
Di dalam kamar, bunyi alarm membangunkan tidur nyenyak Nadira. Suara alarm terdengar sangat nyaring di telinganya, membuat ia kesal. Rasa kantuk itu membuatnya enggan untuk membuka mata, apa lagi bangkit dari tempat tidurnya.
Dengan mata yang masih terpejam, tangannya mencoba mencari sumber suara itu. Namun ia gagal menemukan benda itu.
Huh. Suara helaan nafas itu terdengar kasar. Terpaksa ia bangkit dalam posisi duduk, dan meraih ponsel sialan! yang sudah membangunkan tidurnya itu.
Terlihat di layarnya, 05:00.
Tck. "Hape sialan. Gak bisa apa, biarin aku tidur dulu." Ponsel itu kembali dilempar asal olehnya. Telapak tangannya digunakan untuk membungkam mulutnya saat menguap.
"Aku tu ngan-" sontak matanya melebar. "-tuk. Dimana ini?" Pertanyaan itu keluar ketika ia menyadari sesuatu. Ini bukan lah kamar yang biasanya ia tinggali. Lalu?
Kepalanya memutar, mengikuti kemana saja arah matanya melihat. Di pejamkan kelopak mata yang indah itu sebentar. "Ah, iya." Ditarik bibirnya kesamping membentuk senyuman. Ia hampir lupa jika semalam dirinya diusir dari kos-an. Dan terpaksa ikut dengan Arkana ke Villa itu.
Kalau dipikir lagi, sebenarnya kemarin malam ia sempat mengubungi teman-teman wanitanya. Memohon untuk tinggal semalam saja di tempat mereka. Namun mereka menolak menampung Nadira, dengan alasan yang berbeda-beda. Karena alasan itulah, ia baru setuju dengan ajakan Arkana.
Rasa kantuk seketika hilang. Nadira bangkit dari ranjang, berjalan menuju kamar mandi. Selang beberapa waktu ia sudah keluar dari ruangan itu. Wajahnya terlihat lebih segar dan cantik, ketika setetes air wudhu itu masih menetes dari wajah mulusnya.
Didekati kopernya, lalu dibuka untuk mencari peralatan shalatnya. Segera ditunaikan ibadah dua rekaat itu dengan khusuk. Direkaat kedua, ditutup shalatnya dengan dua kali salam.
Dia duduk di atas kedua kaki, menengadahkan kedua telapak tangannya. Kelopak matanya perlahan menutup. Ia mengulang do'a yang biasa dipanjatkan setelah shalat.
Jika di kosnya, biasanya setelah selesai shalat Nadira akan masak untuk sarapan. Karena sekarang dia sedang di Villa Arkana, maka ia akan membuatkan sarapan untuknya dan pria itu. Ya, itung-itung sebagai ucapan terimakasih karena sudah membantunya.
Langkah kaki itu membawa tubuh Nadira pergi ke dapur. Tubuh itu berdiri di depan kulkas, yang pintunya baru saja ia buka. Wow! Banyak sekali bahan makanannya, sampai ia bingung harus masak menu apa?
"Roti tawar. Selai. Susu kotak. Buah dalam kaleng, minuman soda," Nadira menutup matanya sebentar. Tubuhnya berpaling dari kulkas itu. Kedua tangannya di letakkan di pinggang. "Sumpah!! Ini kulkas gede, nggak ada isinya. Kenapa gak jual aja kulkasnya buat beli sayur?" Dengusnya karena kesal.
Bisa-bisanya kulkas sebesar itu kosong melompong. Apa orang yang tinggal disini tidak makan sayur atau nasi? Nadira menghembuskan nafasnya panjang. Menggertak giginya seraya memejamkan mata.
Ting. Bibirnya di tarik jauh ke samping, membentuk senyum lebar. Baru saja muncul ingatan, jika ia punya satu teman yang jualan sayur secara online.
Dengan sedikit berlari, Nadira segera menuju kamarnya yang tadi di lantai dua. Sampai di kamar, ia mencari letak ponsel yang tadi ada di atas ranjang.
"Ketemu!" Di tatap layar ponsel itu serius. Jari tangannya lincah bergerak ke atas, ke bawah.
__ADS_1
Ia sedang melihat berbagai macam sayuran yang diposting oleh temannya. Dengan cepat ia memilah beberapa jenis sayuran yang dia inginkan.
30 menit kemudian.
Nadira berlari untuk keluar dari Villa. Di gerbang sana, sudah ada Pak Wan dan seorang pria yang membawa bungkusan besar.
Nadira berjalan mendekati mereka. Dari tempatnya, seorang pria itu tersenyum ke arah Nadira.
"Hei!" Sapa pria itu tidak lupa dengan senyuman dan lambaian tangan.
Langkah kaki Nadira terhenti di depan Zainal. Ya! Itu nama pria yang sedari tadi melempar senyum padanya. "Lama banget?" Introgasinya sekaligus memarahi.
Zainal memberikan bungkusan besar itu kepada Nadira. "Maaf, kan jauh, cok. Lagian sejak kapan kamu pindah kesini?" Nadira mngambil bungkusan itu dan menyodorkan beberapa lembar uang kertas kepada Zainal. Dan segera di terima uang itu oleh Zainal.
"Ada satpamnya lagi!" Kata Zainal lagi dengan nada meledek. "Masak satpam di satpamin," imbuhnya lagi terkekeh.
Nadira melebarkan matanya.
"Berisik! Kepo banget." Pria itu hanya tersenyum melihat reaksi kesal dari Nadira. "Oh ya, btw makasih udah mau anterin kesini." Kata Nadira lagi berterimakasih. Mengingat, ini masih sangat pagi. Dan ia sudah merepotkan temannya untuk mengantar sayuran.
***
"Makasih ya Pak." Kata Nadira ketika sudah sampai di dapur.
"Sama-sama Non Dira! Kalau begitu, saya kembali ke depan dulu." Pak Wan segera berbalik pergi setelah meletakkan barang bawaannya.
Tidak perlu waktu lama. Nadira segera mengeluarkan bahan-bahan sayuran yang telah ia beli, dan bersiap untuk memasak.
30 menit kemudian.
Masakan Nadira menngeluarkan aroma yang sedap. Wangi masakan itu menyebar luas sampai ke sela-sela ruangan di dalam Villa.
Di dalam kamar Arkana.
Tubuhnya masih ada di atas ranjang, dengan mata yang masih terpejam. Jelas saja. Pria itu masih asik tidur di jam-jam segini, karena tidak ada masalah yang me-ganggu pikirannya. Jelas! Ia sudah berhasil membawa Nadira kembali tinggal di Villanya. Karena itu dia bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Sekelebat angin berhembus membawa aroma masakan Nadira sampai ke hidung mancung Arkana. Aroma masakan itu melewati hidungnya dengan sangat anggun, sampai membuatnya bangun.
Matanya masih terpejam. Sesekali pria itu menarik nafas, untuk menghirup oksigen, sekaligus memastikan aroma masakan itu.
Masih dengan posisi tidurnya, ia bertanya dengan malas dan suara khas bangun tidur. "Siapa yang masak di pagi buta begini?"
Punggung tangan itu ia gunakan untuk mengucek-ucek matanya yang masih lengket.
Arkana beringsut, kakinya mencoba meraih sandal rumahannya. Langkah itu membawa tubuhnya keluar dari kamar. Indra penciumannya mendeteksi dari mana asal aroma masakan itu.
Kaki Arkana terhenti di sana. Dari jarak tiga meteran, ia menangkap tubuh seorang gadis yang sedang sibuk menata piring di meja makan. Dari penglihatannya, gadis itu terlihat sangat antusias sekali untuk menyiapkan sarapan sepagi ini. Dan lagi, senyumannya tidak pernah lepas dari wajahnya. Sangat terlihat jika gadis itu melakukanya dari hati.
Arkana berjalan mendekati meja makan. Di tarik kursi itu untuknya duduk. Tangannya menjumput sedikit masakan di piring. Dan memasukkannya ke dalam mulut. "Emmm. Enak!" Katanya memuji, tidak terasa bibir itu melebar membentuk senyuman. Tangannya menjumput lagi masakan yang tadi.
"Auw." Tiba-tiba tangan itu terasa sedikit panas, bahkan sedikit memerah karena pukulan Nadira.
"Cuci muka, sikat gigi dulu. Baru makan!" Belum sempat Arkana membuka mulut untuk protes akan serangan tiba-tiba itu. Lengkingan suara Nadira lebih dulu memenuhi telinganya.
Mata gadis itu melebar. Satu tangan di letakkan di pinggang. Dan tangan satu lagi digunakan untuk memerintah pria itu. "Pergi cuci muka dulu, cepet!" Nadira semakin melebarkan matanya agar tampak galak.
Namun bukannya takut, Arkana dibuat senyum oleh Nadira. Bagaimana bisa, gadis itu memerintahnya dengan keras. Ya? Kalau tidak galak dan keras, bukan Nadira namanya. Dan jangan sebut dia si galak, kalau belum bisa menaklukkan Arkana.
Arkana bangkit dari duduknya. "Baik, baik. Aku cuci muka sekarang." "Hemm." Jawab Nadira.
Arkana berjalan hendak ke kamarnya. Punggungnya masih terlihat oleh pandangan Nadira. Dengan sedikit berteriak, gadis itu berkata, "Mandi sekalian!"
Langkah Arkana terhenti di anak tangga pertama. Dia menoleh. Dari tempatnya berdiri, ia memandangi Nadira. Gadis itu menggerakkan tangannya, menyuruh pria itu untuk segera pergi ke lantai atas.
Kepala Arkana menggeleng pelan. Kembali kakinya menaiki anak tangga. Tidak tau kenapa hatinya merasa senang. Tidak terasa senyum tipis tercetak di wajahnya.
"Kenapa berasa sedang dimarahi oleh istri?"
Semakin seru kah?
Jika ia, berikan Love kalian untukku.
__ADS_1