Mengejar Cinta Nadira

Mengejar Cinta Nadira
Pergi ke RS


__ADS_3

***


Di dalam Restaurant.


Nadira dan orang tuanya masih melanjutkan makan. Sambil menunggu kembali nya Arya.


Dengan penuh kehangatan dan canda tawa keluarga ini berbincang-bincang. Terlihat sangat harmonis.


"Dira?" Pangil Ibu Diah kepada putrinya.


"Iya Ibu" melihat wajah Ibunya yang terlihat serius.


"Ada apa Bu, kenapa melihat ku seperti itu? Aku jadi ta-kut."


Nadira merasa akan ada sesuatu yang penting untuk di bahas.


"Sudah punya kekasih?"


Pertanyaan ini membuat Nadira kelabakan. Dia menghentikan makan nya.


"Belum, Bu" melihat sekeliling.


Ibu nya menghela nafas panjang. Terlihat wajah nya yang sedih.


"Masih teringat Mario?


Nadira terlihat putus asa karena mendengar ibu nya menyebut nama Mario. Nama ini seakan mengingatkan akan luka lama.


"Jangan bahas lagi." begitu Nadira ingin mengakhiri percakapan ini.


Ibu nya masih tidak puas, dan masih ingin bertanya.


"Belum bisa melupakan dia?"


Nadira menghela nafas nya panjang. Dia berkata dengan penuh senyum yang ia paksakan.


"Bu, Aku sudah berusaha melupakan dia semampu ku. Tolong jangan bahas dia lagi. Aku mohon!. "


"Baik lah, Ibu berharap sekali. Jika kamu segera mendapat pasangan yang baik untuk menjadi suami kamu kelak."


"Aku belum mau menikah, kenapa bahas ini" Jawab Nadira santai.


"Kenapa? " tanya Ayah yang tiba-tiba ikut angkat bicara.


Ibu dan Ayah ini, setiap kali aku berbicara belum mau menikah. Langsung memberi ekspresi wajah yang menakutkan.


"Belum ada calon nya."


Kenyataan nya aku belum punya pacar. Jadi jawab jujut saja. Tidak akan jadi masalah kan?


"Kalau ada calon nya, kamu mau menikah? "


Tanya Ibu ramah. Sekejap merubah sikap nya yang tegas.


"Tentu saja!" jawab se simple mungkin.


Jawaban ini membuat orang tua nya tersenyum lega.


"Kalau begitu, Ibu bantu kamu cari calon nya. Kalau sudah ada, kamu harus mau menikah, oke?"


"Oke." Jawab Nadira tidak peduli.


Sekian detik kemudian Nadira baru tersadar akan jawaban nya yang simple itu.


Mampus! Aku barusan tidak sadar. Tidak mendengarkan dengan jelas apa yang di katakan Ibu. Langsung jawab oke! Karena ingin segera menyudahi percakapan ini. Jelas-jelas aku telah di jebak oleh Ibu. Ahhh, sial!"


Melihat reaksi nadira. Ayah dan Ibu tersenyum satu sama lain. Mereka menjadi sangat kompak soal jodoh Nadira.


"Kalau begitu, mulai sekarang Ibu akan menghubungi teman-teman lama Ibu. Siapa tau mereka punya anak laki-laki yang cocok untuk putri ibu yang cantik ini haha."


"Ya, terserah Ibu saja."


Ibu jadi tambah semangat karena Nadira menuruti perkataan nya. Mulai berdiskusi dengan Ayah. Teman mana yang kira-kira punya anak laki-laki yang taman. Dan seumuran dengan Nadira.


Aku hanya bisa pasrah kalau ibu dan Ayah sudah bersatu untuk masalah jodoh ku. Ah, semoga jodoh yang di pilih Ibu beneran lebih baik dari Mario. Dan mampu menghidupkan kembali perasaan diriku yang telah lama mati ini.


Hampir satu jam kemudian.


Ibu melihat ke arah pintu. Seperti ada yang menganggu pikiran nya. Perasaan nya jadi kacau. Gelisah tidak menentu.


"Kenapa sayang?" Tanya Ayah begitu lembut.


"Kenapa Arya belum kembali?


Dengan wajah penuh cemas. Membuat ayah Indra dan Nadira ikutan cemas karena nya.


"Mungkin belum selesai ngobrol sama pelatih nya, Bu." Nadira dengan sangat tenang menekan kecemasan.

__ADS_1


"Iya, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh Ma" Kata Ayah.


Ayah dan Nadira mencoba menenangkan Ibu Diah. Namun perasaan seorang Ibu sangat lah kuat. Dan tidak mungkin salah. Apa lagi soal anak kandung nya sendiri. Perasaan khawatir Ib seperti nya terjawab. Karena Nadira mendapat panggilan dari Arya.


"Wa'alaikumsallam" Jawab Nadira setelah menerima panggilan.


"Kamu dimana sih, kenapa ngak balik balik? "


Tanya Nadira menunjukkan rasa perhatian dan khawatir nya.


"Aku lagi di RS. Kakak jemput aku kesini ya! "


Mendengar jawaban adik nya. Nadira sedikit terkejut, namun dia menyembunyikan kenyataan dari orang tuanya. Dan langsung menuju RS tanpa memberi tau apa yang dia dengar di telpon. Meski Ibu sudah ribut dari tadi. Menanyakan apa yang terjadi pada Arya.


Setengah jam kemudian.


Di parkiran Rumah Sakit Umum Kota B.Nadira segera turun dari mobil bersama orang tuanya. Ibu terus ribut menanyakan apa yang telah terjadi.


Sedang Ayah Indra masih tetap tenang.


"Kenapa kita pergi ke Rumah Sakit?


Kamu bilang kita mau jemput Arya."


"Iya, sekarang kita masuk dulu ya."


Aku belum yakin apa yang terjadi kepada Arya. Karena tadi panggilan nya keburu terputus. Jadi aku tidak bisa menyimpulkan sesuatu yang belum jelas ini.


Di dalam Rumah Sakit.


Nadira segera menuju ke receptionist. Di sana ada dua pegawai wanita yang menungui.


"Selamat siang." Nadira mulai bicara dengan ramah.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu."' jawab salah seorang perawat tidak kalah ramah.


"Mau tanya, pasien yang bernama Arya ada di kamar nomor berapa ya?


"Arya? Em, tunggu sebentar ya."


Perawat mulai melihat daftar masuk pasien. Dan berkata tidak ada nama Arya tertulis di sana.


"Benar tidak ada? tolong lihat sekali lagi,Please!" Dengan nada memohon.


Perawat itu mengabulkan permintaan Nadira. Dan di cari lagi nama Arya.


"Arya, arya, arya, emm- dimana kamu? " mulai mencari lagi.


"Mohon maaf, tidak ada pasien dengan nama Arya. Mungkin tidak masuk Rumah Sakit ini."


Jelas perawat itu dengan sangat meyakin kan Nadira. Namun Nadira mengingat jelas kalau adik nya mengatakan Rumah Sakit Umum B.


"Hmm, tapi dia baru saja telpon. Dan memberitahu saya, kalau dia ada di sini."


"Sudah berapa jam kalau boleh tau? Tadi ada pasien pria yang masuk. Mungkin dia yang anda cari!."


Perkataan perawat sesaat menenangkan perasaan Nadira yang kacau.


Bisa jadi itu Dia.


***


Di area kamar pasien.


Kamar 057, Arya menunggu di luar ruangan. Karena Arkana sedang di rawat oleh dokter di dalam. Dengan sabar dia menunggui nya. Juga menunggu kedatangan kakak dan orang tuanya.


"Kenapa kakak lama sekali sih?"


Arya merasa resah, takut kakak nya tidak datang. Dia terus melihat ke arah pintu masuk.


Karena lelah, Arya merebahkan tubuh nya di atas kursi besi panjang. Tidak sadar matanya mulai terpejam.


Keluar Dokter pria dan dua perawat wanita dari kamar 057 itu. Mereka melihat Arya yang tertidur sangat nyaman meski di kursi. Baju nya yang penuh darah. Wajah yang terlihat lusuh memberi rasa iba kepada orang yang melihat nya.


"Bangun kan dia, beritahu untuk menunggu pasien di dalam. Jangan sampai di biarkan sendiri.karena pasien mengalami sedikit trauma. Dia butuh orang terdekat nya saat dia siuman. Jika pasien sadar, suruh untuk segera memberitahu Dokter atau perawat."


Begitu perintah dokter kepada ke dua perawat itu. "Baik, dok" jawaban kedua nya. Setelah Dokter berjalan pergi. Arya terbangun karena perawat itu. Dan mengucap ulang perkataan Dokter nya.


Arya mengangguk dan perawat itu segera kembali ke ruangan mereka.


***


Nadira dan orang tuanya berjalan menuju kamar 057. Dari kejauhan dia melihat Arya yang hendak masuk ke ruangan.


"Arya!" Panggilan Nadira keras.


Arya menengok ke arah suara yang sangat dia kenal itu.

__ADS_1


Nadira dan orang tuanya menghampiri Arya. Semua nya merasa lega melihat Arya yang terlihat baik baik saja.


"Syukur kamu tidak apa apa?"


Ibu memeluk putra satu-satu nya itu. Perasaan nya menjadi lebih baik sekarang.


"Memang nya aku kenapa? "


Tanya Arya bingung.


"Ibu mengira ada sesuatu yang terjadi padamu. Karena dari tadi kakak mu ini, tidak mengatakan apapun kepada Ibu dan Ayah."


Nadira hanya tersenyum mendengar perkataan Ibu nya itu. Ayah juga hanya diam saja. Sudah melihat Arya dalam keadaan baik. Itu sudah cukup bagi nya.


"Kamu terlihat baik. Lalu siapa yang di rawat? " tanya Nadira.


Pertanyaan ini mengingatkan Arya akan Arkana.


"Ah, iya. Aku tadi menolong seseorang saat di basemant. Dia tertusuk pisau, jadi aku membawa nya ke Rumah Sakit." Jelas Arya begitu singkat.


"Lalu sekarang?" Tanya Ibu Diah penasaran.


"Dia di dalam, baru selesai operasi."


Mereka pun masuk ke dalam ruangan 057. Semua nya penasaran siapa kah orang yang telah di tolong oleh Arya ini.


Saat di dalam ruangan. Nadira sangat kaget. Melihat Arkana yang sedang terbaring di ranjang pasien. Dengan impus di tangan kiri nya.


"Siapa dia?" Tanya ibu kepada Arya.


"Tidak tau, aku baru saja bertemu dengan nya."


Jawab Arya jujur. Karena dia memang tidak mengenal Arkana.


"Dia Arkana, teman ku."


Semua nya melihat ke arah Nadira. Seakan tidak percaya oleh pernyataan itu. Wajah mereka juga menunjukkan nya.


"Dia memang teman ku." tegas Nadira.


Semua menatap lebih tajam. Seakan menusuk Nadira saat itu juga.


"Dia Manager di Mall ARstar tempat aku kerja."


"Yakin?" Serentak pertanyaan itu di lontarkan ke Nadira.


"Iya."


Menurut mereka jawaban dan raut wajah yang di perlihatkan Nadira tidak meyakinkan.


Namun Arya jadi sangat senang karena mendengar hal itu.


"Kak, " Arya dengan wajah penuh binar.


"Ke-na-pa? "


Nadira merasa ada yang aneh dengan adik nya.


"Karena kakak sama lelaki ini berteman. Gimana, kalau kakak yang jagain dia, ha?"


Nadira melongo mendengar permintaan adiknya. Namun kelihatan nya kedua orang tuanya mendukung Arya. Ayah dan Ibu meng-isyaratkan untuk setuju.


"Kenapa sih kalian ini?" Jadi bingung sendiri.


"Memang nya kamu mau kemana? Meminta aku menunggu nya."


"Kita harus kembali, sedangkan kakak sudah mengenal dia. Jadi, tidak apa apa kan berbuat baik dengan menunggu nya. sampai kakak ini sadar."


Nadira terdiam oleh perkataan Arya.


Dia pikir perkataan adik nya ini ada benar nya juga.


Tetapi kenapa harus aku?


.


.


#Bersambung»


Quis untuk pembaca tercintah.


Apakah Nadira akan menemani Arkana? Alasan.


A. Tidak. Bukan pacar ku.


B. Iya. Dia teman ku.

__ADS_1


C. Baik lah. Karena kalian.


Berikan jawaban kalian di kolom komentar.


__ADS_2