
Raisa bangkit dari duduknya sambil mematikan rokok yang masih menyala. kursi yang patah terbentur tembok karna tendangan yang cukup keras dari raisa membuat orang yang menduduki alias si doni terjatuh di lantai. raisa berjalan menuju doni ada kemarahan yang coba ia tahan sedari tadi, ia meraih kemeja doni dan memaksa doni untuk berdiri, doni yang masih merasa kesakitan dengan susah payah mengikuti keinginan raisa untuk berdiri, belum sempat doni berdiri dengan sempurna raisa sudah mendorong dengan keras tubuhnya ke tembok.sekali lagi doni menjerit " akhhhh...kh"
davit dan diki masih terpaku tak percaya dengan kejadian di depannya , mereka melihat doni terjatuh dari kursi akibat tendangan yang tak mereka sangka akan di lakukan raisa, mereka melihat doni menjerit dan meringis kesakitan , belum sempat menolong doni mereka kembali melihat tubuh doni di benturkan tembok oleh raisa , kembali mereka melihat doni mengerang kesakitan baru mereka berlari menuju doni.
suasana menjadi riuh orang orang yang ada di kantin berhambur mendekat mencoba melihat apa yang terjadi
" kamu bilang apa?"sambil mencekik leher doni , doni yang sudah kesakitan tak bisa berbuat apa apa ...
" lepaskan sa?" davit dan diki yang sudah ada di dekat raisa dan doni ,mereka mencoba bernego dengan raisa, mereka juga mencoba melepaskan tangan raisa dari leher doni yang kembali di cekik oleh raisa.semakin mereka mencoba membantu doni untuk terlepas dari cengkraman raisa semakin kuat raisa mencengkram leher doni.
" kamu cari masalah denganku kamu habis?" sambil melepaskan tangannya dari leher doni
doni yang sudah mulai menguasai tubuhnya tersenyum mengejek ke arah raisa" kenapa?.... takut orang orang tau siapa kamu yang sebenarnya? "
raisa menatap tajam ke arah doni, doni yang mendapat tatapan tajam dari raisa kembali memperlihatkan senyum mengejek
" gue tau siapa lo... dan lo gak pantes dapetin temen gue ? masih dengan senyuman yang mengejek
raisa mengernyitkan dahinya mendengar ucapan doni,
"maksud lo?" tanya raisa yang tidak mengerti
"alah...jangan sok polos ya lo.....di balik wajah lo ini tersimpan kebusukan?...dengan nafas yang terengah engah karna menahan sakit .
" davit dan diki yang ada di dekat mereka juga merasa heran dengan apa yang di maksud doni ,
"gue gak pernah bikin masalah sama lo, " masih menatap tajam ke arah doni
"kamu gak bikin masalah sama gue....tapi lo mau menjebak temen gue?... batin doni
"hapus foto foto itu...kalau tidak.."..raisa menggantung kalimatnya dan kembali mendekat ke arah doni" gue bisa bikin lo lebih parah dari ini?"
"ha ha ha ...." doni tertawa....." lo ngancam gue?"
"gue cuma memperingatkan?" bentak raisa
" gue gak akan hapus...kalau perlu gue akan sebarin keseluruh kampus ini biar mereka tahu siapa kamu?"
raisa yang sedari tadi sudah menahan kemarahannya kini sudah tidak bisa lagi menahannya
dengan sekali gerakan ia melayangkan tinjunya ke wajah doni, sekali lagi belum sempat doni menghindar ia sudah kena pukul.ia yang kembali tak siap terkena pukul terhuyung huyung ke belakang membentur tembok , raisa yang sudah di kuasai amarah kembali menyerang doni ,doni sedikit bisa menangkis pukulan dari raisa, tapi karna raisa lebih jago dalam hal berkelahi dan beladiri membuat doni kewalahan, beberapa kali ia kena pukulan dan tendangan dari raisa.
diki dan davit yang menyaksikan perkelahian raisa dan doni hanya terpaku menyaksikan tanpa bisa berbuat apa apa...mereka menyaksikan temannya di hajar tanpa bisa membela karna rasa terkejut yang masih menguasai
semua orang yang ada di kantin menyaksikan perkelahian antara raisa dan doni, mereka belum mengerti masalah yang menyebabkan perkelahian.
kini doni sudah terkapar di lantai , dia yang tak bisa mengimbangi kemampuan raisa hanya meringis menahan sakit
__ADS_1
" sekali lagi gue peringatkan" sambil berjongkok raisa kembali meraih kerah baju doni.
" gue gak pernah buat masalah sama lo" bentak raisa lagi
" dan gue bisa bikin lo sama keluargalo celaka...."
" pilih hapus atau keluarga lo"
" gue bisa melakukan yang lebih..dari ini" peringatan raisa lagi kepada doni
kini raisa bangkit dari jongkoknya , ia memandang diki dan davit sama ketika ia memandang doni, tatapan membunuh yang sangat mematikan.
" he ..k.khe he..." doni tertawa...dengan menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya...
" dengan gue menghapus foto itu tidak membuat gue menyerah untuk menjadi penghalang ,untuk lo mendapatkan temen gue , dan gue akan jadi yang pertama untuk melindungi temen gue dari perangkap lo"
"uhuk....uhuk..." masih dengan terbatuk baruk doni melanjutnya kalimatnya
" gue gak rela jika teman gue yang begitu baik dan sempurna di mata gue harus masuk ke dalam perangkap lo"
raisa yang mendengar kata kata doni sedikit berfikir" mendapatkan teman gue, ngejebak temen gue , siapa? ia mengernyitkan dahi mencoba berfikir siapa teman doni yang coba ia goda , yang coba ia jebak......
" gue tahu lo bukan wanita baik baik, dan apa perlu gue beberin di sini siapa lo sebenarnya," doni melanjutkan kalimatnya
doni tersenyum sinis" walau gue terluka sekalipun...gue akan tetap menghalangi lo untuk mendekati raihan..."
dek.....raisa tersentak...". raihan...".ia bergumam sangat lirih, tapi gumamannya di dengar oleh doni
" foto foto itu membuktikan kalau lo bukan wanita baik baik... ...."
semua orang yang ada di kantin memandang raisa , tatapan yang di tujukan ke pada raisa bermacam macam ekspresi . raisa yang di tatap dengan tatapan curiga dari orang orang yang menatapnya hanya cuek..ia tak perduli toh selama ini ia memang selalu sendiri.
ada yang berbisik "wih...masak sih"
ada lagi yang bilang " gue gak percaya...ternyata dia"
ada lagi yang berteriak" wah...boleh dong nyoba...."
diki tersenyum puas...ia berhasil mempermalukan raisa
" hai....teman teman...mau lihat wanita ini ketika di club" doni kembali berteriak
" don kamu apan sih?" bentak davit
" don ...jaga bicaramu?!" kini giliran diki yang memperingatkan .
" kenapa?" kini doni bertanya kepada kedua temannya
__ADS_1
"jangan asal menuduh" hardik diki lagi
" kenyataan" ucap doni lagi
diki menghela nafas ia tau temannya keras kepala.
tanpa di duga duga oleh mereka raisa kembali menyerang doni " bugh...bugh..bugh...." tiga kali pukulan dari raisa ke tubuh doni membuat doni ambruk....
" kalau lo gak tau siapa gue jangan pernah berani bicara tentang gue" sambil menendang doni yang terkapar dengan kakinya membuat doni kembali mengerang keras
" akhh...akhh.."
semua orang terpaku, mereka tak menyangka raisa akan secepat itu menyerang doni,gerakan yang sangat cepat dan lincah .
"hentikan sa.!..apa yang kamu lakukan?!" suara yang lembut tapi terkesan tegas memaksa raisa menoleh melihat siapa pemilik suara itu meski ia hafal itu suara siapa karna sudah beberapa kali bersama.
"kamu tidak berhak memukuli orang seperti ini meskipun dia bersalah" suara lembut itu begitu menusuk hati raisa membuat raisa terpaku beberapa detik
" masalah bisa di selesaikan dengan baik baik?!" ucap pemilik suara lembut itu lagi
"temen lo yang mulai" kini giliran raihan yang di tatap tajam oleh raisa
raihan menarik nafas" apa masalahnya?"sambil berjalan ke arah doni dan menolong doni untuk bangkit
" tanya temen lo?!" bentak raisa
kini raihan memandang diki dan davit meminta penjelasan
" nanti" ucap diki tanpa suara hanya bibirnya yang bergerak.
diki dan davit membantu raihan mengambil kursi untuk doni duduk
"gue peringatkan sekali lagi! lo hapus foto itu?! kalau tidak keluarga lo akan hancur?!"
kini raisa berbalik meninggalkan orang orang yang memandangnya dengan tatapan yang berbeda beda....
"tunggu sa" raihan mengejar raisa yang sudah berjalan menjauh dari tempat itu setelah mengambil tas dan hapenya
raisa yang mendengar seseorang memanggilnya menghentikan langkahnya, ia menoleh melihat siapa yang memanggilnya
raihan mendekat , kini ia berada tepat di depan raisa
" benarkah yang ada di foto itu benar kamu?!" pertayaan menyelidik dari raihan membuat raisa mengernyitkan dahi
"kenapa?, ....itu memang gue...sekarang lo tau kan siapa gue? sambil menaruh tangannya di dada raisa berucap
raihan yang mendengar ucapan raisa merasa kecewa...ada perasaan sedih dalam hatinya yang sangat....tak bisa ia gambarkan....ia tak percaya itu benar benar raisa.....
__ADS_1
tanpa menunggu jawaban raihan , raisa pergi meninggalkan raihan..
raihan masih terpaku memandang kepergian raisa.rasa sedih dan kecewa yang ia rasakan seperti seseorang yang patah hati " apakah ini caramu untuk aku menjauhinya, apakah ini juga caramu dengan memperlihatkan sisi buruknya" raihan berkata dalam hatinya, ia mengusap wajahnya kasar.