Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Jadi Istriku?


__ADS_3

Arkana segera turun ke lantai bawah setelah mandi dan ganti baju. Kaos abu-abu dan celana pendek, membuatnya terlihat santai pagi itu.


Langkah kaki Arkana sudah sampai di depan meja makan. Di tarik kursi itu untuk ia duduki. Nadira sudah duduk disana sedari tadi, menunggu Arkana.


Opor ayam. Tumis kangkung. Ayam goreng. Sambel terasi. Capcai dengan irisan wortel, bakso, brokoli dan jagung.


Wow. "Kamu yang masak ini semua?" Tanya Arkana, ia kagum ketika meja makan itu penuh dengan masakan. Ia kira gadis itu hanya bisa masak bubur. Karena saat ia sakit, gadis itu hanya memberinya makan bubur setiap hari.


Nadira mengangguk pelan, sambil tersenyum. Tidak menunggu siapa pun. Arkana segera mengisi piringnya dengan sedikit nasi. Lalu mengambil sedikit-sedikit untuk semua menu masakan itu.


Satu suapan sudah dimasukkan ke dalam mulut Arkana. Mulutnya masih mengunyah, sambil meresapi rasanya pelan-pelan.


"Enak banget. Kamu ternyata jago masak, ya?" Pujian itu dikatakan dengan cengiran khas Arkana.


Wajah itu semakin merona karena malu. Pujian pria itu seakan melambungkan tubuhnya ke awan, rasanya sungguh menyenangkan mendengarnya.


"Ah nggak juga, kok." Nadira jadi salah tingkah karena masakannya dipuji.


"Kamu pernah kursus masak?"


"Enggak. Cuma sering belajar sama ibu." Sorot mata itu terus memperhatikan kegiatan Arkana yang sedang makan dengan lahapnya.


"Hmm. Jadi ibu kamu jago masak. Koki?" Ia menaikkan wajahnya. Dan gadis itu tertangkap basah, sedang memandanginya.


Sontak wajah Nadira segera berpaling. Melihat ke arah lain, kemana saja asal tidak wajah Arkana. Sungguh, sekarang wajah Nadira sudah merah merekah. Ia semakin salah tingkah. Dengan sedikit gagap, ia menjawab.


"Mm- bukan koki.. tapi, ibu ku.. punya warung makan."


"Oh. Kenapa kamu gak jadi koki aja? kan pinter masak." Pria itu melanjutkan makannya yang masih sedikit. Makanan itu lebih menggodanya sekarang, ketimbang wajah malu-malu Nadira.


"Emangnya. Kalau pinter masak, harus jadi koki?" Nadanya sedikit di tekan. Ia merasa aneh dengan pemikiran yang seperti itu. Sangat tidak masuk akal. Karena tidak semua orang pintar, juga jadi Guru kan.


"Ya kali aja minat," Arkana memasukkan satu suapan terakhirnya.


Bibirnya mengerucut dan kepalanya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Gak minat!" Ia tidak tertarik sama sekali untuk menjadi koki, chef, atau apalah itu. Ia lebih suka masak untuk pribadi dan, untuk keluarga kecilnya kelak.


Arkana meneguk susu di gelas sampai tinggal setengah. Lalu mengelap bibirnya dengan tissue, untuk menghilangkan bercak setelah makan tadi. Ketika merasa sudah bersih, ia kembali bertanya kepada Nadira.


"Kalau jadi koki aku, mau?"


Wajah kedua insan itu saling menatap. Nadira terperangah. "Koki kamu?" Ulangnya, memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Hmm." Jawab Arkana cepat, dengan anggukan kecil.


"Nggak mau." Nadanya ketus. Ia merasa itu tidak mungkin untuk menjadi kokinya. Itu artinya, ia akan jadi babu-nya Arkana. No. No. No ia menolak keras.


Arkana memajukan wajahnya ke depan, agar lebih jelas melihat ekspresi dari gadis di depannya. Lalu ia bertanya dengan wajah datar dan nada yang santai. "Kalau jadi ISTRI-ku... Mau gak?"


Sunyi. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Nadira. Ia terperangah dengan pertanyaan itu. Sebentar ia merasa ada panah cinta menembus ke dalam hatinya. Detak jantungnya semakin tidak karuan, rasanya jantung itu akan copot dari tempatnya. Lagi-lagi ia merona tanpa sadar. Sorot matanya tidak lepas dari wajah Arkana.


Bagaimana bisa, pria ini lahir dengan wajah yang begitu tampan?


Tuk. Tuk.


Dua jari Arkana dihentakkan ke meja. Membuat gadis itu tersadar kembali dari lamunannya. Tanpa disadari gadis itu cukup senang dengan gombalan Arkana. Hingga ia terpesona dan terpaku oleh wajah tampan itu.


Nadira semakin kikuk sekarang. Apa lagi saat ia sadar jika pria itu mengikuti kemana saja arah kepalanya menoleh. Rona wajahnya semakin terlihat. Nadira pun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia merasa senang sekaligus malu. Tidak tau harus bertingkah seperti apa untuk menghindari pria itu.


Arkana begitu senang melihat gadisnya malu-malu. Sangat jarang melihat Nadira seperti itu. Arkana memajukan tangannya. Menyentuh pergelangan tangan Nadira, berharap agar gadis itu memperlihatkan wajahnya.


Namun ia meronta kecil. Nadira menolak untuk membuka telapak tangannya saat ini. "Kenapa, Kamu malu?" Selidik Arkana penasaran.


Arkana mencondongkan tubuhnya kedepan. "Mau apa enggak, jadi ISTRI ku?" Lagi ia ulangi kalimat itu dengan santainya.


Sekali lagi panah cinta itu menembaki hati Nadira. Apakah benar, jika pria di depannya itu sedang menyatakan cinta. Tapi bukannya pria itu terlalu terburu-buru. Bahkan dia langsung meminta Nadira untuk menjadi istrinya.


"Apa kamu salah makan obat semalam?" "Enggak!" Jawaban Arkana cepat.


Nadira masih menutupi wajahnya. Beberapa kali ia menarik nafas panjang, untuk menghapus rona merah di pipinya.

__ADS_1


Nadira sedikit ragu saat membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya itu. Sedikit tenaga ia keluarkan untuk menghempas kan tangan Arkana.


"Kamu itu cuma omdo?" Mata Nadira melebar saat mengatakan itu.


Tangan Arkana di tarik kembali. Tubuhnya bergerak dan beralih duduk di kursi dekat Nadira. "Omdo?" Tanya Arkana dengan mengeryitkan dahinya. Apa itu omdo? Apa itu nama makanan atau cemilan? Pikir pria itu tidak kenal dengan si omdo ini.


Bibir kecil itu dilipat ke dalam sebentar, "Omdo. Omong doang, kamu tidak serius kan," Aku tau kamu cuma bercanda. Setiap hari, setiap waktu candaannya enggak pernah jauh-jauh dari itu. Bosen. Tidak akan mempan.


Ia menekan kan kata tidak mempan di dalam pikirannya. Ya. Nadira tidak akan goyah begitu saja dengan gombalan receh pria ini. Ia merasa jika pria itu tidak cukup serius dalam mengatakannya. Bahkan pria itu terlihat sangat santai.


Satu tangan Arkana di tumpukan ke meja untuk menyangga tubuhnya. Ia duduk miring untuk menatap wajah gadis itu.


"Omong doang? Kamu bilang 'iya' dulu. Baru tau, aku omdo apa enggak." Ia menatap lekat-lekat wajah gadis di sebelahnya.


Sorot mata keduanya saling menatap begitu dalam. Dengan remeh Nadira berkata.


"Kamu tu cuma bisa gombal. Bilang jadi pacar aku, aku suka kamu, sayang kamu. Dan sekarang! Bilang jadi istri ku? Aku yakin banyak cewek diluar sana yang udah denger itu dari mulut lemes kamu."


Arkana manautkan alisnya. Memutar bola mata seraya berkata, "Emangnya kenapa kalau aku banyak gombalin cewek-cewek di luar sana. Kamu cemburu?" Beberapa kali kedua alisnya dinaikkan ke atas.


Huh. Nafas itu keluar dengan keras. "PD banget sih, kamu! Sumpah! Baru ini kenal orang yang percaya dirinya gak ketulungan." Nadira meraih gelas berisi air lalu meneguknya.


"Yang paling ganteng juga, kan?"


Pufftt. Air yang baru sampai di ujung tenggorokannya, terpaksa kembali keluar. Karena tidak kuat mendengar kalimat yang baru saja Arkana katakan. Dengan cepat ia menutup mulutnya dengan tangan. Gelas itu diletakkan kembali lalu diraihnya tissue.


"Kamu enggak apa-apa?" Belum sempat Nadira mengelap mulutnya. Tissue yang dipeggang Arkana sudah lebih dulu mendarat di bibir gadis itu. Di usapnya lembut bagian pipinya yang basah.


Wajah Nadira mulai merona lagi sekarang. Pipi itu memang tidak bersahabat dengan mulut Nadira. Ia memihak kepada si hati yang memiliki perasaan kepada Arkana.


Sepasang mata Arkana tidak lepas untuk melihat wajah Nadira. "Eh.. sudah.. makasih," tangan Arkana segera ditarik kembali ketika Nadira berkata begitu.


Ekspresi wajah itu terlihat kikuk.


"Em.. aku. Aku mau ke atas dulu." Nadira dengan cepat bangkit dari duduk.

__ADS_1


Arkana mendongakkan wajahnya lalu bertanya. "Kamu enggak sarapan?" "Udah tadi," Jawab Nadira cepat bagai kilat.


Sebelum rona merah di pipinya terlihat oleh Arkana. Ia segera melangkah pergi menjauhi meja makan. Seperti alasannya barusan, ia akan ke lantai atas.


__ADS_2