Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Jalan Bareng.


__ADS_3

Jakarta.


Kamis pukul 19:00 Di Bandara.


Terlihat Arkana turun dari mobil bersama dengan satu pria, kemudian menuju ke arah pintu masuk bandara. Ia menggendong ransel biru di punggungnya.


"Bos, hati-hati di Pulau Bali." Kata Pria itu, yang ternyata adalah sekertaris Arkana.


"Ya. Untuk tiga bulan terakhir ini. Kamu yang control semua urusan di Perusahaan saya. Kalau ada masalah segera hubungi saya." Perintah Arkana kepada sekertaris-nya itu.


"Kamu bisa kan? Dan sampaikan pesan ini kepada Wakil Direktur." Tanya Arkana memastikan.


"Bisa Bos. Saya usahakan tidak akan ada masalah. Jadi, Bos bisa istirahat dengan nyaman," jawab sekertaris-nya itu dengan yakin.


"Oke. Gue percaya sama loe, dan Hendry. Gue cabut dulu." Arkana berjalan pergi, setelah selesai berbicara.


Pulau B. Bandara, kamis pukul 20:30.


"Ka, di sini," teriakkan suara pria yang ternyata adalah Surya, memanggil Arkana dari dalam mobil. Surya melihat Arkana yang di luar sana, dari kaca pintu mobil yang diturunkan.


Dari tempat Arkana berdiri, ia mendengar dan melihat Surya. Arkana melangkah cepat, menuju ke arah mobil Surya. Arkana masuk kedalam mobil lalu menutup pintunya. "Sudah lama nunggu?" tanya Arkana dingin. Surya segera melajukan mobil itu.


"Baru nyampek. Gue baru bangun tidur. Siit!" jawab Surya kesal. Mata Surya yang sebam, seperti tidak tertidur dua hari dua malam.


Arkana terkekeh menyadari itu. "Mata loe kenapa?" dengan nada meledek. Ia melihat lebih dekat ke arah wajah Surya dan menahan tawanya.


"Pffffff. Ha haha." Suara tawa Arkana semakin menjadi.


"Ha ha haha." Dengan jengkel meniru tawa Arkana


"Gara-gara loe nih! baru bisa tidur ganggu aja, pakek suruh jemput segala." Jawab Surya kesal sembari mendorong pundak Arkana untuk mundur.


"Sorry! Besok gue traktir cewek cantik, mau gak?" Tanya Arkana.


"Hmmm, seriusan gak loe?"


"Ya serius lah, besok loe boleh ke bar pesen apa aja sesuka loe, gue yang bayar." Arkana serius kali ini.


"Kayaknya lagi seneng banget. Diliat dari rautnya." Nada Surya meledek.


"Besok gue mau jalan sama Dira!" jawab Arkana merasa senang. Hatinya mulai berbunga-bunga.


Jhaha haha. Surya tertawa lebar sekali. "Gue kira loe udah jadian, ternyata masih mau jalan bareng. Hadeh!" Tangan Surya beberapa kali memukul kendali mobilnya.

__ADS_1


Arkana tak menanggapi ucapan Surya. Ia kesal dan memukul kepala Surya dengan telapak tangan. Surya meminta ampun kepada Arkana. Arkana pun menyuruh agar Surya lebih cepat mengendarai mobil itu. Setelah 20 menit mereka sampai di Villa Arkana.


Arkana menyuruh Surya untuk masuk, namun sahabatnya itu menolak. Surya pun segera pergi dari Villa itu, melaju pelan dengan mobilnya.


Arkana yang terlihat lelah, segera menuju ke kamarnya. Ia segera berbaring di ranjangnya untuk segera tidur.


Ke esokkan paginya.


Nadira terlihat bangun dari tidurnya, ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukan pukul 07:00.


"Hmm. Sudah jam 7. Jam 8 nanti waktu janjian aku sama Arka. Harus cepat mandi dan siap-siap nih." Nadira bangkit. Bergegas menuju ke kamar mandi.


5 menit kemudian.


Nadira baru keluar dari ruangan itu, ia baru selesai mandi dan segera memilih baju untuk dikenakan. Ia membuka dan mencoba semua pakaiannya. Setelah 10 menit berlalu, iaa baru selesai memilih baju yang sesuai. Tidak lupa gadis itu memakai riasan tipis di wajahnya.


Selesai bersolek. Ia hanya duduk diam di ranjangnya, sembari menunggu Arkana mengabarinya.


Villa Arkana.


Tiiin tiiin tinn. Suara klakson mobil di luar Villa, Arkana pun bergegas keluar.


"Ini mobil yang anda pesan, Pak." Seorang pria memberikan kunci mobil kepada Arkana.


Diraih oleh Arkana. "Terimakasih, soal surat dan yang lainnya tolong di urus secepatnya dan kirim ke sini."


Setelah 10 menit, akhirnya Arkana sampai di kos Nadira. Diparkirkan mobilnya di pinggir jalan, dekat gang masuk ke kos-an Nadira.


Saat di depan gerbang salah satu kos. Arkana bertemu dengan anak muda, yang hendak pergi dengan sepeda motor.


"Maaf dek, boleh tanya sebentar?" Kata Arkana sopan, menghentikan anak muda tersebut.


"Iya boleh, tanya apa kak?" jawab anak muda itu sembari mematikan mesin motornya.


"Tau yang namanya Nadira?" tanya Arkana perlahan, kedua pria itu saling bertatap muka saat ini.


"Oh! Kak Nadira. Tau, tau, kenapa?"


sahut anak muda itu lagi dengan wajah polos. Tentu saja ia kenal.


"Kakak mau tau, dia tinggal di kosan yang mana?" jawab dan tanya Arkana lagi sembari melihat empat kos dan beberapa rumah di gang itu.


"Di sini." Ia menunjuk kos yang di belakangnya.

__ADS_1


"Tu... Kamar kos Kak Nadira yang nomor 6." menunjuk kamar no.6 milik Nadira.


"Kakak siapa? pacarnya, ya?" Nadanya meledek dengan senyum penuh arti. "Baru kali ini aku lihat ada cowok ke sini yang cari Kak Nadira. Hehe," lanjut anak itu lagi mengintrogasi.


Arkana yang merasa diremeh kan oleh anak kecil, harga dirinya sedikit terluka. Ia pun sedikit mencari info tentang Nadira dari anak itu.


"Hmmm, ya aku pacar Nadira! kamu siapa?" tanya Arkana santai.


"Oh. Kenalin, aku Bima. Anak yang punya kosan ini, dan yang itu." menunjuk kosan di seberang jalan yang berhadapan. Itu miliknya juga.


"Nama kakak, Arkana. Biasa dipanggil Arka." Kata Arkana


"Oh ya, emang pacar atau temen cowok Kak Nadira enggak pernah kesini?" Tanya Arkana lagi dengan perlahan dan menunjukan wajah polosnya. Sebenarnya ia sedang berpura-pura dengan wajah itu. HiHi.


"Setauku, selama 4 tahun kak Nadira ngekos di sini. Enggak pernah ada cowok atau pacarnya yang pernah ke sini kecuali adiknya! Yang sering kesini biasanya temen cewek." Bima menjelaskan panjang.


"Hmm, tapi laki-laki boleh main atau berkunjung kan ke kosan ini?" tanya Arkana.


"Boleh Kak, asal kan tidak berbuat senonoh, kecuali sudah sah suami dan istri. Hehe." jawabnya perlahan dengan nada ledekkan.


Hah!! Kamu masih sekolah tau apa hubungan suami istri. Lagian mau berbuat begitu, mana ada yang woro woro terlebih dahulu.


Memberi senyum getir. "Ya sudah terima kasih ya, besok-besok kalau kesini lagi, kakak bawain cemilan. Ok!" berjalan menuju kamar Nadira.


Ia tersenyum, Bima pun pergi melaju dengan motornya.


Tokk.. Tokk.. Tokk.


Suara pintu yang diketuk oleh Arkana. "Nadira...." Panggilnya setelah mengetuk pintu itu.


Kreek.


Pintu itu terbuka perlahan. Muncul wajah Nadira di sana. "Assalamualaikum..." Katanya perlahan, sedang mengingatkan dan mengajari pria itu.


"Wa'alaikumsalam, maaf telat." Jawab Arkana yang masih berdiri di depan pintu. Ia merasa canggung.


"Enggak apa," jawabnya penuh senyum. Meski sudah menunggu satu jam.


"Sudah siap? yuk jalan sekarang!" ajak Arkana memandang gadis itu lembut.


Setelah setuju untuk pergi. Nadira mengunci kamar kosnya. Mereka pun segera menuju ke tempat tujuan mereka berdua.


Setelah 30 menit. Akhirnya mereka sampai di Pantai Sanur. Keduanya bermain dan bersenang-senang bersama di pantai. Setelah puas main di pantai mereka pergi ke restaurant untuk makan bersama. Setelah makan, sebentar pria itu mengajak Nadira mampir di sebuah taman kota. Setelah beberapa jam Arkana pun mengantar gadis itu pulang ke kosnya. Hari itu berakhir menyenangkan untuk Arkana dan Nadira.

__ADS_1


Bersambung...


Tolong berikan 👍 & ❤❤❤ kalian untukku... Jika berkenan, silahkan beri vote sebagai dukungan kalian kepada Author. Terimakasih.


__ADS_2