Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Minggu ceria.


__ADS_3

Nadira sudah selesai memakai baju kerjanya dan merias wajahnya. Ia keluar dari kamarnya dengan setelan kaos berlogo perusahaannya, celana dasar warna hitam lengkap memakai sepatu pantofel. Nadira keluar dari villa mengenakan hoodie warna putih untuk menutupi baju kerjanya. Nadira berjalan dengan langkah ringan dan senyum riangnya.


Biasanya Nadira merasa kesal jikalau di hari minggu ia masih harus bekerja dengan sift siang. Tapi hari ini beda, ia merasa senang bukan main hanya karena Arkana ingin mengantarnya ke tempat kerjanya.


Arkana berdiri di sebelah mobilnya, dengan pintu yang sudah terbuka. Ia tersenyum ke arah Nadira yang berjalan ke arahnya.


Ketika Nadira sudah berdiri di depannya. "Silahkan... 'My Queen". Kata Arkana mempersilahkan Nadira untuk masuk ke mobil.


Nadira tersenyum sungkan. Ia bahkan merasa sedikit malu dengan perlakuan Arkana ini.


"Terimakasih!" Kata Nadira lembut setelah duduk.


"Sama-sama!" jawab Arkana ramah. Lalu menutup pintu mobilnya.


Arkana berlari kecil ke sisi lain mobilnya untuk segera masuk ke mobil.


Arkana sudah memakai sabuk pengaman. Ia segera menghidupkan mobilnya. Sebentar ia menoleh Nadira untuk bertanya. "Jalan sekarang?"


"TAHUN DEPAN." ketus Nadira.


Tiba-tiba hening. Arkana tak berkomentar. Keduanya hanya saling menatap satu sama lain. Mencoba memahami keadaan ini.


Nadira yang berucap ketus dengan wajah datar, justru membuat Arkana terpesona itu terlihat lucu dimatanya. Arkana juga menyadari jika Nadira memang wanita yang suka berubah-ubah emosinya. Arkana sungguh ingin menguji kekasihnya ini.


"Ketika marah, dia masih saja terlihat imut" batin Arkana.


"Haha..." Senyum Arkana berubah getir.


"Kalau gitu, kita tunggu sampai tahun depan." Arkana mematikan lagi mobilnya. Menyamankan dirinya untuk menyandar ke belakang.


Nadira merasa tak senang sekarang. Karena maksud Nadira yang sebenarnya bukanlah seperti itu. Yang Nadira mau itu 'Jalan sekarang'.


"Ar..." panggil Nadira.


Arkana menoleh. "Apa?"


"Ayo jalan! Kok malah dimatiin sih, mobilnya?" tanya Nadira ketus.


"Katamu masih tahun depan, ini-" Jeda Arkana, untuk melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. "-satu menit aja belum ada." Lanjut Arkana dengan santai, masih menyandar.


Nadira menghela nafas frustasi sampai Arkana bisa mendengarnya. Sungguh ia harus menyerah sekarang karena kalau tidak, Nadira akan terlambat bekerja.


Ditarik nafas pelan. Lalu dihembuskan secara perlahan oleh Nadira. "Maksudku, sekarang jalannya, Ar. Sekarang! bukannya tahun depaaan." jelas Nadira dengan nada terendah. Namun di telinga Arkana itu masih saja terdengar keras.


Arkana tersenyum miring. Merasa dirinya telah menang, berhasil membuat Nadira jujur dengan kata hatinya.


Arkana membenarkan posisi duduknya. Lalu menoleh untuk menatap Nadira. "Lain kali harus jujur... A bilang A. Kalau B ya bilang B." Nadira membisu mendengarkan Arkana.

__ADS_1


"Jangan buat aku nebak isi hati kamu. Aku gak bisa! AKU BUKAN DUKUN." lanjut Arkana, dan lagi-lagi mampu membuat Nadira terdiam seribu bahasa.


"Maaf." Sesal Nadira singkat. Karena hanya kata 'maaf' yang bisa keluar dari bibirnya.


Arkana tersenyum lagi. Ia menjulurkan tangannya untuk membelai lembut rambut Nadira dengan penuh kasih sayang. "Heum... Sekarang kita berangkat?" kata Arkana lembut.


Nadira mengangguk sebagai jawaban. Karena ia terlalu takut untuk membuka mulut. Takut kalau-kalau mulutnya itu mengeluarkan kata-kata yang ketus dan kasar. Maka akan membuat dia diceramahi kekasihnya ini.


Arkana lekas menghidupkan mobilnya lagi. Melaju kencang menuju ke tempat kerja Nadira.


***


Beberapa menit di perjalanan, akhirnya mobil mereka berhenti di parkiran tempat kerja Nadira.


Arkana keluar lebih dulu. Ia berlari ke sisi lain mobilnya, membuka pintu untuk Nadira. "Silahkan..." Kata Arkana sambil sedikit membukkan tubuhnya.


Nadira turun dengan senyum yang tertahan. Jujur saja ia tersipu diperlakukkan seperti itu. "Terimakasih..."


"Sama-sama, sayang!" Arkana menutup pintu itu kembali.


Nadira merasa malu. Wajahnya semakin merona karena senang bercampur malu. Sedikit-sedikit ia menyentuh pucuk hidungnya dengan punggung tangannya. Terlihat ragu akhirnya Nadira berkata.


"Kalau gitu, aku masuk ya-" jeda Nadira untuk menunjuk pintu masuk karyawan. "-makasih udah mau anter aku."


Kaki Arkana melangkah maju cuma sampai tubuhnya berada di depan Nadira. "Cuma 'makasih'? itu doang!" pertanyaan ini membuat Nadira terkejut.


"Udah ku duga... Gak mungkin dia tiba-tiba mau anterin aku gini".batin Nadira.


Satu sisi bibir Arkana melebar kesamping sampai tercetak senyum miring yang misterius. "Jangan cemberut gitu. Aku beneran IKHLAS kok. Karena itu aku gak butuh kata 'terimakasih' kamu".


Nadira semakin bingung. Tatapan matanya ke Arkana berubah menjadi aneh. Sampai satu kata pun tidak keluar dari mulutnya.


Wajah Arkana maju mendekati pipi kanan Nadira. Jarak bibirnya dan pipi Nadira hanya berapa cm saja.


Cup.


Arkana tersenyum setelah melakukan kecupan itu.


Deg. Deg. Deg.


Mata dan mulut Nadira bersamaan melebar. Ia sangat terkejut dengan kecupan itu. Wajahnya merona perlahan. Ia merasakan pipinya semakin merah dan memanas. Kelopak matanya bekedip beberapa kali karena terlalu terkejut.


Wajah Arkana mundur dengan cepat. Takut jika Nadira tiba-tiba akan memukul wajahnya. Namun perkiraannya salah. Mata Arkana menatap Nadira lekat-lekat. Pandangan mereka bertemu di satu garis lurus. Dan Nadira tidak menunjukkan rasa marah sama sekali.


Arkana tiba-tiba menunjukkan senyum bangga. Ia menyadari jika Nadira sudah tersipu.


C'tek.

__ADS_1


Nadira tersadar oleh suara petikan jari Arkana.


Sampai terperangah."Huh..." Nadira merasa gugup. "Emm, a... aaku masuk dulu, ya!" Arkana tersenyum melihat tingkah Nadira ini.


Arkana berkata "Ya." Nadira pun berbalik. Kakinya mulai melangkah meninggalkan tempat Arkana.


Tangan kiri Arkana menangkap pergelangan tangan Nadira. Membuat langkah Nadira terhenti.


Wajah Nadira menoleh kebelakang untuk melihat Arkana. "Apa lagi?" tanyanya.


Jempol dan telunjuk Arkana membuat gerakan 'tutup buka' di depan bibirnya. Gerakan itu untuk memberitahu Nadira agar selalu tersenyum.


Nadira tertawa kecil melihat Arkana melakukan gerakkan itu. Anggukan kecil diberikan Nadira sebagai jawaban sambil berkata 'ya'.


Nadira ingin melanjutkan lagi langkahnya.


Lagi-lagi Arkana menahan Nadira dengan tangannya. "APA LAGI?" Tanya Nadira pelan. Ia berusaha keras untuk menahan emosinya.


"Boleh senyum ke semua orang. Tapi hatimu 'jangan' heum?" peringatan dari Arkana.


"Heum. Ya. Kamu juga..."


"Ya. Tentu..." jeda Arkana untuk mendekatkan wajahnya ke telinga Nadira. "Aku cuma milik kamu seorang." bisiknya pelan dengan mesra.


Deg. Deg. Deg.


Jantung Nadira berdeguk makin cepat. Pipi dan telinganya memerah karena merasakan hembusan nafas panas Arkana.


Nadira semakin tersipu dan salah tingkah. "Ah... kamu tu, apaan, sih?"


Arkana mengikuti kemana pun mata Nadira beralih dari pandangannya.


Nadira semakin tersipu oleh tingkah Arkana. Sedang Arkana semakin bangga karena mampu membuat Nadira tersipu seperti itu.


Ini pertama kalinya Nadira memperlihatkan sisinya yang seperti itu.


"Ah... aku hampir telat." kata Nadira tersadar kembali setelah melirik jam tangannya.


Arkana melepas tangan Nadira "Oke... Nanti aku jemput, ya?"


"Ya. Aku tunggu di sini."


Arkana tersenyum. "Oke." Nadira balik tersenyum.


"Da." Tangan Nadira melambai. Sebelum akhirnya berlari cepat untuk memasuki Mall tanpa menoleh lagi.


Bibir Arkana tertarik kesamping sampai terbentuk sebuah senyuman lebar. Jelas ia merasa senang sekaligus bangga pada diri sendiri. Karena sedikit-sedikit ia sudah melihat perubahan Nadira karena sikap lembutnya.

__ADS_1


Disisi lain. Di tempat parkir motor yang jaraknya jauh dari tempat Arkana. Seseorang wanita yang juga bekerja sebagai sales di Mall itu. Sedari tadi memperhatikan gerak gerik Arkana dan Nadira. Ia tampak tersenyum sinis sambil menatap ponselnya.


__ADS_2