Menemukanmu

Menemukanmu
episode 65 apakah sikapku sudah keterlaluan dengan raihan


__ADS_3

Raisa melepas tangan Raihan saat sudah jauh dari Andre...


" maaf" Raisa salah tingkah wajahnya terlihat merona,baru kali ini ia memegang tangan Raihan yang lebar


" untuk?" Raihan tak mengerti kenapa Raisa meminta maaf kepadanya


Raisa hanya menggeleng pelan ia sendiri bingung kenapa ia meminta maaf kepada raihan.


mereka berdua sama sama terdiam bingung harus mulai dari mana hanya terdengar suara para maha siswa yang sedang bercanda.


"siapa dia?" akhirnya Raihan memberanikan diri bertanya


" tidak mungkin jika kamu tidak mengenalnya" ia memasukkan kedua tangannya di saku celana


" apa Abang boleh tahu"


Raihan memandang Raisa ia berharap istrinya ini mau membagi kisah hidupnya dengan dirinya.


" suatu saat jika hati ini sudah siap tanpa Lo minta gue akan jelaskan" Raisa memandang laki laki tampan di depannya,laki laki yang begitu sabar menghadapi sikapnya.


raisa yang tak bisa menatap Raihan lama lama memilih menunduk dan memainkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.


" ok...Abang tidak akan bertanya lagi"


" mungkin bagimu Abang adalah orang lain" ada rasa kecewa di ucapan raihan


" Abang pergi dulu mau masuk kelas" Raihan sangat kecewa dengan Raisa ia benar benar menganggap dirinya orang asing bukan suami tempatnya berbagi.


Raihan berjalan meninggalkan Raisa ia tak ingin Raisa melihatnya bersedih karena sikapnya.


Raisa yang melihat Raihan pergi meninggalkannya hatinya terasa sedih,ia tak ingin mengabaikan Raihan,tapi hatinya belum siap membuka luka lama.


" suatu saat aku akan menceritakan semuanya kepadamu" dalam hati Raisa berbicara sendiri


Raisa menarik nafas dalam dalam ia ingin mengeluarkan beban di hatinya.


ia berjalan menuju ke kelasnya untuk mengikuti mata kuliah.


saat pulang kuliah Raihan langsung melajukan mobilnya menuju ke pesantren.kali ini ia tidak menunggu siapapun ia terburu buru karena sudah di tunggu oleh Abi dan orang orang yang ada di pesantren.


sedangkan Raisa ia pergi ke tempat dokter Dimas ia sudah ada janji dengannya.


Raisa melajukan motornya dengan santai, ia merasa sedikit kurang enak badan sebenarnya ia ingin membatalkan pertemuannya dengan dokter Dimas tapi ada hal yang mendesak yang harus segera ia lakukan.


sesampai di tempat dokter Dimas raisa langsung memarkirkan motornya ,ia menggantungkan helmnya di spion


Raisa turun ia berjalan menuju lobi di lihatnya resepsionis tersenyum manis ke arahnya


" selamat sore kak" sapa seorang resepsionis yang masih muda dan terlihat sangat cantik yang memakai name take di bajunya bertuliskan Nadia Rahma,


" Dimas ada" sambil berjalan menuju ruangan dokter Dimas


" eh...kak tunggu dokter dimasnya sedang ada tamu?" Nadia mencegah Risa untuk pergi ke ruangan dokter dimas.ia sangat takut jika nanti dokter Dimas marah padanya, ia menyatukan ke dua tangannya,meremasnya untuk mengurangi kepanikan yang melanda


Raisa seketika berhenti ia berbalik memandang wajah Nadia


" cewek apa cowok"tanya Raisa pada Nadia


" ce...wek kak" jawab Nadia gugup


Raisa kembali berbalik ia melanjutkan langkahnya pergi ke ruangan dokter dimas


" kak" Nadia mencoba kembali mencegah Raisa untuk pergi keruangan dokter Dimas.


Raisa yang mendapat peringatan dari Nadia hanya mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Nadia membiarkannya


Nadia yang melihat sikap Raisa yang dingin merasa ngeri,ia memilih membiarkan Raisa pergi ke ruangan dokter Dimas


" urusan dokter Dimas gue pikirin nanti aja, gue ngeri ngeliat tatapannya" ucap Nadia dalam hati


" hii...h" Nadia sampai meringis tubuhnya sedikit ia guncang untuk menghilangkan ketakutannya.


" tok...tok...tok" Raisa mengetuk pintu ruangan dokter Dimas ia yakin di dalam pasti dokter Dimas sedang berbuat mesum.


" sudah selesai belum" suara Raisa yang keras terdengar sampai ke dalam ruangan


selang beberapa menit di bukalah pintu dari dalam,dan keluar seorang perempuan dengan dandanan yang sedikit acak acakan dan baju yang terlihat berantakan .

__ADS_1


tanpa menunggu perintah masuk dari sang pemilik ruangan Raisa langsung masuk ke dalam


" dasar dokter mesum" dengan sedikit kesal Raisa berbicara kepada dokter Dimas


Raisa duduk di depan dokter Dimas yang sedang membetulkan bajunya.


" kamu selalu mengganggu kesenanganku" ia merapikan rambut yang sedikit awut awutan


" dasar dokter kere,sampai gak punya uang buat sewa hotel" ucap Raisa ketus


" ha...ha..ha...." dokter Dimas tertawa ia tidak tersinggung dengan ucapan Raisa


" jika ada yang gratis buat apa bayar...ha..ha..ha..." ia kembali tertawa


" hidup di dunia itu harus kita nikmati " ucap dokter Dimas santai


"iya saking nikmatnya hidup kamu sampai lupa tempat di mana harus bertindak" Raisa menyalakan rokoknya ia mendengus kesal.


dokter Dimas yang tahu Raisa menyalakan rokoknya meraih remot mematikan AC ia kemudian beranjak berdiri dan membuka kaca jendela.


tiba tiba pintu ruangan di buka oleh seseorang


"apa gue terlambat " Sam yang muncul dari balik pintu meringis memperlihatkan giginya yang putih


"untung Lo terlambat "


"kalau gak......pasti kayak gue....... sial"


"selalu lihat orang mesum"


Sam dan dokter Dimas meringis mendengar kekesalan Raisa,sedang Raisa mengerutkan dahinya


" jangan katakan Lo telat juga habis mesum sama cewek"


" itu kenikmatan dunia yang gak bisa gue tinggalkan sa..." Sam menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal,kemudian ia duduk di sebelah Raisa


" kalau Lo tahu rasanya ah......." dokter Dimas merentangkan kedua tangannya seolah itu kenikmatan yang luar biasa


" jangan jangan Lo sama Raihan belum" suara Sam terhenti,matanya melotot ke arah Raisa


"sa.....!!" dokter Dimas ikut terkejut


"apa kamu tidak takut dosa" Sam kembali bertanya


" apa Raihan tidak pernah meminta haknya sebagai suami" kini giliran dokter Dimas yang bertanya matanya sampai melotot karena penasaran


Raisa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah ia berusaha menutupi kegugupannya dengan kembali menghisap rokok yang ada di tangannya.


" apa Raihan laki laki tidak normal" Sam berbicara ke pada dirinya sendiri ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"mungkin saja" dokter Dimas yang mendengar Sam bergumam hanya manggut manggut saja.


" kenapa jadi bahas gue" bentak Raisa agar mereka tidak membicarakannya


"sa...Lo tega ya sa...."Sam menggeleng gelengkan kepalanya ia tak habis pikir dengan sikap Raisa, Raihan adalah suami yang sempurna ,suami yang di inginkan banyak perempuan


" bener bener kamu sa....." dokter Dimas menimpali ucapan Sam


" kalau Lo masih bahas gue..... gue pergi" ancam Raisa


Sam menarik nafas perempuan di depannya ini memang manusia keras kepala.


" bukannya gue ikut campur"


" gue sayang Lo ,Lo gue anggap adik gue! "


"di sini gue berbicara sebagai Abang Lo,"


" gue ingin yang terbaik buat Lo"


" Raihan laki laki yang sempurna dari segi manapun"


"jangan mengabaikannya"


" sebelum kamu menyesal karena kesalahan yang kamu buat sendiri"


" jangan sampai dia pergi karena lelah menunggu hatimu yang di selimuti masa lalu"Sam berbicara pada Raisa sambil memandang Raisa yang tak memandangnya,Raisa lebih memilih memandang jam yang berjalan sebagai mana mestinya.

__ADS_1


Raisa menarik nafas panjang ia sendiri bingung dengan hidupnya yang menurutnya berantakan.


"kita bahas yang seharusnya kita bahas" Raisa mematikan rokoknya yang telah habis ke asbak


Raisa menyandarkan tubuhnya pada bahu kursi, pikirannya jadi ke mana mana,benarkah sikapnya sudah keterlaluan dengan Raihan. ia kembali mengambil sebatang rokok dari bungkusnya dan kembali menyalakannya.


" ok ...kita bahas yang seharusnya kita bahas" Sam mengedikkan bahunya,memang sulit berbicara pada Raisa yang keras kepala.


dokter Dimas yang melihat kedua sahabatnya sedikit tegang memilih mengambil minuman dingin yang ada di kulkas yang berada di ruangannya


" minum dulu" ia menyodorkan minuman dingin ke arah Sam dan Raisa, tanpa kata mereka berdua menerimanya dan langsung membuka tutup botol dan meminumnya.


"kata Sam ada anak panti yang sedang sakit kangker" Raisa melirik ke arah sam


" katanya sudah setadium dua, dan mereka para pengurus baru lapor"


" berapa biaya yang harus gue keluarin untuk biaya oprasi " Raisa menghembuskan asap rokok ke udara matanya menatap langit langit atap yang terbuat dari kayu jati


" biayanya cukup besar " dokter Dimas menjeda kalimatnya.


" selama dia di rawat di sini dia tidak membutuhkan biaya"


" jika kondisinya setabil dan sudah siap untuk di operasi dia akan di rujuk ke rumah sakit pusat di mana peralatannya sudah sangat canggih"


"operasi di sana sangat mahal"


" aku juga bekerja di sana, akan aku usahakan agar dia mendapat keringanan dan mendapatkan penanganan yang tepat,"


"selamatkan dia " Raisa mengusap wajahnya kasar


" berapapun biayanya"


" kasian dia masih kecil"


" hidupnya masih panjang"


ada rasa sedih di setiap ucapannya


"akan aku usahakan sebisaku dan semampuku" Dimas tahu kesedihan Raisa.


"berapa dana yang panti punya" ia melirik ke arah Sam


" panti kita punya dana yang cukup besar untuk menampung kebutuhan anak anak,tapi untuk biaya oprasi kita tidak punya dana yang di anggarkan untuk itu"


"pakai uang pribadi gue" Raisa ingin orang orang yang ia sayangi mendapatkan semua yang terbaik


" gue juga akan membantu sebisa gue sebagai seorang dokter" dokter Dimas melihat ke arah raisa


" ok.....kapan rencana operasinya?"


" secepatnya setelah kondisinya setabil" jawab dokter Dimas


"cek terus keadaannya, apa Lo butuh seorang dokter senior untuk membantumu untuk memantau keadaanya di sini"tawar Raisa pada dokter Dimas


" gue gak akan mengecewakan orang yang telah membuat gue jadi seperti ini"dengan senyum yang lebar dokter Dimas berucap


"terimakasih" ucap Raisa lirih,ucapan yang di dengar oleh Sam dan dokter dimas.Raisa yang jarang berterima kasih kepada seseorang membuat kedua temannya tersenyum tipis.


" gue pergi dulu"


"kalau mau lanjut mesumnya silahkan"Raisa beranjak dari duduknya,


Sam dan Dimas tersenyum mereka berdua saling pandang.


" minta ke Sam jika butuh uang"


"cieh...." Sam berdecak


" gue lagi yang kena kan" ucap Sam bersungut sungut


" yang pegang uang gue siapa!" bentak Raisa


" gue" jawab Sam


"Lo denger kan harus minta ke siapa" Raisa melihat ke arah dokter Dimas sambil menunjuk dengan dagunya ke arah Sam


" ha...ha...ha..." dokter Dimas tertawa

__ADS_1


Raisa keluar dari ruangan dokter Dimas, ia ingin segera pulang ia sepertinya benar benar kurang enak badan,tubuhnya terasa sakit semua,tulang tulangnya terasa ngilu,apalagi sore ini langit terlihat sangat mendung,Raisa ingin segera sampai ke rumah ia tidak mau kehujanan apalagi kali ini ia lupa membawa jas hujan.


di tengah perjalanan apa yang di kawatirkan terjadi hujan turun dengan deras tanpa ia sempat menghindar untuk berteduh.


__ADS_2