Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Pertemuan Pertama.


__ADS_3

Cuaca hari ini sangat terik, sangat panas berada diluar. Bahkan berdiam diri di ruangan pun rasanya sangat pengap. Tapi, hal seperti ini memang sudah biasa terjadi, jikalau kita tinggal di tengah kota besar.


Siang ini di dalam sebuah kamar kos.


"Haiz, kenapa hari ini terasa sangat panas. Ingin tidur pun rasanya sangat susah, haredang, haredang." gumam Nadira sambil menghidupkan kipas angin.


"Hah, tidur tak bisa. Mengerjakan skripsi hanya tinggal sedikit pun, rasanya membuatku gila, SIAL. Kepalaku ingin meledak rasanya." Nadira berguling-guling di ranjang sambil menarik rambutnya pelan.


"Nggak bisa! enggak bisa begini terus. Aku harus keluar untuk refreshing biar enggak stress." Nadira langsung bangun mengambil handphonenya.


Nadira seketika berhenti, sembari melihat handphonenya ia sedang berpikir. Siapa kira-kira yang bisa di ajaknya keluar sore ini. Wajahnya terlihat bingung, wajar saja. Karena Nadira ini terkenal dengan julukan jomblo SAMAWA sakinah mawadah warahmah. (haha author ngakak).


Tiba-tiba terlintas salah satu nama teman di dalam benak Nadira. "Telpon Vita aja, mungkin dia senggang."


Tut. Tut. Panggilannya tersambung tetapi Nadira masih menunggu Vita menjawab teleponnya itu.


Setelah beberapa kali panggilan, akhirnya panggilan Nadira diangkat.


"Halo, Vit." Kata Nadira sumringah.


"Halo Dir, ada apa?" Jawab Vita via telepon dari seberang sana.


"Lagi sibuk enggak, jalan yuk?" tanya Nadira tanpa bertele-tele.


"Enggak sibuk sih, tapi aku sudah ada janji sama Rio!" jawab Vita sedikit ragu-ragu.


"Oh. Iya sudah deh kalau begitu." Jawab Nadira sambil menghela nafas.


"Dir? tunggu dulu, jangan dimatiin." pinta Vita merasa bersalah.


"Gimana kalau kita jalan bertiga, loe juga kan udah kenal sama Rio, gimana?" Lanjut Vita membujuk Nadira.


"Enggak deh, nanti aku jadi ganggu lagi. Kan enggak enak sama Rio." Kata Nadira sungkan.


"Iya enggak lah, lagian kita bertiga kan udah lama gak jalan bareng. Pokoknya nanti gue jemput loe jam setengah lima sore (16:30), kita jalan ke Pantai Kuta, lihat sunset." Kata Vita memaksa.


Nadira hanya terdiam mendengar Vita yang terus bicara tanpa henti via telepon.


"Oh iya, pas gue jemput nanti loe harus sudah siap ya?!


Iya sudah gue tutup teleponnya. Bye bye!" Kata Vita di seberang sana dan langsung mengakhiri panggilan itu.


"Belum sempet jawab udah dimatiin aja, ini anak!" Nadira tak berdaya, sambil memandangi handphone yang ada di genggamannya.


"Btw. Aku kan yang ngajak, tapi kenapa kayak aku yang di paksa sih?" Gumam Nadira baru tersadar.


Setelah beberapa jam kemudian.


Nadira terlihat sudah rapi dengan baju santai, yang iya kenakan. Juga membawa tas kecil untuk membawa handphone dan dompetnya. Nadira tampak melihat kearah jam dinding, yang menunjukkan pukul 16:30.


"Sudah waktunya Vita dateng. Sebaiknya aku keluar dari gang. Biar Vita enggak perlu jemput ke sini."


Nadira pun mengunci kamar kosnya, ia berjalan keluar dari gang kosan yang berjarak sekitar 50M dari jalan besar.


Jadi tak perlu waktu lama ia sudah ada di ujung gang.


Nadira melihat sekeliling, tiba-tiba sekilas dia seperti melihat mobil Rio. Benar mobil Rio terparkir di sana. Nadira melihat Rio dan Vita sedang berciuman di dalam mobil. Nadira sontak memalingkan wajahnya. Merasa jika itu bukanlah hal yang harus di lihatnya.


"Pait pait pait pait, pait." Nadira menutup mata dengan satu tangannya. Satu tangan lagi untuk memukul kepala dan tembok pagar di depannya secara berganti-gantian.


Author : "Nadira mah mana kuat liat begituan. Ciuman aja belum pernah."


Selang beberapa menit, Rio dan Vita yang sadar bahwa Nadira sudah menunggu di depan sana. Vita keluar dari mobil dan menghampiri Nadira. Mengajaknya masuk ke mobil, mereka pun segera menuju ke pantai. Setelah sampai di pantai mereka hanya berjalan di pinggiran pantai, sambil sedikit bermain air. Lalu duduk di atas pasir putih sembari memandangi matahari sore yang mulai perlahan tenggelam.


Hari pun mulai petang. Rio mengajak Vita dan Nadira untuk makan malam.


"Matahari sudah terbenam. Hari makin gelap, sebentar lagi muncul bulan. Lebih baik sekarang kita makan, terus gue anterin kalian pulang. Yuk!" Kata Rio kepada Vita dan Nadira.


"Kamu pulang dulu aja Beb, aku mau nemenin Dira disini dulu." Kata Vita menjawab pacarnya.


"Enggak apa kan? kayaknya Dira lagi stress berat nih haha. Aku mau temenin dia dulu." Lanjut Vita sedikit menyenggol tangan Nadira.


"Iya nih, aku pinjem Vita sehari aja, ya?" Nadira berhenti berkata untuk melihat Rio. "Kita masih belum mau pulang." Lanjut Nadira, dengan wajah memelas.


Rio terdiam. Sulit baginya mengiyakan permohonan mereka berdua. Karena pikirnya, tak baik jika wanita di biarkan berdua disini, lalu pulang sendiri. Tidak enak juga, dengan Ibunya Vita. Karena Rio sudah janji akan mengantar Vita pulang tepat waktu. Tapi setelah lama berpikir, Rio berkata pelan.


"Hmm, gimana kalau kalian ikut gue kerja?" Kata Rio. Kedua wanita itu lekas memandangnya.


"Memangnya boleh sama Manager Barnya?" Tanya Vita polos.


"Iya boleh lah. Yuk!" Ajak Rio dengan semangat.


"Nanti kita makan dulu, baru jalan ke tempat kerja gue. Dari pada kalian disini... gue enggak tenang." Kata Rio sembari bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Setelah Vita dan Nadira setuju, mereka pun menuju Restauran untuk makan terlebih dahulu. Selesai itu mereka pergi menuju tempat kerja Rio di Monata Disco. salah satu Bar malam atau diskotik yang terkenal. Juga termasuk lima Bar terbesar di Pulau B.


***


Desss tak dzz tak. Jendum jendum jendum jendum. (suara musik yang begitu keras).


Di dalam Bar Monata Disco suara musik yang begitu menggelegar di telinga, serta lampu kelap-kelipnya menghibur semua pengunjung. Tetapi untuk orang yang belum pernah masuk, mungkin akan langsung pusing saat berada di dalam Bar ini.


"Kalian tunggu disini, gue Nge-dj dulu. Kalian silahkan pesan apa aja, Gue yang bayar." Rio mencium kening Vita.


"Oh iya, jangan banyak-banyak minumnya!" lanjut Rio memperingati Vita, yang sangat suka minuman beralkohol. Rio pun pergi menuju tempat di depan sana.


"Yuk duduk Dir." Mengajak Nadira duduk di sofa yang sudah dipesan oleh Rio.


"Gue ke sana dulu ya." Lanjut Vita yang ingin memesan minuman. Lalu berjalan ke arah bar tender.


Tak lama Vita kembali membawa dua gelas wine, dengan es di dalamnya. Vita menyodorkan ke arah Nadira.


" Nih. Di tempat ini, hilangin semua beban loe yang di kampus dan di tempat kerja." Kata Vita, mengangkat gelasnya.


"Iya Vit, makasih ya." Nadira mengambil gelas yang diberikan Vita kepadanya. Sebelum minum keduanya bersulang terlebih dahulu.


Seketika setelah meneguk minuman itu, wajah Nadira berubah. Nadira mengerutkan wajahnya. Menunjukkan ekspresi tidak suka. Baru kali ini Nadira minum wine, dan ternyata rasanya tidak seenak yang ia bayangkan.


Di saat sedang asyik mengobrol, tiba- tiba terdengar suara pria yang berteriak.


"SAYA ADALAH GAY."


Pria itu dengan lantang mengatakannya. Lalu tiba-tiba Pria itu berjalan ke arah Rio. Mencium bibir Rio yang sedang Nge-dj.


Rio pun terkejut sontak menghentikan kegiatannya. Dengan keras, Rio mendorong Pria itu mengunakan dua tangannya.


"Loe udah GILA ya?." teriakan Rio didengar banyak orang.


"Jangan galak gitu, saya tergila-gila sama kamu DJ ganteng." Pria itu berbicara dengan lembut. Sambil membelai wajah Rio yang berekspresi tidak suka.


"Jijik banget sih, MINGGIR LOE." Kata Rio, sambil menepis tangan Pria itu sekuat-kuatnya.


"Hehe. Saya suka cowok ganteng yang kasar!" Kata Pria itu menyeringai. Dengan gaya tangannya yang gemulai.


"Tapi saya tidak suka sama cewek cantik, tapi PLASTIK." Kata Pria itu lagi. Mata tajamnya menatap lurus ke arah satu wanita cantik.


***


Cewek Plastik. Maksudnya cewek yang sudah operasi plastik atau sering orang-orang bilangnya OPLAS. Yaitu suata cara yang dilakukan untuk merubah penampilan luar kita. Banyak wanita yang tidak cukup percaya diri dengan penampilan lahiriah. Maka rela mengeluarkan dana tinggi untuk melakukan OPLAS ini. Tidak hanya wanita, banyak pria yang juga melakukannya. Namun, banyak juga yang melakukan OPLAS karena faktor kecelakaan. Misalnya, terbakar api, patah tulang hidung, dan alasan lain.


***


Wanita cantik itu pun berjalan dengan gelas berisi wine di tangannya.


"Dasar Arka sialan." Wanita itu menyiramkan wine kewajah Pria yang disebutnya Arka.


Dengan mata memicik. Wanita itu berkata. "Gue sumpahin loe Gay beneran." Wanita dengan rambut pirang itu pun langsung pergi dengan amarahnya. Gerutunya untuk Arka tidak berhenti selama dia berjalan keluar.


Menyaksikan kejadian diantara kedua orang asing tadi. Nadira, Vita, Rio dan semua pengunjung Bar hanya diam. Mereka semua tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua orang itu.


Nadira dan Vita kembali menikmati minuman mereka. Tiba-tiba pria tadi tertawa dengan sangat keras dan membuat semua orang di dalam Bar keheranan.


Apa dia waras? satu pertanyaan muncul di benak Nadira. "Mungkin yang lain juga berpikiran seperti aku. Dia gila." Kata Nadira lirih.


"HAHAHAHA." Tawa Arkana begitu keras. Tetapi seketika ekspresi wajah Arkana berubah menjadi dingin dan angkuh.


"Untuk kalian semua, yang ada disini. Malam ini bebas pesan apa saja. Saya yang akan bayar semua tagihannya." Kata Arkana serius dengan suara lantang.


Arkana meraih sapu tangan dari sakunya. Diusap bibirnya dengan kain itu lalu dilap wajahnya yang basah karena di guyur wine oleh gadis pirang tadi.


Arkana melihat ke arah Nadira dan mulai berjalan mendekati.


"Hai, Cantik!" Arkana dengan enteng melambaikan tangannya itu


Nadira dan Vita menatap risih ke arah Arkana.


"Narsis abis nih cowok, mentang-mentang sedikit ganteng." gumam Nadira lirih.


"Ada apa ya?" Kata Vita merasa jijik karena pria itu sudah mencium paksa Rio, pacarnya.


"Sepertinya kalian kenal dengan DJ tadi, benar?" Kata Arkana balik bertanya.


"Benar, dia pacarku." jawab Vita. "Oh ya, apa itu tadi termasuk hoby kamu?" Lanjut Vita dengan nada menyindir.


"Mungkin." Arkana tersenyum santai.


"Bisa jadi." Lanjut Arkana santai tidak menghilangkan senyumnya.

__ADS_1


Arkana mengeluarkan dompet dan mengambil sesuatu dari dalamnya. "Tolong berikan cek ini untuk dia. Katakan sebagai permintaan maaf saya." Arkana menyodorkan sebuah cek kepada Vita.


"Oh iya! Jangan kolot dan terlalu memonopoli. Dia belum tentu jadi suami kamu, kan!" Lanjut Arkana dengan nada mengejek dan seringai serigala.


"Mencium Pria tak dikenal dengan tiba-tiba. Masih berani memberi uang sebagai alasan minta maaf!" Kata Nadira yang menyela obrolan mereka.


"Wanita cantik ini." Arkana memalingkan pandangan ke arah Nadira.


"Apa kau cemburu? karna aku mencium pria itu, dan tidak menciummu?" Kata Arkana.


"Aku akui, sangat cantik." Netra Arkana memperhatikan wajah Nadira dengan teliti.


"Dasar mesum! jauhkan tanganmu. Ganteng doang tapi gak tau malu." Nadira dengan cepat menepis tangan yang menyentuh dagunya itu.


"Hahaha." Arkana tertawa lagi.


"O. O. Aku suka. Ingat namaku, Arkana Reynaldi. Kamu harus ingat ya cantik. Saya juga akan mengingat wajah cantik kamu ini." Tangan Arkana dengan tidak sopan lagi-lagi mencubit hidung Nadira.


"Tolong berikan cek itu kepada pacar kamu, saya pergi dulu." Kata Arkana lalu pergi meninggalkan keduanya.


"Kalian bersenang-senang lah." Kata Arkana lagi dengan lantang.


Setelah itu Arkana pergi dengan dua orang berjas hitam mengawal di belakangnya.


Tidak lama Rio pun kembali dari toilet dan menghampiri Vita.


"Dimana cowok **** yang cium gue tadi?" tanya Rio, yang terlihat baru mencuci mulut dan wajahnya.


"Sudah pergi." Santai banget Vita jawabnya. "Oh ya, nih buat kamu." Lanjutnya menyerahkan cek.


"Cek apa ini?" tanya Rio heran.


"Buat minta maaf katanya, karena udah cium kamu tadi." jawab Vita dengan nada pelan.


Meski berkata pelan. Tetapi Rio merasa bahwa pacarnya itu sedang marah.


"OMG, 1 ciuman paksa dihargai 5 juta. Sering-sering aja! Bisa cepat kaya kan." ledek Vita dengan menyeringai.


"Sayang banget ya. Ganteng tapi gila." Kata Nadira.


"Kalian aja kesel, gimana gue! awas aja kalau ketemu lagi." Kata Rio mengepalkan tangan.


"Terserah lah, gue mau pulang, udah enggak mood!" Kata Vita meraih tasnya.


"Vita ngambek nih?" rayu Nadira. Mengetahui jika Vita marah karena perkataan pria tadi bukan karena Rio di cium paksa.


"Kan bukan salah gue juga, cowok itu aja yang maen nyosor duluan. Kenapa harus marah sih?!" Kata Rio dengan wajah kusut merasa frustasi.


"Sudah sudah. Jangan berdebat lagi. Lebih baik kita di sini dulu, pesan minuman yang banyak. Itung-itung balas dendam sama cowok tadi, ya kan?" Bujuk Nadira untuk melerai pertikaian antara Vita dan Rio.


Mendengar perkataan Nadira itu, akhirnya Vita setuju untuk tetap tinggal. Malam itu mereka memesan banyak minuman mahal dan sengaja melakukannya.


"Haha haha rasain loe, bangkrut, bangkrut deh bayarin ini semua." Batin Nadira merasa puas.


***


Ke esok kan harinya.


Ting. Sebuah pesan teks masuk.


Arkana membuka pesan tagihan itu. "Gila! Sebanyak ini? Apa aja yang mereka pesan? Sialan!"


.


.


.


#Bersambung.


Assalamu'alaikum.


Hai para Readers NovelToon.


Sudah baca Mengejar Cinta Nadira?


Gimana? Seru gak?


Kalau menurut kalian cerita ini seru dan menarik. Silahkan lanjut baca Bab 2 dan next Bab ya!


Kalau ada tulisan yang typo. Author minta maaf. Ini karya pertama dan kali pertama author nulis. Mohon do'a nya aja biar Author makin jago nulisnya. Biar tulisannya lebih bagus dan berkualitas untuk dibagikan dan dibaca para Readers.


Salam kenal dari Author cantik ( ◜‿◝ )♡

__ADS_1


Wassalamu'alaikum.


Pembacaku dari kota mana aja nih?


__ADS_2