
Di rumah makan pinggiran jalan. Nadira sedang duduk bersama dengan Rini. Keduanya sedang menikmati makanan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Nadira masih menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat kesal, karena panggilannya tidak kunjung diangkat oleh Arkana. Ponselnya kembali dimasukkan ke dalam tas gendongnya.
Niat awal ingin membelikan makan malam untuk Arkana diurungkannya. Karena dia tidak tau, selera makanan yang disukai oleh pria itu. Makanan pedas atau manis? Berkuah atau tumis.
Nadira masih meneruskan kegiatan makannya. Sambil sesekali melirik menu di etalase kaca, yang terlihat jelas dari tempat dia duduk.
30 menit yang lalu.
Di dalam ArStar Mall.
Waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja bagi para Spb dan Spg. Nadira sudah bersiap untuk pulang. Berjalan keluar dari loker.
Ditengah jalan tidak sengaja bertemu dengan Surya yang baru keluar dari toilet pria.
"Hei."
Kata Surya. Dengan senyuman cerianya, menyapa Nadira dengan ramah.
"Mmm."
Jawab Nadira dengan senyuman yang dipaksakan. Dia melanjutkan langkahnya, menjauhi Surya.
Baru berapa langkah, Nadira berhenti sebentar. Memutar tubuhnya dan memanggil Surya.
"Ya." Jawab Surya seraya membalik badannya ke arah Nadira.
"Ada kontak Arkana?"
Tanya Nadira sedikit malu-malu saat mengucapkannya.
Surya menyadari itu, sungguh dia sudah tau sifat dari Nadira. Meski wanita ini terkenal cuek, namun blak-balkan dan humoris dengan teman wanitanya. Dia hanya cuek dengan lelaki atau orang yang baru dikenalnya saja.
"Ada. Kamu mau?"
"Iya. Boleh kan?"
"Tentu saja. Ini, silahkan catat sendiri."
Surya mencari kontak Arkana di ponselnya. Lalu memberikan ponsel itu kepada Nadira. Segera dicatat nomor Arkana ke dalam ponsel Nadira.
"Terimakasih."
Menyerahkan ponsel Surya kepada pemiliknya.
"Sama-sama."
Nadira memberi senyuman kepada Surya sebelum berbalik dan pergi.
"Eh, tunggu!"
Nadira lagi-lagi menghentikan langkah kakinya. Karena perkataan Surya. Dari tempatnya berhenti, Nadira berdiri tegap lalu berbalik badan. Seraya bertanya.
"Ada apa?" Dengan wajah tegang yang menunjukkan ketidak sabarannya.
"Arkana itu pria baik. Jangan disia-sia kan. Mmm!"
Nadira hanya tersenyum. Untuk membalas ungkapan lelaki di hadapannya itu. "Ya! Karena dia teman mu." Begitu pikir Nadira singkat. Karena pujian Surya untuk Arkana.
__ADS_1
"Bukan karena dia sahabat ku. Tapi, dia memang pria baik. Aku berharap. Kamu membuka sedikit hatimu untuknya."
"Itu bukan soal ringan. Aku harus melihat apakah dia benaran suka padaku."
Jawaban Nadira membuat Surya tertawa geli. Entah kata mana yang terdengar lucu. Sepertinya tidak ada sama sekali. Nadira memberi ekpresi bingung. Dengan tingkah Surya yang aneh itu.
"Hmm." Surya menghentikan tawanya. Wajahnya terlihat serius kali ini.
"Ya itu terserah kamu sih. Aku hanya memberi nasehat. Ada kuotes yang berbunyi. Kenalilah aku dari diriku. Jangan dari orang lain." Surya berhenti berkata dan. Berjalan mendekati Nadira.
"Tapi." Surya menjeda bicaranya. Medekatkan wajahnya ke wajah Nadira. Matanya melebar. Nada bicaranya sedikit ditekan.
"Kita tidak bisa melihat penampilan sendiri. Tanpa bantuan cermin. Betul?"
Surya menjauhkan kepalanya. Dia dengan cepat menyungging senyum ramah. Menghapus wajah galaknya yang baru saja diperlihatkan.
"Ya."
Nadira menatap tajam ke arah Surya. Dia benar-benar bingung harus marah atau berterimakasih oleh nasehat lelaki ini. Namun dia tidak membalas senyuman itu.
Nadira berbalik lalu berjalan pergi. Meninggalkan Surya seorang diri.
"Semoga lekas jadian ya!" Teriak Surya dari kejauhan. Dia sangat senang. Karena sudah meluapkan isi hatinya itu. Dia berharap keduanya bisa segera bersama dan bahagia.
Kembali ke warung pinggir jalan.
"Dir?"
Ini sudah ketiga kalinya Rini memanggil nama Nadira.
"Ah, ya."
Nadira baru saja tersadar dari lamunannya. Sendok di tangannya diletakan. Segera diraih gelas berisi teh hangat di depan piring. Lalu meneguknya beberapa kali.
"Ah, enggak kok."
Segera dibantah pertanyaan Rini dengan tegas. Kenyataannya memang tidak ada masalah, yang sedang dihadapinya.
Hanya saja terus terpikir kan oleh Arkana. "Mau dibelikan menu yang mana, ya?." Nadira masih menatap etalase yang berisi menu makanan. Yang di tata rapi di dalam piring dan mangkuk itu.
Di Villa Arkana.
Security yang baru bekerja beberapa hari disini. Berlari untuk segera membuka gerbang untuk Nadira.
Dia pak Wawan. Orang rantauan dari pulau J. Tubuhnya besar dan tinggi. Kira-kira tingginya 170-an dengan berat badan 80kg. Kulitnya yang gelap menambah tingkat keseramannya. Namun dia sangat baik dan ramah. Murah senyum lagi. Berbeda dengan penampilan luarnya yang bikin merinding.
"Selamat malam Non."
Sambut Pak Wawan. Dengan senyuman khasnya. Hanya mata dan gigi putihnya yang bersinar.
"Malam, Pak Wan."
Kata ku. Membalas senyumannya dan mulai membiasakan diri memanggilnya Pak Wan.
"Mau saya bantu, Non?"
"Ah, tidak perlu Pak. Saya bisa sendiri kok."
"Ya sudah kalau begitu. Kali saja Non Dira capek."
__ADS_1
"Terimakasih karena sudah perhatian Pak. Oh ya, Tuan Arkana?"
"Tuan. Sudah tidur. Seharian Tuan capek karena- " Kalimat Pak Wan terjeda sesaat. Membuat Nadira penasaran, ingin mendengarnya.
"Karena apa Pak?"
Tanya Nadira dengan wajah penasaranya.
"Karena Tuan jalan-jalan di taman terus dari pagi haha." Pak Wan terus tertawa menutupi kebohongannya.
Ada yang janggal dari jawabannya. Namun Nadira memilih percaya saja dengan Pak Wan. "Males banget mau tanya lagi. Lagian bukan karena aku ini."
Pikir Nadira simple walau tau jika Pak Wan membohonginya.
Nadira memasukan motor gedenya ke garasi. Setelahnya. Segera berlari kecil menuju pintu masuk. Berlari dengan wajah yang dipenuhi binar-binar keceriaan.
Dibuka pintu itu dan. Langkahnya segera memasuki Villa. Di dalam Villa sangat gelap. Namun tidak menciutkan nyalinya. Nadira berjalan mencari tombol saklar untuk menghidupkan lampu.
Klik.
Suara dari saklar yang sudah ditekan oleh Nadira.
Sekarang seluruh ruangan tampak terang. Karena sinar dari lampu-lampu itu.
Nadira berbalik badan. Hendak pergi ke dapur. Seseorang berdiri tepat dibelakangnya. Membuatnya kaget saat membalikkan tubuhnya.
"Aaaaaaaaaa."
"Emm. Emm."
Tangan yang terasa besar segera mebekab mulutku. Tangan satunya menutupi mataku. Sekalian ku pejamkan saja. Aku tidak berani mengintip wajah seseorang ini.
Sekantung plastik yang berisi makanan untuk Arkana pun terjatuh. Sia-sia aku membelinya.
Aku terus meronta. Menggerakkan seluruh tangan dan kakiku. Namun tetap tidak bisa menandingi tenaga seseorang ini.
Ingin sekali meneriakkan namanya. Ingin sekali berteriak dengan keras. Namun aku begitu takut. Takut sampai lidahku keluh. Tidak sanggup lagi untuk berucap. Walau hanya menyebut namanya pelan.
Aku teriakkan namanya dari hatiku. Semoga dia bisa dengar. Lalu datang menolongku. Aku tidak sanggup lagi. Dadaku sesak. Tidak sanggup bernafas.
Akan kah kejadian masa kecilku terulang lagi, sekarang. Ku mohon selamatkan aku. Arkana. Arkana. Arkana. Tolong aku.
Tanpa sadar aku menyebut namanya. Tidak tau pikiran dari mana ini. Meski banyak orang yang dekat dengan ku. Bukan orang tua atau adikku yang ku sebut. Melainkan meneriaki namanya di dalam hatiku.
Kepalaku mendadak pusing. Sangat pusing dan terasa sakit. Tubuhku melemas. Dan-
Brukk.
"Dir. Dira? Bangun."
#Bersambung.
Hai. Readers setiaku.
Semoga kalian selalu sehat ya.
Mohon maaf lahir batin.
Dari Author yang mungkin punya banyak salah kepada kalian.
__ADS_1
Ya. Disisa-sisa lebaran ini. Semoga kalian masih bisa maafin aku ya. hehe.
Salam hangat untuk para Readers ku.