
Raihan masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya ia sempat menemani Mamang mengobrol di ruang keluarga sambil melihat tv.
saat ia membuka pintu di lihatnya Raisa yang berada di atas ranjang dengan memakai celana pendek hotpant dan kaos oblong favoritnya saat di rumah,rambut yang ia gulung asal menambah kecantikannya,rasanya ia ingin sekali berlari memeluk dan mencium wanita di depannya ini bahkan melakukan lebih karena mereka sudah sah menjadi pasangan. tapi keinginan itu hanya bisa ia pendam dalam hati," sabar Raihan pelan pelan" ia hanya bisa menyemangati diri sendiri.raisa yang sedang sibuk dengan laptop di pangkuannya entah apa yang sedang di kerjakan tak menyadari kehadirannya dan sebatang rokok favoritnya yang tak pernah lupa saat ia sedang melakukan aktivitas yang menguras otak. sesekali ia menghisap rokok yang ada di tangannya
entah mengapa Raihan merasa tak pernah bosan Mandang wajah cantik yang selalu terlihat jutek dan dingin pada siapapun.
Raihan mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling ruangan,kamar yang cukup luas tapi tak terlalu banyak barang di dalamnya.
biasanya perempuan akan lebih mementingkan penampilan dan fesien tapi tidak dengan Raisa wanita yang telah menjadi istrinya ini tidak memerlukan itu semua.
penampilan yang apa adanya dan tak memaksakan harus berpenampilan wao walaupun sebenarnya ia mampu.tapi sifat baiknya membuat ia lebih mementingkan orang lain.
mungkin itu yang membuat Raihan jatuh cinta padanya.
ia tak menyadari kehadiran Raihan, dengan pelan Raihan mendekati Raisa dan duduk di sebelahnya
Raisa yang terkejut ada seseorang yang duduk di sebelahnya langsung mengalihkan pandangan dari laptopnya
Raisa mengernyitkan dahinya ia berfikir sejenak kenapa laki laki ini ada di kamarnya.setelah ingat ia lalu memandang laki laki yang telah sah menjadi suaminya
tanpa bertanya pada Raisa Raihan menutup laptop Raisa
" eh..apa Lo..." berusaha menahan agar laptopnya tidak di tutup.
" kita berdua harus bicara" Raihan memandang Raisa dengan tatapan teduhnya,ia mencari posisi untuk menyamankan duduknya.
" bicara apa?" ucap Raisa sinis masih dengan rokok di tangannya.
" semua sudah di bicarakan" kembali Raisa berucap sinis sambil mengalihkan pandangannya ke balkon kamar
" belum...." tutur kata yang halus dan sikap yang penyabar tak membuat Raisa mengalihkan pandangannya.
Raihan menatap mata indah Raisa sebelum berucap .
"aku tahu aku yang menginginkan pernikahan ini, aku juga tahu aku yang memaksakan kehendakku, "Raihan menarik nafas sebelum melanjutkan
matanya tak lepas memandang wajah cantik Raisa.
"aku tidak akan memaksa dirimu untuk melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri,dan aku tidak akan meminta hak ku sebagai suami jika kamu tidak menginginkannya,aku akan melakukannya jika kamu yang memintanya.,itu berarti kamu sudah menerima keberadaanku dan aku akan menunggu saat saat itu" Raihan menjeda kalimatnya
"aku tidak mau tidur terpisah,aku ingin kita berbagi tempat tidur,dan janjiku akan aku tepati" tangan Raihan bergerak perlahan mengelus pipi Raisa yang halus,tangan lembut itu membuat Raisa terpaku seolah menikmati sentuhan lembut raihan
Raisa hanya diam ia menarik nafas dalam dalam kali ini ia tidak ingin salah perhitungan seperti saat ini.terjebak dengan rasa amarah.yang akhirnya membuat dirinya mengambil keputusan yang salah.
__ADS_1
"aku berharap pernikahan kita untuk selamanya" tatapan Raihan yang selalu penuh cinta untuk Raisa
"ini " raihan memberikan kartu ATM biasa untuk Raisa
Raisa tak segera mengambil kartu yang di sodorkan Raihan
" isinya tak seberapa?"
" ini untuk keperluan kamu?
" sekarang kamu adalah tanggung jawabku"
"ini bentuk nafkah lahir dari aku?"
"mmm...kalau nafkah batin menunggu kamu siap?" sambil tersenyum jahil Raihan memandang Raisa .
mendengar ucapan jahil Raihan Raisa hanya memutar matanya malas. ia mematikan rokok yang tinggal sedikit ke asbak di sampingnya.
akhirnya Raisa menerima kartu yang di beri Raihan
" terima kasih sudah menerimanya" sambil tangannya mengelus pucuk kepala Raisa
" boleh meminta sesuatu darimu? sambil melepas tangannya dari kepala Raisa
Raisa hanya diam sambil mengernyitkan dahinya seolah berfikir apa yang di minta Raihan, bukankah tadi ia tidak akan memaksakan kehendaknya.matanya sibuk mengawasi Raihan.
" ha...ha...ha...jangan mikir yang aneh dulu " Raihan tertawa melihat ekspresi wajah Raisa yang seolah kuatir dengan keinginannya.
"memang apa yang gue pikir" sambil matanya sedikit melotot ke arah Raihan
" pokoknya aku tahu yang kamu pikirkan" dengan senyum yang masih mengembang di bibir
" tapi bukan itu " Raihan menjeda kalimatnya agar Raisa penasaran
Raisa masih memandang Raihan yang ternyata begitu dekat dengannya hingga harum tubuh raihan tercium jelas di hidungnya.ia langsung cepat cepat memalingkan wajah saat mata mereka saling beradu.
" kita berdua sudah sah menjadi suami istri, panggilan Lo gue jangan di pakai lagi" dengan senyum yang di kulum seolah sedang menggoda Raisa.
"itu yang aku minta dari kamu, jadi jangan mikir yang aneh aneh ,atau...kamu memang mengharap yang aneh aneh" dengan senyum yang semakin lebar.
" terserah gue, gue peringatkan jangan mengharap apapun dari gue tentang pernikahan ini." Raisa memandang tajam ke arah Raihan,
raihan menarik nafas "benar disini dirinyalah yang menginginkan pernikahan ini,jadi ia tak berhak memaksa Raisa, "
__ADS_1
" oh ya ..kamar mandinya di mana mau ganti baju?"tanya Raihan pada Raisa ia sedikit mengalihkan perhatian agar tidak terjadi perdebatan lagi.
raisa menunjuk pintu yang warna biru di mana terdapat kamar mandi di dalamnya
Raihan beranjak dari duduknya ia mengikuti kemana telunjuk Raisa, setelah tadi ia mengambil barang barang yang ada dibagasi mobil.
Raihan mengambil kaos dan celana pendek Kolar yang biasa di pakai di rumah.ia masuk ke dalam kamar mandi .ruang kamar mandi yang tak terlalu luas tapi bersih, ia melihat di rak penyimpanan peralatan mandi hanya ada sabun mandi ,odol ,beberapa sikat gigi yang masih baru dan satu yang sudah terpakai,ia juga melihat sampo dengan merek yang sering keluar iklannya di tivi tak ada lagi peralatan mandi yang pernah ia lihat di kamar mandi syanum ataupun uminya. yang di taruh tak ada peralatan kulit lainnya
Raihan ingat tidak membawa handuk ,kemarin ia mencuci handuk yang ada di mobilnya dan belum menggantinya dengan yang baru.ia memutuskan keluar dari kamar mandi ia melihat Raisa masih sibuk dengan laptopnya
"sa.. pinjam handuk dong?" Raisa menghentikan aktivitasnya ,ia melihat Raihan yang masih memakai pakaian yang sama sedang berdiri di depannya.
Raisa beranjak berdiri meletakkan laptop di atas meja ,ia berjalan nenuju ke lemari yang terletak di dekat pintu kamar mandi.ia membuka lemari dan menarik salah satu handuk .tanpa kata ia hanya menyodorkan handuk yang di pegangnya pada Raihan.
dengan senyum Raihan menerima handuk yang di beri Raisa
" terimakasih istriku" ia kemudian meninggalkan Raisa yang terbengong karena panggilannya.
saat keluar dari kamar mandi Raihan melihat Raisa masih sibuk dengan laptopnya,
Raihan mencari sarung yang ada di dalam tas ia ingat belum mengerjakan sholat isya.
ia melihat Raisa sekilas sebelum memulai mengerjakan sholat.
Raisa melirik Raihan ia tahu Raihan sedang melihatnya, tapi ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
malam ini Raisa benar benar di buat sibuk ia harus meneliti semua laporan yang Sam kirim lewat email,ia harus menyelesaikan malam ini sebelum besok di ambil Sam ke rumah.
" sudah malam tidur dulu" ucap Raihan yang tiba tiba sudah ada di sampingnya, Raihan merebahkan tubuhnya sambil memandang Raisa.
" apa harus berbagi tempat tidur" dengan ketus Raisa bertanya
" aku tidak mau terpisah tempat tidur dengan istriku, kita sudah membicarakannya?" sambil menarik selimut yang ada di bawah untuk menutupi kakinya yang kedinginan.
Raisa tidak menjawab ia enggan berdebat dengan laki laki ini, ia membiarkan laki laki yang selalu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya berbagi tempat tidur dengannya.
" di lanjut besok sudah malam?" usul Raihan,tapi seolah enggan menjawab Raisa hanya diam
"apa perlu bantuan" tawar Raihan pada Raisa
"tidak perlu " jawab Raisa cepat
"oh....ya sudah Abang tidur dulu?" Raisa mengernyitkan dahinya mendengar Raihan bilang Abang
__ADS_1
belum hilang keterkejutannya tiba tiba Raisa merasakan di pipinya ada benda kenyal dan dingin,
"selamat malam istriku" ucap Raihan sambil mencium pipi Raisa ,