
Di lobi klinik tempat dokter dimas praktek , raihan menghentikan langkahnya, ia menyerahkan kunci kepada diki dan menggerakkan dagunya ke arah mobil, diki tau yang di maksud raihan dengan isyaratnya, ia meraih kunci mobil dari tangan raihan ,tapi ia masih terpaku berdiri saat telinganya mendengar raihan berbicara ke pada raisa"saya kecewa sama kamu" raisa menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap raihan yang ada di belakangnya matanya menatap mata raihan yang menyiratkan kekecewaan tapi juga keteduhan.raihan menarik nafas....." saya tau saya tidak di posisi di mana saya punya hak untuk marah atau melarang kamu,tapi apa kamu tidak sayang dengan tubuh kamu?apa sebegitu inginnya kamu membuat orang yang sayang sama kamu kuatir?" dengan suara yang lembut , raihan memang pribadi yang kalem dengan siapapun akan bersikap lembut walaupun sedang kecewa, ia tidak bisa marah , marahnya raihan kecewanya raihan hanya ia tunjukkan dengan diam. raisa mengernyitkan dahiya " jangan urusi urusan gue ..itu udah gue tegasin dari dulu, lo aja yang kurang kerjaan , lo mau ngatur hidup gue?jangan harap?! dan perlu lo ingat lo bukan siapa siapa gue" sambil tersenyum mengejek , raihan kembali menarik nafas"ternyata sulit sekali menaklukkan hatimu"hanya itu yang bisa ia ucapkan dalam hati..."eh...lo " diki yang mendengar dengan jelas kata kata raisa kembali berbalik ia lalu menunjuk ke arah muka raisa" jangan nyolot...ya!!! lo jadi cewek kenapa sok banget sih, cewek egois.... cewek gak ada akhlak ,"ia menatap tajam ke arah raisa? ia sudah muak dengan sikap raisa yang seperti itu"gu emang gak gak punya akhlak kenapa? gue juga gak butuh perhatian kalian?"raisa balik menatap tajam ke arah diki"kalau laki laki udah gue hajar lo " diki berbicara sendiri dalam hati, terlihat jelas mukanya yang merah padam menahan amarah , sedari tadi pagi ia sudah berusaha sabar menahan kemarahannya, "suatu saat lo akan menyesal" tunjuk diki tepat di depan wajah raisa" lo emang gak punya hati nurani" diki masih mengeluarkan kata kata yang sempat ia tahan karna raihan memintanya untuk diam"benar...hati nurani gue sudah mati?! perlu lo ingat dan catat, jangan sampai lupa?
raihan yang melihat perdebatan antara raisa dan diki kembali menarik nafas" kita pulang,..saya antar kamu pulang" dengan cepat raisa menjawab" tidak usah gue naik taxi" raihan menghembuskan nafas perlahan" tadi pagi saya yang jemput kamu , sekarang pulangnya juga saya antar", diki yang mendengar kembali berdecak" lo tu ya perbuatan lo sama dia gak pernah ia anggap dan lo masih aja perhatian sama dia " diki begitu kesal terhadap raihan"orang kayak dia gak usah diperhatiin bisa bisa nglunjak dianya" ia masih menatap penuh amarah kepada raihan , kenapa temannya bisa selemah itu" apa lo bilang"raisa melangkah ke arah diki sambil mendorong tubuh diki , " gue juga gak butuh perhatian kalian"mereka sama sama saling memandang penuh dengan amarah masing masing."perlu lo ingat " sambil menunjuk muka diki dengan jari telunjuknya" gue gak pernah meminta ini, "mendengar kata kata raisa, raihan menarik nafas terbersit rasa kecewa di hatinya, ia mencoba menyembunyikan rasa kecewanya, ternyata semua memang tak ada artinya.
__ADS_1
" sudah...sudah....di lihat banyak orang..., sekarang kita pulang , dik ambil mobil" dengan tegas raihan berbicara kepada ke dua orang yang adu mulut, dan ajaibnya mereka berdua langsung diam, diki melihat raihan walaupun masih kesal ia langsung berjalan ke parkiran mengambil mobil sedang raisa masih tetap diam di tempatnya"kita pulang" raihan langsung mengajak raisa untuk pulang raihan berjalan menuju mobil yang sudah ada di depan lobi klinik. sekali lagi raisa tanpa banyak kata raisa menuruti kata kata raihan...di menggeleng gelengkan kepalanya, entah apa yang ada dalam fikirannya.
pov raihan
__ADS_1
inikah caramu untuk memperingatkan hamba bahwa mencintai seseorang begitu dalam akan menyakiti.mencitai secara wajar adalah hal yang di anjurkan, tapi kenapa rasa ini hadir kalau Engkau (allah) tidak ada maksud,, rasa yang baru aku rasakan seumur hidup, dan kenapa rasa ini harus jatuh kepadanya (raisa),kepadanya yang tak ada rasa terhadap hambamu ini, apakah engkau ingin memberi peringatan kepada hamba karna sering mengabaikan orang orang yang mencintai hamba ( perempuan).apakah ini balasannya , apakah ini caramu agar hamba merasakan apa yang mereka rasakan. mencintai seseorang tapi di abaikan, memberi perhatian pada seseorang tapi tidak di anggap.raihan kembali mengusap kasar wahajahnya sambil berigstifar.tiba tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, menyadarkannya dari lamunannya." masuk" seseorang di luar memutar gagang pintu dan terdengar suara"cklek" pertanda pintu telah di buka dari luar,seseorang yang ia sayangi selain ibunya masuk ke dalam kamarnya dan langsung berlari memeluknya" abang...." raihan yang mendapat serangan tak terduka langsung gelapan , adiknya yang berada di sebelahnya memeluknya dengan erat..." abang.....di suruh umi makan?," raihan mengelus lembut rambut adiknya" iya...."
" gimana kabar kak aisyah? kok dia sekarang jarang kemari, aku kangen sama dia, kapan kapan ajak dia main kesini ya bang" raihan hanya berdehem" sambil memainkan kemeja kakaknya" aku suka kak aisyah dia wanita yang sempurna untuk kakak, semua yang ada pada kak aisyah adalah gambaran wanita yang sempurna bila di jadikan istri",raihan menarik nafas panjang sebelum ia bangkit dari tidurnya. ia kemudian duduk diatas tempat tidurnya, " berisik ayo kita makan" sambil menarik adiknya untuk pergi dari kamarnya, ia tidak mau menanggapi pertanyaan adik kesayangannya itu" bang.... belum di jawab udah main pergi aja" syanum merenggut kesal , tapi tetap mengikuti abangnya menyusuri tangga" aku maunya kakak iparku kak aisayah..titik gak pakai koma"raihan menghentikan langkahnya dan " bugh" .....
__ADS_1
" au......u abang....hidung aku sakit..kenapa berhentinya gak bilang bilanga sih? ...sakit tau....." sambi memegangi hidungnya" makanya jangan cerewet" raihan kembali berjalan menuju ruang makan di mana umi dan abinya sudah menunggu.