Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Pantai.


__ADS_3

Hai... Selamat membaca!


Jangan lupa tekan LIKE, sebelum atau sesudah membaca. Terimakasih!


.


Arkana dan Nadira berdiri bersebelahan di trotoar jalan. Keduanya saling menatap satu sama lain.


Arkana beralih melihat sekeliling. Ia merasa asing, bahkan tidak mengenali tempat ini. Ia menengok. Ada sebuah hotel megah tepat di belakang ia berdiri. Benar. Ini bukan suasana di sekitar villanya.


"Kita dimana?" Tanyanya kepada Nadira.


"Pantai Jerman." Nada suara itu sangat santai.


Dahi itu mengeryit. Bukankah seharusnya mereka pulang ke villa Arkana. Kenapa malah ke pantai lagi? Arkana tidak mengerti dengan jalan pikiran gadis itu.


"Yuk!" Ia mengajak Arkana sambil mengaitkan lengannya


"Kemana?"


"Ke hotel."


"Huh...." Menautkan kedua alisnya sambil melongo.


Arkana diam, sambil terus berjalan mengikuti langkah Nadira. Pikiran Arkana sudah melayang-layang entah kemana.


***


Sepanjang jalan, Arkana terus tersenyum tipis. Sambil memikirkan apa yang akan keduanya lakukan di hotel nanti. Bahkan ia tak menyadari keadaan di sekelilingnya.


"Kita sudah sampai!" Nadira begitu sumringah.


"Hei! Arka! Arkaaa... kamu denger aku gak sih? Ya ampun,"


"ARKANA." Ia sedikit berteriak, sambil memukul pelan pangkal lengan Arkana.


Arkana terkejut. Ia menoleh ke Nadira. Awalnya ia merasa senang. Setelah melihat suasana sekeliling yang begitu gelap, Arkana pun sedikit menghela nafas karena kecewa.


"Kita ada dimana?" Tanya Arkana.


"Di pantai." Ia duduk di hamparan pasir yang lembut bagai gula putih halus.


Wajah Nadira mendongak ke atas. "Sini. Duduk!" Ditepuk-tepuk secara pelan tempat kosong di sebelahnya itu.


Arkana menghela nafas panjang. Ia tidak sadar, bibir itu tertarik kesamping sampai membentuk sebuah senyuman. Akhirnya Arkana ikut duduk di dekat Nadira di atas tumpukan pasir yang tak terhitung jumlahnya.


"Kamu sering ke sini?"


"Sering. Dulu......" Ia menoleh Arkana. Melihat wajah pria itu yang samar terlihat, karena penerangan yang kurang bagus.


"Dulu?" Tanya Arkana heran. Ia penasaran dengan apa yang membuat Nadira jadi jarang ke sini.


Kembali Nadira melihat ke depan.


"Ya... Karena sekarang aku sibuk sama kerjaanku. Jadi, jarang banget bisa ke sini."


"Jarang? Bukanya kamu bilang sering ke pantai, kalau lagi bad mood."


"Emm.." ia terkekeh.


"Bener. Tapi aku lebih suka datang ke sini waktu malam tiba."


"Kenapa?" Arkana makin penasaran sekarang.


"Karena..... Itu!"

__ADS_1


Nadira mengangkat satu tangan kanannya ke atas. Jari telunjuk itu menunjuk hamparan langit luas yang begitu cerah. Begitu terang, sehingga kedua orang itu dapat melihat letak bintang dengan jelas.


Wajah Arkana mendongak ke atas. Melirik bintang-bintang yang begitu indah seolah sedang berkedip padanya.


"Pantes kamu suka langit. Aku baru tau, kalau pemandangan langit malam begitu menggoda."


Ia terpukau melihat jutaan bintang di atas sana.


Nadira terkekeh. Ujung matanya melirik pria di sebelahnya itu.


Ia tak berkomentar. Hanya merasa jika lebih baik melihat bintang bersama dengan seseorang. Ya.... bisa dikatakan ini adalah kali pertama bagi Nadira duduk bersama seorang pria. Dan, ia merasa senang.


Arkana mengalihkan pandangan. Menoleh Nadira. Terlihat gadis itu begitu senang, meski tak menunjukkan tawanya.


Arkana bahagia melihat Nadira yang begitu tenang. Sesekali ia melihat ke langit, memandangi bintang. Sesekali ia melihat wajah Nadira.


"Kamu ngapain sih?" Ia menyadari kegiatan Arkana.


"Aku cuma lagi bandingin."


"Bandingin apa?"


Keduanya saling menatap satu sama lain.


"Bandingin kamu sama bintang."


"Aku? Sama bintang!" Nadira terkekeh.


"Iyaa... Dan kamu tau?"


Kedua alis itu ditautkan. Rupanya ia mulai penasaran dengan perbandingan antara ia dan bintang itu. Lalu berkata,


"Tau apa?"


Tatapan itu sangat mantap. Lurus ke arah netra Nadira.


Deg. Jantung ini berdebar lebih kencang. Perasaan ini sangat senang mendengar kalimat itu. Namun, tak berani wajah ini meng-ekpresikannya. Wajah ini kaku menahan senyuman. Menahan rona merah itu muncul di kedua sisi pipi ini.


"Huh!" Akhirnya, hanya helaan nafas itu yang berani ia keluarkan dari mulutnya. Bersamaan dengan senyum tipis yang segera memudar.


"Senyum aja kalau mau senyum. Lagian gak keliatan sama aku."


"Aku gak senyum..." Nadira memalingkan wajah ke arah yang berlawan dengan Arkana.


"Ah... masak?" Mencondongkan tubuhnya. Mencoba bertatap muka dengan Nadira.


"Yang bener?" Imbuh Arkana, menelisik.


"Bener!" Menghindari tatapan pria itu.


"Hmm." Ia mencibir.


"Itu... kamu lagi senyum." Tuduh Arkana kepada gadis itu.


"Enggak. Siapa yang senyum... Ih! GR."


"Kamu kali yang GR... Aku kan cuma bandingin antara kamu sama bintang."


Huh. Dia ngomong apa barusan. Aku yang GR? maksudnya, aku yang ke pedean gitu.


Nadira menoleh. Rahangnya yang lunak perlahan mengeras bagai air yang membeku menjadi es.


"Kamu bilang apa, barusan? aku yang ke GR-an? kamu gak salah ngomong?"


"Hem. Buktinya kamu senyum-senyum."

__ADS_1


"Kapan?" Sarkasnya dengan mata melebar.


"Tadi?" jawab Arkana dengan polos.


"Emang kamu liat?"


"Enggak. Kan...." Nadira lebih dulu bersuara, sebelum Arkana membuka mulutnya untuk memberi jawaban.


"Meski tak melihat, namun aku merasa."


Tatapan netra keduanya berada di garis lurus. Kalimat Arkana sangat menusuk Nadira. Kalimat itu seolah menggambarkan persaannya.


Keheningan menyelimuti keduanya. Deburan ombak menjadi soundtrack tatapan penuh cinta itu.


Tubuh mereka diam. Bibir itu dikatubkan. Mulut itu membisu.


Namun, debar di dada semakin tak menentu. Merasakan gelombang cinta yang mengaliri seluruh urat nadi.


Tatapan netra keduanya seolah menggambarkan perasaan mereka. Mewakili lidah yang tiba-tiba keluh. Mewakili mulut yang mendadak bungkam.


Tangan kanan Arkana diulurkan. Ia menyentuh satu sisi pipi itu dengan lembut. Tatapan netra itu tidak berubah jalur, masih satu garis lurus.


Nadira merasakan sentuhan itu. Sentuhan yang membuatnya merasa hangat. Perlahan pipi itu memanas, muncul rona merah di sana. Entah sejak kapan, ia mulai menyukai kontak fisik dengan Arkana.


Ditarik bibir itu jauh ke samping. Senyuman yang lebar tercetak di wajah Arkana. Jari-jarinya masih setia menapaki wajah Nadira. Membelai dengan lembut dan hangat.


Nadira tersipu. Ia merundukkan tatapannya. Merasa cukup lama keduanya saling menatap. Dan, ia baru sadar untuk merasa malu.


Diangkat sedikit telapak tangannya dari wajah Nadira. Ujung jari telunjuknya menyentuh pelan hidung Nadira.


Lalu ia menarik kembali lengannya.


"Jangan sentuh hidungku!" wajahnya mendongak. Melebarkan matanya.


"Kenapa gak boleh?" Tanya Arkana sambil memajukan sedikit wajahnya.


"Ya gak boleh."


"Ya kenapa kok gak boleh?" Arkana memajukan wajahnya sedikit lagi.


"Ya... pokoknya gak boleh!"


"Ya.... Kenapa?" wajahnya di miringkan. Sedikit memajukan wajahnya lagi.


Nadira menarik kepala ke belakang.


"Ya gak boleh aja.... sekali gak boleh! ya enggak boleh! gitu aja gak ngerti."


Nadira mengatakannya dengan ekspresi yang lucu di mata Arkana.


"Tapi aku beneran enggak ngerti." Arkana memajukan wajahnya lagi. Namun, kali ini lebih jauh. Jarak wajah keduanya selisih tiga jari.


Ia terkejut. Tanpa sengaja ia dorong kedua sisi pundak Arkana.


Ditangkap kedua pegelangan tangan Nadira. Ia merasa gemas dengan tindakan Nadira itu.


Ditarik kedua lengan Nadira dengan kuat. Sampai tubuh Nadira ikut tertarik oleh tenaga Arkana.


Ia masuk ke dalam pelukan Arkana. Wajahnya mendongak ke atas, meluruskan tatapannya dengan Arkana.


"Aku gak boleh sentuh hidungmu?"


Gelengan kecil dilakukan oleh Nadira.


"Kalau jadi pacar, boleh?"

__ADS_1


Ia melebarkan matanya. Tidak terlihat marah, tidak juga senang. Tidak memberontak juga tidak melarikan diri dari pelukan itu. Nadira hanya diam.


__ADS_2