
pov raihan
saat ini aku duduk di depan abi dan umiku, dan di sinilah perjuanganku untuk mendapatkan raisa dimulai,aku mengutarakan keinginanku untuk menikah , mereka orang pertama yang harus tahu bahwa anaknya mencintai seseorang yang jauh dari apa yang selam ini mereka harapkan untuk menjadi pasangan hidupku..
" abi ....umi" aku mencoba memberanikan diri untuk memulai pembicaraan, aku menarik nafas dalam dalam untuk menutupi kegugupanku.rasanya seperti bom yang ingin meledak, apakah mereka akan menerima pilihanku atau mereka akan sangat menentang apa yang menjadi pilihanku, jika mereka menentang apakah aku harus menyerah......haruskah aku meyerah...ataukah aku harus berjuang meyakinkan mereka.aku memilih waktu santai di siang hari untuk membicarakan semua ini .saat abi sedang minum teh dan umi sedang memandangi semua tanaman bonsaynya.
mereka berdua menatapku terlihat jelas jika mereka ingin segera tahu apa yang ingin aku bicarakan.sebelum aku melanjutkan kalimatku aku menarik nafas panjang seolah merasa semuanya tidak akan mudah
" abang ingin menikah bi...mik...." akhirnya kata kata yang sulit aku ucapkan keluar juga, aku melihat mereka terbengong sebelum akhirnya mereka berdua saling pandang.
" menikah?!" mereka berdua kompak mengucapkan kata yang sama
" iya bi ....mik"...aku kembali menjawab
" dengan aisyah" tebak umik
" jika dengan dia abi setuju" kini giliran abi yang mulai ikut ikutan
aku membuang nafas kasar, bagai mana harus menjelaskan pada mereka
" bukan dengan aisyah mik" kulihat abi mengerutkan dahinya , sedang umik kaget luar biasa
" kok bisa tidak dengan aisyah umik kira kalian ta'aruf"
" pasti wanita itu lebih segalanya dari aisyah,
" pasti calon istri kamu orang hebat"
umik panjang lebar menerka sosok perempuan yang ingin aku nikahi
abi sama umi terlihat antusias dengan perempuan pilihanku yang belum mereka ketahui.
" bi....mik..." aku memberanikan menatap kedua mata abi dan umi,untuk meyakinkan mereka jika pilihanku tidak salah
" namanya raisa, sejak melihatnya abang merasa ada yang berbeda di sini" aku menunjuk dadaku sendiri."
" dia anak seorang kiyai? kiyai mana?apa abi mengenalnya? abi mulai memberondongku dengan banyak pertanyaan.
" bukan anak seorang kiyai bi?...."aku mencoba memotong kata kata abi
" pernah mondok di mana ?"tanya umik tak mau kalah.aku harus berani mengatakan kebenarannya pada umik dan abi tentang raisa sebelum ia tau kebenaran dari orang lain tapi jika mereka tau kebenarannya apa mereka akan berbesar hati menerimanya.tapi aku tau umik dan abi orang yang selalu terbuka dan mau menerima siapa saja. mereka tidak pernah membedakan seseorang.hal itu juga yang mereka ajarkan kepadaku.
"bukan anak pondokan mik....."
mereka berdua tercengang mereka saling memandang entah apa yang mereka berdua fikirkan
__ADS_1
" Raisa bukan anak kiyai atau anak pondokan, dia wanita biasa, dia juga..."belum selesai aku melanjutkan kalimatku abi sudah memotong kata kataku.
" kami berdua akan selalu mendukung apapun pilihan abang, kami yakin abang sudah besar sudah bisa memilih yang terbaik untuk abang atau yang tidak baik untuk abang ." abi memang seorang yang bijak sana.
" Tapi bi....ada hal yang harus abi tahu?"aku mulai nyaman berbicara dengan abi dan umi tentang raisa.
" raisa tidak memakai hijab , emmm dia juga sedikit emmm..." aku bingung memilih kata yang tepat untuk menjelaskan keadaan raisa.
" bisa di bilang...dia sedikit nakal emm...maksudku...dia suka berkelahi dan balapan" akhirnya aku bernafas lega bisa mengatakan ini pada abi dan umi" walau aku melihat mereka sangat sangat terkejut
abi memandang umi sebelum ia melanjutkan pembicaraan ini.
aku melihat abi menarik nafas , aku menunggu apa yang akan abi katakan
"abi dan umi orang tua abang, abi dan umi juga sangat mengenal abang, jika abang sudah memutuskan sesuatu pasti abang sudah memikirkannya dengan sangat matang kami berdua hanya bisa mendukung abang sebagai orang tua abang"
umi juga tersenyum lembut kepadaku " apapun pilihan abang semoga abang bahagia dan bisa bertanggung jawab itu pesan umi sama abi" umi berjalan mendekat kepadaku ia lalu duduk didekatku, "kapan abi sama umi harus melamar...em...siapa namanya?"
" raisa" jawabku
"iya raisa" ulang umik
" bi ....mik....jika kalian tahu tentang raisa, apa kalian akan malu dengan pilihanku, karena dia bukan perempuan yang seperti kalian harapkan" aku memandang umi dan abi bergantian mencari jawaban tentang pertanyaanku dari mata mereka.
kembali umi tersenyum" kami akan bangga ke pada abang jika abang bisa membawa kebaikan untuk raisa". aku langsung memeluk umik, dia memang orang tua yang hebat
" kapan kapan ajak ke sini?" ucap abi
aku hanya mengangguk sambil tersenyum , aku tak bisa menutupi kebahagiaanku.tapi masih ada yang mengganjal di hatiku, aku tak menceritakan tentang taruhan itu kepada abi dan umi .
hari ini aku memberanikan diri datang ke rumah raisa, setelah solat isyak aku berangkat menuju rumahnya, jalanan hari ini terasa padat sekali hingga terjadi kemacetan.hampir satu jam terjebak macet akhirnya aku sampai di rumahnya, aku sengaja datang sendiri ingin melamar raisa pada orang tuanya. aku ingin meminta putri mereka untuk aku jadikan istriku, di sinilah perjalanan ku yang sesungguhnya untuk mendapatkan raisa sekaligus restu kedua orang tuanya, setelah mendapatkan restu kedua orang tuaku kini giliranku untuk mendapatkan restu kedua orang tua raisa.
kini aku sudah berada di depan rumah raisa ,ku ketuk pintu depan rumahnya, ku ucap salam beberapa kali .
"asalamuallaikum" aku mendengar ada seseorang berjalan mendekat dan pintupun di buka, ternyata mamang yang membukanya
" waalaikum salam"
" oh..nak raihan" senyumnya yang ramah menyambut kedatanganku.
" cari raisa ya?" tapi raisanya gak ada di rumah?"
"ayo masuk dulu..." ajak mamang ke padaku.aku pun mengikuti mamang masuk ke dalam rumah, ia langsung mempersilahkan aku untuk duduk, kami memilih duduk di ruang tamu.
" raisanya sudah keluar dari jam tujuh tadi nak?" jelas mamang.
__ADS_1
" saya tidak mencari raisa mang...tapi saya ingin berbicara dengan mamang dan bibik" ucapku kemudian
"ha ha ha....tak kirain cari raisa, kalau begitu mamang panggil bibik dulu" sambil berdiri dan berjalan menuju ke dalam.
tak menunggu lama bibik dan mamang keluar dari dalam , bibik membawa teh dan beberapa kue.mereka lalu duduk di depanku, bibik menaruh teh dan cemilan di depanku.
" kata mamang nak raihan mencari kita? apa ada hal yang penting?!" aku menarik nafas mengumpukan keberanian yang aku miliki.
" saya mau melamar raisa untuk menjadi istri saya?" aku bernafas lega karena bisa mengeluarkan kata kata itu sekali tarikan nafas.sama seperti kedua orang tuaku, begitupun kedua orang tua raisa mereka sangat terkejut
" coba ulangi lagi nak raihan" ucap mamang
aku menjadi bingung, apa mereka marah padaku karena mengganggu .
" ayo ulangi lagi" kini giliran bibik yang memerintahku
" saya akan menikahi raisa"ulangku lagi agak terbata.
" benarkah nak raihan mau menikahi raisa?"bibik memandangku seolah menyiratkan bahwa apa kata kataku benar atau salah.
" benar bik ? "saya ingin melamar raisa untuk menjadi istri saya, apa bibik dan mamang setuju jika saya menikah dengan raisa" seperti abi dan umi, merek juga terbengong , seolah ucapanku hanya candaan
" ini seperti mimpi pak," ucap bibik sambil tersenyum
" iya buk....anak kita ada yang mau menikahi" ucap mamang balik ,aku lihat mata mereka berkaca kaca, apa mereka sedih atau behagia
"terima kasih jika nak raihan mau menikahi anak kami, tapi apa nak raihan sudah tahu kelakuan anak kami?"mamang menatapku sedih
"saya sudah tau sifat dan kelakuan raisa mang? jelasku lagi pada mereka.
" kami sangat bersyukur jika raisa mendapatkan suami seperti nak raihan, raisa berhak bahagia?" ku lihat bibik mengelap air mata yang keluar dari kedua matanya.
" restui saya untuk mendapatkan raisa bik ...mang" aku memandang mereka berdua bergantian.
" tanpa nak raihan minta kami berdua pasti akan merestui nak raihan. dengan senyum yang mengembang di kedua bibir mamang dan bibik.
" apa orang tua nak raihan mengetahui ini, apa mereka juga tahu tentang raisa?" mereka terlihat cemas saat mengatakan ini
aku tersenyum sebelum berbicara kembali, mencoba menenangkan mereka dengan senyuman
" abi sama umi sudah tahu tentang raisa , saya sudah menceritakan semuanya pada umi dan abi, dan.....mereka mendukung semua keputusan raihan, mereka juga sudah memberi restu jika saya mau menikah dengan raisa".kulihat mereka tersenyum lega.
" oh ya nak raihan sampai lupa ...ayo di minum dulu?" tak ingin membuat mereka marah akhirnya aku minum teh hangat yang bibik buat
di sela sela obrolan kami aku mencoba wa raisa, ku lihat ia membacanya tanpa ingin membalasnya.akhirnya aku punya ide, aku wa ia kembali aku bilang padanya kalau aku datang ke rumah dan mau melamarnya pada bibik dan mamang ,aku membayangkan ekspresi wajahnya yang pasti sudah sangat kesal.
__ADS_1
karena waktu sudah malam akhirnya aku berpamitan pada bibik dan mamang sekaligus menyampaikan jika abi sama umi ingin segera bersilaturahmi pada mereka.