Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Ada Aku.


__ADS_3

Keesokkan paginya.


Cuaca Kota Jakarta sangat cerah pagi itu. Sebuah pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta menuju ke Pulau Bali. Salah satu penumpang pesawat itu adalah Arkana. 30 menit terbang di udara, Pesawat itu landing di Bandara Ngurah Rai yaitu satu-satunya Bandara yang ada di Pulau Bali.


Arkana dan Beni keluar dari Bandara langsung disambut Pak Wan. Pak Wan mengambil tas bawaan Arkana dan mengarahkan Bosnya ke mobil. Beberapa saat kemudian mobil yang dinaiki Arkana melewati gerbang dan memasuki area Villa. Mobil berhenti dan Arkana keluar begitu saja tanpa menunggu Pak Wan membukakan pintu untuknya.


"Bos..." Pak Wan yang masih di dalam mobil melihat Bosnya yang keluar tanpa menunggu ia membuka pintu.


"Gak apa-apa Pak Wan, dia lagi buru-buru." Beni menepuk pundak Pak Wan dan tersenyum. "Saya masuk dulu ya, Pak." Lalu Beni keluar dari mobil dan menyusul Arkana masuk ke Villa.


Di dalam Villa.


Sepasang kaki itu melangkah lebar. Arkana ingin membawa tubuh itu untuk segera sampai di kamar Nadira. Tidak peduli dengan Bik Tun yang sedang menuruni anak tangga dan menyapanya. Langkahnya semakin lebar dan lebar untuk menaiki anak tangga agar segera sampai di lantai dua. Rasa khawatirnya semakin lama semakin bertambah.


"Tuan Beni..." Sapa Bik Tun setelah melihat Beni tiba.


Beni berhenti dan berkata. "Jangan panggil saya Tuan ya Bik, cukup Arkana aja." Beni jalan lagi menuju lantai dua.


"Iya den..." Bik Tun melihat punggungnya Beni. "Beruntung sekali dua gadis itu punya kekasih yang baik hati dan perhatian." Tanpa sadar Bik Tun tersenyum, ikut merasakan senang juga.


Klek.


Suara pintu yang dibuka oleh Arkana dan dirinya langsung masuk ke kamar Nadira. Arkana berhenti dan berdiri di titik terakhir kakinya melangkah. Netra Arkana menangkap ranjang itu kosong, tidak ditemukan wujud Nadira disana. Bingung karena Nadira tidak ada di kamar, Arkana celingak-celinguk mencari keberadaan pacarnya.


"Nad, Nadira..." Arkana berjalan ke ruang ganti dan membuka pintunya. Arkana masuk selangkah dan di dapati Nadira tidak ada juga di ruangan itu. Arkana berbalik dan menutup pintunya. "Nadira... Dira..." Arkana berjalan ke arah toilet dan langsung membuka pintunya yang tidak dikunci. Arkana masuk sambil memanggil lagi. "Sayang... Kamu dima-"


"A......" Teriak Nadira yang baru saja selesai buang air kecil dan belum sempat merapikan celananya.


"Sorry sorry, aku nggak sengaja..." Kata Arkana menyesal sambil menatap Nadira.


Nadira mendelik karena Arkana berkata maaf tetapi matanya masih saja menatap dirinya. "Tutup mata!" Perintahnya.


"Oke oke." Arkana menutup mata dengan telapak tangannya.


Sementara Arkana menutupi matanya, Nadira segera menaikkan celananya. "Jangan ngintip." Tuduh Nadira galak pada Arkana.


"Enggak." Arkana berbalik badan dan masih menutupi matanya agar tidak menerima tuduhan lagi dari Nadira.


"Siapa juga yang mau ngintip, kelak seluruh tubuhmu itu juga akan menjadi milikku seorang." Gumam Arkana lirih.


Nadira sedang cuci tangan dan seperti mendengar Arkana berbicara halus. "Ngomong apa barusan?" Nadira sudah di dekat Arkana sekarang.


"Apa, sih. Nggak ngomong apa-apa kok." Jawab Arkana ngeles.


"Udah boleh buka mata belum ini?" Tanya Arkana, ia merasakan tangannya sudah basah karena keringat.


"Boleh."


Mendengar ini, Arkana langsung menurunkan tangannya. Arkana menoleh dan melihat Nadira sudah di sampingnya memegangi tiang besi yang digunakan untuk menggantung infus. Netra Arkana melihat pergelangan tangan Nadira yang terhubung dengan selang infus. Beralih menatap wajah Nadira yang masih pucat. Arkana merasakan sakit juga melihat keadaan pacarnya seperti ini.


"Pegang tiang besi itu baik-baik." Kata Arkana.


"Kenapa?" Tanya Nadira dan belum mendapatkan jawabannya, tiba-tiba saja Arkana menggendong tubuhnya. "Arka, apa-apaan ini? Turunin aku." Perintahnya pada Arkana.


"Aku udah bilang pegang aja tiang besinya baik-baik. Aku gendong kamu kembali ke ranjang." Kata Arkana, tidak menerima penolakan Nadira.


"Nggak mau, aku bisa jalan sendiri." Kata Nadira.


Arkana menatap wajah Nadira yang sudah di dalam pelukannya dan berkata. "Nggak mau juga harus mau, karena aku maunya gendong kamu. Blek..." Arkana meledek dengan menjulurkan lidahnya pada Nadira. Tanpa mendengar keluhan pacarnya lagi, Arkana berjalan keluar dari toilet menuju ranjang.

__ADS_1


Nadira tidak protes lagi karena kagum setelah menatap wajah Arkana yang sungguh-sungguh. "Tidak di sangka bisa melihat wajah tampan Arkana dengan jarak sedekat ini." Batinnya.


Nadira juga melihat kegigihan dan ketulusan terpancar dari wajah Arkana, ia pun merasa tak enak hati karena tadi sempat menolak. Lengan kanan Nadira melingkari pinggang Arkana. Kemudian Nadira juga menyandarkan kepalanya di pundak Arkana. Setelah melakukan itu entah kenapa Nadira langsung merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. "Aku kangen kamu." Kata Nadira lirih, jujur dirinya ingin sekali mengungkapkan rasa rindunya agar Arkana tahu.


Mendengar itu langkah Arkana terhenti dan diam sejenak di tempat. Kepala Arkana menoleh dan melihat Nadira sudah memejamkan mata. Arkana menundukkan tubuhnya dan menurunkan tubuh Nadira dengan pelan dan perlahan ke atas ranjang. Mengira Nadira tertidur, Arkana pun berbalik badan hendak pergi.


"Tunggu." Tangan yang tersambung selang infus itu menangkap telapak tangan Arkana. "Kamu mau kemana?"


Arkana berbalik badan dan tersenyum. "Mau ambil minum itu," menunjuk teko di atas meja. "Aku haus, dari bangun tidur belum sempat minum juga makan." Jawab Arkana pelan.


"Oh." Kata Nadira dan perlahan genggamannya melonggar.


Arkana menuju meja kecil dan menuangkan air ke gelas lalu meneguknya hingga habis. "Huh. Berasa nyawaku kumpul lagi." Kata Arkana.


"Segitu hausnya kah?" Tanya Nadira heran.


Arkana kembali ke Nadira dan duduk di tepi ranjang. "Tadi sebelum ketemu kamu, aku gak ngerasa haus. Tapi setelah melihat kamu, baru kerasa kalau kerongkongan ku kering banget kayak kena kemarau."


Nadira terkekeh. "Ada-ada aja kamu... Terus kamu juga belum makan dong." Tanya Nadira.


"Belum sempat, tadi buru-buru kejar jadwal penerbangan nggak kepikiran sarapan. Cuma pingin cepat-cepat ketemu kamu. Jawab Arkana. "Oh, ya kamu tadi bilang kalau kamu kangen aku. Aku juga kangen sama kamu." Imbuh Arkana dan langsung mengecup kening Nadira.


"Ihs..." Protes Nadira dengan ciuman itu.


"Kenapa? Gak boleh?" Tanya Arkana merasa kesal, mencium pacar sendiri saja gak boleh.


Jari telunjuk tangan kanan Nadira, menunjuk bibirnya sendiri. "Cium di sini, kalau kamu beneran kangen." Imbuhnya.


Arkana tersenyum, menatap lurus dan dalam ke arah Netra Nadira. Keduanya saling tersenyum, berada di dalam satu pikiran yang sama. Tanpa pikir panjang, dengan posisi masih duduk, tubuh Arkana menekan tubuh Nadira. Di cumbu bibir Nadira perlahan dengan lembutnya. Kedua tangan Arkana meraih tengkuk Nadira dan menariknya maju agar ciuman itu semakin dalam. Keduanya hanyut di dalam ciuman yang menggairahkan.


"Sorry..."


"Sorry, kan gue udah bilang sorry. Terus langsung balik badan." Jawab Beni memunggungi Arkana.


"Huh." Arkana menghela nafas, memang Beni langsung balik badan. "Keluar sana!" perintahnya pada Beni.


"Oke." Beni berjalan keluar. Namun tiba-tiba tubuhnya berhenti dan berkata. "Gue tadi mau nanya ke Dira, Vio dimana? Gue cari-cari gak ada." Beni masih memunggungi Bos-nya.


"Selesai periksa aku, dia langsung pergi ke Rumah Sakit. Banyak pasien yang udah nungguin, katanya." Jawab Nadira menjelaskan.


"Dengar gak?" Tanya Arkana ketus.


"Iya... Dengar. Kalau gitu gue ijin bentar mau ke RS." Kata Beni.


"Ya, setelah itu urus lagi soal akuisisi SmartMall. Dan jangan lupa urus masalah Nadira." Kata Arkana dan Beni menjawab "Iya." Lalu pergi.


Nadira menatap pria ini, terheran dengan perkataan barusan.


"Masalahku?" Tanya Nadira, ia masih belum paham.


"Iya..."


Nadira mengerutkan dahinya. "Soal apa?... Aku gak punya masalah, kok." Elaknya lihai.


Arkana kesal sekali jika Nadira sudah mulai menutup-nutupi masalahnya. Apa Nadira pikir jika dirinya tidak berbicara, maka Arkana tidak akan tau. Salah! Arkana punya banyak uang dan koneksi, info apa saja yang ia butuhkan akan gampang sekali untuk diperoleh. Apa Nadira masih tidak tau pasal hal itu?


"Oke. Kalau kamu masih gak mau cerita... Enggak apa-apa. Tapi yang perlu kamu ingat, sayang. Kamu itu wanitaku, Arkana Reynaldi... Siapapun yang berani ganggu kamu itu artinya dia lagi cari masalah sama aku dan cari mati." Jelas Arkana tegas, kali ini ia tak main-main.


Nadira menatap Arkana dalam diam. Telinganya yang mendengar, hatinya yang senang, dan senyuman pun mengembang. Meski kalimat Arkana terdengar cukup ekstrim, namun itu terasa romantis dan Nadira merasa terlindungi. "Maafin aku... Aku gak tau kamu tau masalah aku dari mana. Tapi Ar, kamu harus percaya sama aku kalau aku bukanlah wanita simpanan seperti yang diberitakan itu." Mata Nadira memerah, dan air bening mulai menetes dari mata indahnya. "Kamu harus percaya sama aku, Ar. Aku bukan wanita seperti itu." Nadira menangis, kini air matanya mengalir deras tanpa bisa di bendung.

__ADS_1


"Aku percaya sama kamu, sayang. Tidak usah menangis... menangis hanya membuat wajah cantikmu jadi jelek." Dua tangan Arkana menangkap wajah Nadira lalu mengusap air matanya dengan ibu jari. "Lagi pula pria diberita itu adalah aku, apa tertangkap kamera bersamaku membuatmu sesedih ini? Kamu tidak senang berfoto denganku?"


"Bukan begitu... Aku," Nadira tersenyum kecil, apa yang dikatakan Arkana memang lucu didengar dan entah kenapa mampu membuat Nadira tenang. Dan kata Arkana ada benarnya juga, kenapa ia harus bersedih jika pria diberita itu memang kenyataannya adalah pacarnya. "Makasih ya, kalau kamu nggak ngomong begini mungkin aku masih sedih dan gak berani keluar."


Arkana memeluk Nadira erat. "Selama ada aku, Arkana. Nggak akan aku biarin seseorang dengan gampang nyakitin kamu. Bahkan semut pun akan aku injak sampai mati jika berani menggigit kamu, pacar kesayanganku."


Nadira melihat wajah Arkana dengan ujung matanya. "Pacar kesayangan?" Nadira mendengus. "Emangnya kamu masih punya pacar yang gak di sayangi?"


Arkana semakin mengeratkan pelukannya. "Enggak ada, hanya kamu seorang dan satu-satunya wanita yang aku pacari dan sayangi." Ungkapan Arkana ini lagi-lagi membuat Nadira tersenyum bahagia. Nadira bertanya-tanya, kenapa baru sekarang ia menyadari ketulusan Arkana.


Nadira tersenyum dalam diam. Dirinya merasa nyaman berada di dalam pelukan Arkana saat ini, dan mungkin saja seterusnya.


Sedetik kemudian Bik Tun datang. "Permisi Tuan," katanya.


Arkana mengeluarkan Nadira dari pelukannya lalu menoleh. "Masuk, Bi," perintahnya. Bik Tun masuk dengan membawa nampan berisi makanan untuk Nadira. Pembantu itu berhenti di dekat Tuannya berjarak satu langkah kaki.


"Berikan pada saya." Arkana mengambil nampan dari tangan Bik Tun. Dia meminta Bik Tun untuk kembali ke dapur dan menyiapkan makanan untuknya.


Arkana memegang mangkuk bubur dengan tangan kirinya dan sendok di tangan kanannya. Dia menyendok bubur itu dan di arahkan ke mulut Nadira. "Buka mulutmu," perintahnya.


"Aku bisa makan sendiri," kata Nadira menolak niat Arkana yang ingin menyuapi dirinya. Dia merasa tangannya baik-baik saja dan bisa melakukannya sendiri.


"Kamu tau kan aku gak suka ngulang omongan," kata Arkana dengan nadanya yang sudah naik satu oktaf. "Lagi pula aku nggak nyuapin kamu racun," jelas Arkana lagi.


"Oke, aku patuh." Nadira membuka mulutnya. Melahap satu persatu suapan yang diberikan Arkana padanya. Nadira kagum melihat pria ini dengan sabar menyuapi dirinya, bahkan setelah beberapa suapan Arkana menawarkan untuk minum dulu. Nadira sangat senang mendapat perhatian penuh dari Arkana, karena dirinya mengetahui jika pacarnya ini bukanlah orang yang sangat lega sampai bisa melayaninya. Jika bukan karena rasa sayang, tidak mungkin Arkana berada di sisinya sekarang ini.


Bermenit-menit kemudian bubur di mangkuk sudah habis dimakan Nadira. Bik Tun kembali datang ke kamar Nadira untuk memberitahukan jika makanan untuk Tuannya sudah ia siapkkan. Arkana meminta Bik Tun membawa kembali nampan dan mangkus bekas makan Nadira ke dapur.


"Aku turun dulu ya, mau makan, laper," ijin Arkana pada Nadira sambil memegangi perut sixpack yang di tutupi kemeja putih itu.


"Aku ikut!" pinta Nadira, kini dirinya merasa tidak bisa jauh-jauh dari Arkana setelah merasakan kasih sayang tulus yang sudah pria itu tunjukkan padanya.


"Boleh, aku gendong."


Arkana menggendong Nadira ke dalam pelukannya. Tidak lupa, tangan Nadira juga memegang tiang besi infusnya sampai mereka berdua tiba di ruangan makan. Di depan meja makan, keduanya duduk di kursi yang bersandingan.


Arkana makan dengan lahap sambil di temani Nadira yang duduk di sebelahnya. Selesai makan, dan meneguk air di gelas, suara smartphone Arkana terdengar tertanda ada panggilan masuk.


Beni adalah nama kontak yang tertulis di layar smartphone Arkana. "Ada apa?" tanya Arkana. Setelah menggeser ikon berwarna hijau di layar.


"Orangnya sudah ketemu, dan dia sudah mengaku. Urusan dengan SmartMall juga sudah selesai," jelas Beni dari seberang sana yang baru masuk dan duduk di jok mobil.


"Bagus. Lalu bagaimana dengan Garuda Food? Sudah beres?" tanya Arkana lagi.


"Belum, sepertinya sedikit sulit," jawab Beni.


"Kalau mengurus hal kecil seperti itu aja sulit, apa masih pantas kamu jadi sekertaris saya?" tanya Arkana kesal. Tidak ada yang sulit di dunia ini selama punya uang dan kuasa, itu prinsipnya.


"Maaf, Bos," jawab Beni dari seberang sana. Dia tau jika Arkana sudah menggunakan bahasa formal, itu artinya Bosnya sudah serius dan tidak ingin ada kesalahan. "Akan saya kerjakan ulang," imbuh Beni.


"Kerjakan dengan benar. Jika kamu kesulitan minta bantuan kantor pusat. Besok saya akan melihat-lihat toko baru kita. Dan lagi, kamu jangan pulang ke sini, sekalian beritahukan pada Surya." Arkana memutuskan panggilan itu setelah mendengar Beni menjawab "Ya".


Nadira menatap Arkana dalam diam. Dia jadi penasaran karena mendengar pria itu menyebutkan kata SmartMall dan Garuda Food saat menelepon. Dirinya ingin bertanya, namun hati kecilnya berkata "sebaiknya tidak usah". Maka Nadira hanya bisa menunggu sampai Arkana membahasnya duluan.


"Besok kita ke SmartMall," kata Arkana seraya tersenyum menatap Nadira.


"Nggak. Ngapain? Aku udah gak kerja lagi di sana," tolak Nadira keras. Jangankan ke sana untuk sekedar menyapa rekan kerjanya dulu, bahkan melihat gedung itu saja dirinya tidak mau.


Arkana menunjukkan senyum di wajahnya. "Ikut aja, besok kamu akan tau kita ngapain ke sana." Besok mungkin menjadi hari yang paling melelahkan dan menyenangkan untuk di lalui.

__ADS_1


__ADS_2