
Raisa yang tak percaya mendengar kalau saat ini dan detik ini ia akan menikah membuat ia yang shok hingga mulutnya terbuka,ini benar benar terjadi ,ia akan menikah dengan Raihan. tubuhnya seolah lemas,tak terbayang sebelumnya ia akan mengalami ini ,ia hanya terdiam benar benar tak pernah terpikir olehnya dengan apa yang terjadi .
bibik dan Mamang sibuk menghubungi semua orang ,dalam sekejam orang orang yang di butuhkan dalam prosesi ijab kabul sudah siap.
Sam dengan cekatan melalukan persiapan saat Mamang menelponnya, ia langsung sigap menelpon siapa saja yang di butuhkan .
" pakai kerudung ini ya dok" bibik mengulurkan sebuah kerudung kepada Raisa,dengan ragu Raisa menerimanya, tapi ia bingung tidak tahu cara memakainya.
"apa harus memakai ini?" ia menunjukkan kerudung yang dipegangnya kepada bibi.
"tidak harus...tapi ini kan prosesi sakral yang akan di kenang seumur hidup," bibi tahu kegelisahan Raisa ia mencoba menenangkannya.
Raisa yang tak pernah memakai kerudung bingung cara memakainya , ia hanya membolak balikkan kerudung yang di pegangnya.
umi Raihan yang tahu kebingungan calon menantunya menawarkan bantuan
" sini biar umi yang pakaikan" sambil tangannya mengambil kerudung dari tangan Raisa.
" pakai make up dulu biar gak terlihat pucat saat di foto nanti" umi Raihan terlihat begitu lemah lembut saat berbicara.
"emmm.....mmm Raisa gak punya make up" dengan ragu ragu Raisa menjelaskan jika dirinya tak punya peralatan make up,
uminya Raihan tersenyum kepada Raisa, " gak pernah perawatan?" tanya umi
Raisa menggeleng,
" mandi aja dia jarang umi?paling cuci muka badannya di lap pakai tisu basah udah deh..." bibi langsung menyela
"ha ha ha...yang benar....."umi sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat Raisa yang jorok
Raisa yang mendengar bibik membocorkan rahasianya hanya merenggut kesal
" kalau adiknya Raihan senang sekali perawatan kalau tidak umi marahin dia huf....... bisa bisa tiap hari dia kesalon"
adiknya Raihan pikir Raisa..bukankah dia yang kemarin menentang mati Matian terhadap dirinya.
" syanum paling sayang sama kakaknya,ia selalu menyuruh kakaknya cepat cepat menikah,pasti nanti kalian akan jadi teman dekat " Raisa hanya tersenyum kecut mendengar cerita umi.
"kalian nanti bisa perawatan di salon bersama, kapan kapan kita pergi berempat sama bibi
"kalau saya juga sama umi, gak pernah nyalon"
" kapan kapan saya akan mengajak bibik ke salon langganan umi.sekali kali memanjakan diri"
"punyanya cuma ini umi" bibik menyodorkan sebuah bedak tabur merk paling murah yang bibik punya.
"gak papa,gak pakai make up aja anak umi udah jatuh cinta sama nak Raisa apalagi ini pakai bedak" sambil tangannya membuka bedak dan mengoleskannya pada wajah Raisa.
" pakai lipstik umi aja tadi umi bawa lipstik warnanya sama kayak umi, gak mencolok." tanpa persetujuan Raisa umi telah mengambil lipstik dalam tas kini sudah berganti tempat.
Dengan pelan umi mengoleskan lipstik warna coklat ke bibir mungil raisa?.
__ADS_1
Raisa yang tak pernah memakai lipstik merasa bibirnya
"dah...sekarang tinggal pakai kerudung" dengan cekatan umi memakaikan kerudung ke kepala Raisa.
" masyaallah cantiknya kamu ndok .." bibik tak percaya jika itu raisa.ia kemudian memeluk Raisa.
" aslinya kan udah cantik bik" ucap umi.
" benar ...emang kamu udah dari sananya cantik"kini giliran bibik yang memujinya.
mereka bertiga terdiam, umi yang tutur katanya lembut sesekali hanya tersenyum
" bibik lihat ke bawah dulu apa semua sudah siap" sambil melepas pelukannya, ia berjalan keluar dengan senyum yang menghiasi bibir
" sehari hari saya tidak memakai hijab" ia ingin uminya raihan tahu tentang prilakunya.
" umi Raihan tersenyum,ia memegang tangan Raisa.
"pelan pelan...biar nanti suami kamu yang membimbing.manusia berubah itu dari sini" tangan yang di genggam umi di letakkan di dada Raisa, "bukan berubah karena orang lain."
sekilas Raisa melihat sikap umi sama seperti Raihan sikapnya yang kalem tutur katanya yang lemah lembut ,ia juga baik pada siapapun .mungkin sifat Raihan menurun dari ibunya.
" apa ibu tidak malu mempunyai menantu sepertiku?" ucap Raisa terus terang.
" panggil umi,sebentar lagi Raisa akan jadi anak umi juga"
" emmm...iya" sambil meremas kedua tangannya yang ia satukan.
suara yang lembut umi membuat hati Raisa menjadi tenang.
"wah...menantu sama mertua sudah akrab nih,"
suara bibik membuyarkan percakapan mereka
" sebentar lagi posisi bibik bakal di geser deh sama umi" bibi kelihatan sedih ia tak ingin posisinya sebagai ibu Raisa di gantikan oleh siapapun
" bibik ngomong apa?" Raisa terlihat kesal ia tidak suka dengan ucapan bibik
" siapa yang mau menggantikan...selamanya bibik adalah ibuku" raisa sedikit marah dan ia sedikit meninggikan ucapannya.
"iya iya...bibik hanya bercanda" sambil berjalan memeluk Raisa.
" jangan bicara itu lagi, aku tidak suka" Raisa mengerucutkan bibirnya, ia terlihat kesal sekali.
"iya..iya tidak akan bicara begitu lagi, calon pengantin jangan cemberut dong ,nanti cantiknya ilang." sambil menggoyang goyangkan tubuh Raisa yang ada dalam pelukannya.
umi hanya tersenyum melihat calon menantunya dan calon besannya.
" ayo kita ke bawah menemui calon suami kamu, sudah di tunggu ," ucap bibik yang menyebut kata suami membuat Raisa sedikit kaget,
bibik sama umi tersenyum " kenapa bengong, kaget kalau sebentar lagi akan jadi seorang istri" bibik sama umi langsung menuntun Raisa ke bawah,
__ADS_1
di bawah sudah menunggu Raihan, abinya raihan,Mamang, Sam, ada pak RT, dan wali hakim untuk menikahkan Raisa dan raihan,juga beberapa tetangga kiri kanan sebagai saksi pernikahan ini.
kini Raisa sudah duduk di sebelah Raihan, tercium jelas parfum yang di pakai Raihan di hidung raisa
Raihan tak henti henti memandang Raisa saat turun dari tangga,ia terlihat sangat cantik di mata Raihan.
Mamang duduk di belakang raisa ia ingin melihat putrinya menikah,ada kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya.
"apa nak Raihan sudah siap"? tanya wali hakim yang akan menikahkan mereka
" sudah pak?" jawab Raihan kalem tak ada kegugupan dalam hatinya
" mas kawinnya bisa di sebutin?" tanya pak wali hakim lagi
" emmm..." Raihan bingung ia yang tak siap dengan pernikahan yang mendadak ini belum menyiapkan mas kawin untuk Raisa,
" yang ada aja" pak wali hakim yang melihat kebingungan Raihan mencoba menyarankan seadanya saja
" gak perlu mahal yang terpenting ikhlas?" lanjutnya lagi yang di iringi anggukan orang orang yang ada di situ.
ia lalu membuka dompetnya " ah sial uangnya tinggal seratus ribu,ia tadi belum sempat ke ATM
ia lalu mengambil uangnya dan menaruhnya di atas meja
" ini" sambil menaruh uang seratus ribu di atas meja.
" ini saja"? tanya pak wali hakim lagi
" emm..tambah ini" sambil melepas cincin perak yang tidak terlalu besar bentuknya bisa di pakai cowok maupun cewek.
" apa nak Raisa ikhlas menerima mas kawin ini?" tanya petugas KUA
dengan ragu ragu Raisa menjawab " ya"
pak wali hakim menganggukkan kepala tanda ia setuju.
abinya Raihan duduk di sebelah Raihan ia ingin memberi dukungan kepada putranya saat melepas setatus.
kini tangan Raihan sudah berjabat tangan dengan wali hakim yang akan menikahkan mereka
suasana terasa terasa hening sebelum pak wali memulai proses ijab
" saudari Raihan Al kafi aku kawinkan engkau dengan Nabila Raisa putri binti Wahyu Suseno dengan mas kawin uang tunai seratus ribu dan satu buah cincin perak "
" saya terima nikah dan kawinnya Nabila Raisa putri dengan mas kawin tersebut di bayar tunai " dengan sekali tarikan nafas Raihan mengucapkan ijab kabul.
" sah......" semua orang yang ada sana serempak berucap.
"amin..." Raihan tersenyum kecil impiannya kini terwujud ,ia melihat Raisa yang ada di sebelahnya kembali terlihat gelisah.
"kita sudah resmi menikah..aku berjanji akan selalu membahagiakanmu" ucap Raihan dalam hati.
__ADS_1