
Raisa yang mendengar kata kata bude Hanna sudah tidak tahan lagi, ia memang orang yang mudah emosi,ia sudah cukup lama menahan emosi,jika itu orang lain mungkin ia sudah menendang barang yang ada di depannya,tapi ia tahu ia menghormati Abi dan umi yang telah menganggapnya anaknya sendiri
Raihan terus menenangkan Raisa dengan memegang tangan Raisa ,meremasnya lembut agar Raisa sabar menghadapi sikap bude Hanna
tapi sayang Raisa tak punya kesabaran yang cukup untuk menghadapi hinaan ini
" maaf sebelumnya" dengan melepas tangannya yang di genggam Raihan
" sa.."raihan memberi peringatan
" sudah cukup anda menghina saya"...Raisa menarik nafas "saya bukan orang baik ,itu sudah di ketahui keponakan anda, jika dia memaksa memilih saya itu adalah konsekwensi yang harus di terima karena memilih saya."
" sa...please?" pinta Raihan dengan gerakan bibir dan wajah yang terlihat sedih
raisa membuang nafasnya kasar ia ingin mengabaikan semuanya tapi ia mendengarnya.
" maaf saya permisi" Raisa beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan meja makan
" sayang kita makan dulu mau ke mana?" umi berusaha mencegahnya,tapi Raisa tak perduli ia enggan berada di sana
" dasar gak punya sopan santun?!" bude Hanna mencibir Raisa
"sa ..." Raihan mengejar Raisa dan menarik tangannya untuk tidak pergi
" apa?" bentak Raisa
" ikut Abang...." Raihan menarik Raisa kembali mendekat kearah mereka
umi, Abi serta pakde hanya diam tidak bisa berbuat apa apa...,karena watak bude yang dari dulu memang keras.
"maaf sebelumnya bude?" dengan sopan raihan berucap
" untuk memutuskan raihan menikahi Raisa ,Raihan telah melakukan apa yang seorang muslim lakukan, meminta petunjuk pada Allah dengan melakukan sholat istikharah, bukan cuma sekali atau dua kali untuk memantapkan hati raihan apakah pilihan hati ini benar atau salah?" tanpa melepas genggaman tangannya dari Raisa
kali ini Raisa membiarkan tangannya di genggam Raihan
" bila pilihan Raihan salah biarkan Raihan mempertanggung jawabkan. mungkin ini salah satu ujian yang di berikan Allah untuk Raihan
" jodoh kita adalah cerminan diri kita...?,mungkin di mata Allah Raihan banyak kekurangan, mungkin dalam ibadah dalam hal bersedekah? dan mungkin banyak lagi yang Raihan tidak tahu atau Raihan tidak sadari"
" Raihan mohon kepada bude dan pakde,biarkan Raihan dengan pilihan Raihan?" Raihan memang sosok laki laki yang penuh dengan kesabaran ia selalu menanggapi masalah tanpa emosi.
umi dan Abi yang tahu bagai mana anaknya melewati ini dalam hal meyakinkan serta memantapkan hati hanya bisa merestui pilihan anaknya.
__ADS_1
" tidak mengurangi hormat Raihan pada bude Serta pakde Raihan permisi dulu" Raihan menganggukkan kepalanya memberi hormat pada pak de dan bude
" kita ke kamar" dengan lembut Raihan berucap pada Raisa, ia menarik pelan tangan Raisa, menggandengnya menaiki tangga
" bang makan dulu?" perintah umi saat Raihan akan melangkah
" nanti saja mik?" dengan senyum yang menghiasi bibirnya, membuat umi tenang
" biarkan dia mik" ucap Abi
" kak.....biarkan Raihan dengan jalannya.." kini Abi berbicara pada bude
"kami sebagai orang tua Raihan merestui pilihan anak kami , terlepas Dari dia baik atau buruk, kami tahu anak kami, sebelum memutuskan melangkah lebih jauh Raihan sudah melakukan kewajibannya ke mana ia minta petunjuk" ubi berbicara panjang lebar ia tidak mau anaknya di salahkan dengan pilihannya...
" kamu memang tidak bisa mendidik anak? aku punya calon yang tepat untuk Raihan anak kiyai dari Jombang, itu akan membuat pesantren kita lebih terkenal" ucap bude berapi api.
" kak...." dengan sedikit keras Abi berucap
" jangan pernah menyalahkan bagai mana saya mendidik anak saya"
" itu kenyataan " sergah bude cepat
" umik sudah..." kini pakde mencoba menengahi
" sa......" Raihan memanggil Raisa yang mengabaikannya ,Raisa duduk di bangku yang ada di balkon, mungkin semilir angin yang berhembus bisa membuat dirinya yang marah sedikit menjadi tenang. Raihan berjongkok di depannya.
" jangan mengabaikan Abang"
" jangan menyalahkan Abang tentang pilihan abang" Raihan menggenggam ke dua tangan Raisa dengan tangannya
" tetap di sini biarkan Abang yang berjuang untuk hubungan kita?"masih dengan suara yang lembut meyakinkan Raisa
Raisa hanya diam, dalam hatinya berkata"secinta itukah dirimu padaku hingga harus menentang semua orang?" tiba tiba air mata Raisa keluar dan di lihat Raihan
" kenapa menangis?" Raihan mengusap air mata Raisa dengan gerakan pelan
Raisa masih diam ia bingung dengan semuanya
" biarkan gue sendiri"ucap Raisa akhirnya
" kenapa harus sendiri kalau ada Abang" ucap Raihan cepat
"semuanya akan baik baik saja?"
__ADS_1
" benarkah?" kini giliran Raisa yang berucap cepat
" jika ini yang Lo mau Lo berhasil?" dengan menatap tajam ke arah Raihan
Raihan menarik nafas" bukan ini yang Abang harapkan, yang Abang harapkan adalah bahagia bersamamu"
" biarkan gue sendiri" pinta Raisa lagi
tak mendapat tanggapan dari Raihan kembali Raisa mengancam
"jika kamu tidak pergi sekarang juga aku akan pulang" ancam Raisa
Raihan menarik nafas ia beranjak dari jongkoknya
" jangan berfikir untuk pergi dari abang" ia menatap lembut mata Raisa yang tajam
dengan pelan Raihan mendekatkan bibirnya di kening Raisa,saat bibir Raihan sudah menyentuh kening Raisa Raihan memejamkan matanya menikmati begitupun Raisa ia memejamkan matanya .
ada rasa hangat yang menjalar di hati Risa saat Raihan mencium keningnya .
Raihan melepas ciumannya dari kening Raisa kini mata keduanya saling berpandangan
wajah Raisa yang sedikit mendongak ke atas,serta tatapan yang sendu milik Raisa yang baru pertama kali Raihan lihat membuat Raihan kembali mendekatkan bibirnya.
Raihan menggerakkan bibirnya ke arah bibir Raisa. kini ke dua bibir itu saling bertemu.raisa sedikit terkejut,tapi ia membiarkan bibir Raihan yang menyentuh bibirnya,seolah pasrah raisa mejamkan matanya, hatinya berdebar debar, hal yang baru pertama kali ia lakukan dengan lawan jenisnya.seolah dia pun ingin merasakan rasanya berciuman.
Raihan membiarkan beberapa saat bibirnya yang menempel di bibir raisa.saat tak ada perlawanan dari Raisa Raihan mulai mengerakkan bibirnya
Raihan mulai menghisap bibir bawah Raisa yang sedikit terbuka, dengan gerakan lembut Raihan melakukannya setelah puas mengisap bibir bawah Raisa bibir Raihan bergerak menuju bibir atas dengan ******* yang lembut Raihan melakukannya ini pertama kalinya raihan mencium Raisa saat tersadar, biasanya ia akan mencuri ciuman saat Raisa tertidur, walau raisa tak membalas ciuman Raihan tapi Raihan tahu Raisa menikmati ciumannya terbukti dengan ia memejamkan matanya dan membiarkan dirinya melakukannya.
Raihan tahu ini pertamakali untuk raisa, terlihat dari tubuhnya yang terlihat kaku dan tegang tangannya yang tanpa sadar mencengkram baju raihan
ciuman itu terjadi cukup lama, Raisa yang sadar ia tidak boleh terbawa suasana akhirnya mendorong tubuh Raihan
"lepas " ucap Raisa
wajah Raisa yang terlihat merona menjadi saksi jika raisa menikmatinya
Raihan menatap wajah cantik di depannya yang masih terlihat jutek
Raihan mengelap bibir Raisa yang basah dengan ujung jarinya,dengan gerakan pelan raihan mengusapnya. Raisa yang mendapat perlakuan lembut dari Raihan memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata teduh itu.
" jangan lama lama sendirinya,Abang ke bawah ambil makanan untuk kita."Raihan beranjak pergi ia ingin membiarkan Raisa sendirian..ia tahu ini berat untuk Raisa.
__ADS_1