
Raihan berjalan menuruni tangga ia bertemu umi,syanum dan budenya di ruang keluarga,
" mana raisanya Abang....di tungguin?" umi bertanya padanya saat melihatnya turun.
" emmmm...." Raihan mencari alasan yang tepat agar umi syanum dan Bude tidak berfikir yang aneh aneh
" Raisa lagi datang bulan umi?" ide yang terlintas di kepala Raihan saat ini
" wah...kasian dong pengantin baru kita harus puasa?" goda bude padanya
" hehe...." dengan senyum yang lebar mencoba menutupi kebohongannya
" Raihan ke masjid dulu umi bude," pamit Raihan pada mereka berdua,
saat ia berjalan melewati syanum jiwa usilnya tiba tiba saja muncul ,dengan gerakan tak terduga ia mencubit pipi syanum
" Abang......!!" teriak syanum
" ha ...ha..." Raihan tertawa melihat adiknya kesal...ia berlari agar syanum tak bisa membalas perbuatannya
"awas ya nanti aku balas" teriak syanum lagi yang masih di dengar Raihan
" syanummmm.....?"panggil umi sambil matanya sedikit melotot
" anak gadis gak boleh teriak teriak!"
" abang sih mik...sakit hidungku?" syanum terlihat cemberut
" ayo kita sholat dulu,...?"ajak umi pada syanum
"ya sudah kita sholat di masjid aja" kini giliran bude yang mengajak jamaah di masjid.
akhirnya mereka bertiga berangkat ke masjid
sementara itu di kamar Raihan Raisa sedang duduk di balkon ia melihat para santri dan pengurus pesantren berbondong bondong ke masjid
ia melihat Raihan sedang berjalan dengan seorang perempuan, sepertinya mereka cukup akrab,terlihat mereka sedang tertawa bersama.
melihat hal itu membuat hati kecil Raisa seperti ada yang mencubit.
ia juga melihat mertuanya dan juga dua orang yang berjalan beriringan menuju masjid
ia duduk di balik kursi panjang yang sengaja raihan letakkan agar bisa melihat matahari terbenam, ia membukukkan badannya agar ia tak terlihat.
ia berfikir kebohongan apalagi yang Raihan ucapkan pada umi.
selama duduk di balkon Raisa menghabiskan beberapa batang rokok hingga rokok yang ia miliki habis sama sekali,ia berencana akan keluar untuk membeli rokok. selama orang orang sholat magrib ia bisa keluar agar orang orang tak melihatnya. nanti ia akan kembali dengan cepat.
Raisa yang kelamaan berfikir untuk mencari ide melihat satu persatu orang orang keluar dari masjid "ah ....sial...." umpatnya dalam hati
Raisa menarik nafas ia jadi bingung bagaimana caranya nanti ia akan keluar dan membeli rokok. ia tidak bisa jika tidak merokok.
"tok...tok....tok...." suara pintu kamar kembali di ketuk oleh seseorang
Raisa yang mendengar suara pintu di ketuk beranjak dari duduknya ia berfikir mungkin itu Raihan
saat pintu ia buka betapa terkejutnya Raisa,sosok perempuan berhijab dengan pakaian seperti dirinya
ia pernah melihat perempuan ini,tapi di mana ya....Raisa sempat berfikir dan saat ia ingat siapa perempuan ini,
ya.....dia adalah adiknya Raihan, yang sangat menentang jika Raihan menikahi dirinya
" baru dua hari menikah dengan kakakku lo sudah buat ia berbohong sama umi ,bude dan juga gue..." dengan sadis syanum berbicara
" maksud Lo?"dengan sedikit mengernyitkan dahinya
"jangan sok atau berlagak gak tahu?" masih dengan ekspresi yang tidak suka
"Lo tahu....... baru kali ini kakakku berbohong demi keburukan" dengan memandang tajam ke arah Raisa
__ADS_1
Raisa mengusap wajahnya kasar
"bukan aku yang memintanya" jawab Raisa tak kalah sadis
" abangku mencintai orang salah, dan Lo gak pantas mendapatkan cintanya"
Raisa mengedikkan bahunya
" bilang sama abang Lo bukan dengan gue" Raisa memutar badannya ia ingin mengabaikan kata kata adiknya Raihan, " aku memang tidak ingin di cintai siapapun" dalam hatinya berkata
"gue ke sini cuma mau bilang Lo di tunggu umi" syanum memandang Raisa dari atas sampai bawah,
" jangan jadi perempuan munafik di depan keluarga gue" syanum berbalik dan pergi meninggalkan Raisa yang masih terbengong
" gue munafik ....he....." Raisa berbicara pada diri sendiri,
ia enggan untuk turun tapi jika ia tidak turun pasti ia akan di bilang tidak tahu diri.
akhirnya Raisa melangkah keluar dari kamar ia menuruni tangga, fikirannya melayang,rasa tak nyaman tiba tiba saja muncul di hatinya.saat di tengah tengah tangga ia berpapasan dengan raihan yang mau naik ke atas.
" kirain Abang kamu belum turun, "
Raisa hanya melirik saja Raihan yang ada di bawahnya
" ayo..,.., kita sudah di tunggu umi,Abi, sama bude dan pak de".raihan menggandeng tangan raisa.di raihnya tangan Raisa yang kasar dengan pelan Raihan meremas lembut tangan Raisa dan menuntunnya menuju ke ruang makan. kali ini Raisa tak menolak saat Raihan menggandengnya
benar apa kata Raihan di meja makan sudah ada umi, Abi ,dan syanum yang memasang wajah jutek padanya.
ada dua orang lagi yang Raisa tidak tahu,mungkin itu bude sama pakde Raihan
umi langsung berdiri dan mendekatinya, ia memeluk Raisa dengan penuh rasa sayang
" gimana kabar kamu sayang?"
" baik umi"
Raihan tidak menceritakan secara detail siapa Raisa. mungkinkah kebohongannya kelak akan menjadi bumerang bagi hubungannya dengan Raisa.
"kenalkan ini bude sama pakde Raihan kakak dari abi"umi memperkenalkan Raisa pada bude serta pakde
Raisa berjalan mendekat ke arah bude dan menyalaminya
" kerudung kamu mana?!"tanya bude Hanna"
" Raisa belum ada panggilan dari hati bude, biarkan Raisa mengalami proses berhijrah tanpa pemaksaan" jawab umi dengan cepat,ia tidak mau terjadi keributan
Raisa melirik ke arah Raihan di lihatnya laki laki itu diam saja
" saya tidak pakai kerudung bude" Raisa ingin jujur ia tidak ingin terjadi hal buruk ke depannya
"kenapa gak pakai kerudung,perempuan wajib Lo menutup auratnya"
" jangan biarkan istri kamu mengumbar auratnya, ini tanggung jawabmu" ucap bude sedikit meninggi,
"iya bude?"
Raisa menarik nafas panjang,inilah yang tidak ia inginkan perbedaan latar belakang akan menjadi masalah suatu saat nanti.
saat mata Raisa tanpa sengaja bertemu dengan mata umi ,umi memberi isyarat dengan anggukan yang membuatnya tenang.
kini Raisa sudah duduk di sebelah Raihan di depannya duduk bude serta pakde
"anak pak kiyai pondok pesantren mana?"tanya bude Hanna tiba tiba
Raisa memandang raihan tatapannya mengatakan ia yang harus menjawab
" bukan anak pak kyai bude?"
bude Hanna menatap Raisa seolah ingin mencari sesuatu tentang raisa
__ADS_1
"orang tua kamu pekerjaannya apa?"
"pembantu" jawab Raisa
"o......a" sambil manggut manggut
"pernah mondok dimana?" kembali bude mengajukan pertanyaan yang enggan Raisa jawab
" Raisa tidak pernah mondok bude" Raihan lagi yang menjawab pertanyaan bude,Raisa hanya diam.
"oh...." bude Hanna hanya ber oh
saat satu persatu orang yang ada di meja makan mulai mengambil makanannya kembali bude melontarkan pertayaan
" sudah khatam berapa kali" tak berhenti bude mencerca Raisa pertanyaan.
semuanya diam Raihan bingung harus menjelaskan kepada budenya
sedang umi terlihat sangat kuwatir, Abi yang melihat situasi mulai tak nyaman mencoba menengahi.
"Raisa baru belajar menuju arah yang lebih baik kak?"
" jadi perempuan seperti ini yang kamu nikahi?" dengan amarah bude Hanna berbicara
"kamu tahu kamu penerus keluarga kita ,dan kamu yang nantinya akan menggantikan Abi kamu mengurus pesantren ini, harusnya kamu memilih istri yang tepat untuk mendampingi kamu mengurus pesantren ini?" nafas bude Hanna naik turun dengan cepat ia benar benar emosi
Raisa yang mendengar Raihan di marahi bude hatinya merasa sakit, ia diam saja memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya,
"bagai mana kakek dan nenek kamu sebagai pendiri pesantren ini melihat kalau cucunya tidak bisa memilih istri yang Solehah"
semua orang terdiam ,sepertinya bude Hanna begitu di hormati di sini.
" tenang dulu mik" pade mencoba menenangkan istrinya
" igstifar mik" ucap pak de lagi
" ceraikan dia, bude akan carikan perempuan yang Solehah untuk kamu" kembali bude berteriak
" astagfirullah"...semua yang ada di sana menyebut igstifar
" kak" Abi mencoba memperingatkan
" bude...." kini giliran umi
" maaf bude sebelumnya" Raihan harus bicara meluruskannya ia tidak mau Raisa di hina, kini Raisa adalah tanggung jawabnya.
" Abang..."Abi mencoba memperingatkan Raihan
" Bi...... biarkan Abang menjelaskan ?" raihan memohon pada abinya.
tanpa menunggu jawaban dari Abi Raihan mulai menjelaskan
" Raihan sudah dewasa bude.raihan tahu apa yang Raihan pilih dan Raihan putuskan"
" dewasa kamu bilang, milih istri aja gak pecus kamu bilang dewasa" kembali bude Hanna marah marah
" umik.........." pakde memperingatkan dengan sedikit meninggikan suaranya.
" kita makan dulu kak, nanti kita lanjutkan lagi?" Abi tahu sifat kakaknya yang keras kepala apa lagi ini menyangkut pesantren.
Raisa yang mendengar dirinya di hina menahan emosi,ia akan langsung membalasnya tapi kali ini ia menghormati Abi dan umi
Raihan memegang tangannya lembut memberi kekuatan semuanya akan baik baik saja.raihan tahu Raisa sedang menahan emosinya dari cara ia memegang erat tangan Raihan
Raihan memandang Raisa ia menganggukkan kepala agar Raisa tenang ia akan membela mati Matian istrinya.
" keputusan bude sudah bulat kamu ceraikan Raisa sekarang juga , latar belakangnya saja tidak jelas?" bude menatap tajam ke arah Raisa
semua yang ada di situ kembali terkejut hanya syanum yang senang mendengar permintaan bude.
__ADS_1