
Bab Sebelumnya.
Bik Tun di dalam kamar Nadira. Dia berjalan menuju toilet. Di depan pintu dia berhenti dan mulai mengetuk kayu itu. "Non, Non Nadira... Non, Non Nadira ada di dalam?" Bik Tun diam sejenak dan menempelkan telinganya ke pintu supaya dapat mendengarkan suara di dalam toilet.
Klek. Pintu toilet terbuka. "Loh! Gak di kunci?" Bik Tun masuk ke dalam toilet. "Astaghfirullah.... Ya Allah Non Nadira.... Kenapa tidur di lantai?"
***
Bik Tun panik melihat Nadira yang hanya terbungkus handuk putih tergeletak di lantai. Bik Tun berjongkok dan mencoba untuk membangunkan Nadira.
"Non! Bangun Non!.. Jangan tidur di lantai. Non?" Bik Tun panik bukan main karena melihat tidak ada reaksi dari Nadira.
"Non, bangun Non. Non Nadira kenapa? Aduh! Gimana ini? Ya Allah! Mana gak ada orang di rumah. Ah, iya." Bik Tun ingat pesan dari Bos-nya yaitu Arkana. "Jika ada masalah atau Nadira kenapa-kenapa, bibik segera telepon saya." Begitu pesan Arkana kepada Bik Tun.
Bik Tun segera lari ke lantai bawah dan menuju meja yang di atasnya terdapat telepon rumah. "Cepat angkat, Pak Arka." Bik Tun panik dan sambil terus memohon agar panggilannya segera terhubung. "Lama banget? Apa Pak Arka lagi gak di kantor? ini kan nomor kantor. Telepon nomor hapenya aja kalau gitu." Bik Tun berlari menuju kamarnya untuk mengambil handphone nya. Dia segera masuk ke dalam kamar dan mencari handphone di atas meja rias.
Bik Tun sudah mendapatkan handphonenya dan segera menghubungi Arkana sembari berjalan keluar kamar. Terus berjalan kembali ke kamar Nadira di lantai dua. Sudah sampai di depan kamar Nadira, Bik Tun berhenti sejenak untuk melihat layar handphone dan panggilannya belum juga tersambung.
"Nggak diangkat juga. Gimana ini?" Ranya Bik Tun kepada dirinya sendiri. Dia mencoba tenang agar dapat berpikir dengan baik.
"O iya, telepon Nona Vio aja. Dia kan dokter." Iya itu ide bagus lalu Bik Tun segera mencari nama 'Non Viola' di dalam daftar kontak dan menekan ikon panggil.
Beberapa detik menunggu akhirnya tersambung.
"Ada apa Bik? Tumben banget telepon aku." Tanya Viola rada heran mengawali perbincangan dari seberang sana.
"Non Nadira pingsan di kamar mandi."
"Apa?" Viola kaget bukan main mendengarnya. "Oke, aku bawa ambulans ke sana."
"Iya Non." Panggilannya berakhir. "Alhamdulillah." Bik Tun sedikit lega sekarang.
Beberapa menit kemudian.
Wiu wiu wiu.
Ambulans memasuki teras Villa Arkana. Viola lengkap dengan seragam dokternya dan perawat segera masuk ke dalam rumah. Keduanya segera naik ke lantai dua melewati anak tangga.
Di lantai dua kamar Nadira.
Bik Tun melihat Viola sudah datang. "Non Vio, disini." Kata Bik Tun memberitahu keberadaan dirinya dan Nadira yang ada di dalam kamar mandi.
Viola meminta Bik Tun dan perawat untuk membantunya memindahkan Nadira ke atas ranjang. Setelah Nadira sudah di atas ranjang, Viola segera memeriksa Nadira secara keseluruhan.
Beberapa menit kemudian.
"Dok, ada darah." Kata Hani perawat wanita yang datang bersama Viola.
"Darah?" tanya Viola kepada Hani dan segera memeriksanya untuk mengetahui darah apa itu. "Darah menstruasi." kata Viola setelah selesai memeriksa.
Viola berbalik badan. "Bik Tun." Panggilnya.
Bik Tun yang berdiri agak jauh dengan kecemasan yang belum hilang menjawab. "Iya, Non." Bik Tun mendekat.
"Tolong ambil baju Nadira dan sekalian bantu pakein bajunya juga... Oh iya, sama pembalut juga. Cepat ya." Kata Viola memerintahkan Bik Tun.
Setelah selesai menggantikan baju Nadira. Viola dan Hani segera memasang infus untuk Nadira agar kondisinya lekas membaik.
"Udah selesai, Dok." Kata Hani melapor kepada Viola.
"Iya, udah selesai. Kamu sama Ketut udah boleh kembali ke Rumah Sakit." Ketut adalah supir yang mengemudikan ambulans saat kemari.
"Baik. Tapi, Dokter Vio pulangnya gimana? Kan tadi kesininya naik ambulans bareng kita." Tanya Hani khawatir.
"Saya gak pulang. Saya mau tidur di sini sekalian jagain dia," Viola menatap Nadira yang terbaring belum sadar. "Kamu balik aja ke Rumah Sakit, lagian saya juga gak ada jam malam." Lanjut Viola.
"Baik, Dok. Kalau gitu saya permisi ya, Dokter Vio." Kata Hani pamit dan meninggalkan kamar Nadira untuk kembali ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Viola menghela nafas panjang sambil menatap Nadira yang terbaring di ranjang belum sadar. "Telepon Ben dulu deh..." Kruyuk. Suara perut Viola yang protes dan dia megelus perutnya itu untuk membujuk. "Iya iya, makan dulu deh, telepon Ben nya nanti abis makan." Viola tersenyum tipis.
Viola mengajak Bik Tun untuk ikut keluar dari kamar Nadira itu dan pergi ke dapur untuk menemaninya makan. Viola merasa lapar karena dari siang belum sempat makan, lagi banyak pasien di Rumah Sakit. Selesai makan barulah Viola menghubungi Ben, pacarnya.
Jakarta.
Beni baru saja keluar dari rumah Arkana dan hendak masuk ke mobil untuk pulang. Smartphone Beni yang ada di saku celana berdering karena panggilan masuk. Beni pun menghentikan kegiatannya lalu mengambil Smartphone dari sakunya. Di layar yang menyala itu tertulis nama 'Vio Syg' sedang memanggil. Satu jari Beni menggeser ikon hijau untuk menerima.
"Halo. Apa sayang? kangen ya?" tanya Beni sambil tersenyum senang karena pacarnya menelepon duluan, pasalnya enam harian ini panggilan Beni tidak pernah di angkat. Sms, chat dan inbox juga nggak pernah di bales.
"Sayang-sayang apanya? Ha?" Kata Viola dari Bali sana merasa kesal. "Gak usah panggil sayang-sayang kalau pergi aja gak pake bilang." Lanjut Viola mendadak tidak bisa menahan emosinya. Padahal tadi niat awal menelepon untuk memberitahu bahwa Nadira pingsan.
Beni memejamkan matanya sambil tersenyum kecil. Beni paham dan bisa menerima semua amarah pacaranya itu karena memang dia yang salah. "Maaf, maaf. Aku salah. Minta maaf ya?" Bujuk Beni lembut dan manja.
Viola tersenyum puas, memang kata itu yang ditunggunya. "Oke! Aku maafin. Tapi kalau nanti udah di Bali lagi, kita harus dinner." Imbuh Viola.
"Iya, sayang. Mau dinner, belanja, ke salon atau," Beni berhenti sejenak. "Ke hotel seharian aku juga mau." Rayu Beni tersenyum dengan nada santainya.
"Gak jadi." jawab Viola cepat.
"Kok gak jadi, sih? Katanya mau dinner? Giliran aku mau, kamunya bilang gak jadi." Rayu Beni lagi sengaja, senang rasanya godain pacarnya sendiri begini.
Viola baru teringat niat awalnya. "Oh ya, hampir kelupaan." kata Viola.
"Apa?" tanya Beni di seberang sana.
"Kasih tahu Kak Arka kalau tadi Nadira pingsan di kamar mandi."
"Apa? pingsan!" Kata Beni terkejut.
"Iya, tolong kasih tahu Kak Arka ya, aku gak berani telepon dia takut kena marah." Kata Viola.
"Sekarang gimana keadaannya?" Tanya Beni.
"Masih belum sadar. Mungkin sebentar lagi juga sadar udah pasang infus." Jawab Viola yang masih duduk di kursi ruangan makan. Sedangkan Bik Tun duduk di kursi seberang meja menunguinya.
"Kamu di Villa?" Tanya Beni via telepon.
"Ya, kayaknya. Kamu gimana, udah makan?" Tanya Beni dari Jakarta via telepon. Beni masih diluar mobil berdiri sambil memegangi pintu mobilnya.
"Udah, baru selesai. Kamu udah makan?" Tanya Viola balik.
"Udah tadi makan bareng Arka, ya udah kamu hati-hati juga ya harus jaga kesehatan. Aku matiin dulu telepon nya." Kata Beni ingin mengakhiri dan melapor pada Bosnya.
"Em, ya. Kamu juga jaga kesehatan sayang. Btw kapan ke sininya?" Tanya Viola.
"Setelah aku kasih kabar ini ke Arka, mungkin besok pagi udah sampai di Bali. Kamu tenang aja aku pasti tepatin janjiku." Kata Beni.
"Aku percaya. Sayang ada satu lagi yang harus kamu janjiin ke aku." Kata Viola di telepon.
"Apa?" Tanya Beni heran merasa penasaran.
"Jangan bilang Kak Arka kalau selama kalian ke Jakarta, aku pulang ke rumahku. Aku udah janji sama Kak Arka pas tempo hari dia nelvon aku. Kalau aku akan tinggal di Villa untuk nemenin Nadira, tapi aku lupa. Sekarang Nadira pingsan aku jadi merasa-"
"Stop." Potong Beni. "Nadira sakit bukan salah kamu, itu mungkin karena emang dia lagi banyak pikiran. Jadi jangan salahkan diri sendiri atau aku akan marah, ngerti?" Kata Beni.
"Ngerti. Tapi-" jawab Viola.
"Gak usah tapi-tapian, coba buka aplikasi Facebook. Mungkin itu bisa jadi jawaban dan bisa bantu Nadira." Kata Beni. "Ya udah aku matiin telepon nya. Bye sayang, muahh." Imbuh Beni belum di matikan masih menunggu balasan Viola.
"Bye, muahc." Panggilan terputus. Viola yang masih duduk di kursi ruangan makan memikirkan perkataan terakhir pacarnya. Viola menyala kan lagi layar smartphonenya dan mencari aplikasi Facebook. Setelah terbuka. Viola menulis nama Nadira di bagian pencarian. "Wow!" Viola terkejut melihat berita Nadira viral di sosial media. "Pantas saja Nadira jadi seperti ini." Kata Viola lagi tidak kuasa.
Jakarta. Rumah orangtuanya Arkana.
Di ruangan keluarga dengan segala furniture yang sangat mewah. Arkana duduk di sofa hitam itu nampak seorang diri. Arkana menudukkan kepalanya memandang kebawah sambil beberapa kali menghela nafas.
"Sebenarnya mau kamu itu apa sih, Ar?" Celetuk Mama Dewi yang sedari tadi sudah menahan emosi karena anak semata wayangnya ini. Papa Angga hanya duduk diam di dekat istrinya dengan tenang dan sabar.
__ADS_1
"Udah ratusan perempuan cantik yang udah mama kenalin ke kamu, masak iya satupun nggak ada yang kamu suka?" Mama Arkana berhenti dan menebak asal. "Apa jangan-jangan bener kata Christie kalau kamu itu gay?" Papa Angga sontak mendelik mendengar istrinya berkata seperti itu. "Ma, jangan sembarangan kalau ngomong." Kata Papa Angga lembut seketika menjadikkan suasana di rungan itu menjadi damai. Dan istrinya pun juga terdiam karena kalimat itu
"Arka?" Kata Angga, Papanya Arkana.
"Iya, Pa." Jawab Arkana.
Tanpa di ketahui oleh semua orang Beni tiba di rungan itu. Karena melihat seperti ada rapat keluarga, Beni pun berbalik dan duduk di sofa rungan TV. Meski cukup jauh, Beni masih bisa mendengar semua perbincangan antara ibu, bapak dan anaknya itu. Meski mendengar Beni tidak berani untuk menguping dan mengalihkan dengan bermain game di smartphone nya. Tunggu waktu yang pas, Beni baru akan keluar dan menyelamatkan Bosnya.
Kembali ke Arkana.
"Sebenarnya ada apa tidak yang kamu suka, dari semua perempuan yang sudah Mamamu kenalkan itu?" Kata Angga kalem tetapi masih terdengar tegas.
Arkana geleng-geleng kepala. "Tidak ada, Pa."
"Dari semua itu? Gak ada Ar?" Kata Dewi menaikkan nada bicaranya. "Tenang dulu, Ma." Kata Angga mereda emosi istrinya. Dewi pun kembali tenang meski masih sangat kesal dengan Arkana.
"Arka, laki-laki itu harus punya pendirian, tanggung jawab dan berani. Kamu sudah sukses dengan bisnis mu sendiri, sekarang waktunya cari pendamping hidup. Umur kamu juga sudah tidak muda lagi. Kami juga ingin segera menimang cucu, kamu anak kami satu-satunya kalau bukan kamu kami harus berharap kepada siapa? Apa anak orang lain?" Angga melihat anakanya masih menunduk dan mendengarkan dengan baik. "Kamu suka perempuan atau tidak?" Imbuh Angga.
"Jelas suka, aku masih normal Pa, Ma." Jawab Arkana menaikkan pandangannya melihat Papa dan Mamanya sebentar lalu menunduk lagi.
Angga tersenyum. Papanya ini jelas tau jika putra satu-satunya ini tidak mungkin gay. "Kalau memang normal, seharusnya ada salah satu di antara mereka yang kamu sukai, kan?" Papa Angga ini sebenarnya mendukung istrinya, tetapi caranya lebih halus. Mama Dewi tersenyum sekarang, melihat Arkana dengan sangat antusias menunggu jawaban.
"Maaf menganggu," datang Beni dan sudah berdiri di dekat meja. "Ada apa?" Tanya Arkana memandang Beni lalu melihat kode mata yang di buat sekertaris nya itu. Arkana pun jadi paham, ini waktunya menyelesaikan masalah.
"Ada apa? Katakan." Tanya Papa Angga dan Mama Dewi juga melihat ke arah Beni.
Beni menyodorkan smartphone miliknya kepada Arkana. "Pacarnya Bos telepon, kangen katanya." Kata Beni. Arkana meraih smartphone itu dan berjalan menjauhi kedua orangtuanya untuk menjawab panggilan.
Papa Angga dan Mama Dewi tercengang mendengar perkataan Beni. "Duduk Ben." Perintahkan Mama Dewi dan Beni langsung duduk menuruti. "Pacarnya Arka kamu bilang?" Tanya Mama Dewi mengatakan satu pertanyaan dari seribu pertanyaan yang sudah berputar di otaknya dan mengantri untuk diutarakan.
"Iya." Jawab Beni gugup karena pandangan mata dari Mama dan Papanya Arkana. Beni sudah menduga ini akan terjadi padanya. "Bos, cepat kembali." Rengek Beni dalam hati.
"Siapa namanya?" Tanya Mama Dewi lagi.
"Nadira, tan." Jawab Beni.
"Seperti apa orangnya?" Kali ini Papa Angga yang bertanya.
Beni mengingat kembali bentuk Nadira. "Orangnya cantik, manis, tinggi, rambutnya panjang-"
"Bukan fisiknya," potong Angga. "Pribadinya?" Imbuhnya.
"Baik, berani, orangnya juga ceria sikapnya lemah lembut tapi tetap tegas, sama kayak Om. Tapi yang terpenting dia itu kuat." Beni tanpa sadar sudah berbicara santai seperti ngobrol biasa dengan temannya. "Maaf Om, Tante." Beni kembali ke mode kalemnya. "Arka loe kemana? Lama banget, padahal itu cuma panggilan palsu." Gerutu Beni dalam hatinya.
Arkana datang kembali dan langsung duduk di dekat Beni.
"Selamet." Batin Beni merasa lega karena Arkana sudah kembali. Arkana menyodorkan smartphone kepada Beni sambil memberikan senyuman. "Sorry." Begitu kata yang disampaikan Arkana lewat gerak bibirnya.
"Pa, Ma besok aku mau berangkat ke Bali pagi-pagi. Pacarku sakit dan aku khawatir banget sama dia, boleh kan Ma?" Kata Arkana minta ijin.
"Boleh. Tapi dengan satu syarat." Jawab Mama Dewi. "Kalau udah sembuh, ajak ke Jakarta Mama sama Papa mau lihat gimana orangnya." Imbuh Mama Dewi dan Papa Angga setuju saja no komen.
"Oke, tapi mungkin masih butuh waktu kalau mau ajak dia kesini. Mama sama Papa sabar aja." Jawab Arkana.
"Maksudnya?" Tanya Mama Dewi.
"Gara-gara aku, dia dapet masalah di tempatnya kerja dan di pecat. Jadi aku mau bantu selesaikan masalahnya dulu, baru nanti aku ajak Nadira ke sini. Gimana?" Bujuk Arkana.
"Oke lah..." Jawab Mama Dewi.
"Soal perjodohan ku, gimana?" Tanya Arkana sengaja.
"Batal, nggak akan terjadi lagi." Jawab Mama Dewi yakin. "Tapi jangan sampai gagal sama pacarmu ini, atau Mama akan kasih kamu 1000 daftar perempuan untuk kamu pilih." Imbuh Mama Dewi.
"Nggak, Mah. Terimakasih banyak, yang ini gak mungkin gagal." Kata Arkana. Papa dan Mamanya hanya diam dan memberi senyuman kepada putra mereka ini, akhirnya Arkana punya pacar juga
.
__ADS_1
Bersambung dulu ya.
Terimakasih sudah mampir (✷‿✷)