
Hari mulai beranjak ke malam hari, suasana di luar mulai gelap. Namun Arkana dan Surya masih melanjutkan obrolan mereka. Di ruangan kerja Arkana.
"Bukan lah. Dia NADIRA."
Ungkap Arkana sambil tersenyum manis.
"Nadira? Cewek sales mobile itu?
Emang enak di pandang sih dia itu.:
Ucap Surya serius, menaikan alisnya dan mengelus-elus dagunya.
"Loe jangan ikut-ikutan." Kata Arkana, memperingati Surya.
"Pis. Tenang aja, gue gak bakal tikung kok. Lagian loe dah kasih gue daftar cewek cewek pilihan tante. Gue yakin pasti cantik cantik." Surya berkata dengan santainya.
"Oh ya. Loe baru kenal Dira dah main taksir aja. Mentang mentang dia cantik." Kata Surya. Merasa aneh.
"Sorry! gue gak kayak loe, cantik dikit, body oke langsung sikat. Lagian gue udah pernah ketemu dia di bar. Dari situ gue suka sama dia, dari sorot matanya. Ekspresi wajahnya waktu dia marah! Lucu banget." Jelas Arkana panjang. Dengan wajah merona penuh kasmaran.
"Widih. Dari mata turun kehati nih ceritanya. Cinta pada pandangan pertama." Goda Surya sambil memainkan matanya.
"hem, apaan sih?" Arkana mengelak dari tatapan mata Surya. Memandangnya penuh arti.
"Kalau gitu tunggu apa lagi, sikat lah." Kata Surya menggebu-gebu.
"Ngomong sih gampang, masalahnya. Dia masih ngira gue gay. Kayaknya dia benci banget sama gue." Jelas Arkana. Merasa frustasi dengan masalah ini.
"Hah. Gay? Ka loe seriusan, sejak kapan?" Surya meletakkan sebatang rokoknya.
"Baru gak ketemu 1 tahun, loe udah begini. Wah gawat. Gawat. Gawat." Surya terus berkata tanpa celah.
Bletaaaak.
Arkana bangun. Lalu menjitak kepala Surya dengan tangannya.
"Sakit Ka. Anjirr." Spontan Surya merespon dengan suara lantang.
"Ngomong lagi, gelas ini bisa-bisa terbang. Percaya gak loe?" Kata Arkana kesal, sembari mengangkat gelas kopi yang ada di atas meja.
"Iya iya. Emang gimana ceritanya. Kok bisa dia ngira loe gay?" Tanya Surya sambil mengelus-elus kepalanya.
Arkana mulai menceritakan kejadian malam itu. Saat dia bertemu Nadira di Bar.
"Kemarin malem gue ke bar, disana ngak sengaja ketemu sama cewek yang pernah di kenalin mama sama gue. Namanya Christie, cantik sih. Bodynya juga oke. Tapi gue gak ada feel sama dia. Sumpah! sejak kenalan, cewek itu ngikutin gue terus. Gue curiga di hari itu dia pasti ngikutin gue seharian. Pasti ada yang bocorin jadwal gue kedia."
"Dan lagi. Dia terus terusan nempel, dan minta gue untuk nikahin dia. Sampai akhirnya gue udah di ambang batas sabar. Enggak tau lagi gimana caranya nyingkirin itu lampir. Terpaksa gue cium DJ cowok yang lagi main. Terus gue ngomong di depan semua orang. Kalau gue gay. Disitu Christie pergi dan dari mukanya, kelihatan kesel banget. Sampek-sampek nyiram muka gue pakek wine terus nyumpahin gue jadi gay beneran."
"Karena merasa enggak enak, jadi gue cari DJ itu untuk kasih ganti rugi. Nah, disitu gue ketemu dua cewek. Yang satu ngaku pacarnya DJ itu, dan yang satu itu Nadira. Karena kemaren keburu ada bodyguardnya mama. Gue cepet-cepet kabur dari bar. Takut ketahuan mereka. Jadi enggak sempet mau kenalan lebih lanjut."
"Wahahahahaha." Surya tertawa lepas. Mendengar cerita dari sahabatnya ini.
"Gila loe, denger dari cerita loe ini ya. Jelas banget dia jijik sama loe." Kata Surya. Menambah frustasi Arkana.
__ADS_1
"Gue kepaksa." Jawab Arkana.
"Percaya gak, karna penasaran sama itu cewek. Sampek di Vila, gue langsung cari info tentang Dira. Entah beruntung atau mungkin jodoh. Kok bisa kebetulan banget. Dia kerja di Mall gue." Lanjut Arkana merasa senang.
"Tapi apa perlu sampek pura-pura jadi manager?" Tanya Surya.
"Kalau dia tau loe CEO dan punya Perusahaan sendiri. Mungkin dia langsung naksir." Lanjutnya lagi.
"Ya kalau itu, sekalian sembunyi dari Mama. Lagian Mama gak akan ngira kalau gue di sini kan."
"Gue mau jadi sederhana di mata Dira. Lagian gue mau cari pasangan yang gak melihat pangkat, dan hartanya. Kira-kira Dira bisa terima atau gak? Di situ yang gue belum tau." Jelas Arkana panjang.
"Dasar. Yah. Gue sih sebagai sahabat cuma bisa dukung loe aja ya. Semoga cepet bisa dapetin hati Dira. Biar loe gak terus-terusan dijodohin sama tante." Kata Surya dengan bijak.
"Oh ya, gue cuma kasih saran. Lebih baik memulai hubungan dengan kejujuran." Lanjut Surya menasehati Arkana.
"Siap, thanks banget nasehatnya."
Jawab Arkana sembari menjulurkan kepalan tangan ke arah Surya. Dan Surya pun ikut menjulurkan kepalan tangannya ke arah Arkana.
"Lagian keliatannya dia pinter, pasti gak akan lama pasti tau gue siapa." Kata Arkana lagi. Menyungging senyum.
"Ngomong-ngomong udah waktunya Spg dan Spb pulang nih." Kata Surya setelah melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 21:00.
"Wah, iya. Waktunya beraksi." Arkana mengambil laptop dan kemejanya.
"Gue cabut dulu ya!" Sembari melangkah pergi.
"Kemana?" Tanya Surya.
"Dasar Arkana. Kambuh malesnya kalau lagi ngejar cewek. Tapi syukur kalau dia bisa jatuh cinta lagi." Kata Surya merasa senang.
Surya pun mulai mengingat dimana dulu Arkana begitu putus asa sebab di tinggal menikah oleh pacarnya. Karena Arkana dulu sangat manja, suka berfoya foya dan hanya mengandalkan harta orang tuanya. Sejak kejadian saat itu, Arkana tidak lagi mengencani atau mengenal wanita. Dia hanya sibuk membangun usahanya sendiri sampai sukses dengan menjual semua
barang-barang berharganya sebagai modal.
***
Disisi lain, tampak Arkana sedang menunggu Nadira di tangga kecil menuju basemant, dekat pintu keluar.
Nampak Nadira turun dari tangga kecil itu bersama teman-temannya.
"Dir..." panggil Arkana, "Pulang bareng yuk," imbuhnya.
Nadira tidak menghiraukan perkataan Arkana. Gadis itu masih berjalan santai menuju mogenya (motor gede).
"Duluan ya Dira." Ucap Rini dan teman-temannya yang lain, mulai pergi dengan motor masing-masing.
"Yo. Sampai ketemu besok," sahut Nadira sambil melambaikan tangannya.
Sedangkan Arkana kecewa karna mengetahui ternyata Nadira mengendarai motor. Jadi dia pikir tidak akan bisa mengantar gadis itu pulang.
Lalu Arkana pun menuju ke arah mobil miliknya. Lalu masuk ke dalam mobil, Arkana seperti sedang menghidupkan mobilnya. Namun tampak tak bisa menyala. Ia pun turun dari mobil dan menuju ke arah Nadira yang hendak menjalankan motornya.
__ADS_1
"Tunggu Dir." Suara itu menghentikan Nadira.
"Ada apa Ka?" Tanya Nadira.
"Boleh pinjam hape kamu!" Tanya pria itu memohon.
"Untuk apa?" tanya Nadira balik. Menautkan kedua alisnya.
"Sepertinya mobilku mogok, aku mau telpon bengkel, hapeku lowbet,"
"Kalau enggak mau kasih pinjem, ya sudah." Pria itu memasang wajah memelas.
Nadira pun mengambil ponsel dari dalam tas punggungnya.
"Nih, pakek aja. Cuma minjem kan.. siapa juga yang gak ngasih." Jawab Nadira ketus.
Arkana mengambil ponsel Nadira dan mulai menelpon bengkel mobil. Agar segera datang untuk mengecek mobilnya. Setelah selesai, Arkana pun mengembalikan ponsel itu ke Nadira.
"Makasih ya, Dira."
"Sama-sama." Sahut Nadira, meraih ponsel itu.
Nadira pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dan ia pun mulai menstarter motornya.
"Tunggu dulu!" Kata Arkana lagi.
Tck. "Kenapa lagi?" Nadira terhenti lagi.
Wajah Arkana mulai mendekati Nadira perlahan. Nadira pun gugup, wajahnya mulai memerah dan jantungnya berdeguk dengan sangat kencang.
Klek.
Suara dari helm Nadira.
"Lain kali, jangan lupa kaitkan dulu tali helmnya, bisa bahaya kan nanti." Pria itu mengukir senyum tipis.
Ternyata Arkana hanya hendak mengaitkan tali helm yang sedang di pakai oleh Nadira.
Nadira sudah berpikir yang aneh-aneh. Ia tampak malu dan salah tingkah, memalingkan wajahnya dari tatapan Arkana.
"Terimakasih pak," ucap Nadira.
"Sama-sama, ngomong-ngomong kenapa manggilnya pak lagi sih. Panggil Arka aja." Jawab Arkana, sekaligus perintah.
"Ya Ar.. Ka. Terimakasih." Ulang Nadira baru benar.
"Aku juga terimakasih, sampai jumpa besok." Arkana lagi-lagi tersenyum tipis.
Nadira mulai menyalakan motornya dan melaju keluar dari basemant.
Bersambung...
Pict Nadira. Kalau mau menghayal yang lain juga boleh. 😆
__ADS_1