
Bab sebelumnya.
"Dir, gawat." Kata Putri.
"Kenapa lagi?" Kata Feni.
"Banyak banget yang sudah salin tautan dan bagikan beritanya. Lihat ini," Putri mengarahkan layar smartphone ke Nadira dan Feni.
"Menurut kalian berdua, siapa yang melakukan ini?"
Kata Nadira sedang berpikir.
...****************...
Masih di kantin SmartMall.
Nadira, Feni dan Putri masih duduk di tempatnya. Mereka sedang berpikir sejenak dan kemudian Feni berkata.
"Coba kita liat nama penulisnya dulu?"
Putri kembali melihat layar smartphone miliknya. "Penulis artikel Aris Rahman! Tapi, ..."
"Tapi apa?" Tanya Nadira penasaran.
"Apa bisa ketemu?" Putri merasa ragu.
"Bisa. Selama dia di Bali." Jawab Nadira yakin. "Kalian makan dulu lah, liat makanan kalian udah dingin." Lanjut Nadira melihat piring Feni dan Putri.
"Ah, iya... Sampek lupa." Kata keduanya baru saja sadar dan langsung melahap makanan mereka masing-masing.
"Kalian makan aja, aku pergi ke loker dulu. Oke!" Kata Nadira kepada dua temannya itu sambil memegangi perutnya.
"Oke!" Kata Feni dengan makanan yang masih di dalam mulutnya. Sedangkan Putri hanya melambaikan tangannya, mengusir Nadira agar cepat pergi ke loker.
***
Di loker.
Nadira duduk di toilet untuk panggilan alam. Nadira memainkan smartphone ditangannya. Di buka aplikasi WhatsApp untuk menghubungi Alex.
Baru saja jarinya ingin menekan ikon hubungi. Nadira berhenti. "Chat aja lah. Masa iya di toilet teleponan." Akhirnya Nadira menulis chat untuk Alex temannya itu.
Nadira menatap layar smartphonenya lekat-lekat. "Kemana sih, ini anak? Tumben amat di chat dari tadi masih aja centang satu... Biasanya langsung di bales "
Nadira menghela nafas. "Nanti aja deh aku telepon. Sekarang selesaikan dulu urusan di sini." Nadira meletakkan ponselnya di atas tempat tisu.
Di luar toilet.
Lia dan Leni baru datang dari luar dan berdiri di depan cermin untuk merias wajah agar tampak cantik. Mereka tidak tahu jika ada Nadira di dalam salah satu toilet itu. Keduanya berbicara dengan santai, merasa tidak ada yang mendengar karena di loker hanya ada mereka saja.
"Btw makasih banget atas bantuannya." Kata Lia ramah.
"Sama-sama... Aku juga agak nggak suka sama Nadira itu." Kata Leni dengan mimik judesnya.
Nadira terhenti saat hendak memutar gagang pintu toilet. Mendengar namanya disebut, dirinya memutuskan untuk tidak keluar dari dalam toilet itu.
"Oh iya, setelah ini. Apa rencana kamu selanjutnya?" Kata Leni penasaran.
"Rencana Ku?" Lia menjeda bicaranya untuk berpikir sejenak. "Tentu saja mengusir dia dari SmartMall. Jika perlu, akan aku buat dia tidak bisa bekerja lagi di bidang ini."
"Apa perlu sampai seperti itu?" Kata Leni sedikit khawatir.
"Iya, tentu. Agar dia sadar diri dan tahu posisinya... Berani sekali dia merayu pria yang aku sukai sejak lama." Kata Lia penuh tekad. Lia merasa tidak senang setiap kali ia melihat Nadira dekat-dekat dengan Zain.
Ingatan Lia, 2 tahun lalu.
Saat itu Lia baru bekerja di SmartMall dan Zain sudah menjadi Manajer di sana. Di hari pertama masuk kerja Lia terlambat datang. Pagi itu adalah jadwal Zain sebagai Manager penanggung jawab.
"Maaf saya terlambat." Di depan security yang bertugas.
"Baru ya?" Kata security wanita itu.
"Iya. Baru masuk hari ini." Kata Lia.
"Devisi apa?" Kata security.
__ADS_1
"Dry food."
"Oke. Tunggu sebentar." Security lalu menelepon Manager yang bertugas.
"Silahkan masuk ke ruangan itu. Serahkan berkas kamu ini kepada Pak Zain. Dia Menager yang bertugas pagi ini." Lanjut security itu memberitahukan kepada Lia.
"Baik. Terimakasih." Lia memasuki ruangan manager. Lia hanya melihat Zain seorang di sana yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Permisi, Pak Zain. Saya SPG baru--"
"Iya. Ke sini mendekat." Sela Zain cepat.
Lia berjalan mendekat dan berhenti di depan meja kerja Zain. Lia menyerahkan berkas bukti jika benar dia dikirim dari kantor tempatnya bekerja.
Zain melihat berkas itu. "Lia Aprilia," Zain mengangkat pandangannya untuk melihat Lia. "Cantik, tinggi, rapi, putih,"
Zain menganggukkan kepalanya. "Oke. Rekomendasi yang bagus. Sempurna." Zain memberi Lia senyuman.
Lia merasa sangat senang dengan pujian yang diberikan Zain. Belum ada pria yang berkata seperti itu kepadanya. "Makasih, Pak..."
"Sama-sama."
"Oh ya, maaf saya terlambat." Kata Lia.
"Tidak apa-apa. Asalkan kedepannya tidak akan terlambat lagi, apa bisa?" Kata Zain ramah.
"Ya. Bisa." Kata Lia penuh semangat.
Sejak pertemuan pertamanya dengan Zain. Lia sudah menyimpan rasa terhadap Zain. Lia selalu bekerja dengan baik untuk diperlihatkan kepada Zain. Lia tidak pernah terlambat dan selalu pulang melewati batas waktu jam kerjanya.
Zain sangat menyukai siapapun yang selalu bekerja dengan baik dan sempurna. Karena itu Zain sangat baik kepada Lia dan keduanya juga dekat.
Namun setahun kemudian. Sejak Nadira datang ke SmartMall. Lia merasa ada perubahan sikap dari Zain kepada dirinya. Zain selalu mendekati Nadira. Makan siang di kantin dengan Nadira. Membantu Nadira menata barang di rak dan lainnya. Bahkan Zain dan Nadira sering datang bersama ke tempat kerja.
Saat Nadira tidak ada. Sepulang kerja Lia meminta kepada Zain untuk makan bersama. Tetapi Zain selalu menolak dan berkata sudah ada janji dengan Nadira. Sejak saat itu Lia sangat membenci Nadira bahkan sempat dirinya berpikir untuk melenyapkan wanita itu. Agar Zain kembali ke pada dirinya.
Ingatan Lia selesai.
Leni sedikit miris mendengarkan cerita Lia. Leni merasa kasihan dengan nasib temannya itu. "Seharusnya kamu katakan kepada Pak Zain, jika kamu menyukai dia."
"Lagi-lagi Nadira! Apa mereka berdua pacaran?" Kata Leni.
"Tidak. Tapi aku rasa Nadira juga menyukai Zain." Kata Lia.
"Apa mungkin Zain juga menyukai Nadira?" Tebak Leni.
"Gak mungkin. Zain itu suka wanita berambut pendek, kulit putih, dan tinggi seperti aku." Jelas Lia percaya diri.
Leni menyeringai. "Karena itu kamu tidak memanjangkan rambutmu?"
"Ya."
Leni menganggukkan kepalanya. "Ya, kamu memang benar menyukai Zain. Hehe."
Lia melihat jam tangannya. "Ah, sudah jam tiga lewat tiga puluh. Ayo! Kita turun."
"Ayo." Kata Leni.
Keduanya berjalan keluar dari loker. Leni dan Lia masih sempat berbincang saat berjalan keluar.
"Oh iya, bentar lagi Nadira pasti di panggil HRD. Makasih ya bantuannya." Kata Lia.
"Iya, kamu ini, kayak sama siapa aja? Kita kan udah lama temanan." Kata Leni sumringah. Leni merasa senang bisa membantu teman sejak SMP-nya ini. Apalagi HRD di SmartMall masihlah bibinya sendiri. Sedangkan dia sendiri juga menjabat sebagai manajer di bagian elektronik. Karena itu Leni merasa mampu untuk membantu Lia.
Kembali lagi ke Loker.
Brakk.
Suara pintu yang dibuka oleh Nadira dengan keras.
"Sial." Umpatnya untuk kedua wanita busuk itu. Nadira melangkah mendekat dan berdiri di depan cermin.
"Ternyata kalian berdua pelakunya." Nadira menatap pantulan wajahnya sendiri di dalam cermin. "Walaupun aku tidak punya koneksi. Tapi, mari kita lihat! siapa yang akan di tendang dari tempat ini." Nadira menatap pantulan wajahnya dengan aura mematikan.
Di Jakarta.
Arkana baru saja kembali dari meeting room. Baru saja ia duduk dan bersandar di kursi kerjanya, Beni masuk untuk memberi laporan.
__ADS_1
"Ada apa?" Kata Arkana lesu.
"Ada berita dari, -"
"Stop." Kata Arkana memotong kalimat Beni. Arkana bangun dari sandarannya itu dan duduk dengan tegak. "Bilang ke Mama, kalau gue sibuk. Nggak punya waktu untuk kencan lagi hari ini."
Beni melongo. Bukan itu, yang ingin Beni sampai kan kepada Arkana. "Ini ten-"
"Udah, satu kali ini aja! Gue sebagai sahabat minta tolong banget sama Loe, Ben." Arkana tampak tidak sehat. Mimik wajahnya begitu memohon kepada Beni.
"Loe kasih alasan apa lah sama Mama, biar batalin kencannya. Ya?" Lanjut Arkana.
Beni hanya diam. Beni merasa kasihan kepada sahabatnya ini, karena masalah perjodohannya belum juga terselesaikan.
"Loe sendiri tahu, kan. Baru lima hari ini gue di Jakarta... Udah 10 cewek yang Mama kenalin ke gue... Loe nggak kasihan sama gue, Ben?" Lagi-lagi Arkana memasang wajah memelasnya.
Beni diam saja. Beni ingin mendengarkan semua keluh kesah sahabat nya itu sampai selesai. Barulah dirinya bicara.
"Kalau bukan karena kerjaan. Gue gak bakal balik lagi ke Jakarta. Kalaupun gue balik, gak akan pernah pulang ke rumah itu lagi." Arkana melihat Beni dan sahabatnya itu hanya diam.
Arkana menghela nafas berat. Meletakkan kedua tangannya di atas meja. Arkana meletakkan kepalanya di atas tangannya, dan menunduk kebawah memejamkan matanya.
"Gimana caranya supaya Mama berhenti jodoh jodohin gue lagi?" Kata Arkana lirih mengeluh pada diri sendiri.
Walau suara keluhan itu lirih, Beni masih bisa mendengar semuanya dari tempatnya berdiri. Beni menatap kasihan kepada sahabatnya itu.
Beni menghela nafas berat. Dia berjalan dan berhenti di sebelah kursi Arkana.
"Ini..." Beni memberi Arkana sebuah tab.
"Apaan?" Kata Arkana malas, masih menunduk kebawah.
Beni meletakkan tab itu di atas meja. "Lihat dulu. Mungkin ini bisa menjadi cara ampuh! Supaya tante berhenti jodoh jodohin Loe." Kata Beni memberi gagasan.
Arkana menghela nafas lagi. Diangkat kepalanya lalu dia memandang Beni. "Loe yakin?"
Beni mengangguk. "Makanya lihat dulu."
Sebenarnya Arkana merasa ragu. Tetapi, karena Beni sangat yakin. Arkana pun melihat layar tab itu... Dan.
"Apa-apaan ini?" Kata Arkana merasa tidak senang.
"Siapa yang berani nulis artikel sampah ini? Ha?" Arkana menatap Beni seolah ingin menerkamnya.
"Aris Rahman." Jawab Beni tenang.
"Hah! Siapa?"
"A ris Rah man." Jawab Beni lagi mengulangi pelan.
"Hapus! Perintahkan media untuk hapus artikel ini." Kata Arkana marah. Rahangnya mengeras. Dadanya terasa panas. Rasa lesu dan malasnya pun seketika hilang.
"Gak bisa. Karena ini satu-satunya cara untuk membuat tante berhenti jodoh jodohin Loe." Tegas Beni tenang. Sebenarnya dia sedikit takut juga, namun Beni berusaha untuk tetap tenang.
"Ini?"
"Iya." Jawab Beni serius.
Arkana diam sejenak untuk memutar otaknya. "Hehe. Oke juga." Kata Arkana setelah beberapa saat dirinya terdiam lalu akhirnya menemukan sebuah ide cemerlang.
"Hapus artikel ini di semua aplikasi sosial media. Dan minta seseorang untuk menulis sebuah artikel baru. Umumkan bahwa aku dan Nadira memang benar sedang menjalin hubungan dan tidak mendapat restu dari orang tua ku." Kata Arkana yakin akan idenya itu.
"Baik." Jawab Beni sudah paham. Beni mengambil balik tab-nya di atas meja. "Saya permisi dulu, Bos." Kata Beni formal dan pamit keluar dari ruangan itu.
"Ya." Kata Arkana. Sekarang Arkana merasa senang karena sudah menemukan sebuah ide untuk membuat Mamanya berhenti.
"Semoga dengan ini Mama benar-benar berhenti."
.
.
.
Bersambung dulu ya (◠‿◕)
Kasih ❤️ kalian untukku. Terimakasih.
__ADS_1