
***
Hamparan langit biru terlihat begitu cerah. Sekumpulan awan bergerak, melintasi matahari. Matahari yang bulat itu sudah condong ke barat. Tetapi suasana masih terasa panas di luar sana.
Setelah penjelasan dan pembuktian dari Viola. Nadira sudah percaya jika diantara Viola dan Arkana tidak ada hubungan yang spesial. Kecuali teman masa kecil, dan sudah seperti kakak beradik.
Sore menjelang, tetapi semuanya masih anteng di Villa. Tidak ada yang keluar untuk berkerja, begitu juga dengan Nadira. Jum'at adalah hari liburnya, dan Nadira masih tertidur nyenyak di atas ranjangnya.
Sedangkan--
Viola merengek kepada Beni. Ia sangat ingin pergi ke pantai untuk melihat sunset. Sebagai kekasih yang baik, Beni menuruti permintaan Viola.
Sore itu, pukul 17:00. Sepasang sejoli itu beserta Arkana dan Surya sudah bersiap untuk pergi ke pantai. Surya keluar lebih dulu, menyiapkan mobilnya untuk mereka.
Tetapi, Arkana merasa ada yang janggal. Ia sontak berhenti di mulut pintu. Mengingat-ingat, mungkin ada sesuatu yang masih tertinggal.
"Ah iya. Nadira!" Ia berbalik. Langkah kakinya begitu cepat dan lebar untuk membawa tubuhnya menuju lantai dua.
Arkana sudah berdiri di depan pintu kamar Nadira. Di ketuk pintu itu. "Dira," panggilnya, sedikit kencang dari luar kamar.
Klek. Pintu sudah terbuka.
Nadira berdiri di sana. Sambil mengucek matanya, agar penglihatannya menjadi jelas. Ia menguap. Dengan cepat tanganya menutup mulut yang terbuka lebar itu. Takut kalau-kalau pria di depannya itu tersedot ke dalam mulutnya.
Sepasang mata Arkana meneliti keadaan gadis di depannya itu.
"Baru bangun tidur?" "Hmm," jawab gadis itu dengan suara khas bangun tidur.
"Mau ikut kita ke pantai?" Arkana menggerakkan telunjuknya, ke arah belakangnya.
Anggukan kecil di buat oleh gadis itu, sebagai jawaban. "Kalau gitu cepet ganti baju," perintah Arkana, membuat mata gadis itu melebar.
"Sekarang?" dalihnya. Masih belum percaya.
"Iya lah......" Dua tangan pria itu mencengkram pundak Nadira. Memutar tubuh gadis itu ke arah kamarnya.
"Cepet ganti baju. Lima menit!" tegas Arkana memerintah se-enaknya. Tanpa protes, gadis itu segera berlari ke dalam untuk berganti baju.
Sebuah senyuman tergambar di wajah Arkana. Rasanya ingin sekali melihat gadis itu berganti baju. Tapi itu sangat kurang ajar. Maka ditutuplah pintu itu olehnya. Ia memutuskan untuk menunggu Nadira di halaman depan.
5 menit lewat dua detik.
Nadira berlari dari kamar sampai ke luar Villa. Ia berhenti tepat di depan Arkana. Ia membungkuk, kedua tangannya memegangi lutut bersamaan.
Arkana ikut membungkuk. Ia memiringkan wajahnya agar dapat melihat ekpresi dari gadis di depannya itu. "Udah siap?" Tanyanya begitu lembut.
Ia masih mengatur nafasnya yang senin kemis. Di tengok wajah pria di depannya, lalu ia berkata. "Ya, udah."
__ADS_1
"Ayo!" Ajak Arkana. Keduanya kembali berdiri normal. Dan segera menaiki mobil.
Surya, Beni dan Viola sudah ada di dalamnya. "Sudah siap?" Tanya Beni yang duduk di kursi pengemudi.
Siap. Jawab ke empatnya dengan suara sedikit berteriak. "Let's go! Kuta I am coming!" Suara Beni lagi-lagi terdengar. Ia bersemangat sendiri.
5 menit di perjalanan. Mobil mereka akhirnya sampai di parkiran Pantai Kuta. Semuanya segera turun dari mobil, mereka terlihat begitu senang dan bersemangat.
Dari tempat mereka berdiri, hamparan laut yang luas masih tertutup oleh tembok setinggi satu setengah meter. Bahkan suara ombak masih samar di telinga.
Setelah Beni selesai ber-urusan dengan tukang parkir. Kelima orang itu segera memasuki area pantai. Mencari hamparan pasir yang cukup lapang, untuk mereka duduk.
Laut biru yang terbentang luas di depan sana. Matahari terlihat orange, begitu indah dengan perpaduan warna langit biru dan awan putih. Sore itu ombaknya tidak terlalu besar, tetapi mampu menyapu pasir di pinggiran pantai. Juga terdengar deru ombak yang saling menyapa itu.
Dan lagi. Banyak turis-turis yang bertebaran di atas hamparan pasir putih itu. Ada yang berbaring, duduk, dan jogging. Ada juga sekumpulan anak muda warga lokal, yang bermain bola voly.
Surya, Beni, Viola, Nadira, Arkana. Kelima orang itu duduk bersandingan, menghadap ke pantai. Ber-alaskan pasir putih yang lembut dan bersih.
Surya mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celananya. Ia mengambil satu batang rokok, lalu di oper bungkus itu kepada Beni, lalu berhenti di Viola.
Diletakkan batang rokok itu di sela mulut mereka. Mereka secara bergantian menyulut rokok dengan api dari korek.
Secara bersamaan, ketiga orang itu menghempas kepul rokok ke udara.
Wajah Viola menoleh, "Rokok?" Tanyanya kepada Nadira, seraya memajukan sebatang rokok yang di pegangi.
Sekarang giliran Nadira yang menoleh ke Arkana. "Kamu gak ngerokok?" Sebenarnya ia merasa sedikit canggung.
"Enggak." Jawabannya singkat.
"Kenapa?" Ia merasa penasaran. Biasanya lelaki sangat identik dengan rokok.
Bahkan ada satu kalimat yang pernah ia dengar, berbunyi. 'Ngerokok ra ngerokok, yen wayae mati. Yo mati.' Itu di jadikan semboyan bagi mereka-mereka si pecinta rokok.
"Lagi gak pengen."
"Owh," Mulutnya membentuk huruf O. Dan itu terlihat sangat imut di penglihatan Arkana.
"Berarti kamu ngerokok?" Ia menaikkan kedua alisnya. Menatap pria itu, seakan butuh jawaban secepatnya.
Ia balik menatap wajah Nadira, lalu berdalih dengan santai. "Enggak," jawab Arkana.
Nadira melengos. "Gimana sih, tadi ditanya ngerokok? Jawabnya enggak. Ditanya kenapa? Jawabnya gak pengen. Ditanya lagi. Jawabnya enggak lagi."
Senyum tipis ia torehkan di wajah tampannya itu. Ia merasa jika Nadira terlihat sangat lucu, ketika ber-ekpresi kesal seperti itu.
Ia menoleh lagi. Menatap serius wajah Arkana. "Kamu itu jangan plin plan jadi cowok. Sebenernya, kamu itu ngerokok apa enggak?" Ia dibuat kesal dengan jawaban Arkana, yang menurutnya ngalor ngidul gak jelas itu.
__ADS_1
"Yah aku ngerokok. Tapi sekarang kan, lagi gak pengen. Jadi sekarang enggak ngerokok." Mata Nadira mendelik. "Kenapa?" Ia heran dengan sikap gadis itu. Ia hanya menjelaskan secara gamblang.
"Enggak salah kan, jawabannya. Kan sekarang, aku emang lagi enggak ngerokok." Ia merasa benar dengan argument-nya sendiri.
Nadira menghembuskan nafas panjang. Lalu kembali melihat hamparan laut luas di depannya.
"Yah. Bener. Kuping aku yang salah denger."
Ia merasa jika gadis itu sedang merajuk. Tapi karena apa. Ia tidak merasa telah berbuat salah. Arkana memajukan wajahnya, agar lebih dekat dengan wajah Nadira. "Kamu kenapa? Ngambek?" Ia merasa bingung sekarang.
"Enggak," jawabnya. Ia masih menatap lurus kedepan sana. Melihat detik-detik matahari mulai tenggelam.
Arkana masih di posisinya. "Kamu enggak suka cowok perokok?" "Ya" jawaban singkat itu membuat Arkana memutar otak. Mencari kalimat romantis yang tersembunyi dibalik otak cerdasnya itu. Tapi sepertinya tidak ada.
"Kalau gitu. Aku gak akan ngerokok lagi mulai sekarang. Gimana?"
Nadira diam tak bersuara. Ia menatap kagum ke hamparan laut di depannya yang begitu indah. Ditambah sisa cahaya orange, sepeninggalan matahari yang telah terbenam. Sangking kagumnya, suara pria itu tak terdengar oleh telinganya.
"Bagus banget ya." Suara Viola memecah keheningan di antara semuanya. Ia mengaitkan tangannya, dengan lengan Beni.
"Besok ke sini lagi ya, bebs.?"
"Iya, sayang. Kapan aja kamu mau." Begitu jawab Beni dengan lembutnya. Belaian tangan yang lembut mendarat di pipi Viola.
Tidak kerasa. Sepasang mata dan telinga itu memperhatikan mereka. Ada perasaan iri di hati ini. Ia juga ingin diperlakukan dengan lembut dan penuh kasih seperti itu.
Arkana melihat Nadira yang terus melihat sepasang sejoli itu. Ia ingin sekali merangkul Nadira, agar dia tak merasa sedih. Namun apa daya, ia takut jika Nadira lagi-lagi menolaknya.
Tubuh itu bangkit. "Gue mau beli minum. Kalian mau nitip apa?" Tanya Surya kepada semuanya. Dan itu merusak suasana diantara Arkana dan Nadira.
Wajah itu mendongak ke atas.
"Beli dimana?" Viola balik bertanya.
"Seberang jalan. Kalian mau nitip apa?"
"Beli aja minuman buat kita semua. Jangan lupa cemilan!!" Kata Arkana.
Ia menundukkan wajah. "Loe Vi?," tanya Surya lagi, memastikan.
"Kita ikut aja deh." Viola menarik lengan Beni, agar segera bangkit bersamaan dengannya.
"Kalian berdua tunggu di sini sampai kita balik. Oke?" Perkataan Viola dijawab dengan anggukan kecil, dan jempol oleh Arkana dan Nadira.
Ketiga orang itu segera melangkah pergi. Meninggalkan Arkana dan Nadira yang masih duduk di atas pasir. Dengan saling menatap.
Berikan 👍👍 dan ❤❤❤ kalian untuk ku. Juga beri aku Vote, jika kalian berkenan. Terimakasih.
__ADS_1