
Masih di waktu yang sama, kantin.
Seluruh ruangan ini penuh dengan aroma makanan. Para pelayan kantin disibukan dengan kegiatan mereka. Untuk melayani para staf yang ingin makan. Di tambah obrolan-obrolan ringan mereka, yang menambah bising suasana kantin.
Nadira dan Mbok Ayu masih duduk di meja mereka. Perasaan Nadira mulai membaik. Hatinya mulai tenang, pikirannya mulai jernih.
"Apa yang membuat kamu ragu?"
Mbok Ayu memastikan agar Nadira tidak pernah ragu dalam cinta.
"Status kami berbeda. Keluargaku tidak seperti dulu lagi."
Mbok Ayu tersenyum geli. Dia yakin jika gadis ini masih belum mengerti, dari penjelasan panjangnya tadi.
"Kamu lihat ini." Mbok Ayu meletakkan ponsel di meja, tepat depan Nadira.
Nadira mengambil ponsel putih itu. Lalu memandang Mbok Ayu. Dia sama sekali tidak mengerti dengan maksud Mbok Ayu.
"Lihat foto itu."
Nadira melihat foto yang ada di ponsel milik Mbok Ayu. Matanya melebar saat melihat foto-foto Mbok Ayu sekeluarga berkeliling dunia. Ada fotonya bersama suaminya, dengan back ground menara Eiffel. Ada pula yang berfoto dengan latar belakang bunga sakura.
"Kaya. Miskin. Semuanya berhak tentang cinta." Tegas Mbok Ayu.
Nadira mengembalikkan ponsel milik Mbok Ayu. Dia merasa bersalah, karena pemikirannya yang buruk terhadap yang kaya.
"Maaf, Mbok." Wajahnya menunjukkan rasa sesal.
"Terkadang orang kaya juga butuh ruang bebas. Agar tidak bosan dengan lingkungan yang terlalu banyak aturan."
Nadira tersenyum getir. Seolah merasakan perasaan Mbok Ayu. Dia tidak menyangka, jika Mbok Ayu masih keturunan ningrat. Salah satu keluarga dengan kasta tinggi di Pulau B.
Siang telah berlalu. Menit demi menit berlalu melewati sore. Hari semakin gelap menjemput malam. Waktu terasa begitu singkat bagi Nadira. Saat bekerja, waktu terasa begitu cepat terlewati. Kini jam sudah menunjukkan pukul 22:00. Sudah waktu pulang untuk semua spb dan spg, termasuk Nadira.
Nadira berjalan beriringan dengan Mbok Ayu. Tidak sengaja motor keduanya terparkir bersebelahan. Senyum ramah di gambar Nadira, saat berusaha menaiki motornya. Begitu pula Mbok Ayu.
"Maju."
Nadira dibuat bingung dengan kalimat Mbok Ayu. Wajahnya terarah lurus menatap wanita itu. Seolah bertanya, apanya yang maju?
"Maju. Jadikan dia milikmu. Mbok selalu di belakang, untuk dukung km."
"Pasti. Makasih, Mbok!"
Mbok Ayu tersenyum sebelum menutup kaca helmnya. Dia dan motor CB-100 melaju jauh kedepan mengarah pintu keluar.
Aku tersenyum. Aku merasa mendapat kekuatan dari perkataan Mbok Ayu. Meski dia bersungguh-sungguh ingin membantu ku. Tapi, aku berharap bisa mendapatkan milikku dengan caraku.
Kosan Nadira.
Nadira memasuki gerbang kosnya. Di parkirkan motornya dengan cepat, lalu berlari kecil menuju kamarnya.
Klek.
Suara pintu terbuka.
"Kalian sudah datang? Duduk!"
__ADS_1
Arkana yang semula rebahan di sofa ruang tamu. Langsung duduk dengan tegap membusungkan dada. Wajahnya terlihat kaku. Hawa dingin seolah membekukan suasana hatinya
Ketiga orang yang baru saja memasuki Villa langsung menciut. Tidak ada yang berani buka mulut untuk sekedar menjawab pertanyaan dari Arkana. Dengan cepat ketiga orang ini duduk berhadapan dengan Arkana.
"Kalian- "
"Hallo semua, gue udah dateng bawa makanan nih. Ayo bantuin ambil dari mobil."
Baru saja Arkana ingin meluapkan amarahnya.
Sally tiba-tiba masuk ke Villa. Walau tidak mencairkan suasana diantara mereka yang duduk di sofa. Setidaknya ketiga orang di depan Arkana merasa terselamatkan.
"Cepetan. Jangan bengong aja!"
Sally memukul kepala Surya dengan barang bawaanya. Ketiga orang itu segera lari keluar menuruti perintah Sally.
"Kamu sengaja ya?"
"Sengaja apaan sih. Gaje banget!"
Jawab Sally tidak kalah ketus dari Arkana.
"Aku lagi mau marah, kamu ujuk ujuk dateng. Kalau gak sengaja, apa?" Arkana mengerutkan dahi. Merasa sangat kesal saat ini.
"Emangnya salah kalau aku dateng. Lagian dari pertama kamu pindah, aku belum sempat berkunjung kan?" Sally berkelit dari kenyataan, jika dia sengaja di ajak oleh Viola, Beni dan Surya.
"Dateng besok-besok kan bisa. Emang harus sekarang, apa?"
"Aku maunya sekarang! Gak boleh?"
"Ya, boleh. Siapa yang larang kamu ke sini." Nada Arkana mulai melembut. Dia cukup sabar menghadapi sepupunya ini.
"Kalau gitu aku boleh tinggal semalem kan?" Rengek Sally.
"Terserah! Tapi inget, kamu juga punya satu kesalahan."
Sally menelan salivanya. Mencoba tetap tangguh di depan Arkana. Dengan melempar senyuman.
"Tapi aku- "
"Pilih kamar mana aja yang kamu suka. Tapi jangan sebelah kamarku."
Sally ingin menjelaskan perihal kesalahannya. Namun Arkana segera menyela itu. Dia bangkit dari sofa. Berjalan manaiki anak tangga menuju kamarnya.
Di depan pintu. Tiga orang yang ingin dimarahi Arkana. Mereka menghela nafas panjang. Merasa lega, bisa selamat dari amukan sang Singa.
"Cepet masuk!" Sally meminta kepada ketiga orang yang sedari tadi menunggu dan berdiam di depan pintu. Mereka sengaja menjadikan Sally sebagai tameng.
Mendengar perintah Sally. Ketiga orang ini segera memasuki Villa bersamaan.
"Syukur, selamet!" Kata Beni, menepuk pundak Surya beberapa kali. Yang duduk tepat di sebelahnya.
"Malam ini. Besok? Jangan harap." Kata Sally membuat ketiga temannya resah.
"Ini semua salah Vio!" Celetus Surya, membuat Viola tertegun.
"Kok aku sih! Kak Sally dong! Dia yang suruh aku ke sini gantiin dokternya untuk buka jahitan kak Arka."
__ADS_1
"Kok jadi gue! Surya tuh. Dia yang kasih ide sial ini." Ketus Sally tidak terima disalahkan.
"Kok gue!" Tolak Surya.
"Kan ide loe." Jawab Sally enteng.
"Tapi gue gak pernah minta Vio, untuk akting separah itu kan. Salah Vio dong!" Jawab Surya kesal.
"Udah udah. Kalian terima aja semburan api Arkana besok. Hem?" Kata Beni.
"Loe juga!" Ketus ketiga temannya. Dengan tatapan menghunus ke arah Beni.
"Kok gue?" Keluh Beni merasa heran.
"Iya. Ngapain loe kesini, huh?"
Tanya Surya tengil.
"Arka bilang. Dua hari lagi loe baru dateng." Imbuh Surya.
"Dia yang telpon, suruh terbang hari ini juga." Jawab Beni dengan wajah polos.
"Bener?" Selidik Surya. Merasa ada yang aneh dengan masalah ini.
Beni mengangguk pelan. Ekspresi wajahnya sangat meyakinkan. Lagi pula, Beni adalah tipe orang yang sangat jujur. Dia sangat patuh, selalu menjauhi kebohongan. Semua sahabatnya pun sangat tau pasal itu.
"Vio?" Panggil Surya. Secara perlahan memalingkan wajahnya ke arah Viola.
Hhmm. Jawab Viola pelan. Wajahnya mencoba tersenyum untuk menutupi keresahannya.
"Loe akting apa di depan Arka?" Tanya Surya dengan wajah serius. Membuat Viola diam seribu bahasa.
Viola menundukkan pandangannya. Dia yang duduk di dekat Beni, merasa bersalah. Jemarinya perlahan me-nyentuh kulit tangan Beni. Memasuki sela-sela jemari kekasihnya ini.
Beni merasa aneh dengan sikap Viola. Tidak biasanya Viola ingin menunjukkan kemesraan di depan orang lain. Biasanya dia hanya manja jika sedang berdua dengan Beni.
Beni terus memandang Viola. Perlahan di angkat dagu kekasihnya ini. Di arahkan wajah cantik itu untuk menatap Beni.
"Kamu salah?" Tanya Beni penuh kekhawatiran. Nadanya lembut bagai sutera. Merasuk ke telinga Viola secara perlahan. Dia ingin tau kejelasan dari masalah ini.
Mata Viola sudah memerah sebelum mulutnya terbuka. Dia tidak sanggup melihat netra Beni, yang terlihat begitu khawatir.
"Emm. Sebenernya ini salah ku." Wajahnya terlihat sendu saat berkata.
"Tuh, kan!" Jawab Surya merasa geram. "Kata gue juga apa! Salahnya di Vio!" Imbuhnya lagi tidak berhenti menyalahkan kekasih Beni.
Sedang Selly hanya menghela nafas panjang. Dia merasa END kali ini. Tidak ada jalan keluar, untuk kesalahan yang mereka buat.
Sally mulai membuka makanan siap saji yang dibawanya. Dibagikan juga untuk Beni, Viola dan Surya. Sally mulai melahap makanannya. "Makan, makan, jangan dipikirin lagi. Sisain masalahnya untuk besok!" Ia berkata dengan santai. Seolah tiada beban menggantung di pundaknya. Tiada masalah yang mengganggu pikirannya.
Surya menurunkan pundaknya. Seakan bebannya akan berkurang, jika melakukannya. Dia pun segera memakan hidangannya. Begitu juga Beni dan Viola.
Gimana!
Makin seru kah ceritanya?
Atau ngebosenin?
__ADS_1
Tulis kasih pendapat kalian di kolom komentar ya 😊 LoveYouReadersKu