
Sesampainya di Vila Arkana. Sudah masuk pukul 09:20 WITA.
Surya menunggui Arkana di dalam kamarnya. Kamarnya ada dilantai dua. Kamar dengan pintu berwarna merah gelap. Kamar paling besar di lantai dua.
Sedangkan Nadira ada di dapur. Menyiapkan makanan yang sempat dibeli saat dijalan menuju pulang dari RS. Menyiapkan piring, gelas juga mangkuk untuk menaruh bubur. Bubur ini untuk Arkana. Sedangkan untuk Nadira dan Surya dia sudah membeli ayam geprek, lalapan dan jus buah.
Setelah selesai dengan urusan makanan. Nadira naik keatas untuk meminta kedua lelaki atasannya untuk turun dan makan. Saat menaiki tangga sesekali Nadira berhenti. Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang yang dapat dijangkau oleh pandangannya.
Vila yang besar. Sangat indah dan cantik. Seluruh dinding dicat putih. Lantai juga berwarna putih. Banyak pohon-pohon kecil yang ditanam didekat kolam renang. Dengan kaca besar sebagai dinding. Dari.dalam Vila pun dapat melihatnya. Saat masuk tadi juga banyak tanaman di pot-pot kecil. Di letakkan dijalan yang mengiringi kepintu masuk.
"Andai saja ayah dulu tidak jatuh bangkrut. Pasti Vila ini masih milik keluarga ku. Huh!"
Nadira kembali melanjutkan langkahnya kelantai dua. Tidak lama dia sampai di depan pintu besar kamar Arkana.
Tok, tok.
Nadira mengetuk pintu. Berdiri di depannya menunggu jawaban dari dalam, sebelum dia masuk.
Tok, tok. Lagi diketuk pintu itu oleh Nadira karena tidak ada jawaban. Beberapa menit kemudian masih belum ada jawaban. Nadira mulai cemas karena itu.
"Hello, kalian masih di dalamkan?"
Teriak Nadira berharap ada jawaban dari mereka.
Sekian menit kemudian.
"Aneh! mereka berdua itu ngak denger apa pura-pura ngak denger sih? Masuk aja kali ya."
Kreek.
Suara pintu yang dibuka oleh Nadira. Kepalanya masuk lebih dahulu di susul dengan langkah kakinya.
"Arka?" Aku mencoba mencari mereka berdua dari ujung ruangan. Karena itu yang terlebih dahulu terjangkau oleh pandangan ku.
Aku terus masuk dan pandangan ku sekarang tertuju kepada mereka berdua. Sudah ketemu! Tapi,
WWUAHH.
Teriakan Nadira di ikuti Arkana dan Surya secara serentak.
Aku kaget bukan main melihat Pak Surya yang sedang membantu Arka mengenakan celana. Bukan hanya aku, mereka berdua juga kaget karena aku tiba-tiba masuk begitu saja. Ini sungguh memalukan.
"Maaf, maaf. Aku kira kalian pura-pura tidak mendengarkan aku."
Aku menutupi wajah ku dengan tangan secepat kilat saat mata ku ini melihat Arka yang hanya menggunakan boxer.
"Oh iya, Cepat turun untuk makan!"
Aku segera keluar dari kamar itu dengan wajah merona. Perasaan malu dan lain-lain. Aku tidak pernah semalu ini. Aku berlari menuju dapur dan memutuskan untuk menunggu mereka disini saja. Walau tidak tau aku harus bagaimana nanti untuk menghadapi Arka. Aku sangat malu.
Di sisi lain, kamar Arkana.
Surya sedang membantu Arkana mengenakan kaos oblong warna abu-abu. Setelah selesai dia menyisir rambutnya sendiri. Dia juga menggunakan parfum. Lalu duduk diranjang.
__ADS_1
"Turun sekarang?" Tanya surya yang sudah lapar dari tadi. Hanya tidak berani bilang pada Arkana.
"Tunggu sebentar lagi." Jawab Arkana masih duduk santai.
"Tunggu apa? Yang ada, Nadira lagi nungguin kita di bawah!"
Nada bicara Surya mulai kesal. Yah, orang laper memang lebih mudah marah. Lebih mudah nahan emosi ketimbang nahan lapar.
"Kamu turun duluan. Nanti aku nyusul." Jawab aku yang belum mau turun sekarang.
"Kamu ngak laper apa?"
"Laper. Tapi kalau aku turun sekarang dia pasti malu kan. Akan canggung kalau duduk berhadapan."
"MALU?"
Surya menatap temannya itu dengan tatapan aneh.
"Malu karena dia lihat kamu pakai boxer? Apa lihat kamu telanjang dada?" Surya merasa itu bukanlah sesuatu hal yang sampai membuat suasana jadi canggung.
"Lagian siapa yang ngak pernah liat cowok telanjang dada. Dia juga pasti pernah liat yang didalam boxer juga kan! Haha" Surya sekarang tertawa dengan semangat.
Plok.
Bantal melayang mengenai wajah Surya dengan keras. "Sial" kata Surya merasa sakit dan kaget.
Dia mengambil bantal yang telah jatuh ke lantai. Meletakkan kembali ke kasur.
"Apa kamu pikir dia belum pernah?"
"Aku yakin belum."
"Kata siapa?"
Tanya Surya mulai duduk di sofa dekat jendela kaca.
"Kata ku. Lihat reaksinya? Dia ngak akan sekaget itu kalau sudah pernah."
"Kamu pikir dia masih perawan. Yakin? "
"Yakin banget."
"Gimana kalau kita taruhan?"
Tantang Surya kepada Arkana.
"Boleh, apa?"
"Mobil baru kamu!"
"Oke! Kalau dia perawan. Kamu jadi supir aku setahun. Gimana?"
"Deal!" Surya sangat yakin akan pendapatnya.
__ADS_1
"Ayo kita turun sekarang!"
Ajak Arkana perlahan bangkit dari duduknya.
Surya segera bangkit membantu memapah Arkana untuk turun ke lantai satu. Beberapa lama kemudian telah sampai diruang makan.
Nadira duduk termenung disana. Menggaruk-garuk kepalanya seakan sangat gatal. Wajahnya terlihat sangat frustasi. Sebab apa dia begitu. Apa karena masalah tadi dia melihat Arkana. Hanya dia dan Tuhan yang tau.
Terdengar suara langkah kaki mendekati ruang makan. Nadira melihat kearah Arkana dan Surya. Dia terlihat tenang, berbeda sesaat sebelum melihat kedatangan mereka berdua.
Mereka sudah duduk saling berhadapan sekarang. Meja cokelat persegi sebagai pembatas.
Nadira meyodorkan semangkuk bubur kedepan Arkana.
"Wah, aku harus makan ini lagi?"
"Iya. Kata Dokter, kamu belum boleh makan nasi dulu. Makan bubur tidak perlu tenaga banyak untuk mengunyah." Jelas Nadira.
"Lagi pula makan bubur sudah lengkap nutrisinya. Karbohidrat, vitamin, protein. Tambah minum susu segar." Tambah Nadira.
"Aku sekarang percaya kalau punya perawat. Lihat cara bicara kamu! Sudah sangat mirip." Arkana tersenyum sekarang.
Hmmm. Surya menanggapi obrolan mereka berdua. Dengan tidak berhenti makan. Dia merasa jadi obat nyamuk diruangan ini.
"Oh iya, aku ada pertanyaan. Boleh jawab jujur tidak?" Kata Arkana setelah semuanya selesai makan.
"Untuk aku?" Kata Nadira menunjuk diri sendiri. Karena melihat Arkana yang menatap kearahnya. Dia memastikan kembali, karena belum yakin.
"Tentu saja. Untuk apa aku tanya bocah ini." Surya mencibirkan mulutnya mendengar pernyataan itu.
"Silahkan."
"Kamu PERAWAN?"
"HUUH"
Nadira terkejut, matanya terbelalak lebar. Begitu juga dengan Surya.
"Teman ku ini sudah gila!" Begitu pikir Surya sesaat setelah mendengar pertanyaan yang di tujukan kepada Nadira.
"Tentu saja masih. Dasar mesum! Untuk apa kamu tanya-tanya soal itu padaku." Nadira meninggikan nada bicaranya.
Arkana hanya diam sekarang. Hanya senyuman lebar yang terukir diwajah gantengnya. Dia melirik Surya sekarang.
"Bagaimana supir baru? Ingat setahun loh!"
"Sialan, aku enggak nyangka kamu bakalan pakai cara ini."
"Emangnya mau pakai cara apa, huh?" Tanya Arkana.
"Kamu sekarang anterin Nadira kekosannya."
"Kenapa?" Tanya Nadira yang masih belum mengerti apa yang sedang kedua lelaki ini bahas.
__ADS_1
"Kamu bilang mau ambil baju kan, tadi. Biar Surya saja yang anterin."
"Oh, iya. Aku sampai lupa kalau kamu enggak ingetin. Tunggu aku cuci ini, baru kita pergi." Nadira lekas merapikan piring kotor sisa mereka makan. Membawanya kedapur lalu mencucinya. Setelah itu dia kembali kekosannya. Diantar oleh Surya, yang menjabat supir baru mulai sekarang.