berfikir apakah ia harus berdamai dengan hatinya.
berdamai dengan situasi yang membuatnya sedikit takut untuk melangkah karena bayang bayang masa lalu.
"ini bajunya " Raihan meletakkan baju ganti Raisa di atas bak mandi
Raisa yang tak melihat kedatangan Raihan merasa terkejut .
" jangan lama lama mandinya,baru sembuh ini?"
Raihan langsung pergi ke luar kamar mandi ia tidak mau lama lama bersama Raisa di tempat ini,ia akan sulit mengendalikan hasratnya yang selama ini ia tahan, Raisa hanya melihat tanpa menjawab
saat terdengar bunyi " ceklek" Raisa baru beranjak dari duduknya ia kemudian memulai ritualnya
saat Raisa keluar dari kamar mandi ia tidak melihat Raihan di dalam kamar,ia berjalan ke balkon di lihatnya di balkon Raihan tidak ada.
Raisa kembali berjalan ke tempat tidur,ia duduk di ranjang ia mengedarkan pandangannya,baru kali ini ia melihat dengan seksama isi kamar Raihan.
kamar yang benar benar tertata dengan rapi,semua benda berada di tempat yang seharusnya, perpaduan warna dinding yang di cat dengan warna putih dan perabotan yang terbuat dari kayu jati yang di pernis. Raisa benar benar kagum dengan pilihan raihan ternyata ia punya jiwa seni yang tinggi.
Raisa yang merasa bosan di kamar memutuskan untuk keluar,ia menuruni tangga perlahan, di lihatnya ke sekeliling tak ada siapapun di ruangan ini kecuali sosok perempuan yang sedang duduk sendiri di meja makan sambil memainkan hapenya.
Raisa berjalan mendekat,dengan ragu ragu ia duduk di depan perempuan yang tak lain adalah syanum.
" srek....."suara kursi yang di geser raisa membuat syanum mengalihkan pandangannya,
syanum melirik sekilas Raisa yang duduk di depannya,ia kembali fokus pada hape miliknya.
Raisa yang melihat syanum cuek padanya semakin bingung harus mulai pembicaraan dari mana.
ia sendiri sulit akrab dengan orang lain apa lagi seseorang yang sudah terang terangan tidak menyukainya.
__ADS_1
ia bisa saja mengabaikan syanum, tapi melihat bahwa mereka sekarang adalah keluarga ia tidak bisa mengabaikannya
Raisa yang bingung harus bicara apa lebih memilih diam ,ia kemudian juga ikut menyibukkan diri dengan hape miliknya.hanya detak jarum jam yang terdengar di ruangan ini
^^^.^^^
di kejauhan tepatnya di masjid pesantren terdengar suara para santri dan para tokoh yang sedang rapat lewat pengeras suara,mereka yang sudah di tunjuk sedang berdiskusi entah membicarakan apa.
"bisakah kau meninggalkan abangku" dengan nada yang sedikit rendah syanum berucap,ia sengaja membicarakan hal ini karena ini saat yang tepat pikir syanum,mereka hanya berdua saja.
Raisa yang fokus dengan hapenya sedikit tersentak mendengar kata kata syanum,ia kemudian memandang syanum. ia melihat kesedihan di mata indah milik syanum
" aku berbicara sebagai seorang adik yang menginginkan kebahagiaan untuk Abang yang sangat sangat aku sayangi" syanum menatap mata Raisa ia berharap Raisa melihat lewat tatapan matanya betapa ia sangat menyayangi abangnya.
" abangku laki laki yang sempurna dan seharusnya dia mendapatkan perempuan yang sempurna juga" tak ada kemarahan di hati syanum saat berbicara. ia hanya mohon agar Raisa melepaskan abangnya
Raisa bingung harus menjawab apa ,ia menarik nafas dalam dalam ia tahu akan sulit orang menerima keberadaannya
" jika aku tidak mau......" Raisa melirik syanum sekilas,ia mengedarkan pandangannya dan menatap foto Raihan yang sangat tampan bersama keluarganya
syanum tersentak kaget dengan jawaban Raisa ia memandang Raisa dengan tatapan tak percaya.
"jika aku ingin bertahan bersamanya " Raisa kembali memandang syanum
" bukankah kau tidak menginginkannya!?" syanum menggeleng pelan semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya. ia menatap mata Raisa mencari kebenaran lewat mata itu.
ia ingin melihat lewat mata Raisa apakah ia berbohong apakah ia hanya ingin mempermainkan hati abangnya.
"apakah kamu mampu berdiri sejajar dengan abangku dalam segala hal?"syanum memandang tajam ke arah Raisa ia tidak habis pikir dengan perempuan di depannya ini.
"lalu untuk apa kau bertahan bersamanya?" syanum sedikit mengerucutkan bibirnya saat berbicara,ia juga sedikit tersulut emosi.
Raisa menarik nafas, dalam hati ia sadar ia tak akan mampu berdiri sejajar dengan Raihan...
Raisa diam sejenak ia memperhatikan wajah syanum yang sedikit bingung.
" kau tak akan tahu....karena dirimu tidak pernah merasakannya," Raisa mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. ia mencoba berdamai dengan hatinya,
" sakitnya akan membekas selamanya di sini" sambil memukul dadanya seolah ingin mengeluarkan rasa sakit yang tersimpan di dada.
"kau tidak tahu........ dan tidak pernah merasakan sakitnya saat orang orang yang kau sayangi dan kau cintai pergi meninggalkanmu demi kesenangannya sendiri" Raisa tak mampu lagi menahan sesak di dadanya, sebulir air bening jatuh di pipinya
"seumur hidupmu kau akan menjauh dari kebahagiaan yang ada di depan matamu"
" yang ada di hatimu adalah kebencian"
mereka berdua terdiam,hanya terdengar bunyi detak jarum jam yang ada di ruangan itu.
syanum sedikit terkejut melihat Raisa menangis,perempuan yang selalu terlihat kuat di depan siapapun ternyata bisa menangis juga. ternyata sekuat apapun seorang perempuan mereka tetap makhluk yang lemah.
"aku pernah di tinggalkan dan merasakan sakit hati yang teramat sangat,hingga untuk membuka hati untuk orang orang di sekitarku sangat sulit" pikiran Raisa menerawang ke masa lalu yang sangat menyakitkan bagi dirinya.
"aku tidak ingin orang lain merasakan seperti diriku" dengan lirih Raisa berucap.
" apa di tinggal pacarmu?" akhirnya syanum memberanikan diri bertanya pada Raisa walau sedikit ragu ragu karena rasa penasarannya.
" aku tidak akan membagi kisah hidupku dengan orang lain ,apa lagi orang itu jelas jelas membenciku"
"aku tidak ingin orang mengasihaniku"
__ADS_1
"aku bisa saja pergi dari kakakmu," Raisa kembali menarik nafas dalam dalam
" apa kau bisa menjamin jika kakakmu akan baik baik saja?"
"mungkin dia akan terlihat baik baik saja,"
" tapi apa kau tahu isi hatinya"
Raisa memperhatikan syanum yang diam saja tangannya yang mempermainkan hape memperlihatkan jika ia ragu dan bimbang,Raisa tahu syanum hanya ingin abangnya bahagia.
" aku hanya ingin abangku mendapatkan perempuan yang sepadan dengan dirinya."sambil memicingkan matanya ke arah Raisa.
"apa kau pikir aku bahagia dengan keadaan ini"
"Raihan sosok laki laki sempurna idaman semua perempuan,semua perempuan berharap mendapatkan cintanya," Raisa menjeda kalimatnya
" dan aku........" Raisa menunjuk ke dirinya sendiri
" aku perempuan paling beruntung "
"laki laki sesempurna Raihan mau mencintai perempuan bejat sepertiku?"
"sebagai perempuan munafik jika aku tidak menginginkan laki laki sesempurna Raihan "
"tapi di sini"Raisa kembali menunjuk dadanya
"aku tertekan "
"cintanya menyakitiku" Raisa memejamkan matanya kembali sebulir air bening jatuh di pipinya.ia menarik nafas dalam dalam,ia ingin mengeluarkan semuanya saat ini...
"melawan sepuluh preman sendirian aku berani !" Raisa masih memandang syanum yang juga sedang memandangnya
" tapi untuk berjalan melangkah di samping Raihan aku perlu mengumpulkan banyak keberanian ?"
" berjalan di samping laki laki yang sesempurna Raihan membuat kepercayaan diriku hilang seketika ,aku merasa seperti sampah saat di sampingnya.
"apa kamu fikir aku bahagia"
" kau salah besar" sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
" untuk membalas cintanya pun aku tak berani"
"aku harus menekan perasaanku kuat kuat agar hati ini tetap di tempatnya"terlihat sekali kesedihan di mata raisa yang coba di sembunyikan ,dan syanum melihat itu.
"walau mungkin separuh hati ini telah menjadi miliknya" dalam hati Raisa berkata pada dirinya sendiri.
"untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang istri aku tak mampu"
"karena aku tak ingin Raihan mendapatkan perempuan sepertiku"
" aku sadar siapa aku"
" Raihan terlalu sempurna untuk wanita sepertiku" dengan suara yang terdengar lirih tapi masih di dengar oleh syanum
Raisa memandang syanum dengan mata berkaca kaca.
"biarkan waktu yang menentukan hubungan kami"
Raisa beranjak dari duduknya ia berdiri lalu pergi meninggalkan syanum tanpa berkata apa apa lagi.
__ADS_1
raisa merasa sedih...hal yang di takutkannya terjadi ,ia tak mau terluka lagi...ia tidak mau di tinggalkan .
saat Raisa sudah pergi tinggal syanum yang berada di ruangan itu,ia berfikir sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Raisa,masa lalu apa yang telah ia lewati, ia harus mencari tahu dan harus tahu bagaimanapun caranya.