
Raisa keluar dari kamar mandi ia memakai pakaian piyama warna biru dengan gambar Doraemon, bawahan berbentuk celana panjang. rambut yang masih basah terlihat menggoda di mata Raihan.
Raihan memperhatikan Raisa,ia melihat Raisa menggulung rambutnya asal tanpa menyisirnya dahulu,bahkan ia tak perlu memakai bedak atau bahkan lotion, Raisa benar benar unik menurutnya, ia tak ribet dengan penampilannya.ia memang tak perduli orang menilai apa tentangnya, mungkin itu salah satunya yang membuat Raihan jatuh cinta padanya.
Raisa mengedarkan pandangannya mencari tas miliknya ia berfikir tasnya masih ada di dalam mobil raihan, ia belum menelpon bibik sedari tadi hapenya ada dalam tas.
" cari apa?"
Raisa melirik ke samping di lihatnya Raihan sudah ada di dekatnya
" tas?"
" oh..itu Abang simpan di meja dekat laptop Abang?
"Raisa berjalan ke arah meja di mana tasnya di letakkan Raihan di situ
ia membuka tas dan mencari benda kesayangannya ,ia menemukan benda yang ia cari, hape dan sebungkus rokok beserta koreknya
" aduhhh..... habis baterenya sial...?" saat ia melihat hapenya yang kehabisan daya.
" baterenya habis?" tanya Raihan
"ya mau telpon bibi?"
" sini biar Abang cas" sambil tangannya mengambil hape yang di genggam Raisa,saat tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan membuat geleyer aneh di dada masing masing,keduanya jadi salah tingkah,Raihan buru buru mencari cas yang ia simpan dalam nakas dan mulai mengecas hape Raisa
" bibik sudah Abang telpon kalau kita mau menginap di pesantren?"
"oh..." Raisa hanya ber oh
" sini kita makan dulu tadi kita belum makan" sambil tangannya menarik Raisa untuk duduk di kursi panjang yang ia letakkan di depan televisi. bersentuhan dengan Raisa membuat hatinya berdebar debar,tapi ia suka melakukannya.
Raisa mengikuti Raihan duduk di kursi, walau hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya ia mencoba menepisnya. Raisa memperhatikan makanan yang di bawa Raihana. pasti pedas sekali terlihat dari warnanya,
" Abang suapi?" sambil tangannya yang sudah penuh dengan makanan berada di depan Raisa
" ayo..." sambil matanya terus memperhatikan Raisa
setelah terdiam cukup lama akhirnya Raisa membuka mulutnya.
" ini masakan kesukaan Abang ,.umi yang buat,....ayam kecap bumbu Bali....."sambil menyuapi Raisa dan makan untuk dirinya Raihan bercerita.
dengan penuh cinta Raihan menyuapi Raisa selamanya ia ingin seperti ini.
" kenapa?" tanya Raihan yang melihat muka Raisa penuh keringat
" kepedesan?"
Raisa mengangguk sambil mengambil air minum yang Raihan bawa
"sudah?" sambil menggeleng Raisa menjauhkan mukanya dari suapan Raihan
"dikit lagi?" Raihan terus membujuk Raisa agar mau kembali makan,
kembali Raisa membuka mulutnya,ia berfikir pasti nanti ia akan sakit perut ia punya masalah dengan makanan yang terlalu pedas.apalagi sedari tadi siang ia belum makan
"kenyang" Raisa mencoba memberi alasan agar Raihan berhenti menyuapinya.
kalau makan ternyata Raisa sedikit sekali.maka itu bibik selalu menyuapinya,
__ADS_1
Raihan membereskan bekas makanan ia akan membawanya turun nanti waktu magrib di masjid
Raisa menyalakan rokoknya ia merasa kurang jika habis makan tidak merokok. ia melihat Raihan,ia memberi isyarat dengan tangan jika ia akan membuka pintu agar asap rokok bisa keluar
Raihan yang tahu Raisa akan membuka pintu membantu membukakan pintu , ia mulai sibuk dengan hape dan rokoknya ,Raihan duduk di sebelahnya ia juga menyibukkan diri dengan hape,membalas pesan pesan dari teman temannya.
Raihan melirik ke arah Raisa di lihatnya perempuan yang kini menjadi istrinya itu sedang sibuk dengan hapenya,dan sesekali menghisap rokok dalam tangannya
Raihan tahu Raisa tidak akan semudah itu untuk bisa berubah,sikapnya yang keras kepala akan semakin berontak jika ia ditekan, maka itu Raihan akan pelan pelan .
telpon Raisa berdering di lihatnya Mamang ia calling
" ya mang..."
"pakai supir"
"hati hati"
" cepet pulang"
" jangan sampai aku nyusul ke sana?"
suara terakhir Raisa saat menerima panggilan, Raihan yang ada di sebelahnya mengerutkan dahinya, kenapa Mamang menelpon Raisa,akhirnya Raihan memutuskan bertanya pada Raisa
" Mamang kenapa?"
" Mamang pulang kampung "
" ke" potong Raihan cepat
" Rembang"
"adiknya sakit, lagi kritis di rumah sakit."
saat mereka sama sama sibuk pintu kamar di ketuk seseorang
Raihan bangkit dari duduknya ia memberi isyarat Raisa agar mematikan rokoknya, ia berjalan menuju pintu
" ya"...sambil membuka pintu tapi sebelum itu meminta Raisa agar bersembunyi di balik pintu
" maaf ya umi ganggu.," umi masuk ke dalam kamar Raihan ia mengedarkan pandangannya mencari raisa
" Raisa mana?"
" di kamar mandi mi?" ucap Raihan berbohong ini pertama kalinya ia berbohong pada uminya
" bilang sama dia kalau umi mengajak dia berjamaah di rumah?"
"iya mik..nanti Abang bilang sama Raisa
" Abang rokok ya?....umi nyium bau asap rokok deh?"
Raihan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal,ia berfikir apakah ia akan berbohong lagi dengan umiknya
"kadang kadang kalau lagi pusing soal tugas mik?" .Raihan menarik nafas ternyata susah sekali untuk berekting berbohong.
" umi gak melarang ,Abang sudah besar dan sudah menikah sudah menjadi imam dari seseorang,jaga kesehatan merokok tidak baik untuk kesehatan tubuh kita?" nasehat umi panjang lebar
" iya mik" sambil mengangguk
__ADS_1
" jangan keseringan?"
" iya mik" kembali Raihan mengangguk
" ya sudah umi pergi dulu, jangan lupa bilang sama menantu umi?"
" beres mik?" sambil tersenyum penuh rasa sayang pada uminya,ia kemudian mencium pipi umi dan memeluknya gemas sebelum umi beranjak pergi.
" Abang ....lepas..." teriak unik
" ha .....ha..ha..."puas menggoda unik baru Raihan melepaskannya
Raisa yang melihat keakraban ibu dan anak itu menjadi iri.....andai orang tuanya tak meninggalkannya mungkin ia akan sedekat itu dengan mamanya.
Raihan mendekat ke arah Raisa sangat dekat hingga hanya berjarak satu langkah .
" kenapa berbohong" tanya Raisa sinis
" apanya?"tanya balik Raihan
" tidak usah pura pura" dengan ketus Raisa menjawab,ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan Raihan
"lihat aku?"dengan lembut Raihan berucap
tangannya memegang dagu Raisa menggerakkannya pelan agar Raisa memandangnya, tapi Raisa tetap menoleh tanpa menghiraukan kata katanya
" Abang sayang sama umi, dan Abang mencintai kamu? kalian berdua adalah jiwa Abang, " Raihan menjeda kalimatnya
" Abang hanya ingin yang terbaik buat kalian,berbohong sedikit tidak masalah, "
" satu kali lo berbohong untuk menutupi satu kesalahan ,selanjutnya Lo akan terus berbohong untuk menutupi kesalahan berikutnya" dengan tajam Raisa menatap mata teduh itu
Raihan menarik nafas dalam dalam sebelum menghembuskan ya
" mungkin itulah kekuatan cinta....orang bisa melakukan hal yang mungkin tidak pernah ia lakukan sebelumnya"
" itu namanya bodoh" dengan ketus Raisa menjawab
tangannya bergerak meraih tangan Raisa menggenggam dan sedikit meremas,matanya menatap Raisa penuh cinta lalu ia berkata" jika abang bodoh karena cinta, buatlah Abang tidak bodoh karena cinta, kita belajar berjalan bersama beriringan,bukan saling mendahului, jika Abang terjatuh kamu ulurkan tangan bantu Abang bangkit,begitupun sebaliknya, jangan saling mengabaikan"
kata kata Raihan yang lembut mampu menghipnotis Raisa ,ia terdiam fikirannya melayang entah ke mana
dari masjid pesantren terdengar suara adzan magrib berkumandang
" sudah magrib Abang sholat magrib dulu?"
" biar nanti Abang cari alasan ke umi?" Raihan tahu Raisa jiwanya belum terpanggil untuk mendekatkan diri pada sang pencipta
" bohong lagi?!" dengan suara yang agak meninggi
Raihan mengedikkan bahunya,"jika tidak ingin Abang berbohong, lain kali jangan buat Abang melakukannya"
" bukan urusanku?"
"selamanya akan menjadi urusan kita?" sanggah Raihan cepat
kini gantian Raisa yang menarik nafas panjang
" Abang sholat dulu?" pamit Raihan pada Raisa
__ADS_1
Raihan mendekatkan bibirnya di pipi Raisa dengan gerakan pelan Raihan berhasil mencium pipi Raisa yang sedikit menyentuh ujung bibir raisa,Raisa yang tak menduga Raihan akan menciumnya meras terkejut seketika tubuhnya meremang mendapatkan sentuhan yang tak terduga.
dengan senyum yang mengembang di bibir Raihan segera berlari meninggalkan Raisa sebelum ia tersadar.