
Kini raisa sudah ada di kampusnya , ia sengaja datang lebih awal untuk mencari keberadaan orang yang telah memfoto dirinya yang sedang minum....
kini ia berada di kantin memilih tempat favoritnya meja paling pojok, mengamati setiap orang yang masuk dan keluar mencari sosok laki laki yang di carinya...
tiba tiba ada wajah laki laki yang ia cari sudah berada di depannya bersama beberapa temannya, ia masih santai sambil menghisap rokoknya, sambil memperhatikan apa yang laki laki itu lakukan
" boleh kita semua duduk di sini" sambil tersenyum miring, tanpa mendapat persetujuan raisa ia sudah menggeser tempat duduknya dan meminta teman temannya untuk duduk
raisa menarik nafas seolah tak menganggap mereka ada
"kenapa duduk di sini sih...kayak gak ada tempat lain aja" diki yang masih kesal terhadap raisa merasa malas kalau berada dekat denganya , sikap acuh dan tak perdulinya terhadap orang lain di sekitarnya membuatnya terlihat sombong
" udah duduk sini aja noh lihat semua punuh" kata doni sambil menarik tangannya untuk duduk.
" raihan mana?" tanya davit yang ikut mendudukkan pantatnya di kursi sebelah doni.
" masih ada urusan di perpus sama aisyah"
" cie cie lancar dia...." kata davit lagi
"udah jangan cerewet kayak cewek sana pesen makanan" timpal diki.
"ogah pesen sendiri" kata doni
" mas..pesen bakso satu sama es jeruk" , doni memesan makanan, diki ikut menyahut
" nasi goreng satu sama teh anget" davit menyahut omongan doni
"gue sama mang kayak doni.. mang"
mereka mengobrol entah apa yang mereka obrolkan satunya ada yang memukul lengan
" eh apan sih lo don sakit tau?! sambil membalas menjitak kepala doni
"gila lo ya vit sakit banget" sambil mengelus kepalanya yang di jitak doni
" gue juga sakit tau" sambil mengambil hape dalam sakunya dan mulai menyibukkan diri dengan benda itu
" eh ...lo kemarin ngirim gambar ke gue katanya ada barang baru, tapi kenapa wajahnya lo buat blur don? davit yang penasaran dengan foto yang di kirim doni mencoba bertanya pada diki sebelum dia lupa
" gue juga dapet tuh kiriman dari doni tapi juga sayang nih wajahnya di buat blur , beneran cantik gak aslinya, tapi kayaknya gue rada rada kenal deh sama nih cewek"
" lo dah tau orangnya" sambil melirik raisa yang juga sedang meliriknya, doni menscroll layar hapenya sambil menunjukkan
ke teman temannya,
" eh anak kampus sini gak? kata davit
__ADS_1
" masak sih kampus elit ada yang jual diri" timpal diki
" mungkin aja kepepet" ucap doni yang kembali melirik raisa dengan senyuman mengejek.
" murah gak" kata davit lagi
" boleh dong nyoba" kata diki sambil tertawa
" emang berani? ejek doni
" kalau cantik and murah boleh lah" kini davit ikut tertawa
" gak takut sama pak kiyai" kata doni sambil mensecroll layar hape menaik turunkan mencari sesuatu...
" ya jangan bilang lah sama pak kiyayi entar dapat ceramah tujuh hari tujuh malam gak kelar kelar."..ha...ha...ha.. mereka semua tertawa bersama setelah davit berbicara..
raisa yang masih berada di dekat mereka masih meperhatikan dalam diam , menunggu saat yang tepat untuk menyerang....
" lo dah pernah kontak dia belum?" davit yang penasaran sekali dengan cewek yang ada di foto itu kembali bertanya pada doni
obrolan mereka berhenti ketika pemilik kantin datang membawa makanan pesanan mereka.
" nih makanannya dah datang pesanan seperti mau kalian......?"sambil meletakkan makanan ke atas meja
"kok nak raihan gak kelihatan di mana dia?:"tanya mamang pemilik kantin
" kita kita yang ada gak di tanya, ?" mamang hanya tersenyum manis saat doni balik bertanya,
" mantu idaman....mamang itu..haha...ha.. boleh lah buat mantu.... buat anak gadis mamang yang cantik"...merek bertiga kompak mendengus
" kita kita juga bisa jadi mantu idaman , buat saya aja mang anaknya yang cantik?" ucap doni yang selalu bersikap ala ala play boy, sambil mengaduk aduk kuah bakso , agar sambal, caos dan juga sedikit kecap manis tercampur sempurnah.sambil mencicipi apa sudah pas apa belum,"wah...mantap" sambil mengarahkan jempolnya ke arah mamang
" mamang maunya nak raihan..dah jatuh hati sama sikap dan kelakuannya" sambil malu malu mengungkapkan
"emmm...." kata davit mencibir lagi" mang anak mamang umur berapa?
"he..he...sepuluh tahun?"
" apa?" mereka bertiga kompak
" gila ni mamang masak sepuluh tahun mau di jodohin, ntar anak mamang umur tuju belas tahun, raihan ke buru dah tua mang? kini gantian diki yang berucap
"gak papa asal menantunya kayak nak raihan, top abis di jamin masuk surga?" raisa yang mendengar obrolan pemilik kantin dengan ketiga teman raihan mengena hatinya.. tiba tiba hatinya gelisah mendengar nama raihan, di mata orang orang ia terlihat sempurna. tidak seperti dirinya yang selalu terlihat buruk.
" mang pesenanku mana buruan mau telat nih" seseorang memangil pemilik kantin agar cepat cepat melayaninya.
" iya bentar ...,?!!! keasikan ngobrol bisik mamang kepada doni, diki dan davit...." ia berjalan meninggalkan ketiga teman raihan "mamang tinggal dulu...pesen sama nak raihan supaya mau jadi mantu saya?!" dengan suara sedikit keras .
__ADS_1
" ogah !?" jawab mereka kompak
mamang yang mendengar jawaban mereka hanya mendengus sambil melayani pesanan para mahasiswa yang lapar.
saat mereka tengah asik makan dan mengobrol tanpa sengaja davit melihat gelang yang di pakai raisa sam dengan gelang yang di pakai oleh cewek yang ada di dalam foto itu, untuk memastikan fillingnya .ia membuka hapenya ia cari kontak dari doni dan membuka wa nya ia kembali melihat pergelangan tangan raisa yang terdapat gelang dan mencocokkan dengan gelang yang ada di pergelangan cewek yang ada di dalam foto, benar benar sama. ia kembali mengulangi guna memastikan kebenarannya...tanpa sadar ia berguman sambil melihat raisa " ternyata cewek itu lo" gumaman yang sedikit keras itu di dengar oleh raisa diki dan doni.
" kenapa vit?" diki yang mendengar gumaman davit melirik davit mwncoba meminta kejelasan
" di cewek ini" sambil menunjuk raisa dan bergantian ke layar hapenya tapi matanya mengarah ke arah doni meminta kepastian
" maksud lo " diki semakin bingung melihat sikap davit yang terbengong bengong seperti tak percaya.
raisa yang melihat sikap davit tetap memasang sikap acuh...sambil melihat situasi kapan saat yang tepat untuk bertindak.
" lihat hape kamu " tunjuk davit pada diki sambil sedikit berbisik
" iya ..apanya yang di lihat"..masih belum mengerti, tangan satunya sibuk memasukkan makan ke mulutnya sedang tangan satunya sibuk mencari sesuatu yang mencoba di tunjukkan oleh davit...
doni yang melihat kelakuan diki yang tak paham , tentang kode yang di berikan davit tersenyum senyum....sebentar lagi temannya ini bakalan kaget....
dengan tak sabar davit langsung meraih hape diki dan menunjuk foto yang ada di dalam hapenya "ini....ni...nih....coba lihat ?!" kembali dengan suara sedikit lirih
" kenapa dengan foto ini, lo dah tau orangnya" ucap diki tanpa beban
davit memutar bola matanya, ia sedikit jengah akan sikap temannya yang tak paham di beri kode..
" lo lihat gelang yang di pakai cewek ini sama dengan yang di pakai raisa " sambil menunjuk raisa
diki yang mendengar ucapan davit merasa terkejut , ia memandang raisa ia langsung melihat pergelangan tangan raisa yang masih memegang sebatang rokok yang belum habis ia hisap , ia melihat gelang yang sama dengan yang dipakai cewek yang ada di dalam foto itu.sama seperti davit beberapa kali ia memastikan ulang , dan memang sama persis. diki dan davit melihat ke arah doni meminta jawaban. dan doni yang mengerti sikap ke dua sahabatnya hanya memberi anggukan kepala tanda bahwa itu benar.
mereka berdua terbengong....sebelum akhirnya diki menghembuskan nafas kasar...ia sedikit tahu tentang raisa , karna sudah sering ketemu karna ajakan sahabatnya raihan yang minta ia temani .walau ia tak suka dengan sikap dan kelakuan raisa , raisa bukan orang seperti itu..pikirnya....
"kalau lo ma nego sama dia, nih mumpung orangnya ada di sini? ucap doni sambil menaruh tangannya di dada dan menyenderkan tubuhnya di kursi, tapi tatapannya mengarah ke arah raisa.
" murah dia"..ejek doni lagi
diki kembali mendengus" jangan macam macam" ia mencoba memperingatkan...karna ia sedikit tahu siapa raisa..
" kenyataan kan kalau lo wanita penghibur atau.....sambil menjeda kalimatnya...wa ni ...ta pang ...gi..lan " sambil tersenyum mengejek
" jaga bicaramu don" diki kembali memperingatkan ,ia tahu ..jika raihan mendengarnya pasti tidak akan suka....mungkin sebentar lagi temannya akan ke sini.
" itu kenyataan ..benarkan raisa yang sok berwajah dingin dan angkuh.....?"
davit yang menyaksikan berdebatan doni dan diki hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa apa...ia masih tak percaya ..cewek di depannya ternyata wanita panggilan...
raisa yang sudah tak tahan dengan hinaan dari doni mulai melakukan aksinya ia mengangkat satu kakinya ,dengan sekali hentak ia mendorong kursi doni hingga membentur tembok." brak..."..suara keras akibat kursi yang patah dan suar doni yang menjerit kesakitan akibat tubuhnya jatuh ke lantai, semua orang yang ada di kantin seketika menoleh mencari sumber suara.
__ADS_1