
Raisa yang keluar dari kamar mandi melihat Raihan yang khusuk melakukan sholat Dhuha memilih keluar dari kamar .
ia tak ingin mengganggu Raihan yang sedang beribadah ,saat ingin keluar tak lupa ia mengambil hape dan sebungkus rokok yang ada di meja.
Raisa memilih duduk di meja makan dari sini ia bisa melihat bibik dan Mamang yang sudah selesai melakukan aktifitas pagi menyiram tanaman tanaman kesayangannya masuk ke dalam rumah.Meraka ikut duduk Raisa di meja makan untuk melakukan sarapan.
Raisa yang sibuk dengan hape serta sebatang rokok yang tak pernah ia lupa hanya melihat sekilas bibik dan Mamang yang duduk didepannya
" suami kamu mana ndok?" Mamang yang langsung mengambil nasi karena sudah sangat lapar.
mendengar kata suami membuat Raisa mengernyitkan dahi
ya benar kini dirinya sudah bersuami, entah pernikahan macam apa yang kini ia jalani.di satu sisi ia tidak menyukai ini,tapi di sisi lain ia adalah seorang istri, apa tugas istri dan apa kewajiban istri ia tidak berniat untuk melakukannya.
" di atas" tanpa mengalihkan pandangan dari layar hape Raisa menjawab pertanyaan Mamang.
" jangan cuek sama suami kamu, kamu harus melakukan tugas dan kewajibanmu sebagai seorang istri, jangan melupakan itu ndok" bibik tidak suka bila Raisa bersikap tidak baik terhadap Raihan,Raihan adalah sosok suami idaman bagi semua wanita,
"kamu harus bersyukur mempunyai suami seperti nak Raihan ,kamu salah satu perempuan yang beruntung di dunia ini, orangnya tampan, kalem ,sopan , rajin beribadah,pokoknya dia paket komplet sebagai suami, idaman para wanita dia.........juga"
" bisa diem gak?!" bentak Raisa saat bibik ingin melanjutkan kalimatnya,ia melirik bibik sekilas,menandakan ia tidak suka pembicaraan ini
"lebih baik bibik suapin aku makan, laper nih" ia Mandang bibik penuh permohonan,
" iya iya..."sambil mengambil nasi yang ada di meja,ia tidak tahan ditatap Raisa seperti itu, hatinya akan luluh seketika,hanya Raisa yang mampu membuatnya seperti ini.
Raisa kembali memfokuskan diri dengan hape, saat bibik akan menyuapi Raisa ,Raihan yang turun dari lantai atas mencegah bibik dengan isyarat tangan,ia memberi isyarat bibik bila ia yang akan menyuapi Raisa
Raihan mengambil piring yang di pegang bibik,ia duduk di sebelah Raisa setelah bibik bergeser ke samping
" cepetan dong bik laper" masih fokus dengan hapenya
perlahan Raihan menyuapi Raisa, ia tersenyum melihat istrinya tidak sadar jika ia yang menyuapinya
lama lama Raisa merasa tangan bibik kok terasa berbeda dari biasanya.tapi Raisa masih tidak perduli.
ia yang masih memfokuskan diri pada hape akhirnya memilih melihat tangan orang yang menyuapi,betapa terkejutnya Raisa mendapati orang yang menyuapinya bukanlah bibik melainkan suami barunya
ia memandang lekat lekat wajah tampan di sampingnya,ia sempat tertegun sebelum akhirnya ia berucap
" ngapain Lo di sini?" bentak Raisa tanpa sadar
"sa ...gak boleh ngomong Lo sama suami sendiri" ucap bibik
" cieh"...Raisa hanya berdecak, kenapa ia harus di atur dengan semua keadaan ini, ia memalingkan wajah menghindari tatapan tajam bibik
Raihan tersenyum" kan udah aku bilang kalau kita menikah aku yang akan menggantikan bibik untuk menyuapi kamu? apa kamu lupa?" ia memandang Raisa penuh cinta tatapan teduh yang selalu membuat Raisa salah tingkah "
"bik," Raisa memanggil bibik ia ingin bibik menyuapinya
Raisa mengambil piring dari tangan Raihan ia ingin memberikannya pada bibik,dengan cepat Raihan mengambil piring dari Raisa yang akan di berikan pada bibik.
"eh...apaan sih lo", gue mau di suapin bibik?"matanya melotot ke arah Raihan
" biar bibik makan ,kamu aku yang suapin" sambil mengarahkan tangan yang berisi nasi ke mulut Raisa
" gak...?!"suara Raisa sedikit keras
"kenapa? hmmmm,malu sama bibik" sambil menatap Raisa
__ADS_1
Raisa menarik nafas kasar ia benar benar tidak menyukai ini,bibik dan Mamang yang melihat hanya tersenyum mereka saling pandang menertawakan sikap Raisa yang tak bisa berbuat semaunya
" sini gue makan sendiri" sambil mengambil piring yang di pegan Raihan
" apa yang kalian tertawakan" ia memandang bibik dan Mamang yang menertawakannya,ia sedikit kesal
Raisa memakan makanan yang ada di piring ia yang tidak suka dengan ayam karena memakannya akan membuat tangannya penuh dengan minyak.ia membiarkan ayam bakar yang ada di piringnya utuh masih sama saat ia merebutnya dari Raihan
tanpa di minta Raihan yang sudah tau kebiasaan Raisa yang ini langsung mengambil ayam dan menyuwirnya.
Raisa hanya memandang Raihan sebentar,kemudian ia melanjutkan makannya.
"ndok...ambil makanan untuk suami kamu" perintah bibik pada Raisa
"dia bisa sendiri" dengan cepat Raisa menjawab
" ndok....?" kata mamang lebih ke perintah
" biar saya ambil sendiri mang,tidak apa apa?"
Raihan mengambil piring yang ada di meja ia sudah terbiasa mengambil makanan sendiri karena umi dan abinya mengajarkan pada dirinya untuk tidak tergantung pada orang lain.
Raisa yang sudah selesai makan beranjak berdiri " bibik minta uang dong?"
"kemarin aku udah ngasih kamu kartu,kenapa harus minta uang ke bibik?" dengan suara khasnya Raihan meminta penjelasan pada Raisa
Raisa menarik nafas " di warung gak nrima atm, nerimanya uang"dengan ketus Raisa menjawab
" oh....," sambil manggut manggut
" tunggu aku ambilin uang dulu ke atas " Raihan beranjak dari duduknya
Raisa berjalan menuju kulkas ia mengambil dompet bibik yang ada di atas kulkas ia lalu mengambil uang berwarna merah dua lembar
" aku ambil dua bik" Raisa memberi tahu bibik jumlah uang yang di ambilnya.
" sa..ijin suami kamu kalau kamu mau pergi," Mamang memerintah Raisa agar berpamitan kepada Raihan,bagaimanapun Raihan adalah suaminya sekarang
" cieh" Raisa berdecak...ia menarik nafas untuk mengumpulkan ke sabarannya
tanpa ingin berdebat lagi akhirnya Raisa mendekati Raihan" gue ke depan beli rokok" ia pamit pada Raihan dan beranjak dari pergi,tapi belum sempat ia melangkah jauh kini giliran bibik yang memerintah ya
"cium tangan suami kamu ndok" Raisa semakin kesal di buatnya, ia ingin membantah tapi ia tidak mau membuat bibik kecewa padanya
tanpa berbicara lagi Raisa meraih tangan lebar yang sangat halus itu, perlahan ia mencium tangan putih di depannya, ia memejamkan mata ada perasaan yang tidak bisa ia gambarkan yang coba ia tepis
ia melepas tangan Raihan ,matanya memandang bibik " apa lagi" tanpa suara ia hanya menggerakkan bibirnya. bibik tersenyum memandangnya
Raihan tersenyum melihat Raisa yang tak berdaya terhadap perintah kedua orang tuanya, saat Raisa pamit ia merasa menjadi suami yang di hargai walau ia tahu Raisa terpaksa.
" jangan lama lama, cepet pulang" bibik yang tahu Raisa kesal padanya memilih kata kata itu untuk meredam kekesalan Raisa. ia tahu kebiasaan Raisa yang betah sekali kalau sudah nongkrong .
" hmmmm..." Raisa hanya menjawab dengan deheman.ia berjalan keluar menuju tempat tongkrongan,ia tak memperdulikan Raihan yang terus memandangnya. ia ingin membeli rokok karena rokoknya sudah habis tinggal beberapa batang.
" sabar ya nak Raihan" ucap Mamang yang tiba tiba sudah ada di sampingnya,Mamang menepuk pundaknya pelan,sebagai tanda menguatkan Raihan.
" iya mang..karena ini sudah menjadi pilihan saya" Raihan tersenyum pada Mamang senyum yang memperlihatkan ketulusan.
" nanti kalau Raisa lama susul aja dia, di warung depan sana, arah mau masuk ke perumahan ini" raihan yang mendengar saran bibik hanya tersenyum,
__ADS_1
" wah....benar sekali usul bibik" dalam hati Raihan berbicara sendiri.
sementara itu Raisa yang sudah ada di tongkrongan memesan kopi,ia berjalan dari rumah ke warung depan gang sekalian olah raga.
"oh ada nak Raisa .." kata salah satu pengunjung warung kopi
Raisa hanya melihatnya sekilas ia kembali asik dengan dunianya
warung kopi di sini sangat ramai Raisa suka sekali nongkrong di sini jika ada waktu, semua kalangan ada di sini mulai dari pejabat,preman serta tukang ojek dan juga tukang becak, Raisa sesekali mendengarkan guyonan mereka ia senang melihat keakraban di antara mereka, hanya dengan meminum secangkir kopi di warung bisa membuat mereka melupakan latar belakang .
"neng raisa traktir ya..." kata salah satu bapak yang sering nongkrong di warung
Raisa memandang laki laki itu ia mengangguk tanda setuju.
mereka semua sudah tahu sifat Raisa,ia senang mentraktir mereka tapi ia tidak suka di ganggu.
tanpa Raisa sadari Raihan sudah ada di sini Raihan melihat Raisa yang sibuk dengan hapenya
" assalamuallaikum" Raihan memberi salam pada orang orang yang ada di sini
" waalaikumsalam,mereka semua kompak menjawab, Mereka memandang Raihan dari atas hingga ke bawah ,mereka tidak pernah melihat laki laki di depannya ini. mereka yakin kalau laki laki ini mungkin orang baru di sekitar sini
" baru pindah?" tanya seseorang yang ada di warung
Raihan tersenyum mengangguk,ia kemudian ikut bergabung dengan mereka,Raisa yang sibuk dengan dunianya benar benar tak menyadari keberadaan suaminya .
sesekali Raihan melihat Raisa ia tersenyum melihat Raisa yang super cuek terhadap penampilannya, rambut yang di gulung ke atas secara asal serta wajah yang tanpa make up sama sekali ,bahkan ia percaya diri walau belum mandi.
" jangan macam macam sama dia" seseorang berbisik padanya,
Raihan melihat laki laki yang berbisik padanya,ia mengernyitkan dahinya," kenapa?" tanyanya penasaran
" dia pokoknya berbahaya, jangan coba dekat dekat dengannya, bisa remuk tulang kamu di hajar sama dia" masih dengan berbisik laki laki itu memberitahu Raihan
"oh...." Raihan hanya beroh ria
"tapi mbak Raisa juga baik mas dia senang mentraktir kita" kata bapak yang sudah tua yang mendengar percakapan mereka
"kalau gak bikin masalah,dia gak akan menghajar orang seenaknya"ternyata mereka sudah tahu kebiasaan raisa
"udah..jangan memandang dia terus...bisa bisa nanti kamu di hajar...,"
Raihan tetap memandang Raisa ,sebenarnya ia ingin tertawa tapi ia tahan
Raisa yang jenuh dengan hapenya mencoba mengedarkan pandangannya ,saat matanya tanpa sengaja bertemu dengan mata teduh yang coba ia hindari ia terperanjat kaget
Raisa menarik nafas ia mematikan rokoknya dan meminum kopi yang belum sempat ia minum,mencoba menetralkan perasaan hatinya.
Raihan yang di pandang Raisa saat mata mereka bertemu tersenyum ,ia tahu Raisa terkejut melihatnya.
" aduh...dia melihat kita mas"" kata laki laki yang tadi berbisik pada Raihan
"alamat bisa babak belur deh kita" dengan sedikit takut
Raihan beranjak dari duduknya ia berjalan menuju Raisa
" mas jangan mas.."
" jangan memancing keributan mas"
__ADS_1
orang orang di sana memperingatkan Raihan ia tidak mau Raihan babak belur.mereka merasa was was dengan apa yang akan terjadi.