
Kos-an Nadira.
Suara motor yang mendekat, semakin jelas di telinga orang-orang. Banyak pasang mata yang melihat kearah Nadira, saat ia berhenti dengan motornya. Gadis itu mencoba mencari tempat parkir yang pas. Setelah itu, Nadira segera mematikan suara mesin motor itu.
Kaki Nadira diangkat, untuk turun dari motor gedenya. Matanya menyipit saat melihat teman-teman kosnya sedang berbenah. Melihat koper serta barang-barang mereka yang lain di luar. "Ada apa ini?" Tanyanya penasaran, dengan situasi di hadapannya ini.
Nadira tidak melanjutkan langkah, untuk memasuki kamarnya. Ia menghampiri seorang wanita paruh baya. Yang tinggal tepat di sebelah kamarnya. "Ada apa ini, Bu? Kok pada beberes barang."
Wanita yang sudah punya dua anak itu menekuk wajahnya. Sorot matanya terlihat sedih, dan mulai berkaca-kaca. Menjawab alakadarnya saja. "Tempat ini mau dibangun rumah. Kita disuruh pindah sekarang."
Nadira mengeryit. Dua alisnya naik ke atas, merasa tak percaya. "Sekarang?" Ulangnya sedikit terkejut.
"Iya." Suaminya melambaikan tangan dari dalam kamar kos mereka. Memanggilnya masuk, untuk segera membantunya. "Udah ya, ibu mau lanjut ngemas barang dulu."
Nadira mengukir sedikit senyum di wajahnya. "Ah, iya buk."
Pandangan Nadira mulai melihat berkeliling. Semua teman kosnya sibuk berberes sekarang. Ia berjalan menuju ke kamar kosnya. Dimasukkan kunci lalu di putar gagang pintu itu.
Wajahnya terlihat lesu saat memasuki kamar. Di lempar tas gendongnya ke kasur. Dia menghela napas sambil memejamkan matanya. Tanganya melebar ke samping bersama. Di jatuhkan tubuh langsing itu ke atas kasur tanpa hambatan.
Tangannya yang melebar seperti sayap. Membelai lembut sprei berwarna pink itu. Wajahnya miring, untuk melihat gerakan tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sesekali ia menarik napas untuk menetralkan perasaan sedihnya. Agar tidak menangisi keadaan. "Baru mau hidup normal. Ada aja cobaanya. Ya Allah. Ya Allah. Kurang kerja keras gimana lagi, aku ini." Nadira memejamkan matanya perlahan. Melepas penat yang menggangu pikirannya.
Empat tahun yang lalu.
Nadira duduk di kursi kayu dengan wajah lesu. Air mata bening hampir menenetes di pipinya. Namun dengan cepat punggung jari telunjuk bergerak mengusapnya. Ia masih diam dengan wajah tertunduk. Mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya di dalam kamar.
Kedua orang tuanya bertengkar dengan suara yang kecil. Namun masih samar terdengar oleh telinga Nadira. "Kuliah pakek apa Pa? Kita makan saja pas-pasan."
"Kuliah ya pakai uang, Ma. Pendidikan itu nomor satu, dan putri kita harus kuliah."
"Pendidikan emang nomor satu. Tapi liat keadaannya dulu dong, Pa. Buat makan sama bayar listrik aja susah. Gimana bayarin semesteran?"
"Ma, percaya sama Papa. Anak itu bawa rejekinya masing-masing. Pasti Tuhan kasih jalan, kalau kita niat kuliahin putri kita."
Suara-suara itu perlahan memasuki telinga Nadira. Entah kenapa, saat telinganya mendengar suara mereka. Pikirannya mencerna kalimat itu satu persatu. Tanpa disadari air mata bening keluar begitu saja membasahi pipinya. Kali ini ia tak sanggup membendungnya. Pipinya basah dengan cepat saat bendungan air mata itu jebol.
__ADS_1
Di sela tangisan itu, Nadira bertekad. Mulai hari ini ia berjanji, untuk menjadi orang sukses dimasa depan. Berdiri di atas kakinya sendiri. Membiayai kuliahnya sendiri, agar tidak menjadi beban orang tuanya.
Sejak dari janji itu dibuat oleh Nadira. Dia mendaftar kuliah melalui jalur prestasi. Sering kerja freelance untuk bayar kos dan makannya. Sampai dia benar-benar mendapatkan pekerjaan tetap yang sekarang ini.
Kembali kekamar kos.
Tubuh Nadira bangkit dari kasur. Dia menghirup oksigen dengan rakusnya, mencoba membangkitkan semangat dari dalam. Dengan senyuman yang terukir jelas di wajahnya. Ia mulai mengemasi barang-barangnya.
Diturunkan buku-buku kuliah dan berbagai koleksi novel dari raknya. Beberapa tumpukan buku segera disusun ke dalam kardus.
Baginya, buku-buku ini lebih penting ketimbang barang yang lain.
Selesai dengan buku. Nadira mendekati lemari dengan menarik koper merahnya. Diletakkan koper itu, lalu dibuka lemari didepannya. Ia duduk disana seraya mengambil baju dari dalam lemari. Lalu menyusunnya di dalam koper.
Setelah baju terakhir yang ia masukkan ke dalam koper. Ia menarik resleting kopernya agar tertutup rapat. Otaknya mengingat-ingat apakah ada baju yang ia tinggal atau tidak. Perasaannya mengatakan, jika ada beberapa bajunya yang hilang. Dilihat lagi lemari itu olehnya, tetap kosong tidak ada baju tertinggal di sana.
***
Arkana terlihat buru-buru sekali, berlari keluar dari pintu kamar. Dan sibuk mengenakan jaket biru dongkernya tanpa melihat. Lalu segera menggendong ransel yang ia pegangi. Langkah kakinya dengan cepat menuruni anak tangga.
"Kos-an Nadira." Jawabnya singkat tanpa melihat dua orang itu.
Beni menaikkan kedua alisnya. "Malem malem gini?"
"Dah tidur kali orangnya." Sambar Surya mengingatkan.
Arkana hanya diam. Berjalan mendekati dua sahabatnya. Dia menyodorkan tangan di hadapan Surya. Wajah Surya mendongak ke atas, agar pandangannya menjangkau wajah Arkana.
Surya semakin bingung saat sahabatnya hanya memberi isyarat dengan raut wajahnya. Surya mengangkat satu tangan dan memukul telapak tangan Arkana. Mungkin maksudnya tos kali ya?. Tapi Arkana menggelengkan kepalanya kesal.
"Apa?" Ketus Surya masih tidak mengerti dengan isyarat Arkana.
Arkana mendesis. "Kunci mobil!"
Tegasnya dengan nada meninggi. Telapak tangannya digerakkan, isyarat cepetan dong.
__ADS_1
Surya mencondongkan badannya ke depan. Diraih kunci mobil diatas meja kaca di depannya.
"Nih!" Surya meletakkan kunci itu dengan kasar di telapak tangan Arkana. "Ngomong dari tadi!" Gas Surya tidak kalah tinggi.
Mata Arkana menyipit. Satu jarinya diacungkan ke arah Surya. "Gue pecat loe dari Mall." Ancamnya penuh penekanan.
"Eh. Jangan dong..." Jawab Surya kaget.
Arkana berjalan pergi begitu saja. Kedua tangannya menutup telinga bersamaan. Bodo amat, gak mau dengar dianya.
Surya memutar tubuhnya yang masih di atas sofa. Dia terus berteriak kepada sahabatnya itu. Sampai sosok Arkana menghilang di balik dinding.
"Kapok. Ngegas gak liat-liat orangnya sih." Beni mencibirkan mulutnya pada Surya. "Cih. Diem loe." Dengus Surya kesal.
***
Arkana menghentikan mobilnya di trotoar jalan. Ia memarkirkan mobilnya dekat dengan mulut gang kos-an Nadira.
Dari luar kaca. Arkana terlihat bergegas untuk keluar dari mobil. Gang kos-an yang panjang dan gelap ia lewati dengan berlari. Sudah tak sabar rasanya ingin bertemu dengan Nadira.
Arkana berdiri di depan gerbang hitam yang mulai berkarat. Tangannya menggenggam erat ransel yang ia gendong. Ini adalah salah satu alasan untuknya bertemu Nadira. Di dalam ransel ini, ada beberapa potong baju gadis itu. Ia berniat untuk mengantarkan ransel ini pada pemiliknya.
Nadira baru saja keluar dari kosnya, membawa kardus dengan kedua tangannya. "Fiuhh." Desisnya setelah meletakkan kardus itu di lantai. Tangannya mengelap peluh di dahinya.
Suara langkah kaki terdengar samar di telingan Nadira. Ia membalikkan tubuhnya untuk memastikkan siapa yang ada di sana. "Kamu?" Mata Nadira melebar saat ia tau itu Arkana. "Kok di sini?" Tanyanya kepada pria yang sudah berada di depannya.
Arkana melihat keadaan sekeliling. Tidak terlihat siapa-siapa di kosaan ini selain Nadira. Ia juga mencuri pandang ke arah kamar Nadira, karena pintunya terbuka lebar.
"Aku tanya kenapa kamu ke sini?" Ulang Nadira penasaran. Pria ini selalu datang saat ia kesusahan. Apakah dia perantara yang di kirim Tuhan untuk menolong gadis ini.
Arkana tertegun, melihat ke arah gadis di depannya. "Kamu mau pindah?" Dengan nada datar sama dengan ekpresinya.
Helaan napas Nadira dapat di dengar oleh Arkana. Ia merasa jika pertanyaan bodoh itu tidak perlu ia jawab. Tapi ingin sekali tangan ini yang menjawabnya.
"Gak ada orang bodoh... Yang mau pindah kosan malem-malem gini." Nadanya terdengar sangat kesal.
__ADS_1
Aku di usir dari kosan. Lebih tepatnya kami semua di usir dari tempat ini. Diminta pindah dalam waktu sehari. Gila gak yang punya kosan. Dikira dia, nyari kosan gampang.