Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Berantem dapat Ide


__ADS_3

Villa Arkana, ruang tv.


Beni dan Viola duduk bersandingan, jarak keduanya sangat dekat. Sehingga Viola dengan mudah menyandarkan kepalanya di bahu Beni. Dengan sesekali menyuapi mulut Beni dengan snack. Kedua insan ini bermesraan seakan dunia ini hanya milik mereka. Tanpa memikirkan perasaan Surya dan Sally yang juga duduk bersama di satu ruangan itu.


Sally hanya fokus menonton acara di tv. Bodo amat dengan dua sejoli itu. Kebetulan sekali, sedang tayang drama korea yang ia sukai. Biasanya di jam-jam 10 pagi begini, banyak chanel yang menayangkan film bioskop. Tetapi ia sudah kepincut dengan drama korea yang sedang tayang ini.


Surya terlihat malas. Beberapa kali ia menengok layar ponselnya. Namun tidak ada satu pun chat dari pacar pacarnya. "Gak ada yang lain, apa?"  Keluh Surya kepada Sally, karena ia ingin menonton acara tinju di chanel lain.


"Nanti. Nunggu selesai dulu."


Nada Selly terdengar santai. Pandangannya masih fokus ke layar tv dengan ukuran 25inch. Sangat lebar, jadi puas dan lega nontonnya. Serasa aktris idolanya itu dekat sekali di depannya.


"Keburu abis juga, acara gue."


Gerutu Surya merasa kesal sendiri. Juga, dia sama sekali tidak suka dengan drama korea atau apalah itu. Dia lebih favorit dengan film action. Karena banyak memperlihatkan aksi-aksi bertarung, perang. Ya, yang berantem-beranteman gitu lah, intinya.


"Ya. Bentar lagi, nanggung. Ntar puas-puasin deh, loe nontonya."


Rayu Sally, agar Surya berhenti untuk mengeluh padanya. Hanya sekedar untuk mengganti chanel tv.


Surya merasa jenuh. Karena terus menunggui Sally yang asik nonton. 10 menit waktu berlalu, terasa hampir 10 jam baginya. Ketika wajahnya melihat ke sebelah kiri. Dia hanya sanggup menghela nafas panjang, agar hatinya lebih damai. Dua insan yang bermesraan itu, seakan lupa jika di ruang ini masih ada mahluk lain. "Tunggu gue bawa cewek." Gumamnya dengan wajah hambar.


"Surya....!" Rengek Sally meninggi. Seraya matanya melebar. Saat wajah idolanya hilang dari layar besar itu. Dan, berganti chanel. Menayangkan dua lelaki besar sedang adu kepalan tangan.


Surya menengok ke arah Sally. "Gantian!" Tegasnya tidak mau kalah dari sahabatnya. Ia merasa lelah telah dibohongi oleh Sally. Katanya tunggu bentar. Tunggu sebentar lagi. Sudah ia tunggu hampir 30 menit. Eh, dramanya tidak selesai juga. Kan bosen nunggunya dari tadi.


"Nih."


Surya memberikan remot control tv kepada Sally. Sally yang merengut, langsung tersenyum riang. Segera dia ganti chanel tvnya. Karena takut ketinggalan ceritanya.


"Tumben! ngalah."


Pujian itu diluapkan dari mulut Viola yang reseh. Bibir kecilnya yang sexy segera di katubkan lagi setelah satu kalimat itu. Orang dengan bibir kecil dan tipis memang terkenal cerewet dan banyak bicara. Selalu ada saja yang ingin di kritik oleh Viola ini.


"Gue mah emang gitu, orangnya!. Nanti nonton siaran ulangnya di yootube." Balas Surya bangga. Menerima pujian itu dengan lapang dada. Merasa jika itu memang benar dirinya.


"Ya, bagus lah! Kenapa gak dari dulu?" Imbuh Viola tersenyum, merasa senang.


"Dari dulu, gue itu udah baik hati. Tidak sombong. Jujur. Setia. Ngalah-an. Suka nabung. Rajin shalat. Udah daftar haji- "

__ADS_1


"Men, acaranya dah abis. Apanya yang di tonton."


Sela Sally mencibirkan mulutnya. Sengaja disalin ke chanel tadi, untuk memastikan ucapan Surya. Dan. Ternyata seperti dugaan. Surya tidak mungkin mengalah dan bersikap begitu baik jika tidak ada sebab.


Ketiga sahabat Surya sama-sama melihat lurus ke arahnya. Dengan menggelengkan kepala pelan, dengan serentak mereka berkata. "Gak berubah. Dah tua juga!"


"Siapa tua? Kalian itu yang tua! peot! kolot! Gak mikir!" Sentak Surya tak terima. Enak aja dibilang tua. Padahal umur belum genap tiga puluh tahun. Baru juga dua puluh delapan.


Ketiga orang ini menatap dengan mata melebar. Satu arah dan satu pandangan ke Surya. Lalu serentak berdecak.


"LOE TUA..." Ketiga orang ini sama sekali tidak suka dengan kata tua. Tolong buang aja si tua ini ke tong sampah. Bisa?.


Surya meyipitkan matanya. Heran dengan tuduhan yang meluap itu. "Tahun kita lahir tu sama. Kalau gue tua, loe pada juga udah tua." Tegasnya seraya membenarkan posisi duduknya. Semula duduk di lantai, sekarang duduk di sofa.


"Tapi tua-an loe." Cibir Viola mengejek.


"Dih, cuma beda sejam doang, geh." Kritik Surya berdasarkan fakta.


"Tapi tetep aja tua-an loe." Protes Viola tidak mau kalah dalam adu argument dengan sepupunya.


"Loe juga tua.."


"Bodok... Loe juga tua."


"Dasar tua, gak mikir, sial. Sini loh!" Viola bangkit dengan cepat. Tangannya segera meraih bantal berbentuk kotak, disebelah duduknya. Dan melemparkannya ke Surya. Tepat sasaran. Bantal itu mendarat di wajahnya. Eh, tapi wajah Sally yang di hampiri oleh si bantal.


"Cukup ya. Kalian bisa diam gak?"


Sally menekan kata diam dengan suara lantang. Seketika Viola yang sedang beradu pukulan bantal dengan Surya pun mematung bersama. Wooow, Sally memang terkenal dengan julukan macan rumahan. Terlihat jinak, tapi aslinya... Beh! Jangan tanya? Arkana aja males ngeladenin dia.


"Dari pada ribut terus. Lebih baik pikirin cara untuk narik Nadira ke sini." Ketus Sally dengan emosinya. Emosilah! Dari tadi bahasnya tua, tua meluluk. Disini tuh yang lebih tua Sally tau. Umurnya lebih tua setahun dari mereka semua. Tapi, karena Sally sepupunya Arkana. Mereka pun jadi sering main, dan lupa akan hal itu. Tapi, sebagai kaum hawa. Kalau kalian ribut masalah umur, gue jadi kesel, tau gak. Gerutu Sally di dalam hati.


"Bener tu kata Si Sally." Imbuh Beni cepat. Merasa sependapat dengan Sally.


"Narik apanya! Narik angkot?" Cengir Viola tak tahan mendengar kata narik.


Beni menatap tajam ke arah kekasihnya. Terlihat sorot mata itu sedang memarahinya. "Hiss." Gerutu pria itu mengkritik Viola.


"Maaf. Canda doang..." Pinta Viola memohon belas kasih kepada sang kekasih. Viola lantas menggeser posisi duduknya. Untuk kembali ke sisi Beni, dan meraih tangan besarnya. "Maaf ya." Mohonnya dengan sendu.

__ADS_1


"Hmm." Beni mulai malas jika mulut kekasihnya ini lagi-lagi tak dikontrol dengan baik. Pasalnya Beni adalah seorang yang patuh akan tata krama. Entah prilaku dan cara bicaranya, semuanya ia jaga.


Surya tersenyum. Mengarah kan wajahnya ke arah Viola, seraya menjulurkan lidahnya sedikit. "Rasain!" Cibir Surya yang mendapati mata sepupunya melebar, dan merasa kesal. Namun Surya semakin senang karena balasan itu.


"Gue ada ide." Kata Surya tiba-tiba, dengan wajah berbinar-binar penuh senyum. Namun tampaknya, ketiga sahabatnya itu tidak peduli. Mengingat idenya yang kemarin. Itu sudah cukup untuk menimbulkan masalah bagi mereka semua.


"Gue ada ide." Ruangan itu masih sunyi. Tidak ada tanggapan dari kalimat Surya barusan.


"Beneran. Gue jamin gak bakal jadi malasah deh."


"Ehh. Kalian dengerin gak sih. Gue lagi ngomong."


"Ya ampun. Ni orang tiga, emang bener- bener ya."


Surya menarik napas dalam, dia takut jika amarahnya akan meluap. Karena itu, segera ia stabilkan. "Kita cari kos-an Dira, kita beli itu tempat. Dan suruh mereka pindah hari itu juga." Jelas Surya sedikit, tentang ide yang baru saja ia dapatkan.


"Dia bisa pindah ke kos lain." Jawab Sally malas, yang masih asyik nonton tv.


"Lagian kos-an gak cuma satu. Banyak kali." Imbuh Viola dengan sisa-sisa kekesalannya pada Surya.


"Loe mau bilang. Kita beli semua kos-an di Pulau B ini." Beni menerka pemikiran sahabatnya selanjutnya.


"Duit mamak mu di pakek beli, ya?"


Tanya Surya balik dengan geram. Sok tau banget sih dengan isi otaknya. Surya kan jadi kesal dibuatnya.


"Jangan bawa-bawa Mamak, ya!"


Kaki Beni yang panjang mampu mencapai tempat dudul Surya. Tendangan kecil ia tambahkan di sela perkataannya. Tidak keras juga tidak sakit, hanya senggolan di lutut Surya. Namun mampu menggoyahkan posisi duduknya.


"Jangan main kaki ya." Ketus Surya sudah bangkit dari tempat duduknya.


"Lanjutin. Gue mau denger. Apa ide selanjutnya?" Sally dengan dingin mengeluarkan suaranya.


Surya menahan gejolak amarah, lalu kembali di posisi awal. Dihempas CO2-nya dengan keras sampai suaranya terdengar. "Hmm. Oke."


Begini...


Surya mengatakan seluruh idenya kepada sahabatnya. Setelah mendengar ide Surya. Beni, Viola dan Sally mengangguk setuju dengan ide itu.

__ADS_1


"Mari kita mulai sekarang......"


__ADS_2